Blog untuk Pendidikan

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Lokal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Maret 2017

Pusaka Leluhur Sambas Yang Terancam Hilang Ditelan Zaman

SampanPesisir - Parang Tangkin (Tangkitn) atau biasa disebut Mandau Tangkitn adalah senjata tradisional yang terbuat dari besi yang bagian hulunya melengkung, pada ujungnya bertampuk kuningan dan tidak memiliki gagang layaknya sebilah mandau yang biasa terbuat dari kayu atau tulang. Parang ini sekilas panjangnya hampir sama dengan mandau, namun bentuknya sangat berbeda dengan mandau. 

Gagang pada parang ini hanya di lilitkan kain merah yang melambangkan keberanian dan kebanyakan di pangkal bawah pegangan tersebut terdapat cepu yang terbuat dari tembaga yang dipercaya mempunyai kekuatan magis. Sarung tangkitn dibuat dari kayu tipis dan pipih yang dililit dengan gelang rotan dan diperkuat dengan plat kuningan. 


Pada dasarnya, oleh leluhur Sambas pada zaman dahulu, parang tangkin hanya dipergunakan untuk tradisi mengayau (berburu kepala) atau digunakan sebagai senjata pertahanan diri dari sasaran kayau suku tetangga (Iban) yang mengayau ke wilayah adatnya. 

Pada masa lalu, hampir semua laki-laki di Kalimantan pada umumnya harus melakukan perburuan kepala untuk bermacam-macam alasan, karena setiap suku memiliki alasan yang berbeda-beda. Seperti orang Iban yang berbatasan langsung wilayah adat dengan pribumi Sambas (Salako dan Kanayatn), tradisi mengayau menggunakan Mandau dilakukan anak laki-laki iban pada usia 10 tahun yang mengharuskannya bisa mendapatkan setidaknya 1 kepala manusia, karena ini akan menunjukan bahwa anak laki-laki ini sudah memasuki usia dewasa dan dapat menikah. Sedangkan untuk pribumi Sambas mempertahankan diri mereka dari korban mengayau masyarakat Iban, menggunakan parang tangkin sebagai senjata pertahanan.

Sebelum kedatangan agama SAMAWI (Nasrani dan Islam) ke tanah Sambas, kepercayaan masyarakat pribumi Sambas adalah kepercayaan tradisional Kaharingan. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau disebut dengan Ranying / Jubata, yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat pribumi Sambas dan Kalimantan pada umumnya. Tempat ibadahnya dinamakan Balai Basarah. Kitab suci agama mereka adalah Panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya.

Parang tangkin tanpa kain merah

Pasca berdirinya Kesultanan Sambas di Lubuk Madung, pribumi Sambas banyak yang mengalami proses Islamisasi (masuk Melayu) ditambah pendatang dari luar Sambas yang notebane-nya untuk berdagang. Akhirnya budaya Melayu semakin banyak diadopsi dan mengaburkan budaya lama yang dianggap lawas untuk ditinggalkan, meskipun beberapa adat masih dipertahankan seperti tepung tawar, tumpang 1000, dan muang rateh (muakng rate). Sedangkan untuk saudara mereka yang masih mempertahankan agama sebelumnya dan tidak menerima Islam (non-Muslim atau non-Melayu), oleh mereka disebut Urang Daya (urang daya = orang darat).

Terpisahnya dua keluarga tersebut, makna dari penggunaan parang tangkin pun berubah. Untuk kelompok masyarakat yang menyebut mereka dengan Melayu Sambas, parang tangkin dipergunakan untuk berburu binatang atau pergi berladang (be ume / bahuma). Sedangkan, untuk urang Daya (Salako dan Kanayatn sekarang) masih menggunakan parang tangkin untuk mengayau.

Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi), tradisi mengayau semakin ditinggalkan oleh urang Daya ditambah semakin banyak dari mereka yang memeluk kepercayaan Nasrani (Kristen dan Katolik). Maka, makna penggunaan parang tangkin pun sudah tidak dipergunakan untuk membunuh dan memburu kepala musuh, melainkan untuk berburu binatang atau pergi berladang.

gagang parang tangkitn di balut kain merah

Dewasa ini, keberadaan parang tangkin pada masyarakat Sambas sudah terancam hilang keberadaannya. Parang tangkin hanya dapat dijumpai pada keluarga Dayak Salako dan Kanayatn di Kabupaten Sambas, serta tidak banyak berada pada masyarakat Melayu. Di wilayah Sambas, parang tangkin terbagi menjadi dua varian yaitu tangkin laki dan tangkin bini. Bentuk tangkin laki lebih panjang dari tangkin bini.

Sebagai bagian dari pusaka dan kebudayaan leluhur Sambas, parang tangkin atau mandau tangkitn diabadikan menjadi bagian dari Lambang Daerah Kabupaten Sambas bersama dengan tombak yang juga merupakan salah satu senjata perang kerajaan Sambas pada zaman dahulu. 

Selain di Kabupaten Sambas, parang tangkin juga banyak dijumpai pada masyarakat Salako dan Kanayatn lainnya yang tersebar di sebagian wilayah Sarawak (Malaysia), Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Mempawah, Kota Singkawang, dan Kota Pontianak.

Senin, 27 Februari 2017

Legenda To' Kullup di Sambas

SampanPesisir - Cerita rakyat dari Bumi Tarigas Sambas sudah diambang kepunahan, generasi penerus sudah sepantasnya untuk menjadi garda depan melestarikan peninggalan leluhur terutama cerita rakyat yang banyak memberikan pesan moral kepada generasi-genarasi rakyat Sambas. 

Berangkat dari permasalahan diatas, misterpangalayo.com akan menulis sebuah cerita legenda yang sering saya dengar dari orang tua sebagai penghantar tidur. Sebelumnya saya mohon maaf apabila dalam penulisan artikel ini jauh dari kata sempurna. Hanya menulis untuk men-sounding sebuah cerita legenda yang menarik untuk dibaca. Dan kita sebagai generasi penerus selayaknya harus membangkitkan budaya kita dalam inovasi baru melalui blog. 


Berikut adalah cerita selengkapnya, Selamat Membaca.

Cerita legenda Datok Kullup erat kaitannya dengan legenda Bujang Nadi dan Dare Nandung. Datok Kullup adalah adik dari Bujang Nadi dan Dare Nandung, beberapa tahun setelah kematian kedua saudaranya lahirlah Datok Kullup. Disebut Datok Kullup, karena pada saat hendak disunat, kemaluan sang Datok tidak mempan terkena benda tajam. Datok Kullup dipercaya dengan kekebalan tubuhnya terhadap benda-benda tajam.

Jauh sebelum Kesultanan Sambas berdiri, budaya sunat sudah dilakukan oleh pribumi Sambas pada waktu itu. Budaya tersebut merupakan salah satu peninggalan dari budaya nenek moyang leluhur Sambas yaitu bangsa Austronesia (Slametmuljana, 1989). Slametmuljana mengatakan ciri-ciri lainnya adalah gemar makan bonto'/boto' (ikan yang dibusukkan), suka melapis gigi dengan emas, rumah-rumah didirikan di atas tiang bukan karena tanahnya becek (rumah panggung), tidak memakan anjing karena sakral, dalam menghitung menggunakan kata bilangan bantu seperti ekor, orang, belah dan sebagainya.

Datok Kullup adalah anak ketiga dari Raja Tan Unggal. Datok Kullup sejak lahir sudah ditinggalkan permaisuri selama-lamanya. Permaisuri meninggal dunia ketika melahirkan Datok Kullup. Sehingga dayang kerajaan pun diberi tugas dari Raja Tan Unggal untuk merawat dan membesarkan Datok Kullup. Sang dayang kerajaan menjaga dan merawat Datok Kullup dengan penuh perhatian dan kasih sayang.

Beranjak dewasa, dimana saatnya Datok Kullup harus disunat. Beberapa orang bilal kerajaan (orang yang bertugas untuk melaksanakan proses ritual sunat) pun datang ke kerajaan untuk menyunat Datok Kullup. Namun apa yang terjadi, karena kekebalan yang dimilikinya, bermacam pisau pun dicoba tetapi tidak berhasil. Hingga akhirnya sang bilal menggunakan kapak, tangkin (parang tradisional), hingga kelewang dengan meletakkan ujung zakarnya (kullup) diatas bendul yang terbuat dari kayu belian. Tetap saja tidak membuahkan hasil dan hal tersebut sangat membuat sang bilal pusing 7 keliling.

Berita ini dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok negeri bak jamur di musim hujan. Atas kekebalan seorang pangeran terhadap benda tajam, akhirnya sang pangeran mendapatkan julukan Datok Kullup dari rakyatnya. Bukannya senang, Datok Kullup malah merasa malu atas julukan tersebut. Jikalau ada yang tidak sengaja memanggilnya dengan sebutan Kullup, tentu ia akan berang.

Setalah kejadian tersebut, Datok Kullup malu untuk berhadapan dengan rakyatnya karena malu. Dengan demikian, Raja Tan Unggal membuat sebuah taman yang indah untuk tempat bermain Datok Kullup bersama pengasuhnya. Datok Kullup selalu menghabiskan hari-harinya di taman tersebut. Dengan ditemani oleh burung kesayangannya, yaitu Burung Ruai karena memiliki bulu yang indah.

Hari-hari pun berganti tahun, hingga suatu hari Datok Kullup ingin menyalurkan hobinya yaitu berburu burung di hutan. Dengan ditemani beberapa hulubalangnya, berangkatlah mereka ke arah sebuah bukit yang tidak jauh dari pusat kerajaan. Dengan berbekal beberapa sumpit, tangkitn, dan persediaan makanan, langkah demi langkah mereka pun meneruskan perjalanan ke tengah hutan.

Tibalah mereka di sebuah kaki bukit yang bernama Piantus, melihat hijaunya pemandangan alam dan kesejukan udara yang segar membuat mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sungguh keindahan alam yang menakjubkan, membuat setiap tatapan mata Datok Kullup terpesona. Tiba-tiba suara burung menyadarkan lamunan Datok Kullup, dengan cepat Datok Kullup mengambil sumpitnya.

Ketika sumpit hendak diacungkan ke arah burung tersebut, burung tersebut berkicau menyerupai suara �kullub-kullub-kullub-kullub�. Datok Kullup sangat terkejut karena burung tersebut seolah meledeknya dengan sangat lantang. Tanpa pikir panjang, Datok Kullup langsung menyumpitnya namun tidak terkena sasaran. Burung itu langsung terbang ke arah hutan bambu, Datok Kullup terus berlari sekencang-kencangnya dengan perasaan marah yang membara.

Konon, jalanan yang dilaluinya ketika mengejar burung tersebut meninggalkan bekas, dan lambat laun terus melebar dan membentuk sebuah sungai yang di sebut Si Jangkung. Nama lain Datok Kullup adalah Jangkung. Jangkung memiliki postur tubuh yang kekar dan tegap, tinggi badannya sekitar 2,48 meter jauh lebih tinggi dari tinggi badan Raja Tan Unggal, ukuran kakinya 49 inchi, giginya lengkap tidak seperti ayahnya Raja Tan Unggal.

Burung tersebut membuat pusing Datok Kullup, ke sana kemari si burung itu terbang, hingga akhirnya balik arah menuju Bukit Piantus. Dengan sisa tenaga yang ada serta berselaput hawa marah dan kecewa yang amat sangat. Datok Kullup masih terus mengejarnya dan ketika berada di pertengahan bukit, Datok Kullup terjatuh karena terlalu gegabah berlarinya. Hingga telapak kakinya meninggalkan bekas dan saat ini masih bisa disaksikan di Bukit Piantus.

Kini, Datok Kullup kehilangan jejak burung tersebut. Datok Kullup merasa malu karena selain rakyatnya, burung pun ikut-ikutan mengejek dirinya. Lalu ia memutuskan untuk tidak kembali ke istana kerajaan dan lebih memilih tinggal di Bukit Piantus bersama hulubalangnya. Hingga akhirnya, Datok Kullup wafat dan dimakamkan di pertengahan Bukit Piantus oleh hulubalangnya yang masih bertahan menemaninya. Saat ini, kuburan Datok Kullup masih dapat kita saksikan. Sementara telapak kakinya berada di area hutan bambu di Bukit Piantus juga.

Dewasa ini, wilayah tempat tinggal Datok Kullup sudah ramai penduduk sekitar 22.836 jiwa dan daerah tersebut diabadikan menjadi nama kecamatan, yaitu Kecamatan Sejangkung (Sijangkung). Daerah Sejangkung sekarang dibelah oleh Sungai Sambas Besar dan anak-anak sungainya, yaitu: Sungai Sajingan, Sungai Maklebar, Sungai Al Anas, Sungai Bejongkong, Sungai Sada'an, Sungai Acan, dan Sungai Emas.

*Disclaimer: Cerita ini ditulis berdasarkan cerita yang admin dengar ketika waktu kecil sebagai penghantar tidur.

Kamis, 17 November 2016

Asal Usul Nama Singkawang Kota Wisata, Kota Amoy dan Kota 1000 Klenteng

SampanPesisir - Kota Singkawang atau San Keuw Jong (Hanzi: 山口洋 hanyu pinyin: Shānkǒu Yáng) merupakan sebuah kota di Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 145 km sebelah utara dari Kota Pontianak, yang merupakan ibukota provinsi Kalimantan Barat. Nama Singkawang itu berasal dari bahasa Hakka (Cina Singkawang) , San khew jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut dan estuari. Singkawang juga mendapat beberapa julukan, yaitu: Kota Wisata, Kota Amoy dan Kota 1000 Klenteng. Namun ada juga yang mengatakan bahwa nama Singkawang diambil dari nama tanaman Tengkawang yang terdapat di hutan tropis daerah Singkawang.



Singkawang menjadi tujuan utama pariwisata di Bumi Khatulistiwa. Kota yang berjarak 145 Km dari kota Pontianak terkenal dengan keindahan alam, budaya, serta kuliner yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota Amoy ini. Perpaduan budaya Tionghoa, Dayak dan Melayu menjadikan kota Singkawang yang harmonis.

Sedikit bercerita tentang sejarahnya, Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah Kesultanan Sambas. Dahulu Singkawang menjadi tempat persinggahan para pedagang dan penambang emas dari Monterado. Mereka tersebut berasal dari Negeri China, karena China terkenal dengan ilmu dagangnya.

Singkawang mulai dikenal oleh orang Eropa sejak 1834 yang tertuang dalam buku The Eastern Seas karya George Windwor Earl yang menyebutkan bahwa Singkawang dengan kata Sinkawan. Catatan lainnya juga didapat dari salah satu tulisan G.F De Bruijn yang terkandung dalam De Volken Van Nederlandsch Indie (1920) berjudul De Maleirs yang terjemahannya mengatakan: " . . . . . . .beberapa puluh mil di sebelah selatan kerajaan (Sambas) dibangun sebuah kota yang dimaksud sebagai kota pemerintahan (Belanda).

Semenjak kemerdekan Republik Indonesia, kota Singkawang merupakan bagian dan ibukota kabupaten Sambas berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959 dengan status kecamatan Singkawang. Singkawang memperoleh status kota pada 21 Juni 2001 berdasarkan UU No. 12 Tahun 2001. Dengan ini kota Singkawang ditetapkan sebagai daerah otonom dan diresmikan pada tanggal 17 Oktober 2001 di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah.

Semoga bermanfaat, dan Singkawang dapat membanggakan Kalimantan Barat bahkan Indonesia. Silakan dishare.

Nama-nama Pahlawan yang Menjadi Simbol pada Tugu Digulis Bundaran Untan

SampanPesisir - Pada saat ke Pontianak (Kalimantan Barat), Anda pasti akan disuguhkan dengan simbol Perjuangan Pahlawan di Kota Pontianak. Simbol itu terletak di Bundaran Jalan Ahmad Yani Pontianak atau sering disebut dengan Bundaran Untan (Universitas Tanjung Pura). Karena letaknya berada didekat Unversitas Tanjung Pura.

Sumber gambar: Catatan Pringgo Digdo

Ada juga yang menyebutnya dengan Tugu Digulis. Namun, tidak banyak orang yang tau apa arti Digulis itu sendiri padahal letak Tugu Digulis sendiri berada di kawasan yang termasuk pusat kota dan cukup dikenal masyarakat. Bahkan bisa dikatakan pula bahwa Tugu Digulis adalah simbol atau maskot kota Pontianak selain Tugu Khatulistiwa. Ini dikarenakan letaknya yang strategis sehingga mudah dikunjungi atau dilihat dan membuatnya lebih ‘terawat’ dibandingkan Tugu Khatulistiwa.

Tugu Digulis juga dikenal sebagai Monumen Sebelas Digulis, atau Tugu Bambu Runcing, atau Tugu Bundaran Untan (Universitas Tanjung Pura) oleh warga setempat. Tugu dalam bahasa Indonesia didefinisikan sebagai ‘tiang besar dan tinggi yang dibuat dari batu, bata, dsb.’ Kata tugu kemudian erat kaitannya dengan monumen, yaitu sebuah bangunan yang digunakan sebagai peringatan sebagai tanda untuk mengingat peristiwa penting, peristiwa bersejarah, atau untuk menghormati orang atau kelompok yang berjasa. Tidak semua monument adalah tugu. Namun hampir semua tugu adalah monumen. Tugu juga kerap digunakan sebagai simbol dan ciri khas sebuah tempat. Misalnya Tugu Monas (Monumen Nasional) sebagai ciri khas Daerah Ibukota Jakarta, Tugu Pal Yogyakarta, dan sebagainya.

Sedikit sejarah dari monumen yang satu ini. Semua berawal pada 1914, saat terbentuknya Partai Sarekat Islam (SI) di Ngabang Kabupaten Landak. Organisasi berbasis keagamaan ini mendapat banyak simpati dari masyarakat, hingga akhirnya Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah untuk membekukan seluruh kegiatan Sarekat Islam. Perintah itu digelontorkan akibat maraknya pemberontakan anggota SI di Jawa dan Sumatera. Pemerintah Hindia Belanda pun menangkap 11 tokoh pergerakan Kalimantan Barat. Tiga dari 11 tokoh itu meninggal saat diasingkan ke Boven Digoel di Irian Barat, sementara 5 di antaranya wafat dalam Peristiwa Mandor di Kabupaten Landak (Makam Juang Mandor).

Monumen ini berbentuk 11 bambu runcing yang menjulang tinggi ke angkasa, masing-masing berbeda ukuran, mencirikan 11 tokoh pejuang berasal dari berbagai daerah yang berbeda. Warnanya kuning kehijauan layaknya bambu pada umumnya. Bambu runcing diambil sebagai bentuk simbolis perjuangan bangsa Indonesia. Kesebelas tokoh pejuang tersebut adalah:

1. Achmad Marzuki,

2. Achmad Su'ud bin Bilal Achmad,

3. Gusti Djohan Idrus,

4. Gusti Hamzah,

5. Gusti Moehammad Situt Machmud,

6. Gusti Soeloeng Lelanang,

7. Jeranding Sari Sawang Amasundin,

8. Hj Rais bin H Abdurahman,

9. Moehammad Hambal alias Bung Tambal,

10. Moehammad SohordanYa' Moehammad Sabran,

11. Gusti Djohan Idrus.




Nama-nama tokoh pejuang ini sekarang diabadikan menjadi nama-nama jalan di Pontianak.
Semoga bermanfaat yaa..

Rabu, 16 November 2016

Bubur Pedas, Makanan Khas Kalimantan Barat

SampanPesisir - Sudah pernah ke Kalimantan Barat? Ada kuliner khas yang terkenal hingga manca negara yaitu Bubur Pedas. Dan makanan ini menjadi Makanan khas Kalimantan Barat yang dilansir oleh Instagram indozone. Makanan yang menyuguhkan rasa yang gurih dan enak ini berasal dari daerah Sambas. Daerah yang berada di ujung Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan Malaysia.

Sumber gambar: Kooliner.com




Nah, apabila Anda berkunjung ke daerah Kalimantan Barat ada dijumpai kuliner yang satu ini. Belum sah rasanya jika belum mencicipi makanan yang satu ini. Suku Melayu Sambas di Kalimantan Barat, punya kuliner unggulan yang memiliki banyak vitamin untuk kesehatan yang harus dicicipi para wisatawan. Dahulu bubur pedas disajikan di suatu.

Bubur pedas ini ternyata tidak hanya ada di Sambas, Singkawang, Bengkayang, Mempawah, dan Pontianak. Ternyata bubur pedas ini ada juga di Negeri Jiran yaitu Sarawak, Malaysia. Mungkin karena adanya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang membuat masakan ini di sana, sehingga warga Malaysia mulai mencicipinya, atau mungkin dengan alasan yang lain.

Bubur pedas terbuat dari beras yang ditumbuk halus dioseng dan kaya akan rempah serta sayuran, tidak heran jika bubur ini dinilai penuh gizi. Sayuran seperti daun pakis muda, toge (kecambah), kangkung, daun kesum menjadi campuran yang menyehatkan. Belum lagi paduan gorengan kacang tanah plus ikan teri yang digoreng kering menambah citarasa.

Jika ke Kalimantan Barat silakan langsung ke Kota Sambas, karena di sana ada warung khusus yang menyajikan Bubur Pedas, tepatnya berada di ujung Jembatan Sabo’ Sambas (dekat dengan Istana Sambas). Di sini menyajikan Bubur Pedas asli buatan orang Sambas.

Selain menjadi satu di antara menu andalan di warung milik orang Melayu, bubur pedas pun mudah ditemui di tempat orang berjualan ta’jil saat bulan Ramadhan. Bubur Pedas ini memang unik, tanpa membubuhkan sambal, kita tidak akan merasakan pedas sama sekali, malah cenderung bertekstur gurih dan segar.

Walaupun namanya bubur pedas, tetapi sebenarnya rasa asli bubur ini tidaklah pedas. Anda dapat menambahkan sambal terpisah sesuai dengan selera.

Semoga bermanfaat yaa.

Asal usul Sungai Kapuas

SampanPesisir - Sudah pernah ke Kalimantan Barat? Nah, di Kalimantan Barat terdapat suatu sungai yang lebar dan sangat panjang, sungai ini terkenal di seluruh Indonesia. Nama sungai ini yaitu Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Sungai ini banyak cabangnya, alias anak sungainya. Satu di antara cabangnya adalah Sungai Kawat. Lalu pertanyaannya, mengapa disebut dengan Sungai Kawat? Baiklah penulis akan bercerita sedikit ya.

Sumber gambar: m.monitorday.com



Sungai Kawat terletak di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Pada zaman dulu, ketika Kota Sintang baru didirikan oleh Djubair I, hiduplah seorang nelayan sungai dengan istri dan anak-anaknya, mereka tinggal tidak jauh dari Sungai tersebut. Keluarga nelayan itu tergolong keluarga yang tidak mampu. Setiap hari sang Ayah hanya menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan. Kadang-kadang rezeki hasil tanggapannya banyak kadang juga tidak, sehingga ada kalanya dia tidak mendapatkan ikan seekorpun juga.

Suatu hari, nelayan itu pergi memancing, ia membawa dua buah pancing. Hal ini dilakukan untuk menjaga kemungkinan jika pancingnya putus, dia masih dapat menggunakan pancingnya yang satunya lagi.Dia mulai mendayung perahunya masuk ke Sungai Kawat (saat itu belum ada namanya). Setelah pancing itu diberi umpan, pancing itu diulurkannya ke sungai itu kemudian dia menunggu pancingnya dimakan ikan. Matahari mulai tinggi, namun tidak seekor ikanpun yang mendekati pancingnya, apalagi untuk memakan umpannya. Akan tetapi, dia itu tidak cepat berputus asa. Telah beberapa kali dia berpindah tempat di sungai itu, tetapi keadaannya sama saja. Sebelumnya dia bertekad bahwa jikad ia pulang ke rumah, dia harus rnembawa ikan untuk anak dan istrinya walaupun hanya seekor.

Ketika hari sudah mulai sore, dia mendayung perahunya lebih ke hulu sungai dengan harapan di sana ada ikan yang akan memakan pancingnya. Di sebuah teluk kecil yang banyak batunya, nelayan itu berhenti.tanah di sekitar tempat itu berlumut dan ditumbuhi pohon-pohon.kayu yang sangat besar.

"Mungkin di sini banyak ikannya," harapan nelayan itu.

Dia mulai mengganti umpan pancingnya dengan umpan yang baru. Kemudian pancing itu diulurnya ke dalam sungai. Setelah begitu lama dia menunggu, tidak ada tanda-tanda pancingnya akan ditarik oleh ikan. Ketika matahari hampir terbenam dan nelayan itu akan pulang, tiba-tiba pancingnya ditarik dengan keras dari dalam air. Nelayan itu mengangkat pancingnyadan sekaligus menyentaknya ke atas.

Sumber gambar: Kompas



"Ah, besar sekali ikan ini," dugaan si nelayan ketika menarik pancingnya.

Ikan itu menyangkut di pancing dan menarik tali pancing itu ke sela-sela batu yang ada di tepi sungai. Tali pancing terus diulur lebih panjang oleh si nelayan agar pancing itu tidak putus. Ketika tarikan dari dalam air mulai melemah, nelayan itu menarik kembali tali pancingnya ke atas. Pada saat si nelayan sedang menarik pancingnya, tali pancing itu ditarik kembali dari dalam air mengarah ke tengah sungai. Dengan cepat, nelayan itu mengulurkan pancingnya kembali agar tidak putus.

Ketika itu hari mulai gelap. Ditambah lagi, daun-daun yang rimbun menambah kegelapan di tempat itu. Nyamuk-nyamuk yang mengerubungi si nelayanpun tidak dihiraukannya. Pikirannya hanya tertuju pada ikan yang akan diperolehnya.

Pada saat tarikan dari dalam air ke tengah sungai, perahunya itu ikut tertarik ke tengah sungai. Teluk sungai itu cukup dalam. Warna airnya tampak kehitam-hitaman karena hari telah gelap.

Akhirnya, tarikan dari alam air mulai melemah. Dia mulai menarik kembali tali pancingnya ke atas. Akan tetapi, ikan itu belum tampak. Nelayan itu lebih berhati-hati agar ikannya tidak lepas dari mata pancingnya.

Lama kemudian, ketika seluruh tali pancingnya telah terangkat, tidak seekor ikan pun yang terlihat. Yang menyangkut pada pancingnya itu hanya ujung tali kawat.

"Wah, ikannya lepas," kata si nelayan.

Tangannya menjangkau ujung kawat yang menyangkut di pancingnya. la mengamati ujung kawat itu dalam keremangan malam. Tampak olehnya kawat itu berwarna kekuning-kuningan. Setelah diketahui bahwa kawat itu adalah kawat emas, ia mulai menariknya.

Satu depa, dua depa, ia merasa belum cukup juga. Padahal kalau ia mau bersyukur dengan satu dua depa saja hidupnya akan berkecukupan, tidak akan menderita kemiskinan. Namun sifat serakah telah merasuki dirinya. la ingin menjadi orang paling kaya di kampungnya. Maka ia ingin mendapatkan kawat emas itu sebanyak-banyaknya. la terus menarik dan menarik kawat itu dari dalam sungai. Meskipun sudah lama ia menariknya,.kawat itu belum juga habis.

"Wahh, panjang sekali kawat ini. Aku akan menjadi orang paling kaya di seluruh dunia," pikir si nelayan.

Dia terus menarik kawat itu tanpa menghiraukan hari semakin gelap. Sampannya telah penuh-dengan gulungan kawat emas. la terus menarik dan menarik kawat emas yang tidak habis-habisnya itu.
Dari dalam air terdengar suara, "Sudaaaaaaaah, sudahlah, potong saja kawatnya."

Namun, si nelayan tidak menghiraukan suara itu. la terus menarik dan menarik kawat itu karena ia ingin cepat menjadi kaya raya.Lalu terdengar lagi suara dari dalam air memperingatkannya untuk kedua kalinya.

"Potooooooooong, potong sajaaaaaaaa ...!"
"Berhentiiiiiii...! Jangan diteruskaaaan!"

Akan tetapi, nelayan itu tetap saja tidak peduli. Karena perahu nelayan itu sudah terlalu penuh dengan kawat emas maka air pun mulai masuk.

Si nelayan yang telah menjadi rakus tetap belum berhenti menarik kawat. Sementara perlahari-lahan air terus merambat ke dalam perahu. Nelayan itu baru sadar setelah air benar-benar telah memenuhi perahu. Namun terlambat sudah, seketika itu juga perahu itu tenggelam bersama si nelayan ke dasar sungai. Nelayan itu tidak pernah timbul, ia mati di dasar sungai akibat keserakahannya yang berlebihan. Itulah sebabnya sungai itu dinamakan Sungai Kawat.

Adakah pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita tersebut? Ada, janganlah serakah terhadap apa yang sudah menjadi milik kita. Selanjutnya pembaca yang menyimpulkannya yaa. J Semoga bermanfaat yaa..

Selasa, 15 November 2016

Asal Usul Nama Kota Pontianak

SampanPesisir - Berdasarkan dari sejarahnya, asal usul Kota Pontianak dulunya merupakan hutan belantara yang luas, tepat berada pada simpang 3 sungai, yaitu sungai Landak, sungai Kapuas, dan sungai Kapuas Kecil. Hutan belantara ini kemudian dibabat dan dibuka oleh sekelompok warga yang berasal dari Kerajaan Melayu. Warga yang dipimpin oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie ini membabat pohon di hutan tersebut dan mendirikan kampung sejak tanggal 24 Rajab 1181 Hijriah bertepatan dengan 23 Oktober 1771 Masehi.
Sumber gambar: azwisata.com

Selama proses pembukaan hutan, para warga terus saja diusik oleh mahluk-mahluk gaib berwujud kuntilanak. Terutama saat malam tiba, ketika para warga beristirahat, suara-suara ngeri wanita tertawa dari tengah hutan selalu saja menghantui. Sering kali makhluk gaib itu menampakan wujudnya di seberang sungai. Syarif Abdurrahman Alkadrie yang menjadi pimpinan rombongan menganggap gangguan dari sosok kuntilanak telah membuat pekerjaan mereka terhambat. Para rombongannya takut dan sebagian lagi ingin berhenti meneruskan pekerjaannya untuk pulang. Beliau kemudian bersiasat untuk membawa sebuah meriam besar ke tengah hutan tersebut. Meriam yang dibawa ini kemudian akan selalu dinyalakan ke arah sumber bunyi kuntilanak agar kuntilanak kaget. Siasat inipun pada akhirnya berhasil.

Sumber gambar: miner8.com


Secara perlahan, gangguan dari kuntilanak pun berangsur-angsur hilang. Para pekerja tenang dan hutan berhasil dibuka sepenuhnya. Syarif Abdurrahman Alkadrie yang kemudian diangkat menjadi Sultan bagi kerajaan baru di tengah hutan itu kemudian memberikan nama Pontianak pada daerah kekuasaannya untuk mengabadikan peristiwa gangguan sosok kuntilanak yang terjadi saat proses pembukaan hutan. Hal inilah yang menjadi asal usul nama Pontianak yang bertahan hingga sekarang. Seiring waktu berjalan, Kota Pontianak silih berganti mengalami perpindahan tampuk kekuasaan. Mulai dari kepemimpinan kesultanan Pontianak, pendudukan pemerintah kolonial Belanda, masa penjajahan Jepang, hingga masa kemerdekaan sekarang.

Seiring zaman, asal usul kota Pontianak juga berubah dengan sangat pesat. Hutan belantara yang berada di tiga sungai itu kini tumbuh dengan sangat pesat. Berbagai gedung dibangun, pasar-pasar dan roda ekonomi yang terus berputar cepat di Kota ini membuat banyak orang datang dan menetap. Hingga sekarang Pontianak menjadi Ibukota Provinsi Kalimantan Barat, banyak gedung-gedung Pemerintahan, Perguruan Tinggi dan lain-lain dibangun di Kota ini. Kota ini juga terkenal sebagai kota khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang tepat dilalui garis lintang nol derajat bumi.

Semoga bermanfaat yaa..

Kamis, 07 Juli 2016

Kue Lapis Khas Sambas, Tradisi Lebaran Masyarakat Sambas

Sampanpesisir - Tradisi Lebaran Masyarakat Sambas yang telah ada turun temurun dan masih di pertahankan hingga sekarang adalah menyajikan kue lapis sebagai menu wajib saat perayaan hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Untuk masyarakat di luar Benua Sambas ( Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang) membuat kue kering sebagai sajian utama, namun masyarakat Sambas menyajikan kue lapis sebagai sajian utama.

Warga muslim di Kabupaten Sambas menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan perayaan yang bertabur sukacita, bermaaf-maafan, silaturahmi, dan beraneka kue lapis khas Sambas. Dimana momen perayaan Idul Fitri atau Hari Raya Puasa menandai berakhirnya bulan Ramadhan. Selama bulan Ramadhan, umat muslim Sambas mengkhususkan bulan Ramadhan untuk memperbanyak ibadah, beramal, dan berbagi kasih sayang dengan sesama.

Bagi Anda yang berniat untuk bersilaturahmi ke Sambas, Anda akan menjumpai berbagai hidangan utama kue lapis khas Sambas. Di rumah-rumah masyarakat Sambas, mereka tidak hanya menyajikan satu jenis kue lapis, paling tidak mereka menyediakan lima jenis kue lapis untuk disuguhkan untuk tamu. Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Sambas juga mempunyai karakteristik makanan yang sama.

Konon, penyajian aneka kue lapis di hari raya sudah ada sejak zaman Kesultanan Sambas dan sudah menjadi tradisi lebaran turun temurun masyarakat Sambas. Pada zaman Kesultanan Sambas, aneka kue lapis hanya dihidangkan pihak keluarga kerajaan kepada para tamu kehormatan. Dewasa ini, masyarakat Sambas melanjutkan tradisi tersebut untuk menghormati para tamu mereka yang bersilaturahmi ke rumah-rumah pada perayaan Hari Raya.

Kue Lapis Khas Sambas,Tradisi Lebaran Masyarakat Sambas

Kue Lapis Khas Sambas

Di kediaman Reni Fariyanti, 49, warga Kota Sambas, beraneka macam kue lapis sudah tersedia di meja hidangannya dan di lengkapi aneka kue kering sebagai menu pelengkap. Kue lapis mempunyai banyak variasi, seperti yang saya jumpai di kediaman Reni Fariyanti (49) ada kue lapis belacan, kue lapis susu, kue lapis kipas, kue lapis nenas, kue lapis kacang, dan lainnya. Tradisi menghidangkan kue lapis di perayaan Hari Raya sudah menjadi hidangan wajib untuk penjamuan tamu di rumah kediamannya.

Kue Lapis khas Sambas sudah terkenal diluar Kabupaten Sambas dan menjadi kuliner favorit khas lebaran bagi masyarakat luar Kabupaten Sambas yang berkunjung ke Sambas karena aneka rasa yang khas dan enak seperti kue lapis kacang dan kue lapis susu. Resep kue yang mereka dapatkan secara turun temurun.

Reni Fariyanti (49) dan keluarga
Dikutip dari situs kalimantan-news.com (Jumat, 08/07/2016), Pengamat Budaya Sambas, A Muin Ikram (68) menyatakan, tradisi menghidangkan kue lapis khas Sambas tersebut perlu dilestarikan, karena bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi orang luar untuk berkunjung ke daerah itu.

"Apalagi rasa kekeluargaan dan kunjung-mengunjungi antartetangga dan kerabat masih kental sehingga perlu dilestarikan," katanya.

Warna warni lebaran di Kabupaten Sambas teraktualisasi oleh bujang dan dara Melayu Sambas dengan mengenakan baju kurung untuk para dara Sambas dan baju telok belanga yang di sebut baju melayu oleh bujang Sambas pada hari pertama lebaran. Tradisi lainnya yang menjadi kebiasaan masyarakat Sambas adalah mengunjungi  Keraton Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas. Tak heran apabila di momen hari raya, banyak warga Sambas dan luar Sambas berkunjung ke Keraton Sambas.

Minggu, 31 Januari 2016

Asal Usul Penamaan Gunung Kalang Bau Sambas


SampanPesisir - Gunung Kalang Bau berada di Tanjung Kalang Bau yang tepat berada di sebelah Utara objek wisata Tanjung Batu Pemangkat. Tidak jauh dari lokasi Gunung Kalang Bau terdapat sebuah bukit kecil yang berbatasan langsung dengan laut Natuna yaitu Bukit Belacan.

Secara administratif, Gunung Kalang Bau berada di Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas, namun pada Hari Selasa tanggal 12 Oktober 2004 Kecamatan Jawai dimekarkan secara resmi menjadi Kecamatan Jawai dan Kecamatan Jawai Selatan. Sehingga Tanjung Kalang Bau dan sekitarnya resmi secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Jawai Selatan.

Pasca pemekaran dari Kabupaten induk, Kecamatan Jawai Selatan membawahi 9 Desa terdiri dari :
  1. Desa Jelu Air
  2. Desa Jawai Laut
  3. Desa Matang Terap
  4. Desa Sarilaba A
  5. Desa Sarilaba B
  6. Desa Suah Api
  7. Desa Sabaran
  8. Desa Semperiuk A
  9. Desa Semperiuk B


Menariknya adalah di sisi bukit ini terdapat 2 buah bekas benteng pengintaian milik peninggalan kolonial Belanda yang dapat menampung 3 � 5 orang serdadu, berbentuk tabung yang dilengkapi dengan dua buah lubang pengintai. Benteng ini digunakan untuk mengintai kapal-kapal yang masuk di perairan Laut Natuna yang akan masuk ke Sungai Sambas.

Ini adalah sebuah Cerita rakyat yang berasal dari Kalimantan Barat tepatnya di daerah Kabupaten Sambas, kisah ini menceritakan Asal Mula Penamaan Gunung Kalang Bau oleh karena itu silahkan di baca cerita selengkapnya dan semoga bermanfaat.

Pada Bukit Kalang Bau di atasnya terdapat sebuah kenceng ( periuk ) besar yang terbuat dari besi dan merupakan wadah untuk menanak nasi. Diperkirakan pada lokasi tersebut dahulunya merupakan tempat persediaan konsumsi bagi serdadu-serdadu Belanda yang berjaga-jaga / melakukan pengintaian terhadap keluar masuknya kapal-kapal di muara Sungai Sambas. Agak menurun ke sisi sebelah kanan terdapat sebuah makam yang telah berumur lebih dari 2 abad, yaitu makam ulama Syech Ali Abubakar, seorang penyiar agama Islam di daerah Kerajaan Sambas. Ulama ini berasal dari daerah Kelang ( Malaysia ) dan lebih dikenal dengan nama Guru Ali. Dari sinilah nama Gunung Kelang Bau berasal.

Menurut sejarahnya, suatu ketika setelah beberapa lama bermukim di daerah Kerajaan Sambas, Syech Ali Abubakar merasa rindu kepada sanak familynya di Kerajaan Kelang dan berkeinginan untuk menjenguknya. Setelah berhari-hari beliau berlayar bersama muridnya, di tengah perjalanan beliau menderita sakit keras. Dalam keadaan seperti itu beliau sempat berpesan, seandainya Tuhan segera berkenan memanggilnya, beliau minta dimakamkan di daerah Kerajaan Sambas. Dan memang sudah merupakan takdir Illahi, beliau meninggal dunia ketika hampir tiba di Malaysia ( yaitu di sekitar wilayah Singapura ). Maka sesuai amanatnya, jenazahnya dibawa kembali ke wilayah Kerajaan Sambas dan dimakamkan di daerah bebukitan, tepatnya di daerah muara Sungai Sambas.

Menurut penuturan penduduk dari mulut ke mulut, bahwa selama 7 hari setelah beliau dimakamkan, apabila saat senja tiba ( waktu maghrib ) maka di sekitar makam tersebut tercium semerbak bau harum. Untuk itulah sebagai tanda terimakasih dan mengenang jasa-jasa beliau selagi masih hidup. Oleh sebab itu, maka bukit / gunung tempat beliau dimakamkan disebut gunung � Kalang Bau �. Kalang berasal dari kata daerah kelahirannya yaitu Kelang, sedangkan kata Bau berasal dari bau harum yang dipancarkan di sekitar makam tersebut. Beitulsh sejarahnya kenapa gunung / bukit yang berada di muara Sungai Sambas itu dinamakan Gunung Kalang Bau.

Karena Gunung Kalang Bau berada di sebuah tanjung yang bernama Tanjung Kalang Bau, menjadikan lokasi ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata Kabupaten Sambas karena lokasi ini berada lansung di pinggiran Laut Latuna, sehingga di kaki bukit ini terdapat hamparan pantai pasir putih dan dihiasi oleh bebatuan sebagai dinding antara bukit di pantai.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Jawai_Selatan,_Sambas

http://nia-mely.blogspot.co.id/2009/10/gunung-kalang-bau.html

Jumat, 22 Januari 2016

Kisah 3 Bajak Laut Dan Asal Usul Penamaan Tanjung Datok Sambas

SampanPesisir- Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas setiap bangsa yang memiliki kultur budaya yang beraneka ragam mencakup kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki masing-masing bangsa. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia maupun dewa.

Cerita yang saya tulis kali ini adalah sebuah cerita rakyat dari Kalimantan Barat tepatnya Kabupaten Sambas. Cara penyajian yang menarik dan penggunaan bahasa yang sederhana membuat tulisan ini pantas dibaca oleh anak-anak, orang tua, bahkan oleh para guru, dan siapa saja yang berminat pada cerita rakyat Indonesia, khususnya di Kabupaten Sambas.



Inilah cerita singkatnya....

Tanjung Datok terletak di perbatasan antara daerah Kalimantan Barat dengan daerah Serawak (Malaysia Timur sekarang). Tanjung ini dinamai Tanjung Datok, karena pada zaman dahulu di daerah ini hidup seorang tua yang sakti dan berilmu tinggi. Meskipun umurnya sudah tua dan rambut serta jenggotnya sudah memutih, tetapi ia mempunyai kekuatan dan kesaktian yang luar biasa.

Pada zaman dahulu kawasan sekitar Tanjung Datok ini tidak aman. Daerah ini merupakan sarang dari bajak laut (perompak lanun). Kapal-kapal dagang maupun penumpang yang lewat di daerah ini haruslah mempunyai pengawalan yang cukup kuat. Jika tidak, kapal-kapal tersebut pastilah menjadi mangsa para perampok itu.

Sekali peristiwa, sebuah kapal dari bajak laut dilanda angin ribut di daerah ini. Dalam keadaan sedang dilanda angin ribut, kapal itu juga terbakar dengan hebatnya. Mungkin juga karena kecerobohan dari anggota-anggota bajak laut itu sendiri. Karena musibah tersebut kapal itu tenggelam ke dasar laut. Hanya tiga orang saja dari anggota bajak laut yang selamat.

Anggota-anggota yang lainnya tenggelam bersama kapal mereka. Beberapa di antaranya menjadi mangsa ikan hiu yang mengganas di daerah itu. Ketiga anggota bajak laut yang selamat terdampar ke pantai ini, masing-masing bemama Liong, Tek Wan, dan Asui. Tetapi mereka tidaklah terdampar di tempat yang sama. Liong dan Tek Wan terdampar di daerah Serawak, sedangkan si Asui terdampar di wilayah Kerajaan Sambas - Kalimantan Barat, tidak jauh dari Gunung Poteng.

Karena merasa lapar dan haus, si Asui berjalan masuk ke hutan yang terdapat di sekitar daerah itu. la makan buah-buahan hutan yang ia dapatkan untuk mengisi perutnya yang sedang lapar. la juga memotong bambu untuk mendapatkan air tawar yang terdapat dalam ruas bambu tersebut. Kemudian berusaha untuk mendapatkan perkampungan penduduk atau pondok petani.

Akhirnya dalam keadaan letih lesu, ia mendekati gunung Poteng. Hampir mendekati puncak, tiba-tiba ia melihat ada asap api. ''Aku akan bertemu penduduk dan akan mendapat pertolongan", pikirnya. Ia berjalan mengikuti arah dari mana datangnya asap api tersebut.

Setelah ia mendekat, rupanya asap api itu keluar dari dalam sebuah gua. Gua itu cukup luas. Ia masuk ke dalam gua. Di sana ia bertemu dengan seorang tua yang rambutnya telah memutih, demikian pula jenggotnya. Orang tua itu sedang duduk di atas sebuah batu. Orang tua itu tahu akan kedatangan tamu yang tidak diundang. Tapi meskipun ia sudah mengetahui asal-usul si Asui lewat ilmunya yang tinggi, ia menyapa si Asui dengan ramahnya. Asui berbohong, dan mengatakan bahwa ia berasal dari sebuah kapal dagang yang tenggelam di perairan itu.


Orang tua itu manggut-manggut, dan berkata: "Anak muda, kalau kamu mau. tinggallah bersama Datok di sini".

"Yaaaa. Datok. saya suka." kata Asui sambil mencibirkan bibirnya memandang rendah pada datok tua itu. Tapi orang tua itu tidak hiraukan. Ia biasa-biasa saja.

Demikianlah si Asui tinggal bersama orang tua itu dalam waktu beberapa lama. Si Asui makan minum seenaknya tanpa mau berkarya. la hanya makan tidur, kemudian berjalan-jalan di gunung itu.

Pada suatu malam timbul niat jahat di benak si Asui. Sifat-sifat bajak laut yang tidak berperikemanusiaan muncul kembali. "Akan kubunuh saja orang tua ini, supaya aku dapat mengambil barang segala miliknya. Kemudian aku akan pergi." Demikian niat yang timbul dalam pikiran si Asui.

Malam itu, ketika sang Datok sedang tidur, si Asui langsung mengambil parang dan mendekat pada datok yang sedang tidur itu. Ketika ia mengayunkan parang ke leher si Datok, orang tua itu terbangun, dan cepat seperti kilat kakinya menendang perut si Asui. Bajak laut Asui terguling-guling keluar gua. Dua buah tulang rusuknya patah. Sedangkan parang yang ada di tangannya terlepas entah ke mana. Keesokan harinya Asui minta ampun pada orang tua itu. Sang Datok mengampuninya, dan Asui berjanji tidak akan mengkhianati Datok. Asui masih tetap bersamanya.

Pada suatu hari, sang Datok bersama Asui pergi berjalan-jalan. Mereka menemukan buah durian tiga buah. Buah durian itu mereka bawa pulang ke gua. Di gua, Datok membagi durian itu sambil berkata: 'Ini sebuah yang paling besar untukmu Asui. Yang sebuah ini untukku. Sebuah lagi kita simpan". Asui diam saia. Ia langsung membelah duriannya. Dalam tempo singkat duriannya hanya tinggal kulitnya yang berduri itu. Biji durian itu habis dikunyah atau ditelannya. Tengan malam, ketika sang Datok sedang tidur, diam-diam Asui mengambil buah durian yang disimpan si Datok. Buah durian itupun habis dilalapnya. Kulitnya dibuang jauh-jauh.

Keesokan harinya Datok mencari buah durian itu. Ia menanyai si Asui. Asui mengatakan tidak tahu. Sang Datok memperlihatkan kesaktiannya menciptakan buah-buahan. Maksudnya agar si Asui mau mengaku dan tidak berbohong. Tetapi ketika ditanyai lagi, Asui tetap mengatakan tidak tahu. "Baiklah," kita si Datok.

Keesokan harinya, pada suatu kesempatan, sang Datok berkata kepada si Asui: "Asui", katanya. "Saya mempunyai sebatang emas murni". Mendengar kata emas itu mata si Asui bersinar-sinar. Kemudian si Datok melanjutkan: "Emas ini akan saya bagi tiga dengan cara memotongnya tiga bagian. Sepotong saya berikan kepadamu, dan sepotong Iagi untuk saya."

Si Asui menyela. "Lalu yang sepotong lagi untuk siapa?"

"Untuk orang yang mencuri buah durian itu", jawab sang Datok.

Dengan cepat si Asui berseru: "Sayalah yang mengambil buah durian itu. Berikanlah emas yang sepotong itu kepada saya".

Si Datok mulai jengkel dengan tingkah laku Asui yang jahat dan pembohong itu. Ia ingin agar si Asui segera pergi dari tempat itu. Oleh karena itu, si Datok lalu berkata: "Aku akan berikan semua emas itu kepadamu bila engkau akan meninggalkan tempat ini. Emas itu dapat menjadi bekalmu di perjalanan."

"Besok saya akan berangkat dari sini, kata si Asui. Keesokan harinya ia benar-benar berangkat. Dan si Datok memberikan emas itu semuanya kepada Asui. Bukan main girangnya hati Asui mendapatkan emas itu. Ia pegi tanpa mengucapkan terima kasih kepada sang Datok.

Setelah keluar dari gua itu, ia menuruni gunung Poteng, dan berjalan menuju arah utara ke daerah Paloh sekarang. Ketika ia tiba di ujung tanjung, ia bertemu dengan kedua temannya, si Liong dan si Tek Wan. Mereka berkawan kembali.

Tetapi ketika si Liong dan Tek Wan mengetahui bahwa Asui membawa emas, mereka memaksa Asui untuk membagi emas itu. Karna takut kepada Liong dan Tek Wan. Asui berjanji akan membagi emas tersebut.

Akhirnya Asui mendapat suatu akal agar emas itu tidak dibagi. Ia berpura-pura pergi membeli makanan untuk bertiga.

Dalam hatinya ia bertekad: "Sebaiknya makanan ini saya bubuhkan racun. Biarkan mereka makan duluan. Begitu mereka makan, mereka langsung mati, karena racun yang dibubuhi itu racun yang keras.

Sebaliknya, ketika Asui sedang pergi membeli makanan, Liong dan Tek Wan menyusun rencana. Mereka telah mufakat, begitu Asui datang langsung mereka bunuh. Dengan demikian emas itu mereka miliki berdua.

Demikianlah ketika Asui tiba dari membeli makanan, langsung mereka serang dan mereka bunuh. Asui mati terkapar. Liong dan Tak Wen tertawa terbahak-bahak, karena mereka akan memiliki emas itu.

Kemudan mereka melahap makanan yang dibawa oleh si Asui. Belum sempat habis makanan tersebut, Liong dan Tek Wan pun mati terkapar di tempat itu karena makan racun yang berbisa yang dibubuhkan oleh si Asui. Ketiga bajak laut itu semuanya mati karena rakus harta. Tinggallah emas itu di tempat tersebut menjadi harta karun. Hingga sekarang tidak ada di antara penduduk yang mendapatkannya.

Menurut penuturan orang-orang tua, sang Datok yang tidak diketahui namanya, sering membela petani dan nelayan di daerah itu dari serangan bajak laut. Selama orang tua itu masih hidup, tidak ada bajak laut yang berani mengganggu penduduk di daerah Tanjung itu. Itulah sebabnya tanjung tersebut dinamai "TANJUNG DATUK" oleh penduduk.


"Cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat Jilid 2" oleh Syahzaman 

Pesan Moral yang terkandung dalam cerita di atas adalah kita tidak boleh jadi orang yang suka berbohong karena sifat pembohong itu tidak baik. Cerita ini memberikan pembelajaran kepada kita agar tidak berkelakuan buruk seperti si Asui dan kawannya itu. Kita juga tidak boleh tamak dan loba terhadap harta karena tamak akan harta dapat menimbulkan bala bencana. Kita boleh mengumpulkan harta, tetapi tidak boleh serakah seperti bajak laut itu.

Senin, 18 Januari 2016

Sepotong Sejarah Asal Usul Orang Khek Singkawang

Ikatan Koko Meimei Kalimantan Barat

SampanPesisir- Kota Singkawang atau San Keuw Jong (Hanzi: ??? hanyu pinyin: Shankou Y�ng) adalah sebuah kota (kotamadya) di Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 145 km sebelah utara dari Kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka, San khew jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut dan estuari.

ASAL USUL SINGKAWANG

Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas, Desa Singkawang sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado. Para penambang dan pedagang yang kebanyakan berasal dari negeri China, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang, sedangkan para penambang emas di Monterado yang sudah lama sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya dan Singkawang juga sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (serbuk emas). Waktu itu, mereka (orang Tionghoa) menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa Hakka), mereka berasumsi dari sisi geografis bahwa Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut. Melihat perkembangan Singkawang yang dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sehingga antara penambang tersebut beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di Singkawang yang pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di Singkawang.

Asal Usul Orang Khek Di Singkawang
Tugu Naga - Singkawang

ASAL USUL KHEK SINGKAWANG

Asal usul komunitas Tionghoa di Nusantara memiliki sejarah yang menarik. Mereka ternyata berasal dari suku yang berbeda satu sama lain. Tidak hanya yang kita kenal yaitu `orang China' saja. Orang Tionghoa di Indonesia datang dari dua propinsi yaitu Fujian dan Guangdong. Kelompok terbesar yang ada di Indonesia adalah Hokkian (Fujian) yang menurut sensus tahun 1930 berjumlah 550.000 jiwa. Mereka tersebar di Jawa, Madura, Sumatera (kecuali Bengkalis), Indonesia bagian Timur dan sedikit di Kalimantan Barat. Kelompok lainnya yaitu Hakka yang berasal dari Barat Daya propinsi Fujian dan menurut sensus 1930 berjumlah 200.000 jiwa. Kelompok ini banyak terdapat di Kalimantan Barat.

Asal Usul Orang Khek Di Singkawang
Vihara Tri Dharma Bumi Raya

Diangkat dari disertasi Harry Purwanto di Universitas Indonesia buku Orang Cina Khek dari Singkawang ini membahas kehidupan kebudayaan kelompok Hakka (Ke Jia atau Khek) di Indonesia, khususnya di Singkawang, Kalimantan Barat.

Salah satu hal yang menarik adalah istilah `China' yang masih digunakan mereka. Orang-orang China Singkawang, Kalimantan Barat dan di Bangka selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Ch'in tanpa memiliki anggapan bahwa istilah itu mengandung konotasi merendahkan atau menghina. Tidak jarang pula mereka mengidentifikasikan diri sebagai orang Tong Nyin atau orang dari dinasti Tang (618-907 M) yang merupakan orang Manchu (halaman 20).

Menurut pendapat pakar sejarah, istilah China diambil dari Dinasti Qin (baca: Chin) yang berkuasa pada 221-206 SM. Alasannya karena kaisar Qin yang pertama dianggap sebagai pemersatu negeri China. Begitupula dengan Orang Belanda, Inggris dan Italia yang menyebut negeri China dengan China. Sementara orang Rusia menyebut China dengan Kitai (China). Ada pendapat lain di daratan China yang mengatakan bahwa kata China diasosiasikan dengan kata Zhina, sebuah kata yang sengaja diciptakan oleh orang Jepang untuk menghina orang China. Sedangkan orang Jawa jaman dahulu menyebut mereka dengan nama Tartar.

Hal menarik lainnya dalam buku ini adalah penjelasan yang gamblang dan menyeluruh mengenai alasan mengapa orang `China' masih sulit diterima sepenuhnya oleh orang `Indonesia'. Penulis menghubungkan dengan orientasi sejumlah orang `China' yang masih sangat kuat pada negeri leluhurnya serta pandangan merendahkan mereka terhadap suku-suku lain di Indonesia. Sikap inilah yang menghalangi mereka untuk berasimilasi dengan warga setempat (halaman 103).

Selain itu kita diberikan pula data sejarah dan lapangan mengenai persoalan `China' di Indonesia, hasil ketekunan penulis selama 15 tahun. Antara lain; pembahasan mengenai perjanjian dwi kewarganegaraan di zaman pemerintahan Soekarno (hal.68), awal kontak antara orang `China' dengan penduduk asli Kalimantan Barat (hal.117), asal usul nama kota Singkawang yang berasal dari bahasa Hakka, San Kheu Yong (Shan= gunung, Kou= mulut sungai, dan Yang= lautan). Nama Singkawang ini rupanya muncul dari penafsiran para perantau China di masa lampau (halaman 138).

Kelompok orang Khek ini ternyata selalu dianggap "tamu" oleh sesama orang China (baik di Fujian, Guangdong maupun di luar negeri). Pada abad ke-10, mereka pindah dari Henan ke Shantung kemudian pada abad ke-13 pindah ke Fujian. Mereka didesak ke Barat oleh penduduk Fujian dan Guangdong, ke daerah perbukitan yang kurang subur di perbatasan Fujian dan Guangdong. Pengalaman berpindah-pindah dan berjuang untuk hidup dalam kehidupan yang keras inilah yang menyebabkan perseteruan dengan kelompok lain. Mereka menjadi lebih ulet, gigih, keras ketika harus pindah lagi ke luar negerinya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di tempat baru, seperti di Kalimantan, adaptasi mereka ternyata cukup tinggi meskipun mereka dianggap kurang ramah.

Tahun 1760 mereka datang dalam jumlah yang besar ke Kalimantan. Mula-mula mereka didatangkan dan dipekerjakan di tambang emas oleh Sultan Sambas sejak tahun 1740-an. Sebelumnya, hanya orang Dayak dan Melayu yang menjadi penambang tetapi ternyata hasil yang diperoleh sedikit. Sementara itu orang Khek lebih berpengalaman dan unggul dalam teknologi penambangan sehingga dapat memproduksi emas lebih banyak. Orang Khek pada saat itu juga memiliki organisasi untuk mendatangkan buruh `China' dari daratan China dan menguasai buruh sehingga pertambangan dapat terus berlangsung.

Lama kelamaan, karena alasan-alasan seperti ingin bagian yang lebih besar dan tidak puas pada Sultan (mereka merasa diperas) maka mereka tidak menyerahkan emasnya kepada Sultan Sambas tetapi untuk diri mereka sendiri dan mendirikan kongsi. Kongsi adalah organisasi yang mengurus kehidupan orang Khek termasuk memiliki pasukan keamanan untuk menjaga keselamatan masyarakat Khek.

Kongsi pertama menurut Victor Purcell dalam The Chinese in Southeast Asia adalah Lan-fang didirikan di Mandor oleh Lo-Fong-Phak yang berasal dari suku Hakka. Ia tiba di Borneo pada 1772 dengan 100 orang anggota keluarga. Pada awalnya mereka bergerak di bidang pertanian dan tidak ada hubungannya dengan pertambangan. Sementara itu dua kongsi besar lainnya adalah Ta-kang dan San-t'iao-kou. Keberadaan kongsi-kongsi ini tidak disukai pemerintah Hindia Belanda karena mereka menganggap seperti `negara dalam negara'. Alasannya ada beberapa kongsi besar dan kecil memiliki pasukan sendiri, seperti Lan-fang memiliki 6000 prajurit, Ta-kang 10.000 prajurit dan San-t'iao-kou 5000 prajurit.

Akhir abad ke-18, kongsi-kongsi ini tidak lagi `mengakui' kekuasaan Sultan Sambas. Kemudian mereka memberontak dan berusaha mengambil alih usaha tambang emas tersebut. Orang Khek juga pernah bersengketa dengan orang Dayak. Penyebabnya mungkin karena masalah tanah ketika orang Khe mulai membuka hutan untuk ditanami lada dan sayuran.

Kajian antropologis yang menjadi kajian utama buku ini tentunya merupakan bagian yang tidak kalah menarik. Misalnya ketika mereka dipaksa pindah meninggalkan rumah dan tanah mereka, peraturan pemerintah mengenai perimbangan antara murid bumiputera dan murid Tionghoa yang mengakibatkan banyak anak Tionghoa terpaksa tidak sekolah, dan pembahasan mengenai kewajiban orang Tionghoa mengganti namanya dengan nama Indonesia. Padahal, nama bagi orang Tionghoa memiliki makna khusus dan menunjukkan ke'aku'an mereka. Sehingga muncullah nama-nama yang terdengar aneh di telinga, misalnya ada seorang pria di Singkawang yang bernama Tjhin Sin Kie yang mengganti namanya menjadi Fatmawati (halaman 279).

Masih soal penggantian nama, ada di antara mereka yang menggunakan nama Ngatijan. Sekilas nama ini mengingatkan pada nama orang Jawa. Alasan memilih nama ini karena ada pertimbangan untuk tetap menyertakan nama she (marga) mereka ke dalam nama Indonesia. Sebelum berganti nama, ia bernama Ng Sjak Tshin (hal.335). Mereka justru tidak memilih nama Dayak tetapi cenderung memilih nama Jawa atau Melayu. Penulis mengaitkan alasan ini dengan konflik berdarah yang merupakan rangkaian peristiwa pengungsian tahun 1967 yang rupanya menimbulkan `rasa permusuhan laten'.

Seperti pengalaman nenek moyang mereka di negeri leluhur yang selalu dipinggirkan, peristiwa yang hampir mirip yaitu `pengungsian' tahun 1967 juga dialami orang Khek di perantauan. Peristiwa tersebut merupakan ekses politik konfrontasi Indonesia dengan Malaysia dan peristiwa pemberontakan komunis tahun 1965. Berawal dari konflik terbuka antara ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) melawan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Gerilya Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Kelompok PGRS (Pasukan Gerilya Rakyat Serawak) yang terdiri dari orang-orang Cina Komunis atau Leftist (kiri) bersikap oposan terhadap pemerintah RI dan Malaysia.

Kejadiannya berawal pada bulan Juli 1967, ketika itu PGRS menyerang pangkalan udara di Senggau Ledo dekat Serawak. Akibatnya, pemerintah RI berusaha mendapat dukungan dari Malaysia untuk menumpas gerakan tersebut. Oleh karena gerakan itu didukung oleh orang-orang China maka tindakan berikutnya adalah memindahkan orang China dari daerah pedalaman ke kota. Tujuannya untuk mengisolasi sumber logistik dan intelijen mereka. Dalam `menumpas' PGRS, peranan orang Dayak sangat penting sekali. Diperkirakan sekitar 50.000 orang China dipaksa pindah dari desa ke kota. Sedangkan sebagian lainnya terbunuh.

Asal Usul Orang Khek Di Singkawang
 
Dilengkapi dengan indeks, foto-foto, tabel serta bagan, buku ini tidak hanya menarik tetapi juga kaya akan informasi yang mewarnai keragaman studi mengenai salah satu komunitas di Indonesia. Salah satu komunitas yang dalam sejarahnya kerapkali menjadi sasaran diskriminasi dari pemerintah dan masyarakat Indonesia. Selebihnya, untuk lebih dalam menelusuri seluk beluk orang Khek di Indonesia, Thuk Lia Su (baca buku ini) saja!

Suku Melayu di Kalimantan Barat


SampanPesisir- �Melayu di Kalbar adalah Melayu yang heterogen, dimana dalam Melayu Kalbar terdiri dari banyak suku seperti Bugis, Banjar dan lainnya. Kita sebut mereka Melayu asalkan dalam rumah tangga keseharian menggunakan bahasa Melayu, beragama Islam dan tinggal di Kalimantan Barat.�. (Firman  Muntaco, SH, MH. - KETUA Umum DPP PFKPM (Persatuan Forum Komunikasi Pemuda Melayu))

Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan dengan ibu kota Provinsi 'Kota Pontianak'. Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km� (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang di antaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.

Kalimantan Barat berbatasan darat dengan negara bagian Sarawak, Malaysia. Walaupun sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Barat menurut sensus tahun 2004 berjumlah 4.073.304 jiwa (1,85% penduduk Indonesia).

Suku Melayu (bahasa Melayu: Melayu Jawi: ?????) adalah sebuah kelompok etnis dari orang-orang Austronesia terutama yang menghuni Semenanjung Malaya, Sumatra bagian timur, bagian selatan Thailand, pantai selatan Burma, pulau Singapura, Borneo pesisir termasuk Brunei, Kalimantan Barat, dan Sarawak dan Sabah pesisir, dan pulau-pulau kecil yang terletak antara lokasi ini - yang secara kolektif dikenal sebagai Alam Melayu. Lokasi ini sekarang merupakan bagian dari negara modern Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Burma dan Thailand.
Dare Melayu Pontianak

Meskipun begitu, banyak pula masyarakat Minangkabau, Mandailing, dan Dayak yang berpindah ke wilayah pesisir timur Sumatra dan pantai barat Kalimantan, mengaku sebagai orang Melayu. Selain di Nusantara, suku Melayu juga terdapat di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays).

Secara ras atau rumpun bangsa, Melayu di Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Melayu Deutero dan Melayu Proto.

Menurut Teori Antropologi, Bangsa Melayu berasal dari percampuran dua bangsa, yaitu Proto Melayu dan Deutero Melayu. Proto Melayu adalah ras Mongoloid, diperkirakan bermigrasi ke Nusantara sekitar tahun 2500-1500 SM, kemungkinan mereka berasal dari daerah : Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau Kepulauan Taiwan. Sementara Bangsa Deutero Melayu berasal dari dataran Asia Tengah dan Selatan, yang datang ke Nusantara pada sekitar tahun 300 SM. Diperkirakan kedatangan Deutero Melayu membawa pengaruh budaya India yang kuat dalam sejarah Nusantara dan Asia Tenggara. (Ahmad Samantho ) 

Melayu Deutero adalah rumpun Melayu Muda yang datang setelah Melayu Proto pada Zaman Logam sekitar lebih kurang 500 SM. Rumpun yang masuk gelombang kedua ini meliputi suku bangsa Melayu, Aceh, Minangkabau, Sunda, Jawa, Manado, yang bermukim di pulau Sumatra, Jawa, Bali, Madura, dan Sulawesi.

Melayu Proto adalah rumpun Melayu Tua yang datang kali pertama pada masa lebih kurang 1500 SM meliputi suku bangsa Dayak, Toraja, Sasak, Nias, Batak, Kubu dll. yang bermukim di pulau Kalimantan, Sulawesi, Nias, Lombok, dan Sumatra.

Adapun golongan lain yang bukan termasuk rumpun Melayu namun tetap termasuk bangsa di Indonesia yaitu rumpun Melanesia yang bermukim di bagian wilayah timur Indonesia. Meskipun demikian, istilah Melayu yang digunakan di Indonesia lebih mengacu pada arti suku bangsa yang lebih spesifik sehingga Melayu yang ada tidak termasuk suku bangsa Jawa yang merupakan suku bangsa mayoritas.

Berikut ini uraian suku Melayu di wilayah Indonesia:


  • Suku Melayu (Muslim) di Indonesia menurut sensus tahun 2000 terdiri dari:
    • Melayu Tamiang
    • Melayu Palembang, dalam sensus 1930 tidak digolongkan suku Melayu.
    • Melayu Bangka-Belitung, pada sensus 1930 tidak digolongkan suku Melayu. 
    • Melayu Deli
    • Melayu Riau
    • Melayu Jambi
    • Melayu Bengkulu
    • Melayu Pontianak
    • Melayu Sambas

  • Suku bangsa serumpun di Sumatra :
    • Suku Minangkabau (muslim)
    • Suku Kerinci (muslim)
    • Suku Talang Mamak (non muslim)
    • Suku Sakai (non muslim)
    • Orang Laut
    • Suku Rejang (muslim)
    • Suku Serawai (muslim)
    • Suku Pasemah (muslim)
    • Suku Penesak di Marga Danau (Pedamaran), Beti, Meranjat (Muslim)
    • Suku Lubai (muslim)
    • Suku Rambang (muslim)

  • Suku bangsa serumpun di Kalimantan (Rumpun Banjar)
    • Saq Senganan (Dayak Iban masuk Islam)
    • Suku Kedayan (muslim) dan Melayu Brunei (muslim)
    • Suku Banjar (muslim) dan Suku Bukit (non muslim)
    • Suku Berau (muslim)
    • Suku Kutai (muslim) dan Haloq (Dayak Tonyoy-Benuaq masuk Islam)

  • Suku bangsa serumpun di pulau Jawa :
    • Suku Betawi (muslim)

Penyebaran sub Melayu di Kalimantan Barat yang dapat dijabarkan pada pembagian berdasarkan 2 (dua) kelompok asal-usul (Purba,Juniar dkk,2011:106-108) yaitu :


1. Melayu Asli (Indegenous Malays) yaitu kelompok Melayu yang telah sangat lama bermukim di Kalimantan Barat (Melayu pribumi/Melayu setempat/Melayu asli) bahkan dimulai dari Melayu lama (Proto Melayu) berdasarkan geografis,penyebaran fisik,karakter kelompok dan dialek setempat yang digunakan.Atas dasar empat kriteria tersebut,kelompok Melayu Asli (Indegenous Malays) dapat dibagi kedalam 4 (empat) kategori dan terbagi atas sub pengelompokan yaitu:

  • Melayu Pesisir (bermukim di kawasan tepi pantai,laut,sungai, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Sambas, sub Melayu Mempawah, sub Melayu Kubu Raya dan sub Melayu Pontianak.Khusus di Kalimantan Barat,kelompok Melayu ini mayoritas tersebar dikawasan pesisir dan mereka merupakan kelompok yang telah lama bermukim didaerah ini.Bahkan secara umum masyarakat ini dikenal sebagai salah satu penduduk asli Propinsi Kalimantan Barat selain masyarakat Dayak yang lebih banyak tinggal dipedalaman di wilayah Kalimantan Barat.Sehingga kelompok Melayu ini menghasilkan karakter khas yang bersifat relatif lebih tenang dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan alam.
  • Melayu dari kawasan pedalaman dekat,terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Mempawah Hulu,sub Melayu Bengkayang,sub Melayu Landak,sub Melayu Sanggau.
  • Melayu dari kawasan pedalaman jauh,terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Tayan,sub Melayu Sekadau, sub Melayu Melawi,sub Melayu Sintang, sub Melayu Kapuas Hulu.
  • Melayu dari kawasan peralihan pada dua kawasan pedalaman, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Kayong Utara, sub Melayu Ketapang.

2. Melayu Kontemporer (Contemporary Malays) yaitu kelompok pendatang yang berasal dari berbagai kawasan Melayu diluar Kalimantan Barat diantaranya :

  • Daratan Sumatera seperti Palembang,Bengkulu,Sumatera bagian timur (Bangka Belitung,Medan dan sekitarnya,Jambi,Riau Daratan),Riau Kepulauan (Kepulauan Natuna,Tanjungpinang dan Batam sekitarnya).
  • Daratan Kalimantan seperti Kaltim,Kalsel.
  • Malaysia (Semenanjung/Malaysia Barat dan Malaysia Timur seperti Sarawak dan Sabah.

Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera. Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu kuno di Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban yang semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku.

Suku Melayu modern merupakan keturunan orang Melayu kuno dari Kerajaan Malayu. Suku Melayu mendiami beberapa propinsi di Sumatera dan Kalimantan Barat. Suku Melayu juga terdapat di Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand dan Afrika Selatan. Melayu Cape Town di Afrika Selatan merupakan keturunan suku Melayu dan sejumlah suku lainnya yang berasal dari Nusantara seperti Makassar, Banten dan Ternate.  

Kalimantan merupakan tanah asal bahasa Melayu Purba, yang disebut Orang Melayu dalam arti sempit hanya mengacu kepada orang Melayu Pontianak (muncul tahun 1771) yang bertutur mirip bahasa Melayu Riau. Tetapi dalam arti luas, rumpun Melayu mencakup beberapa suku beragama Islam seperti Senganan/Haloq (Dayak masuk Islam), suku Sambas, suku Kedayan (suku Brunei), suku Banjar, suku Kutai dan suku Berau.

Suku Melayu di Kalimantan Barat memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat dengan suku Melayu di Malaysia dan Brunai Darussalam. Tidak mengherankan jika pada musim hari Raya Idul Fitri banyak warga Malaysia dan Brunai Darussalam yang berkunjung ke Kalimantan Barat. Tujuan utama mereka adalah untuk mempererat hubungan silaturahmi dan mengunjungi makam nenek atau datok mereka.   

Suku Melayu Kalimantan Barat umumnya adalah campuran dari berbagai etnis diantaranya keturunan Suku Bugis perantauan di masa lalu terkait sejarah Kerajaan Mempawah (Daeng Menambon, yang tersebar misalnya sepanjang pantai utara wajok ke arah Singkawang), keturunan Arab di Pontianak dan sekitarnya, terkait sejarah Keraton Kadariah Pontianak, serta Suku Melayu perantauan dari Natuna ataupun Sumatra. Sedangkan Suku Melayu di Sambas merupakan gabungan tiga etnis besar yakni: Dayak, Melayu Arab dan Tionghoa. (Sambas = Sam artinya tiga, Bas artinya bangsa atau suku dalam bahasa Tionghoa). Suku Dayak yang memeluk Islam dan telah meninggalkan identisasnya juga dianggap sebagai orang Melayu.

Orang Tionghoa juga cukup banyak terdapat di Kalimantan Barat dan terutama terdapat di kawasan perkotaan. Di Kota Singkawang, etnis Tionghoa merupakan kelompok terbesar, disusul Melayu dan di Kota Pontianak etnis Tionghoa merupakan kelompok etnis terbear kedua setelah Melayu. Suku Jawa dan Suku Madura juga signifikan jumlahnya di Kalbar dan terutama mendiami kawasan transmigrasi dan perkotaan. Suku Sunda juga mendiami sebagian kawasan transmigrasi di Kalbar.

Suku bangsa lainnya yang di Kalimantan Barat yaitu Suku Bugis dan keturunan Arab yang juga banyak terdapat di pesisir dan perkotaan serta Suku Banjar, Suku Batak, Minangkabau dan suku-suku lainnya.

Komposisi Suku Bangsa di Kalimantan Barat berdasarkan Sensus 2000 terdiri suku Sambas (11,92%), Tionghoa (9,46%), Jawa (9,14%), Kendayan (7,83%), Melayu Pontianak (7,50%), Darat (7,39%), Madura (5,46%), Pesaguan (4,79%), Bugis (3,24%), Sunda (1,21%) dan Banjar (0,65%). Publikasi resmi BPS tersebut tidak menunjukkan secara resmi jumlah Suku Melayu dan Dayak.

Berdasarkan data BPS tahun 2003 setelah diolah, Suku bangsa di Kalimantan Barat, yaitu:

 

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu

http://irwansahaja.blogspot.co.id/2014/07/sekilas-penjabaran-sejarah-suku-melayu.html

http://wartakalimantan.blogspot.co.id/2012/03/suku-melayu-kalimantan-barat.html

http://indonesianterrace.com/?p=1054

http://borneonusantaratime.com/2014/03/martabat-dan-marwah-puak-melayu-harus-dijaga/

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *