Blog untuk Pendidikan

Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Februari 2017

Republik Pertama di Bumi Nusantara yaitu Republik Lanfang

SampanPesisir - Republik Lanfang adalah sebuah perkumpulan kongsi Hakka Chinese di Kalimantan Barat. Pendirinya bernama Lo Fang Pak (Luo Fangbo) pada tahun 1777 sampai berakhir dengan pendudukan Belanda pada tahun 1884. Republik Lanfang adalah salah satu republik modern awal di dunia dan repbulik pertama di tanah Nusantara yang sekarang disebut Indonesia.

Lambang Republik Lanfang

Bapak pendiri Republik Lanfang adalah Luo Fangbo (Lo Fang Fak), yang berasal dari Meizhou di Provinsi Guangdong pada tahun 1738, bertepatan pada masa pemerintahan tahun ketiga Dinasti Qing. Luo Fangbo mulai bertualang pada usia 34 tahun. Dia merantau ke Kalimantan Barat saat ramainya orang mencari emas (Gold Rush), dengan menyusuri Han Jiang menuju Shantao, sepanjang pesisir Vietnam, dan akhirnya berlabuh di Kalbar (Wilayah Kesultanan Sambas) pada usia sekitar 41 tahun yaitu pada sekitar tahun 1774 M.

Lukisan Lo Fang Pak di Kelenteng Sungai Purun Besar, Kabupaten Mempawah

Pemukim Cina telah lama tinggal di Kalimantan, dengan sebagian besar terlibat dalam perdagangan dan pertambangan. Mereka membentuk perusahaan mereka sendiri, di antaranya adalah Southern Company yang dipimpin oleh Luo. Asal muasal daerah para pendatang Tionghoa di Kalimantan seperti halnya Lo Fang Pak, umumnya berasal dari Guangdong [Schaank , p10]. Suku-sukunya antara lain Hakka dan Hoklo [Fulao, Schaank , p11]. Para pekerja tambang itu pada mulanya sudah memiliki banyak sekali perhimpunan, namun lambat laun membentuk ikatan lebih besar yang disebut Kong-si.

Pada Tahun 1776 terdapat 12 Kongsi di wilayah Kesultanan Sambas yang berpusat di Montradok dan 2 buah Kongsi di wilayah Panembahan Mempawah yang berpusat di Mandor menyatukan diri dalam wadah lembaga yang bernama Hee Soon untuk memperkuat persatuan di antara mereka dari ancaman pertempuran antara sesama Kongsi seperti yang telah terjadi antara Kongsi Thai Kong dan Lan Fong pada tahun 1774. Salah satu dari 12 Kongsi yang berasal dari wilayah Kesultanan Sambas adalah Kongsi Lanfong yang dihidupkan lagi oleh Luo Fangbo (Lo Fang Fak) dengan Lo Fong Pak sendiri yang menjadi ketuanya.

Setahun kemudian yaitu pada tahun 1777 M Lo Fong Pak memindahkan lokasi Kongsi Lan Fong ke lokasi lain di mana lokasi Kongsi Lan Fong yang baru ini tidak lagi diwilayah Kesultanan Sambas tetapi adalah di wilayah Panembahan Mempawah yaitu Mandor (Tung Ban Lut). Dalam masa pemerintahannya, Luo melaksanakan prinsip-prinsip demokrasi, termasuk gagasan bahwa semua urusan negara harus melibatkan konsultasi warga republik ini.

Luo Fang Bo Memorial

Luo dalam masa kepemimpinannya telah menjalankan system perpajakan [belasting] termasuk pajak perjudian [speeltafels] , dan mempunyai kitab undang undang hukum, menyelenggarakan system pertanian dan pertambangan yang terarah, membangun jaringan transportasi, penjualan opium [verkoop van opium], arak [belasting op de particuliere arak stokerijen] . [Schaank , p99-104] .

Ketika Luo mendirikan Kongsi Lan Fang atau Lan Fang Kongsi, belum ada pemerintahan yang menguasai daerah tersebut. Maka semua hukum dan undang-undang yang berlaku disitu beliau yang menyusunnya. De Groot sangat kagum sejumlah pendatang campur-aduk yang berasal dari kaum petani biasa di Tiongkok mampu mendirikan negara dengan organisasi yang rapih dan terpimpin dimana berlaku hukum, ketertipan dan disiplin. [De Groot , 1885]

Bendera Republik Lanfang  dengan tulisan dalam bahasa Mandarin "Lan Fang Ta Tong Chi"

Luo juga menciptakan seperangkat eksekutif, legislatif, dan lembaga peradilan. Republik ini tidak memiliki militer pada umumnya, namun memiliki kementerian pertahanan yang diberikan milisi nasional berdasarkan wajib militer. Masyarakat republik / kongsi tersebut kebanyakan terlibat dalam pertanian, produksi, perdagangan, dan pertambangan. Divisi administrasi Lanfang ini dibagi menjadi tiga tingkatan (provinsi, prefektur, dan kabupaten) dan orang-orang dipilih secara demokrasi untuk menjadi pemimpin. Lanfang bersekutu dengan Sultan Abdurrahman dari Kesultanan Pontianak.

Koin Republik Lanfang || Credit: alvinology

Van Rees seorang Belanda , memberi kesaksian tentang pergaulan sama rata di kongsi-kongsi itu. Orang yang berpangkat paling tinggi duduk berdampingan dengan kuli yang paling miskin. Menurut van Rees didalam penghidupan sehari-hari orang Tionghoa tidak mempersoalkan tingkat dan pangkat. Penguasa sipil Sambas bernama Muller dan seorang pejabat Belanda bernama Veth juga menyaksikan hubungan sama-rata.

De Groot selanjutnya: �Orang yang terendah pun setiap waktu dapat menghubungi pimpinan. Tiada pemimpin yang merasa tersinggung bila seorang dari rakyat-biasa memasuki ruang kerjanya untuk membicarakan urusan-urusan kecil. Bila bertemu dipersimpangan jalan, pemimpin dan rakyat-biasa saling menyambut dengan ramah.

Para saksi mata juga kagum tenaga kerja orang-orang Tionghoa. Hutan ditebang dan tanah yang tidak begitu subur dijadikan sawah, kebun gula dan kebun buah-buahan. Dikatakan tiada suku lain di dunia dalam keadaan yang sama dapat mewujudkannya. Bekerja dibawah terik panas matahari daerah khatulistiwa dari subuh hingga matahari terbenam, dipersukar oleh kekuasaan Belanda, tanpa perlindungan dari pemerintah tanah leluhur, tanpa modal, hanya dengan kecerdikan dan semangat-berusaha (spirit of enterprise). Menjalin hubungan keluarga dengan penduduk non-tionghoa setempat melalui pernikahan, secara umum terjadi sedari permulaan. Mendirikan sekolahan-sekolahan merupakan salah satu usaha yang utama, sekalipun didesa-desa yang kecil. Diantara kaum Tionghoa sukar dijumpai orang yang buta-huruf.

Mereka disukai penduduk setempat sebagai tenaga yang berharga. Tidak seperti pihak Belanda yang dimana-mana datang dengan kapal perang, serdadu dan senapan. Dengan suku Dayak Batang-lupar dan Punan yang ditakuti sebagai pengayau (penggorok kepala) pun orang-orang Tionghoa dapat memelihara hubungan yang baik. Sedangkan tidak ada orang Eropa yang berani berhadapan dengan suku-suku tersebut tanpa pengawal yang kuat. Demikianlah kesaksian pejabat-pejabat Belanda jaman itu.

Kedatangan orang-orang Hakka semacam Lo Fang Pak dan teman-temannya relatif tidak menimbulkan gesekan sosial. Sebab, orang Hakka dikenal mampu membawa diri, ibarat pepatah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Di samping itu, sebagai pendatang, mereka juga punya keterampilan.

Luo meninggal pada tahun 1795, tahun kedua dideklarasikannya Daerah Otonomi Khusus tersebut (1793). Ia telah hidup di Kalimantan lebih dari 20 tahun. Pada usia ke 47 berdirinya Kongsi Lan Fong tersebut, yaitu pada masa pemerintahan Ketua Kongsi kelima, Liu Tai Er (Hakka: Liu Thoi Nyi), Belanda mulai aktif melakukan ekspansi di Indonesia dan menduduki wilayah tenggara Kalimantan.

Liu Tai Er terbujuk oleh Belanda di Batavia (kini Jakarta) untuk menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Belanda. Penandatanganan kesepakatan tersebut kemudian membuat Kongsi Lan Fong dalam pengaruh Belanda. Munculnya pemberontakan penduduk asli semakin melemahkan Kongsi Lan Fang. Kongsi Lan Fang kemudian kehilangan otonomi dan beralih dari daerah dibawah naungan Sultan Pontianak menjadi sebuah daerah protektorat Belanda. Belanda membuka perwakilan kolonialnya di Pontianak dan mengendalikan sepenuhnya Kongsi Lan Fong dengan melantik Ketua Kongsie sebagai regent.

Pada tahun 1884, Kongsi Thai Kong yang berpusat di Montradok menolak diperintah oleh Belanda, sehingga Kongsi Thai Kong diserang oleh Belanda. Belanda berhasil menduduki Thai Kong Kongsi, namun kongsi tersebut mengadakan perlawanan selama 4 tahun. Perlawan Kongsi Thai Kong terhadap Belanda ini juga kemudian melibatkan Kongsi Lan Fong sehingga Kongsi Lan Fong kemudian juga diserang Belanda dan ditaklukkan Belanda, menyusul kematian Liu Asheng (Hakka: Liu A Sin), Ketua Kongsi Lan Fong yang terakhir. Sebagian warga Kongsi Lan Fong kemudian mengungsi ke Sumatera, Pulau Tumasik (Singapura sekarang).

Kejayaan Lan Fang, kemudian berlanjut di Pulau Tumasik. Lee Kuan Yew pendiri negara Singapura adalah salah satu dari keturunan dari Republik Lanfang. Kakek dari Lee Kuan Yew lahir di Singapura pada 1865 dan menikah dengan Neo Ah Soon, seorang perempuan Hakka Chinese dari Pontianak. Hakka Chinese menjadi minoritas di Singapura. Tapi, memainkan peran penting dalam mendirikan Kongsi Lan Fang yang kedua di Pulau Tumasik yang bernama Singapura.

Daftar Ketua Kongsi yang pernah memimpin Daerah Otonomi Kongsi Lanfang (1777 - 1793 ) dan Daerah Otonomi Khusus Kongsi Lanfang dari tahun 1793 - 1884.

Nama Ketua Kongsi Periode Keterangan
Lo Fangpak 1777-1795     Pendiri Kongsi Lanfang di Mandor pada tahun 1777
Kong Meupak 1795-1799     Perang dengan Panembahan Mempawah
Jak Sipak 1799-1803     Konflik dengan orang Dayak dari Landak
Kong Meupak 1803-1811
Sung Chiappak 1811-1823     Ekspansi tambang di Landak
Liu Thoinyi 1823-1837     Sudah di bawah pengaruh kolonial Belanda
Ku Liukpak 1837-1842     Konflik dengan Panembahan Landak dan kemerosotan  kongsi
Chia Kuifong 1842-1843
Yap Thinfui 1843-1845
Liu Konsin 1845-1848     Pertempuran dengan orang Dayak dari Landak
Liu Asin 1848-1876     Ekspansi tambang ke kawasan Landak
Liu Liongkon 1876-1880
Liu Asin 1880-1884      Kejatuhan Lanfang Kongsi pada tahun 1884

Lan Fang Kongsi yang dirintis oleh Lo Fang Pak ini berusia 107 Tahun dan lebih lama daripada negara persatuan Jerman bentukan Bismarck, yang setelah kira-kira 75 tahun pecah menjadi Jerman Timur dan Barat. Ditambah 12-13 tahun setelah dipersatukan lagi juga belum 100 tahun. Belgia terbentuk tahun 1830 hingga kini 173 tahun dan dengan demikian berumur kurang daripada self-government orang-orang Tionghoa di Palembang yang menurut Victor Purcell berlangsung selama 200 tahun.

Map Republik Lanfang


REFERENSI :

S.H. Schaank , �De Kongsi�s Van Montrado : Bijdrage Tot De Geschiedenis en De Kennis van Het Wezen Der Chineesche Vereenigingen Op De Westkust van Borneo , Batavia , 1893 dalam Ivan Taniputera , �Resensi Buku De Kongsi�s Van Montrado� , Budaya Tionghoa , 30 November 2011

Zhou Nanjing , p394

Benny Setiono , p189-193

Kao Cungxi , �The Book Hakka People � Jews Of The Orient� dalam Dr Irawan , Dr Fritz Hong , �Republik Pertama Di Nusantara � Lanfang� , Mailing-List Budaya Tionghua No 11242 , Budaya Tionghoa No 1505

Dr. J.J.M. de Groot , �Het Kongsiwezen van Borneo� , 1885 , Lihat Sie Hok Tjwan

Willer , �Kronijk (chronicle) Van Mampawa En Pontianak� , Lihat Sie Hok Tjwan

Sie Hok Tjwan , � Sejarah Keturunan Tionghoa Di Asia Tenggara Yang Tidak Dikenal Khalayak Ramai � Kalimantan Barat�, Mailing-List Budaya Tionghua No 1489 � 24 Maret 2004 , Budaya Tionghoa No 158

https://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Lanfang
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1726-lo-fang-pak-1738-1795-pendiri-lan-fang-kongsi

Sabtu, 04 Februari 2017

Asal Usul Suku Melayu Sarawak

SampanPesisir - Sarawak adalah sebuah negeri yang berada di barat laut Pulau Borneo, secara administratif masuk dalam wilayah Malaysia bagian timur, yang berbatasan darat dengan negara Indonesia dan Brunei Darussalam. Kota Kuching menjadi pusat perekonomian terbesar dan sekaligus menjadi ibukota negara bagian Sarawak.

Keberagaman suku di Sarawak menjadikannya kaya akan seni dan budaya, salah satunya adalah Melayu Sarawak. Suku Melayu Sarawak adalah suku bangsa yang menempati wilayah negara bagian Sarawak, menggunakan bahasa Melayu dan beradat Melayu. Kebudayaan Melayu Sarawak berawal sejak berdirinya Kesultanan Sarawak, seperti Kesultanan Islam lainnya di Borneo yang termasuk golongan Melayu.

Melayu Sarawak || Sumber Gambar: instagram/manggees
Secara linguistik, suku Melayu Sarawak termasuk dalam rumpun Dayak Melayik yang dituturkan oleh Dayak Meratus/Bukit (Indonesia), Dayak Iban (dan Saq Senganan), Dayak Kendayan (Kanayatn). Beberapa suku asal Borneo beradat Melayu yang terkait dengan rumpun ini sebagai suku-suku yang berdiri sendiri yaitu Suku Banjar, Suku Kutai, Suku Berau, Suku Sambas, dan Suku Kedayan.

Berdasarkan pola migrasi masa lampau, Melayu Sarawak masuk dalam kategori Proto Malay (aboriginal Malay), sama halnya dengan suku Sambas dan suku asli Borneo lainnya, seperti : Iban, Bidayuh, Kendayan, Banjar. Penamaan Melayu Sarawak muncul pada dinasti Kesultanan Sarawak, sementara itu wilayah dalam Sarawak utamanya didominasi suku-suku yang terdiri dari suku Iban, Kayan dan Kenyah, yang agresif dalam ekspansi teritorial mereka.


Suku Melayu Sarawak pada dasarnya terbagi ke dalam beberapa golongan :

1. Berasal dari tanah Brunei

Melayu yang mendiami kawasan-kawasan yang berdekatan dengan Brunei seperti di Miri adalah berasal dari keturunan Melayu Brunei. Keturunan golongan ini memakai gelaran Abang (bagi lelaki) dan Dayang (bagi perempuan) yang juga berfungsi sebagai nama keluarga (surname). Dan diperkuat oleh keturunan dari raja Kesultanan Sarawak.

2. Berasal dari Sumatera dan Tanah Melayu.

Suku bangsa Melayu di Sarawak mendiami kawasan persisiran pantai. Mereka dipercayai berasal dari Sumatera dan Semenanjung Melayu. Mereka mula datang ke Sarawak sejak abad ke-15 Masehi. Penempatan awal mereka adalah di Lidah Tanah yaitu kawasan di sekitar Sungai Sarawak (kini terletak di Bahagian Kuching).

Pada masa itu, suku ini diketuai oleh seorang Putera Raja bernama Datuk Merpati Jepang. Orang Melayu beragama Islam dan menjalankan aktiviti ekonomi menangkap ikan di laut, bertani dan berniaga. Setelah mereka dijajah oleh Kesultanan Brunei pada abad ke-16 M, keturunan Datuk Merpati Jepang terus dilantik sebagai pentadbir di daerah ini dengan memakai gelaran Datuk. Akhirnya lahirlah jawatan-jawatan pentadbir seperti Datuk Patinggi (sebagai ketua menteri), Datuk Temenggung (menjaga keamanan dan keselamatan) dan Datuk Bandar (mengendalikan hal-hal perdagangan).

3. Suku Pribumi

Sebelum Islam datang ke tanah Sarawak, suku bangsa Dayak masih mengadopsi agama leluhurnya. Namun ada sebagian besar mengalami proses Islamisasi (masuk Melayu), hal - hal adat yang bertolak belakang dengan ajaran akan ditinggalkan. Mereka (suku bangsa Dayak) yang masuk Islam menyebut dirinya dengan Melayu Sarawak.

Persentase jumlah pendatang dari Sumatera, Tanah Melayu, Brunei sangat sedikit berbanding dengan persentase penduduk pribumi Sarawak yang pada awalnya didiami oleh suku bangsa Dayak (Iban). Sekarang antara keduanya sudah tidak lagi bisa dibedakan mana yang asli dan mana yang bukan. Kewujudan golongan ini juga telah menyebabkan terciptanya bahasa Melayu loghat Sarawak. Seperti bahasa Melayu loghat Kelantan, bahasa Melayu loghat Sarawak agak sukar untuk difahami oleh penutur-penutur loghat Melayu yang lain kerana loghat tersebut banyak menyerap perkataan dan istilah dari bahasa Dayak khususnya Iban.

Bahasa Sarawak (Melayu Sarawak) sangat berbeda jauh dengan bahasa melayu di Sumatera dan Tanah Melayu. Bahasa ini lebih banyak mempunyai persamaan kosakata dengan bahasa Sambas, Iban, dan suku Borneo lainnya. Bahasa Melayu Sarawak termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia dan menjadi bahasa ibu Suku Melayu Sarawak.

Bahasa Sambas
Bahasa Melayu Sarawak
Bahasa Melayu Baku
Aku / Kamek
Kamek
Saya
Kau / Direk / Kitak
Kitak
Kamu
Die / Nye
Nya
Dia
Aok / Auk
Aok/Auk
Iya
Ndak / Da�an
Sik
Tidak/Tak
Sik an / Disik
Sik Ada
Tidak Ada
Ngape
Kenak
Kenapa
Sitok
Sitok
Sini
Sinun
Sinun
Sana
Sie
Sia
Sine
Mane
Ne
Mana
Madah / Padah
Madah
Mengadu / Beritahu
Ngomong
Kelakar
Berbicara / berbincang
Biak ye
Sidaknya
Mereka
Urrang
Sidak
Orang
Punye
Empun
Punya
Kin itok
Kinektok
Sekarang
Dudi
Dudi
Kemudian
Ye
Ya
Itu
Simari / Simare�
Ari Marek
Kemarin
Ari Ye
Ari Ya
Hari Itu
Biak
Mbiak/Biak/Miak
Anak

Selasa, 17 Januari 2017

Eksistensi Kebudayaan Tionghoa Dalam Perayaan Imlek di Kota Singkawang, Kalimantan Barat

SampanPesisir - Indonesia adalah suatu bangsa besar dengan keberagaman sebagai kekuatannya. Keberagaman suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke merupakan warisan sejarah bangsa yang seharusnya kita rawat. Bhineka Tunggal Ika menjadi konsep yang jitu dalam mempersatukan keberagaman bangsa Indonesia. Kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat berwujud sebagai komunitas desa, kota, kelompok kekerabatan, atau kelompok adat lainnya yang memunculkan ciri khas dari masyarakat tersebut.

Eksistensi Kebudayaan Tionghoa Dalam Perayaan Imlek di Kota Singkawang

Masyarakat Tionghoa Indonesia adalah kelompok orang dengan elemen budaya yang dikenali sebagai atau dapat disebabkan oleh budaya Tionghoa. Sejarah mencatat bahwa kedatangan leluhur suku bangsa Tionghoa di Indonesia berasal dari dataran Tiongkok selatan, yang datang secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu dengan tujuan awal untuk berdagang.

Data yang dipublikasikan melalui website Badan Pusat Statistik (BPS) http://www.bps.go.id, menyebutkan populasi suku bangsa Tionghoa terbanyak menurut provinsi adalah DKI Jakarta, Kalimantan Barat, dan Sumatera Utara. Di Kalimantan Barat, masyarakat Tionghoa menjadi suku mayoritas setelah Dayak dan Melayu. 

Keberadaan masyarakat Tionghoa di Bumi Khatulistiwa juga menjadi salah satu hal yang menunjukan kekhasan provinsi Kalimantan Barat karena jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan di empat provinsi Kalimantan lainnya.

Di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, masyarakat Tionghoa Indonesia masih mempertahankan kebudayaan asli dari leluhurnya dan mereka juga masih menggunakan bahasa Tionghoa secara turun termurun sebagai bahasa sehari-harinya. Kota Singkawang dalam bahasa Hakka disebut San Khew Jong, kota ini mayoritas dihuni masyarakat Tionghoa berbahasa Khek.

Masyarakat Tionghoa Singkawang terus berbenah untuk memperkenalkan kebudayaannya ke seantero Indonesia bahkan dunia dengan mengadakan event budaya setiap tahunnya, seperti Festival Cap Go Meh dalam menyemarakkan perayaan Imlek. Seperti halnya bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia lainnya, perayaan Imlek di Kota Singkawang menawarkan berbagai perayaan khas yang memiliki daya tarik tersendiri, unik, megah, dan meriah.


Perayaan Imlek di Kota Singkawang atau lebih dikenal dengan Festival Cap Go Meh Singkawang merupakan akulturasi nyata budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu, serta kebudayaan lokal Kalimantan Barat lainnya. Perayaan Imlek tersebut telah berbaur dengan kekayaan tradisi lokal juga menjadi potret nyata beragamnya Indonesia. Festival Cap Go Meh yang merupakan agenda tahunan Kota Singkawang menjadi salah satu andalan pariwisata di Kalimantan Barat.


Cap Go Meh atau hari ke-15 tahun baru Imlek selalu menyisakan cerita yang mengesankan dan gebyar sebuah perayaan Imlek terbesar di Indonesia. Seluruh masyarakat Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dan sekitarnya, seakan tumpah menjadi satu. Singkawang menjadi terkenal karena acara Cap Go Meh yang meriah dan dinominasikan sebagai penyelenggaraan Cap Go Meh terbesar di Asia Tenggara.


Seperti halnya bagi masyarakat Dayak Kalimantan Barat dalam event Gawai Dayak sebagai upacara syukuran masyarakat Dayak atas hasil panen. Perayaan Imlek selain menyemarakkan tahun baru, juga merupakan sebuah tradisi masyarakat Tionghoa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panenan dan sekaligus harapan agar musim berikutnya memperoleh hasil yang lebih baik.


Perayaan Imlek di Singkawang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama atau yang lebih dikenal dengan istilah Cap Go Meh. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa Singkawang, malam ke-15 merupakan puncak perayaan Imlek dan Cap Go Meh dirayakan secara khusus. 


Perayaan Imlek di Indonesia
Salah satu peserta tatung Festival Cap Go Meh Singkawang tahun 2016

Festival Cap Go Meh Singkawang menyuguhkan atraksi budaya, seperti : Tarian Kolosal Tidayu (Tionghoa, Dayak, Melayu), Pawai Lampion, Atraksi Barongsai, Atrasi Ular Naga, Choi Lam Shin (keranjang jelangkung), dan yang paling semarak adalah Atraksi Tatung.

Atraksi Tatung menjadi media utama dalam menyemarakkan perayaan Imlek di Kota Singkawang. Dalam tradisi ini, tatung digunakan untuk menangkal gangguan atau kesialan di masa mendatang, seperti mengusir roh-roh jahat dari seluruh kota. Orang yang menjadi Tatung dalam atraksi ini dimasuki roh leluhur mereka. 


Tatung berkeliling di jalanan kota Singkawang untuk mengusir roh jahat

Upacara pemanggilan roh leluhur untuk merasuki Tatung dipimpin oleh seorang pendeta, dan untuk menjadi tatung diwajibkan berpuasa selama 3 hari sebelum hari perayaan, dengan kata lain mereka harus disucikan terlebih dahulu.

Para tatung yang dirasuki oleh roh leluhur akan melakukan atraksi menegangkan dan ekstrim seperti menusuk pipi, menginjak-injak sebilah mata pedang atau pisau, menancapkan kawat-kawat baja runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri, hingga aksi mengupas kelapa dengan gigi. Beberapa Tatung yang lain dengan lahapnya memakan hewan atau ayam hidup-hidup lalu meminum darahnya yang masih segar dan mentah. 


Seorang peserta Tatung kebal terhadap benda tajam
Salah satu peserta Tatung dengan lahapnya memakan ayam hidup-hidup
Tahun lalu, ada sekitar 494 tatung yang beratraksi pada event budaya Festival Cap Go Meh Imlek 2567 di Kota Singkawang. Jumlah Tatung mendaftar dari tahun ke tahun selalu berubah. Para Tatung yang terpilih dan lolos seleksi yang ketat akan diberi santunan.

Itulah Eksistensi Kebudayaan Tionghoa Dalam Perayaan Imlek di Kota Singkawang, hingga kini perayaan Cap Go Meh menjadi ajang promosi budaya Tionghoa dan pariwisata di Kalimantan Barat. Perayaan Imlek di Indonesia bagi masyarakat Tionghoa memiliki beragam arti, seperti : makna astronomis, agamis, agraris, sosial budaya, politis, dan juga bisnis. 

Festival Imlek Indonesia 2017

Disclaimer: Semua gambar dalam artikel ini adalah koleksi pribadi, taken by @moycumoy

Senin, 16 Januari 2017

CERITA RAKYAT SALAKO: Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup

SampanPesisir - Suku Dayak Salako yang bermukim di kawasan benua Sambas (Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, dan Kota Singkawang) dan sebagian kecil di Sarawak (Malaysia) mempercayai cerita rakyat tentang asal usul padi yang berasal dari Jubata Nek Baruakng Kulup, anak dari Nek Karantiko. 

Cerita rakyat Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup menceritakan tentang Ayah dari Nek Baruakng Kulup tidak setuju dengan perbuatan anaknya yang sengaja memberikan benih padi kepada talino (manusia). Nek Karantiko khawatir manusia tidak mampu merawat padi itu dengan baik karena padi merupakan tanaman yang memiliki spirit atau roh. 

CERITA RAKYAT SALAKO: Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup

Sifat manusia yang bongko' karongo (sifat jahat yang sewenang-wenang tanpa ada belas kasihan), oso (kegemaran manusia yang suka mengambil sesuatu dan melebihi kebutuhan yang akhirnya dibuang-buang, serta tidak berhemat dan tidak memikirkan hari esok), dan piroro (tidak mau menjaga, merawat, menghargai dan menghormati sesuatu yang telah menunjang kehidupan agar tetap baik dan utuh). Pada akhirnya, ketiga sifat jelek manusia itu dikontrol oleh adat, diperkuat oleh pandangan kosmologi dan mitos-mitosnya. Atas kemurahan hati Jubata Nek Baruakng Kulub dan alam, para talino (manusia) hingga sekarang bisa merasakan nikmatnya nasi dari benih padi tersebut.

Begitu banyak versi terkait cerita ini, berikut adalah salah satu versi Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup yang berhasil saya himpun dan rewrite. Selamat membaca.

Dahulu kala, hiduplah manusia dari negeri kayangan bernama Nek Panitah dengan istrinya yang bernama Nek Duniang. Sungguhpun demikian, mereka tidak campur tidur. Nek Panitah kemudian meminta anak. �Yang-yang Si Julate, aku minta ada manjadiatn anak � kata Nek Panitah. Tiba-tiba jadilah anak, yang kemudian diberinya nama Baruakng. Karena tidak disunat, maka nama anak itu menjadi Baruakng Kulub.

Setelah cukup besar, Baruakng kecil suka sekali bermain. Ia terus turun ke bumi, untuk bertemu Umang-Umang dan Bulit-Bulit. Mereka bertiga bermain gasing, namun Umang-Umang dan Bulit-Bulit selalu saja kalah. Baruakng tahu bahwa teman-temannya ini masih makan Kulat Karakng (sejenis jamur/cendawan), makanya dengan mudah ia mengalahkan mereka.

Pada suatu hari, Baruakng turun lagi ke bumi. Ia lupa bahwa dibetisnya, masih terdapat sisa nasi yang melekat. Biji nasi itu terlihat oleh Umang-Umang, lalu langsung diambil dan dimakannya. Tiba-tiba ia merasa segar sekali badannya. Terus bermain, kalahlah Baruakng.

�Kenapa ya..kamu bisa kalahkan aku ? �Tanya Baruakng.

�Ee..aku makan sesuatu yang melekat di betismu. Apa sih namanya ? �kata Umang-Umang sedikit bertanya, karena heran.

�itulah nasi � jawab Baruakng.

�Seperti apa sih bentuknya nasi itu ? �Tanya Bulit-Bulit.

�O�sebelum nasi, namanya beras. Itulah yang kau makan tadi. Sebenarnya nasi itu tidak ketahuan melekat dibetisku � kata Baruakng.

�Cobalah bawakan kami barang itu, kami ingin melihatnya � Pinta Umang-Umang.

�payah�nanti bapak ibuku marah. Mereka menilai manusia di dunia tidak hemat. Itulah makanya mereka tidak mau memberi kalian, sebab Piroro (selalu terlantar/tidak terurus baik).

�Cobalah..bawakan sedikit saja. Kami ingin sekali melihatnya�, kata Bulit-Bulit.

Karena terus didesak kedua temannya, segera Baruakng naik lagi ke atas (dunianya, Sapangko). Ia berlari hingga sampai ke dangau padi ibunya.

�Mari pulang. Jangan kamu bawa padi itu, nanti bapakmu marah�, kata Nek Duniang kepada Baruakng. Lalu mereka pulang kerumah.

Besoknya, Baruakng pergi lagi ke dangau padi bersama ibunya yang sedang bekerja sendiri diladang. Diambilnya sebiji padi itu dan disimpan di celana kulitnya. Agar tidak ketahuan bapaknya. Namun ternyata tetap ketahuan, oleh karenanya diambil lagi. Bapaknya marah besar dengan Baruakng. Merasa rindu dengan teman-temannya, Baruakng turun lagi kebumi dan mengajak Umang-Umang dan Bulit-Bulit bermain gasing.

�Adakah kamu bawa sesuatu yang kami minta itu ?� Tanya Umang-Umang.

�Tidak jadi saya bawa. Sebenarnya telah kubawa barangi itu, tapi ketahuan bapakku. Lalu diambil lagi � kata Baruakng.

�Coba kamu simpan dikulit kepala � anu�mu�, kata Umang-Umang.

Baruakng segera naik lagi keatas. Ia segera mengambil padi tersebut dan menyimpannya dikulit kepala �anu�nya. Bergegas Baruakng turun ke bumi menemui Umang-Umang dan Bulit-Bulit.

�Jangan kamu tanam diluar rumah. Tanamlah didapur, agar tidak ketahuan bapakku. �, kata Baruakng berpesan.

Umang-Umang menanam padi itu pada bulan enam, tujuh dan delapan. Setelah cukup besar padi itu, keluar pelepah, keluar anak-anaknya, hingga bunting. Butir-butir padi itu terus menguning dan siap dipanen. Nek Panitah tanpa sengaja melihat kebawah dan terkejutlah ia melihat padi itu.

�Ha..lihatlah kerja Baruakng. Sudah diberikannya manusia padi itu. Karena kamu tidak memperhatikannya, tidak kamu jaga dia bermain�, kata Nek Panitah kepada istrinya.

�Habis, mau bagaimana lagi ?�, jawab Nek Duniang.

�Itulah kamu. Brengsek, tidak hemat. Tunggu, nanti kubunuh anak itu � kata Nek Panitah. Menangislah Nek Duniang oleh ucapan suaminya itu, ia takut anaknya dibunuh. Setelah itu, ia bertemu Baruakng.

�Larilah kamu segera, kamu sudah salah karena memberi manusia padi�, kata ibunya kepada Baruakng.

Nek Panitah membuat Pate� (ranjau dari potongan kayu diruncingkan untuk membunuh), berhentilah ibunya menangis. Kemudian tubuhnya bersisik, ia menangisi lagi Baruakng. Dilihatnya ke bawah, dan terlihat Baruakng sangat ingin pulang ke atas untuk bertemu ibu bapaknya. Diturunkannya induk babi betina yang telah tua. Datanglah anaknya itu. Kemudian ia berkata.

�Itulah anak kita telah lari, tinggal adoh (induk babi betina) yang terkena pate� (ranjau) ku�.

�Baik-baik kau nak, kalau di jalan yang lurus, tentu kau sampai ke subayatn, dan kalau ke kiri kau akan sampai ke bumi manusia�, kata Nek Duniang.

Baruakng terus saja berjalan, ia lupa telah berjalan ke kanan dan sampailah ia ke subayatn. Di subayatn, ia tertarik dengan Si Putih, gadis subayatn.

�Saya suku kamu, bolehkah kita menikah ? � Tanya Baruakng.

�Saya juga suka kamu�, kata Si Putih.

Mereka kemudian menikah. Setelah lama menikah, ia teringat ibunya. Karena teramat rindu, ia pulang dan bertemu.

�Kemana kamu pergi ?�, Tanya ibunya.

�Jalan yang lurus. Istriku si Putih, cantik sekali�, kata Baruakng.

�Pura-pura pulang kamu anakku. Lihatlah gutu (kutu) dikepalanya, ada satu rambutnya yang diatas kepala. Cabutlah, terus ia akan benci denganmu�, pesan ibunya.

Terasa pikiran si Putih untuk hamil, segera dilihatnya perutnya telah besar. Dulu, sangat lama menikah dengan Baruakng ia tak kunjung hamil sekarang ia telah hamil. Setelah berumur sembilan bulan sepuluh hari, keluarlah anak itu. Apa yang dilahirkannya ? ternyata segala burung. Heranlah Baruakng.

�Mengapa istriku melahirkan burung banyak sekali ?. sedih sekali aku melihat istriku melahirkan burung. Besok aku harus bertemu ibuku�, ujar Baruakng dalam hati. Keesokan harinya, Baruakng naik lagi ke atas dan bertemu ibunya.

�Bu, mengapa istriku melahirkan burung ? makanan apa yang harus kuberikan mereka nanti ? siapa nanti namanya harus kuberikan ? � Tanya Baruakng.

�Oh�sebenarnya tidak sulit benar memberinya nama anakku. Tancapkan saja aur (sejenis bamboo yang daunnya sangat kecil, runcing dan memanjang) ke ujung pante (halaman rumah), lepaskanlah seekor demi seekor. Lepaskan yang tertua, maka berkata Keto. Kemudian Kohor, Caruit, Buria�. Lepaskan lagi yang tertua berkata Biang, kemudian Jantek, Rooh, Jeje, Ansit, Dugal, Tongo�, Adatn, Kijakng�, kata Nek Duniang kepada Baruakng. Itulah langkah-langkah berladang, mengerjakan padi itu, tambahnya.

�Pulanglah kamu segera dengan istrimu itu. Kamu harus cerai, cabut rambutnya diatas kepala, ia pasti benci dengan mu.� Pesan ibunya lagi.

Kemudian datanglah bapaknya kepada Baruakng.

�Ceraikan saja istrimu itu. Turunlah kamu di dunia, mengajar manusia. Kebetulan kamu telah memberi manusia padi. Kamu harus beristri lagi segera�, kata Nek Panitah.

Baruakng turun lagi, dan menikah dengan Jamani, seorang gadis dari dunia. Setelah lama bersuami-istri, Jamani hamil. Setelah cukup umur kehamilannya, ia kemudian melahirkan seorang bayi, yang diberinya nama Kulikng Langit. Kulikng Langit tumbuh dengan cepat, sehingga tidak lama kemudian ia hampir dewasa. Ia senang bermain. 

Didekat rumahnya, terdapat sebatang pohon langsat. Karena tertarik dan berminat untuk makan buah langsat yang telah masak, ia memanjat pohon tersbut. Baruakng tidak tahu kalau anaknya akan memanjat pohon langsat, karena ia telah bersiap akan naik keatas, menemui orang tuanya.

�Begini istriku, aku akan naik keatas. Kalau anakmu telah turun ke tanah, katakan padanya, jangan dilanggar kata kakaknya (keto,jantek dll). Kalau ia ingin naik atau turun, jangan sekali-kali dilanggar kata kakaknya. Segala Kohor, Jantek, Keto, Buria�, Biang, Rooh, Jeje. Sebab kalau di langgar, ia akan menerima naas�, pesan Baruakng kepada istrinya.

Setelah tahu tidak ada bapaknya, Kulikng Langit masih berminat sekali untuk memanjat pohon langsat untuk mengambil buahnya. Tiba-tiba, Keto terbang tepat didepannya. Ia tahu, tetapi tetap saja ia tidak menghiraukan kata-kata kakaknya. Setelah tiga kali dlarang kakaknya tetap tidak mau, Kulikng Langit tetap memanjat pohon itu. Belum sempat diatas, tiba-tiba ia terjatuh. Tubuhnya hancur menimpa batu, karena tepat diatas hamparan batu.

�Ha..mestinya kita harus beritahu ayah�, kata Keto. Setelah itu, mayat Kulikng Langit dibawa keatas, menemui Nek Panitah.

�Aku ini tali nyawa, hiduplah kamu�, kata Nek Panitah. Kulikng Langit hidup kembali, tetapi ia kemudian dilarang kembali ke dunia bersama manusia.

�Ha�kamu Baruakng, turunlah lagi kedunia. Kamu ajarkan palangkahan (teknik menghindari naas) segala kata burung kepada manusia�, kata Nek Panitah. 

Turunlah Baruakng kedunia. Itulah hingga kini, manusia,khususnya di kalangan orang Dayak tetap mengingat dan memperhatikan tanda-tanda alam seperti, kata burung dan lain-lain bila ingin mengerjakan sesuatu, terutama bila akan memulai perladangan.

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *