Blog untuk Pendidikan

Tampilkan postingan dengan label CERITA RAKYAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA RAKYAT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Oktober 2017

BRizey Printing: Percetakan Banner/ Spanduk/ Baliho Termurah di Pontianak

Foto Binardi Complaint.


SampanPesisir - Percetakan yang termurah di Pontianak ini sangat cocok untuk Anda yang ingin mencetak banner/baliho/spanduk, karena di tempat ini ditawarkan harga murah. Tidak hanya percetakan banner/baliho/spanduk saja yang tersedia, toko ini menyediakan juga jasa sablon kaos satuan/lusinan, cetak stiker murah, buat stempel laser dan lain-lain.

Harga cetak Banner/ Baliho/ Spanduk hanya:
Rp 20.000,- /m2

Bagi Anda yang berminat silakan hubungi No Hp/WA 089699918466
Alamat di Jalan A.Yani komplek Politeknik Negeri Pontianak atau di Jalan Paris 2, Gg Selasih Pontianak

Selasa, 07 Maret 2017

CERITA SAMBAS: Puteri Dewi Indah Sari

SampanPesisir- Alkisah, menurut yang empunya cerita, bahwa pada zaman dahulu, di Pantai Utara daerah Kalimantan Barat (tepatnya di Kabupaten Sambas yang sekarang), terdapatlah sebuah kerajaan yang cukup besar. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Jaya Samudra. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang gagah berani, Indera Perkasa, namanya. Beliau memerintah didampingi permaisurinya yang jelita. Prabu Indera Perkasa mempunyai tiga orang anak. Ketiganya tersebut semuanya wanita. Anak beliau yang sulung bernama Dewi Puspa. Putri yang tengah bernama Dewi Kumala, sedangkan yang bungsu bernama Dewi Indah Sari.

Kerajaan Jaya Samudra adalah sebuah kerajaan maritim, karena sebagian besar rakyatnya hidup dari pelayaran dan perdagangan. Kerajaan ini juga memproduksi garam yang mereka buat dari air laut. Garam-garam yang banyak itu mereka jual ke kerajaan lain. Selain yang tersebut di atas, kerajaan Jaya Samudra ini memiliki para panglima dan pahlawan yang tangguh. Mereka ini sangat mahir mempergunakan senjata. Diantara para panglima raja ada juga orang Cina.


Orang-orang Cina ini pada mulanya adalah bajak-bajak laut yang saat itu berkeliaran di Tanjung Datok dan Selat Karimata. Mereka ditangkap oleh angkatan laut kerajaan. Akhirnya mereka bersumpah setia kepada raja dan akan mengabdi pada kerajaan. Ada juga diantara mereka yang kawin dengan gadis-gadis Melayu, turun-temurun hingga sekarang. Para panglima ini adalah jago-jago kungfu, tembong, toya dan senjata lainnya yang sudah menjadi menu bagi mereka. Hal ini tidak mengherankan, karena saat itu kawasan ini merupakan ajang perkelahian dengan bajak-bajak laut yang ganas dan buas. Kerajaan Jaya Samudra berkewajiban melindungi rakyatnya dari gangguan para bajak laut, melindungi pelayaran dan perdagangannya.

Pada suatu hari Prabu Indera Perkasa, raja Kerajaan Jaya Samudra ini ingin mengetahui betapa besar kasih sayang ketiga putrinya yang telah dewasa itu kepada dirinya. Maka sepengetahuan permaisurinya, ketiga putri itu segera dipanggil untuk menghadap baginda raja. Ketiga putri ini semuanya cantik jelita membuat hati berdebar-debar bagi siapa yang melihatnya. Jika kita meminjam istilah pujangga lama 'Wajah bak bulan purnama, rambut tebal hitam mengkilat tanpa clear, terurai sampai ke tumit, mata tajam seperti bintang kejora, kulit mulus bagaikan salju di Himalaya, hidung mancung, pinggang ramp- ing. Berle~er jenjang, air diminum tampak berbayang, pokoknya cantiklah. Kita sudah kehabisan kata-kata untuk menilainya.

Setelah ketiga putri itu datang, bersabdalah baginda: 'Wahai ananda Dewi,' kata Sang Prabu Indera Perkasa kepada Dewi Puspa, putri sulungnya, yang telah berada di hadapannya.

'Ampun Ayahanda,' jawab Dewi Puspa.

'Anaknda menghaturkan sembah bakti kepada ayahanda Prabu dan Ibunda,' tambah Dewi Puspa.

'Kuterima sembah baktimu, anaknda Dewi, kata Sang Prabu Indera Perkasa.

'Perlu anaknda ketahui, ayah dan ibu sangat sayang kepadamu. Sejak kecil engkau kupelihara dan kumanjakan dengan penuh cinta kasih. Berbagai permintaanmu semuanya ayahnda turuti, sehingga engkau menjadi dewasa. Sekarang ayah dan ibumu ingin sekali mendengar pernyataanmu. Sebesar apakah kasih sayangmu kepada ayah, dan ibumu, Dewi?'

'Ampun beribu ampun ayahnda Prabu,' jawab Dewi Puspa. 'Betapa besarnya rasa kasih sayang anaknda kepada ayahnda dan ibunda, tak dapat anaknda gambarkan dengan kata-kata. Seandainya boleh anaknda perumpamakan, kasih sayang itu bagaikan besarnya rasa senang diri anaknda pada perhiasan emas, intan dan mutiara yang gemerlapan.'

Mendengar pernyataan putri sulungnya itu, Sang Prabu Indera Perkasa sangat senang sekali hatinya. Ia gembira ria dan tertawa. Kegembiraan Sang Prabu Indera Perkasa semakin meluap setelah beliau mendengar pernyataan dari Dewi Kumala, putrinya yang kedua Dewi Kumala menjelaskan bahwa betapa besarnya rasa kasih sayangnya itu, sebesar cintanya kepada bangsa dan tanah airnya. Akan tetapi, wajah cerah Sang Prabu cepat berubah ketika mendengar pernyataan dari Dewi Indah Sari, putri bungsunya.

Dewi Indah Sari hanya mengumpamakan besarnya rasa kasih sayang itu sebanding dengan cintanya kepada garam. Sang Prabu Indera Perkasa murka bukan kepalang. Baginda segera memerintahkan kepada para patihnya, agar membawa Dewi Indah Sari ke dalam hutan. Ia harus dibuang ke sana. Demikianlah Dewi Indah Sari pun kemudian diasingkan ke tengah hutan belantara rimba Kalimantan yang sangat lebat. Di hutan rimba itu Dewi Indah Sari harus menanggulangi hidupnya sendiri, sehingga lama-kelamaan Dewi Indah Sari menjadi terbiasa hidup di hutan yang sunyi itu. Memang putri bungsu ini seorang yang tabah dan tetap pada pendiriannya. Apa yang ia anggap benar adalah benar dan apa yang salah tidak mau ia mengatakan benar. Ia tidak terpengaruh oleh sesuatu, sehingga membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, entah berapa purnama Putri Indah Sari hidup di dalam hutan. Ia telah menjadi terbiasa. Ia tetap tabah menghadapi segala cobaan. Rintangan demi rintangan, suka duka ia lalui dengan penuh ketabahan. Tiga tahun telah berlalu, Sang Prabu Indera Perkasa pergi berburu bersama para pengawalnya. Memang di kawasan hutan pantai utara daerah Kalimantan Barat saat itu banyak sekali binatang buruan, seperti rusa, kijang dan sebagainya. Dendeng rusa sudah menjadi makanan istimewa masyarakat pada zaman itu. Bukan saja di daerah pesisir, tapi di mana- mana masyarakat di seluruh Kalimantan Barat menggemarinya, kecuali suku-suku Dayak di kawasan ketungau pedalaman tidak mau makan daging rusa, karena mereka beranggapan bahwa rusa itu penjelmaan manusia. Binatang rusa mereka keramatkan.

Demikianlah dalam perburuan itu mereka kejar mengejar dengan segala binatang buruan yang ada di sana. Para pengawal dan pengiring semuanya aktif, tak ada yang mau ketinggalan. Namun mereka belum mau kembali, karena asyik sekali perburuan itu. Malang tak dapat ditolak, untung belum dapat diraih, Baginda Prabu Indra Perkasa terpisah dari para prajurit yang mengawalnya berburu di tengah hutan lebat itu. Baginda tersesat di dalam hutan. Lalu baginda menjelajahi hutan yang lebat itu.

Setelah beberapa lama menjelajah, akhirnya baginda ditakdirkan sampai ke tempat kediaman Dewi Indah Sari. Namun Sang Prabu tidak lagi mengenal Dewi Indah Sari, sedangkan Dewi Indah Sari mengenal ayahndanya. Melihat Sang Prabu Indera Perkasa yang kemalaman di tengah hutan itu, Dewi Indah Sari segera menyambutnya. Ia mempersilakan baginda masuk ke dalam pondoknya. Sedangkan Dewi Indah Sari sendiri lalu pergi ke dapur, untuk memasak ia menghidangkan makanan itu kepada Sang Prabu.

Ketika baginda menyantap makanan yang berbau lezat itu, baginda terkejut.

'Wahai anak muda, Masakanmu sedap, tetapi hambar rasanya. Apakah tidak diberi garam?' kata Sang Prabu kepada Dewi Indah Sari.

'Ampun Tuanku, Tuanku benar. Hamba sengaja tidak memberi garam pada masakan hamba. Bukankah Tuanku sangat bend pada garam?' jawab Dewi Indah Sari sambil menundukkan kepalanya.

'Apa katamu anak muda?, Aku membenci garam?,' tanya Sang Prabu Indera Perkasa bertambah heran atas perkataan Dewi Indah Sari.

Dengan terbata-bata karena heran, beliau berkata 'Siapa yang mengatakannya kepadamu?'

'Ampun Tuanku. Tidak ada orang yang mengatakan demikian kepada hamba. Hanya sepengetahuan hamba, Tuanku pernah mengusir putri Tuanku sendiri, hanya karena menganggap rendah pada garam,' jawab Dewi Indah Sari.

Sejenak baginda termenung mendengar jawaban dari anak muda itu. Sang Prabu tak habis pikir, bagaimana ia bisa tahu, padahal ia tinggal di dalam hutan lebat, jauh dari keramaian orang banyak. Mendengar jawaban dari Dewi Indah Sari Sang Prabu teringat pada peristiwa itu. Peristiwa yang baru saja beberapa tahun berselang, seolah-olah telah ia lupakan sarna sekali. Baginda kemudian sadar bahwa pernyataan putrinya itu benar. Dan apa yang dikatakan oleh wanita muda ini juga benar.

Kemudian baginda memandang dan menatap wajah Dewi Indah Sari. 'Ananda Dewi ........ Indah Sari!' seru Sang Prabu kepada Dewi Indah Sari, setelah baginda yakin bahwa anak muda itu adalah Dewi Indah Sari, putrinya yang pernah dia usir dari istana. Kemudian baginda memeluk Dewi Indah Sari dengan eratnya, sebagai rasa sayang seorang ayah kepada anaknya yang telah lama berpisah.

'Ampun ayahanda Prabu,' sahut Dewi Indah Sari menangis terisak. Ia tak dapat menahan goncangan hati, karena gembiranya. 'Ayah bersalah, Dewi,' kata Sang Prabu. ' Ayah lupa, garam adalah barang kecil yang remeh, tetapi banyak sekali gunanya. Garam tak dapat dipisahkan dari kehidupan kita.'

Sementara itu para pengawal raja yang terpisah menjadi resah gelisah, karena tidak ada dan entah kemana baginda pergi. Mereka sibuk mencari ke mana-mana dalam hutan yang lebat itu,tapi tak bersua. Namun pada akhirnya mereka sampai juga ke pondok Dewi Indah Sari. Betapa sukacitanya para pengawal karena raja ada di sana, tidak hilang seperti yang mereka perkirakan. Yang menakjubkan mereka, karena raja ada bersama-sama putri beliau, putri Dewi Indah Sari.

Diantara para prajurit pengawal baginda, ada yang masih kenal pada putri Dewi Indah Sari. Raja menjelaskan segala sesuatu kepada pengawalnya. Kemudian mereka pulang bersama-sama ke istana dengan penuh kegembiraan. Setelah kejadian itu, dan sekembalinya Sang Prabu Indera Perkasa bersama Dewi Indah Sari ke istana kerajaan, baginda mengeluarkan pengumuman: Kepada rakyat di seluruh negerinya diumumkan agar mereka tidak meremehkan barang yang dianggap sepele, supaya terhindar dari kekecewaan di kemudian hari.

Pesan Moral: Kita tidak boleh meremehkan sesuatu yang kita anggap sepele, seperti Sang Prabu Indera Perkasa dalam cerita ini. Kadangkala barang yang kita anggap sepele, sangat berguna bagi hidup kita, seperti garam. Kalau tidak ada garam makanan tidak enak dan kita dapat menjadi sakit. Kita harus jujur, berkelakuan baik, ramah tamah, sopan santun, terutama terhadap kedua orang tua kita yang memelihara kita dari bayi hingga dewasa. Hormatilah ibu bapakmu, seperti para putri dalam cerita ini.

Tulisan diatas bersumber dari buku Cerita Rakyat Kalimantan Barat yang dicetak oleh Percetakan Romeo Grafika. Diketik ulang misterpangalayo.com dalam artikel diatas guna membantu menyebarluaskan kepada masyarakat untuk membaca cerita rakyat ini agar dapat dipetik hikmahnya. Harapan penyunting, semoga dengan membaca artikel ini, kita dapat lebih mencintai khasanah kebudayaan daerah kita sendiri yang berarti juga mencintai kebudayaan nasional, karena kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional.

Senin, 06 Maret 2017

Asal Usul Batu Bejamban dan Batu Layang

SampanPesisir - Asal Usul Batu Bejamban dan Batu Layang. Menjelang abad ke-12 di sekitar wilayah pantai utara Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sambas terdapat sebuah Kerajaan Hindu Majapahit, dengan pusat pemerintahan di daerah Paloh. Kerajaan tersebut telah beberapa kali mengalami perpindahan pusat kerajaan dan akhirnya menetap di suatu daerah masuk ke pedalaman yang sekarang ini dikenal dengan Desa Kota Lama, daerah ini termasuk wilayah Kecamatan Teluk Keramat (kurang lebih berjarak 36 km dari Kota Sambas). 

Puteri Ratu Pantai Selatan

Pada masa kekuasaan Kerajaan di daerah Paloh tersebut, di sebelah pantai selatan Kalimantan Barat juga terdapat suatu kerajaan yang kuat dan tangguh. Kerajaan itu dikenal dengan nama Kerajaan Matan Tanjungpura. Kerajaan Matan Tanjungpura ini berpusat di daerah Sukadana, Kabupaten Ketapang.

Antara kerajaan yang berada di daerah Paloh di Kabupaten Sambas dengan Kerajaan Matan Tanjungpura di Ketapang sejak dulu telah terjalin hubungan bilateral. Hal ini terjadi karena kedua kerajaan ini menganut kepercayaan Hinduisme yang dibawa dari Majapahit.

Daripada itu, hubungan demi hubungan kian meningkat tidak saja dalam hal perdagangan akan tetapi lebih dipererat lagi pada hubungan perkawinan antara kedua kerajaan tersebut. Dengan demikian antara Kerajaan di Paloh Kabupaten Sambas dengan Kerajaan Matan Tanjungpura di Kabupaten Ketapang, sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa menganut kepercayaan Hinduisme Majapahit, oleh karena itu kedua kerajaan itu tentu saja di bawah pengawasan kerajaan yang besar, yaitu Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa setiap kerajaan yang tunduk di bawah pengawasan kerajaan yang berkuasa pada masa itu berkewajiban untuk membayar upeti. Kewajiban membayar upeti kepada Kerajaan Majapahit itu tidak dapat dikatakan seperti perlakuan yang telah dilakukan oleh penjajah Belanda semata-mata hendak mengeruk kekayaan alam dan berusaha memecah belah persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Akibatnya rakyat Indonesia menderita selama masa imperialisme Belanda itu.

Lain halnya dengan kewajiban membayar upeti dari kerajaan-kerajaan yang telah tunduk kepada Kerajaan Majapahit seperti yang dilakukan oleh Kerajaan di daerah Paloh dan Kerajaan Matan Tanjungpura tersebut, di mana setiap tahunnya kedua kerajaan itu memberikan upetinya kepada Raja Majapahit dan hal ini merupakan suatu isyarat atau tanda penghormatan dan penghargaan dan bukan dianggap sebagai beban bagi masyarakat. Demikian eratnya hubungan antara kedua kerajaan tersebut sehingga terjadi suatu peristiwa yang di luar jangkauan akal pikiran manusia.

Diceritakan bahwa pada waktu itu akan datang 'kebenaran' atau berita dari alam ghaib, seorang puteri yang mengaku bernama Puteri Ratu Pantai Selatan ingin berkunjung ke kerajaan yang terdapat di daerah Paloh tersebut. Sedangkan berita dari alam ghaib ini tidak pula menjelaskan siapa sebenarnya Puteri Ratu Pantai Selatan, dan siapa nama raja yang berkuasa di daerah Paloh tersebut.

Ceritanya diawali dengan suatu kejadian di pusat kerajaan di sekitar daerah Paloh Kabupaten Sambas, ketika itu kerajaan ini merupakan wilayah paling ujung sebelah pantai utara Kalimantan Barat. Seorang raja telah naik tahta dan berkuasa penuh di wilayah itu.

Pada suatu hari, raja tersebut mendapat kabar berita melalui alamat mimpi yang diyakini berasal dari alam ghaib dan oleh penduduk di daerah Paloh itu dikenal dengan nama sebutan 'negeri kebenaran'. Negeri kebenaran sebenarnya adalah suatu alam ghaib yang tak tampak oleh mata telanjang manusia, namun keberadaannya masih dalam ruang lingkup Planet Bumi.

Oleh karena itu, sebagian orang meyakini di 'negeri kebenaran' ada penghuninya, yaitu makhluk-makhluk ghaib atau 'makhluk Bunian.' Seperti halnya Puteri Ratu Pantai Selatan juga merupakan 'makhluk bunian' dari 'negeri kebenaran.' Puteri Ratu Pantai Selatan inilah yang memberi alamat atau petunjuk melalui mimpi sang raja.

Di dalam mimpinya itu sang Puteri akan berkunjung di daerah Paloh. Sejak itulah, daerah Paloh ini menjadi pusat 'Kerajaan Negeri Kebenaran' yang telah melegenda di dalam masyarakat. Kemudian, karena mendapatkan alamat mimpi dari negeri kebenaran, lalu sang raja merembukkan masalah ini dengan para hulu balangnya.

Sementara itu, mendengar akan kedatangan tamu yaitu tidak lain adalah Puteri Ratu Pantai Selatan, maka hati serta jantung para hulu balang menjadi bergetar dibuatnya. Sebab yang mereka pikirkan dan yang ada di dalam benak mereka itu bagaimana cara penyambutan Ratu Pantai Selatan itu nantinya.

Dari hasil rembukan itu, diambillah suatu kesepakatan tentang penyambutan Puteri Ratu Pantai Selatan yang akan turun dari negeri kebenaran dan berkunjung ke Paloh itu. Sebagaimana diketahui, oleh karena Puteri Ratu Pantai Selatan bukanlah makhluk lazimnya seperti manusia biasa. Adapun yang akan dipergunakan sebagai sarana untuk Puteri Ratu Pantai Selatan turun dari negeri kebenaran, adalah tangga atau jalan bertingkat, dan inilah yang dikenal dengan nama 'Batu Bejamban.'

Konon diceritakan bahwa Batu Bejamban yang aslinya telah diangkat ke tempat asalnya, yaitu negeri kebenaran, dan yang tampak sekarang ini hanyalah berupa batu-batu karang yang tersusun bertingkat mulai dari darat hingga sampai ke dasar laut, dekat perairan laut Tanjung Datuk.

Batu Bejamban adalah suatu tempat yang selalu dikeramatkan orang, terlebih oleh penduduk setempat, wilayah Kabupaten Sambas. Adapun asal usul Batu Bejamban, kisahnya berkaitan dengan Batu Layang yang berada di daerah Pontianak.

Sama halnya dengan Batu Bejamban, Batu Layang juga merupakan daerah yang selalu dikeramatkan orang. Di mana di daerah Batu Layang terdapat banyak makam raja-raja Kesultanan Pontianak. Salah satu di antara makam raja tersebut adalah Makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, yaitu pendiri Kota Pontianak.

Adapun tepatnya waktu daerah Batu Layang itu menjadi tempat pemakaman Raja-raja Pontianak serta alasan mengapa daerah tersebut dinamai Batu Layang mempunyai kisah tersendiri. Batu Layang adalah batu yang dilayangkan dari Ketapang (maksudnya dari Kabupaten Ketapang), menuju ke daerah Paloh.

Sedangkan batu-batu tersebut diperuntukkan membuat Batu Bejamban, sebuah tangga untuk Puteri Ratu Pantai Selatan turun dari Kayangan atau 'Negeri Kebenaran.' Beberapa buah batu yang akan diperuntukkan membuat tangga untuk menyambut Puteri Ratu Pantai Selatan yang melayang itu ada yang jatuh di pertengahan ,jalan (maksudnya di sekitar garis lintang khatulistiwa), yang sekarang ini dikenal dengan Desa Batu Layang.

Desa Batu Layang kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Pontianak Utara. Batu Layang, jauh sebelum kedatangan Syarif Abdurrahman Alkadri yang mendirikan Kota Pontianak itu merupakan daerah yang tidak bertuan, sudah sejak lama ada dan telah banyak pula dikenal orang.

Namun, entah siapa yang pertama memberikan nama Batu Layang terhadap daerah tersebut, tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi, konon dikabarkan orang bahwa di perairan Sungai Kapuas di sekitar Pulau Batu Layang itu, terdapat seorang nelayan yang berasal dari hulu Sungai Landak sedang mencari ikan.

Pada saat sedang asyik menangkap ikan, tiba-tiba ia menyaksikan kejadian aneh di mana langit secara tiba-tiba cuaca mendung yang menandakan akan datangnya hujan. Bukannya hujan yang turun melainkan barisan batu-batu yang melayang dan berterbangan itu membuat sinar matahari menjadi tertutup, sehingga cuaca tampak menjadi mendung. 

Bukannya hujan yang turun melainkan barisan batu-batu yang melayang dan berterbangan itu membuat sinar matahari menjadi tertutup, sehingga cuaca tampak menjadi mendung.

Dari kejadian itulah, sehingga dari mulut ke mulut daerah tersebut dikenal dengan nama: Batu Layang. Dan akhirnya sampai ke telinga Syarif Abdurrahman Alkadri hingga sekarang ini daerah itu merupakan tempat 'keramat' yang selalu dikunjungi, maka Syarif Abdurrahman Alkadri yaitu orang yang pertama mendirikan Kota Pontianak itu mint a dimakamkan di tanah Batu Layang tersebut.

Kemudian kisah Batu Bejamban belumlah habis akibat beberapa batu-batu yang dilayangkan dari Ketapang itu ada yang jatuh di wilayah (Batu Layang kini). Setelah batu-batu layang itu tiba di tanah Paloh maka disusunlah batu-batu itu mulai dari atas darat hingga sampai ke dasar laut. Sebab Puteri Ratu Pantai Selatan akan menginjakkan kaki pertamanya turun dari laut.

Sementara yang mengerjakan penyusunan batu-batu itu sehingga menjadi Batu Bejamban adalah makhluk ghaib juga. Makhluk ghaib ini yang mulai dari pengambilan batu dari Ketapang sampai pada tahap melaksanakan pengerjaaan Batu Bejamban yang diketuai oleh seorang jin. Jin tersebut bernama Jin Bujang Danor.

Setelah itu waktu berganti dengan cepatnya, Puteri Ratu Pantai Selatan tidak lama lagi akan datang. Persiapan penyambutannya pun mendapat perhatian khusus dari rakyat di Kerajaan Paloh. Pada tiap-tiap dusun dipasang umbul- umbul janur kuning dari nyiur kelapa. Disamping itu raja memerintahkan padq. punggawa untuk secepatnya mendirikan sebuah keraton di Kota Lama (maksudnya bukan Keraton Ratu Sepudak).

Setelah itu pusat kerajaan di daerah Paloh dialihkan ke Kota Lama, terkenal dengan rajanya yang bergelar Ratu Sepudak. Pendirian keraton di Kota Lama tidak lain diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan Puteri Ratu Pantai Selatan. Tempat untuk Tuan Puteri tidur, diberi 'kelambu kuning.' Sedangkan untuk Tuan Puteri Ratu Pantai Selatan mandi, raja juga memerintahkan punggawa untuk mencarikan sebuah bukit. Dan bukit itu terkenal dengan nama bukit Sebedang, di mana di bukit Sebedang ini terdapat danau yang sangat indah sekali.

Di Danau Sebedang inilah tempat Puteri Ratu Pantai Selatan itu mandi. Demikian eloknya danau Sebedang dikelilingi oleh bukit atau tanah tinggi. Konon di tanah Sebedang ini pula telah terjadi peristiwa penguburan hidup-hidup sepasang anak manusia dan terkenal dalam sejarah legenda 'Bujang Nadi dan Dare Nandung.'

Kunjungan Puteri Ratu Pantai Selatan ke kerajaan di daerah Paloh itu membawa pesan bahwa antara Paloh dan Ketapang harus bergabung. (Di sini yang empunya cerita belum dapat menerjemahkan makna kalimat tersebut). Yang jelas, kalimat itu bukanlah kalimat yang dibuat-buat sendiri oleh yang empunya cerita dari kisah asal usul Batu Bejamban dan Batu Layang ini. Kedatangan Puteri Ratu Pantai Selatan pun kemudian disambut dengan penaburan beras kuning, beras merah, dan beras putih. Jadi mungkin inilah salah satu upacara penghormatan masa dulu kala, yang protokolernya dengan penaburan beras kuning, beras merah, dan beras putih serta bermakna keselamatan. Namun sekarang protokoler penyambutan tamu, adalah dengan cara pengalungan bunga dan lain sebagainya.

Demikian kisah perjalanan Puteri Ratu Pantai Selatan yang entah siapa sebenarnya ia? Sehingga telah membuat dua peristiwa bersejarah di Kalimantan Barat, yang berbeda dan berlainan tempat itu. Yang pertama adalah Batu Bejamban di daerah Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, dan lainnya Batu Layang di Kecamatan Pontianak Utara.

Tulisan diatas bersumber dari buku Cerita Rakyat Kalimantan Barat Asal Usul Batu Bejamban dan Batu Layang yang dicetak oleh Percetakan Romeo Grafika. Ditulis oleh  Luthfi Akbar dan diketik ulang misterpangalayo.com dalam artikel diatas guna membantu menyebarluaskan kepada masyarakat untuk membaca cerita rakyat ini agar dapat dipetik hikmahnya. Harapan penyunting, semoga dengan membaca artikel ini, kita dapat lebih mencintai khasanah kebudayaan daerah kita sendiri yang berarti juga mencintai kebudayaan nasional, karena kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional.

Senin, 27 Februari 2017

Legenda To' Kullup di Sambas

SampanPesisir - Cerita rakyat dari Bumi Tarigas Sambas sudah diambang kepunahan, generasi penerus sudah sepantasnya untuk menjadi garda depan melestarikan peninggalan leluhur terutama cerita rakyat yang banyak memberikan pesan moral kepada generasi-genarasi rakyat Sambas. 

Berangkat dari permasalahan diatas, misterpangalayo.com akan menulis sebuah cerita legenda yang sering saya dengar dari orang tua sebagai penghantar tidur. Sebelumnya saya mohon maaf apabila dalam penulisan artikel ini jauh dari kata sempurna. Hanya menulis untuk men-sounding sebuah cerita legenda yang menarik untuk dibaca. Dan kita sebagai generasi penerus selayaknya harus membangkitkan budaya kita dalam inovasi baru melalui blog. 


Berikut adalah cerita selengkapnya, Selamat Membaca.

Cerita legenda Datok Kullup erat kaitannya dengan legenda Bujang Nadi dan Dare Nandung. Datok Kullup adalah adik dari Bujang Nadi dan Dare Nandung, beberapa tahun setelah kematian kedua saudaranya lahirlah Datok Kullup. Disebut Datok Kullup, karena pada saat hendak disunat, kemaluan sang Datok tidak mempan terkena benda tajam. Datok Kullup dipercaya dengan kekebalan tubuhnya terhadap benda-benda tajam.

Jauh sebelum Kesultanan Sambas berdiri, budaya sunat sudah dilakukan oleh pribumi Sambas pada waktu itu. Budaya tersebut merupakan salah satu peninggalan dari budaya nenek moyang leluhur Sambas yaitu bangsa Austronesia (Slametmuljana, 1989). Slametmuljana mengatakan ciri-ciri lainnya adalah gemar makan bonto'/boto' (ikan yang dibusukkan), suka melapis gigi dengan emas, rumah-rumah didirikan di atas tiang bukan karena tanahnya becek (rumah panggung), tidak memakan anjing karena sakral, dalam menghitung menggunakan kata bilangan bantu seperti ekor, orang, belah dan sebagainya.

Datok Kullup adalah anak ketiga dari Raja Tan Unggal. Datok Kullup sejak lahir sudah ditinggalkan permaisuri selama-lamanya. Permaisuri meninggal dunia ketika melahirkan Datok Kullup. Sehingga dayang kerajaan pun diberi tugas dari Raja Tan Unggal untuk merawat dan membesarkan Datok Kullup. Sang dayang kerajaan menjaga dan merawat Datok Kullup dengan penuh perhatian dan kasih sayang.

Beranjak dewasa, dimana saatnya Datok Kullup harus disunat. Beberapa orang bilal kerajaan (orang yang bertugas untuk melaksanakan proses ritual sunat) pun datang ke kerajaan untuk menyunat Datok Kullup. Namun apa yang terjadi, karena kekebalan yang dimilikinya, bermacam pisau pun dicoba tetapi tidak berhasil. Hingga akhirnya sang bilal menggunakan kapak, tangkin (parang tradisional), hingga kelewang dengan meletakkan ujung zakarnya (kullup) diatas bendul yang terbuat dari kayu belian. Tetap saja tidak membuahkan hasil dan hal tersebut sangat membuat sang bilal pusing 7 keliling.

Berita ini dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok negeri bak jamur di musim hujan. Atas kekebalan seorang pangeran terhadap benda tajam, akhirnya sang pangeran mendapatkan julukan Datok Kullup dari rakyatnya. Bukannya senang, Datok Kullup malah merasa malu atas julukan tersebut. Jikalau ada yang tidak sengaja memanggilnya dengan sebutan Kullup, tentu ia akan berang.

Setalah kejadian tersebut, Datok Kullup malu untuk berhadapan dengan rakyatnya karena malu. Dengan demikian, Raja Tan Unggal membuat sebuah taman yang indah untuk tempat bermain Datok Kullup bersama pengasuhnya. Datok Kullup selalu menghabiskan hari-harinya di taman tersebut. Dengan ditemani oleh burung kesayangannya, yaitu Burung Ruai karena memiliki bulu yang indah.

Hari-hari pun berganti tahun, hingga suatu hari Datok Kullup ingin menyalurkan hobinya yaitu berburu burung di hutan. Dengan ditemani beberapa hulubalangnya, berangkatlah mereka ke arah sebuah bukit yang tidak jauh dari pusat kerajaan. Dengan berbekal beberapa sumpit, tangkitn, dan persediaan makanan, langkah demi langkah mereka pun meneruskan perjalanan ke tengah hutan.

Tibalah mereka di sebuah kaki bukit yang bernama Piantus, melihat hijaunya pemandangan alam dan kesejukan udara yang segar membuat mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sungguh keindahan alam yang menakjubkan, membuat setiap tatapan mata Datok Kullup terpesona. Tiba-tiba suara burung menyadarkan lamunan Datok Kullup, dengan cepat Datok Kullup mengambil sumpitnya.

Ketika sumpit hendak diacungkan ke arah burung tersebut, burung tersebut berkicau menyerupai suara �kullub-kullub-kullub-kullub�. Datok Kullup sangat terkejut karena burung tersebut seolah meledeknya dengan sangat lantang. Tanpa pikir panjang, Datok Kullup langsung menyumpitnya namun tidak terkena sasaran. Burung itu langsung terbang ke arah hutan bambu, Datok Kullup terus berlari sekencang-kencangnya dengan perasaan marah yang membara.

Konon, jalanan yang dilaluinya ketika mengejar burung tersebut meninggalkan bekas, dan lambat laun terus melebar dan membentuk sebuah sungai yang di sebut Si Jangkung. Nama lain Datok Kullup adalah Jangkung. Jangkung memiliki postur tubuh yang kekar dan tegap, tinggi badannya sekitar 2,48 meter jauh lebih tinggi dari tinggi badan Raja Tan Unggal, ukuran kakinya 49 inchi, giginya lengkap tidak seperti ayahnya Raja Tan Unggal.

Burung tersebut membuat pusing Datok Kullup, ke sana kemari si burung itu terbang, hingga akhirnya balik arah menuju Bukit Piantus. Dengan sisa tenaga yang ada serta berselaput hawa marah dan kecewa yang amat sangat. Datok Kullup masih terus mengejarnya dan ketika berada di pertengahan bukit, Datok Kullup terjatuh karena terlalu gegabah berlarinya. Hingga telapak kakinya meninggalkan bekas dan saat ini masih bisa disaksikan di Bukit Piantus.

Kini, Datok Kullup kehilangan jejak burung tersebut. Datok Kullup merasa malu karena selain rakyatnya, burung pun ikut-ikutan mengejek dirinya. Lalu ia memutuskan untuk tidak kembali ke istana kerajaan dan lebih memilih tinggal di Bukit Piantus bersama hulubalangnya. Hingga akhirnya, Datok Kullup wafat dan dimakamkan di pertengahan Bukit Piantus oleh hulubalangnya yang masih bertahan menemaninya. Saat ini, kuburan Datok Kullup masih dapat kita saksikan. Sementara telapak kakinya berada di area hutan bambu di Bukit Piantus juga.

Dewasa ini, wilayah tempat tinggal Datok Kullup sudah ramai penduduk sekitar 22.836 jiwa dan daerah tersebut diabadikan menjadi nama kecamatan, yaitu Kecamatan Sejangkung (Sijangkung). Daerah Sejangkung sekarang dibelah oleh Sungai Sambas Besar dan anak-anak sungainya, yaitu: Sungai Sajingan, Sungai Maklebar, Sungai Al Anas, Sungai Bejongkong, Sungai Sada'an, Sungai Acan, dan Sungai Emas.

*Disclaimer: Cerita ini ditulis berdasarkan cerita yang admin dengar ketika waktu kecil sebagai penghantar tidur.

Sabtu, 25 Februari 2017

Asal Usul Pekong Kaki Bengkayang

SampanPesisir - Pekong atau Toa Pe Kong adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Kalimantan Barat dan Indonesia pada umumnya. Oleh orang Tionghoa, Pekong juga terkadang disebut Klenteng dan juga disebut sebagai bio yang merupakan dialek Hokkian. Te Pe Kong selalu menjadi ciri khas dari rentetan perayaan hari raya Imlek.

Di Kalimantan Barat terdapat sebuah komunitas Hakka Tionghoa yang banyak tersebar di bekas wilayah Kesultanan Sambas, yang sekarang secara administratif berada di Kabupaten Sambas, Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang. Hakka Tionghoa di wilayah tersebut datang secara bergelombang ratusan tahun yang lalu yang berasal dari dataran Tiongkok selatan, yaitu Provinsi Guangdong.

Ada sebuah pepatah Tiongkok mengatakan "Di mana ada sinar matahari, disana pasti ada orang Tionghoa". Sedangkan orang Hakka juga mempunyai sebuah pepatah yang mengatakan "Dimana ada orang Tionghoa, disana pasti ada orang Hakka". Seperti suku bangsa lainnya di Indonesia, orang Tionghoa di Indonesia juga mempunyai cerita rakyat yang wajib untuk diketahui.

Klenteng Sam Po Kong di Semarang (Jawa Tengah)


Berikut adalah sebuah cerita rakyat Hakka Chinese dari daerah yang disebut Sungai Raya Kepulauan, secara administratif berada di Kabupaten Bengkayang. Sebuah cerita perjalanan seorang Tionghoa dari Tiongkok hingga tiba di pesisir Kalimantan Barat. Cerita ini juga pernah diceritakan oleh Zulkifli, dkk dengan judul Pekong Kaki : Antologi Cerita Rakyat Sui Raya Kepulauan.

Dari kejauhan terlihat sebuah bangunan tepat di kaki gunung di pinggir jalan raya yang tampak megah disinari mentari pagi. Walaupun warnanya sudah agak kusam, tetapi bangunan tersebut masih menjadi sebuah tempat beribadah yang layak bagi agama penganutnya. Bangunan tersebut terletak di Desa Sungai Raya, tepatnya di Dusun Pembangunan. Bangunan itu terkenal dengan sebutan Pekong Kaki. Sejarah bangunan Pekong Kaki sudah berusia ratusan tahun. Berawal dari seorang tokoh bernama Sam Po Kong. Konon, orang tersebut mempunyai kesaktian yang sangat luar biasa.

Menurut legenda, sewaktu beliau berangkat dari negeri Tiongkok, Sam Po Kong berlayar bersama cucunya menuju bumi nusantara. Dalam pelayaran, Sam Po Kong bersama cucunya berlayar bukan menggunakan sebuah kapal ataupun perahu layar tetapi mereka menaiki sebuah lesung yang amat besar. Lesung tersebut dijadikan seperti perahu layar umumnya. Mereka pun mulai berlayar dan mengarungi samudera menggunakan lesung tersebut.

Selang beberapa waktu pelayaran, tibalah mereka di pulau Kalimantan.

"Bagaimana kita akan melewati dataran tersebut sedangkan kita jauh dari laut dan tidak melewati sungai?" tanya sang cucu.

"Cucuku kamu tenang dan jangan khawatir. Kamu turuti saja perintah kakek dan jangan sekali-kali kamu melanggarnya." Jawab sang kakek.

Lalu cucunya kembali bertanya, "Apakah gerangan yang harus saya lakukan kek?"

"Kamu pejamkan saja matamu dan jangan buka sampai kakek memerintahkan untuk membukanya!" perintah sang kakek.

Lalu si cucu pun memejamkan matanya sehingga ia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Setelah itu, sang kakek langsung menerbangkan lesung yang mereka kendarai menggunakan kesaktian yang ia miliki.

Selang beberapa waktu, timbul rasa penasaran di dalam benak sang cucu untuk mengetahui apa gerangan yang sedang terjadi. Tanpa sepengetahuan sang kakek si cucupun membuka matanya. Alangkah terkejutnya ia setelah mengetahui sebuah peristiwa yang aneh sedang berlangsung di dalam perjalanannya dengan sang kakek. Sang cucu merasa sangat terkejut karena perahu yang mereka gunakan untuk berlayar tadi kini sedang terbang di udara.

Karena cucu Sam Po Kong telah melanggar perintah sang kakek, maka apa yang ditakutkan Sam Po Kong pun terjadi. Lesung yang mereka tumpangi tiba-tiba saja jatuh sehingga sang kakek secara spontan melompat dari lesung dan jatuh tepat di atas bongkahan batu besar (Gunung Bunga/Gunung Gosong). Teringat akan cucunya yang masih ada di dalam lesung, Sam Po Kong pun berusaha untuk menahan lesung agar tidak hancur karena terhempas ke tanah.

Sam Po Kong berpijak sangat kuat disebuah batu. Saking kuatnya menahan lesung. Kini batu bekas pijakan meninggalkan bekas berbentuk telapak kaki Sam Po Kong. Setelah berhasil menyelamatkan cucunya, Sam Po Kong dan cucunya kembali melanjutkan perjalanan melalui sungai (Sungai Raya) melewati Selat Karimata dan menuju ke Pulau Jawa.

Untuk mengenang peristiwa tersebut maka didirikanlah sebuah vihara kecil atau yang kita kenal dengan nama pekong. Nama Pekong Kaki digunakan karena di tempat tersebut terdapat sebuah batu besar yang berbekas telapak kaki Sam Po Kong.

Menurut kepercayaan orang-orang Tionghoa, kejadian luar biasa itu dianggap sebuah keramat. Oleh sebab itu, sampai saat ini di Desa Sungai Raya setiap tanggal 10 bulan 10 kalender Imlek selalu mengadakan sebuah upacara atau peringatan hari besar yang diberi nama Hari Sam Po Kong.

Sekedar informasi tambahan, Sam Po Kong tiba di tanah Jawa tepatnya Semarang. Bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama, berdiri sebuah pekong yang bernama Klenteng Sam Po Kong. Terdapat tulisan "marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an" di klenteng tersebut.

Menurut cerita Tionghoa Semarang, Sam Po Kong adalah seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Oleh masyarakat Tionghoa Semarang, Sam Po Kong dianggap dewa, walaupun sejatinya Sam Po Kong adalah seorang muslim. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Selasa, 21 Februari 2017

Asal Usul Desa Sepinggan Sambas

SampanPesisir- Cerita rakyat yang berkembang di Sambas disampaikan oleh nenek moyang secara lisan dan turun-temurun. Biasanya cerita disampaikan oleh tukang cerita sambil duduk-duduk di suatu tempat kepada siapa saja, anak-anak dan orang dewasa. Bahkan ada juga sebagai cerita penghantar tidur anak-anak, selain berfungsi untuk menghibur melainkan dengan penuh kesabaran penutur cerita ingin menyampaikan nilai-nilai luhur kepada generasi penerusnya.

Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia di kabupaten Sambas banyak ditemui jenis cerita rakyat atau lebih dikenal dengan istilah dongeng. Setiap cerita rakyat memiliki fungsi dan tujuan yang hendak disampaikan kepada masyarakatnya. Salah satunya adalah Asal Usul Desa Sepinggan, cerita rakyat yang berasal dari Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.


Berikut adalah cerita rakyat berjudul Asal Usul Desa Sepinggan yang berhasil misterpangalayo.com rangkum. Cerita di bawah ini menggunakan alur maju atau kronologis karena diceritakan dari awal sampai akhir. Referensi penulisan artikel ini bersumber dari buku yang berjudul "Antologi Cerita Rakyat Semparuk" Edisi cetakan pertama, Oktober 2016. Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Pada zaman dahulu terdapat sebuah hutan lebat yang ditumbuhi pepohonan besar dan rimbun. Di hutan itu hidup beraneka macam hewan, seperti harimau, ular, bekantan, dan orang hutan. Setiap hari terdengar suara hewan-hewan itu bersahut-sahutan, raungan harimau, desisan ular, teriakan orang hutan dan kicauan burung menyemarakkan suasana hutan tersebut. Di sekitar hutan tersebut terdapat dua desa, yaitu Desa Sungai Baru dan Desa Puting Beliung.

Hari itu, matahari bersinar hangat di ufuk timur, embun yang menggantung di ujung dedaunan, kicauan burung terdengar merdu bersahut-sahutan menyambut pagi yang cerah. Orang-orang yang tinggal di dekat hutan tersebut, yang berasal dari berbagai daerah seperti Sungai Baru dan Puting Beliung berkumpul untuk membicarakan sesuatu. Mereka berencana membuka hutan itu menjadi sebuah desa.

Kepala desa berkata,�Bapak-bapak dan ibu-ibu kita berkumpul di sini untuk sama-sama berembuk mengenai rencana kepindahan kita.�

�lya, kami setuju akan rencana kepindahan kita, tapi kita pindah kemana?� sahut seorang warga yang bernama Aloi.

�inilah yang akan kita rembukkan Pak Aloi, bagaimana baiknya kepindahan kita itu dan tujuan kita pindah. Saya telah memikirkan hal ini bagaimana kalau kita membuka hutan saja? Tetapi, kalau ada warga yang memiliki usul lain yang lebih baik, silahkan saja.�

�Saya juga telah berpikir akan hal itu, Pak. memang hanya itu pilihan yang kita punya. Bila kita pindah ke tempat lain akan memakan banyak waktu, perjalanan yang harus kita tempuh juga jauh. Jadi saya setuju akan usul bapak,� ujar Pak Mude.

�lya, saya setuju,� sahut seorang warga.

�Setuju,� warga yang lain menimpali dengan bersemangat.

�Kami juga setuju, hutan itu subur. Kita akan sejahtera bila tinggal di sana. Desa kita ini tidak bagus lagi, gersang, mata air pun sering kering,� ujar penduduk yang lain.

Rencana membuka hutan tersebut dianggap sangat bijak sehingga semua orang setuju. �Baik�baik�bila sudah sepakat maka kita akan membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggal baru kita,� kata Kepala desa dengan bijaksana.

Sedikit demi sedikit mereka mulai membersihkan pepohonan yang ada di hutan itu. Pohon-pohon besar mereka tebang, kayunya mereka jadikan bahan pembuatan rumah. Mereka bergotong royong membangun tempat tinggal untuk seluruh warga desa.

Mereka pun meninggalkan desa mereka, barang-barang mereka yang banyak dibawa menggunakan gerobak. Mereka sangat gembira karena cita-cita mereka untuk memilki tempat tinggal yang baru akhirnya terwujud. Mereka jalan beriringan menuju tempat baru itu dengan bersenda gurau, bernyanyi bersahut-sahutan, dan mengobrol dengan sesama mereka. Raut wajah gembira tampak pada wajah mereka. Gurat-gurat kelelahan di wajah mereka telah hilang tergantikan senyum.

Namun, setelah beberapa lama tinggal di desa itu, mereka tidak betah. Harapan mereka akan kehidupan yang baik telah sirna karena ternyata desa yang mereka bangun dengan susah payah itu angker dan menyeramkan. Mereka merasakan keanehan-keanehan, penampakan makhluk halus banyak berkeliaran. Bahkan, makhluk halus seeing mengganggu mereka siang malam. Hal ini membuat mereka tidak betah.

Malam itu begitu kelam, suara jangkrik terdengar diantara suara angin yang menderu-deru. Warga desa kembali berkumpul untuk membicarakan keanehan-keanehan yang sering mereka alami.

�Apa para warga desa merasakan keanehan yang terjadi? Setiap hari di rumahku selalu ada saja benda yang melayang di udara. Kadang sendok, kadang piring,� kata Pak Long, salah seorang warga desa yang telah berumur lanjut.

�Oi Pak Long, di rumah kami pun begitu. Bahkan kadang ada penampakan nenek ataupun anak kecil yang meringkuk di sudut kamar,� sahut Pak Mude dengan sura pelan.

�Di tempat kami sering terdengar suara orang yang menangis juga tertawa setiap saat. Aku jadi takut bila sendirian di rumah,� sahut seorang ibu dengan sedih.

�Kami sudah tidak tahan di desa ini, terlalu angker,� teriak salah seorang warga.

�Ya, benar. Saya juga sudah tidak tahan, desa ini begitu menyeramkan, masih mending desa kita yang dulu walaupun gersang tak pernah ada makhluk halus yang mengganggu� sambung Pak Aloi.

�lya, saya tidak pernah bisa tenang, makhluk halus itu selalu mengganggu siang malam,� kata seorang pemuda.

�Bagaimana kalau kita pulang saja ke tempat tinggal asal kita dulu.� Usul seorang bapak.

�Setuju,� teriak salah seorang warga.

�lya, kita pulang saja,� kata warga yang lain.

�Baiklah, kami setuju dengan usulan bapak. Rencana itu sangat bijak. Sekarang, kemaskan barang-barang dan pergi dari desa angker ini,� sambung kepala desa. Dari tadi ia hanya mendengarkan saja keluhan warga desanya. la merasa kecewa akan keadaan yang mereka alami.

Tanpa membuang banyak waktu, warga desa segera berkemas meninggalkan desa tersebut untuk kembali ke tempat asal mereka. Kali ini tidak ada lagi senda gurau dan tawa lepas hanya terlihat kesedihan dan kelelahan di raut wajah mereka.

Beberapa hari setelah kepergian mereka dari desa tersebut, datanglah sekelompok orang yang bukan berasal dari daerah sekitar desa itu. Mereka berasal dari tempat yang jauh. Mereka terlihat bingung ketika sampai di desa tersebut karena desa itu kosong tak berpenghuni.

�Akhirnya kita bertemu juga dengan sebuah desa. Hari demi hari yang kulihat hanya hutan belantara, kulihat juga rumah,� kata salah seorang anggota rombongan tersebut.

�Tetapi, desa ini aneh. Kemana para penduduk desa ini pergi? Satu pun tidak ada yang terlihat,� kata pemuda yang bernama Saung.

�Aku pernah mendengar kalau desa ini angker, banyak makhluk halus yang berkeliaran,� kata pemuda yang kedua.

�Mungkin mereka pergi dari desa ini, bukankah begitu?� tanya pemuda pertama.

�Ya, bisa jadi,� jawab pemuda kedua.

�Bagaimana kalau kita menetap dan merawat desa ini?� usul pemuda pertama.

�lya, kami setuju,� kata sekelompok orang pendatang tersebut.

Sekelompok orang yang baru tiba tersebut akhirnya menetap di desa yang telah ditinggalkan itu. Mereka tidak terusik oleh keanehan-keanehan yang ada, makhluk halus yang berkeliaran tidak membuat mereka gentar dan takut. Setelah beberapa lama tinggal di desa itu, beberapa orang mencoba untuk bercocok tanam, membuka ladang. Mereka menanami ladang tersebut dengan tanaman padi. Beberapa bulan kemudian, musim panen pun tiba. Mereka sangat gembira karena sebentar lagi mereka akan menikmati jerih payah mereka. Beramai-ramai mereka memanen padi yang mereka tanam dan rawat berbulan-bulan. Namun,mereka sangat kecewa karena hasil jerih payah mereka ternyata tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

Hasil panen padi yang seharusnya melimpah setelah dikumpulkan ternyata banyak yang tidak bagus, banyak yang hanya selongsongnya saja, isinya tidak ada/kosong. Panen padi itu tidak melimpah, hanya sepiring nasi. Oleh karena itu, desa angker itu akhirnya diberi nama Desa Sepinggan.

Senin, 20 Februari 2017

Asal Usul Gunung Senujuh Sambas

SampanPesisir - Betapa gagahnya Gunung Senujuh, berdiri tegak bagaikan seorang tentara yang sangat hebat. Menjulang tinggi mencapai langit biru, menembus awan-awan lembut tanpa rasa takut. Gunung Senujuh berdiri sepanjang hari dan diapit 3 sungai nan indah, yaitu Sungai Sambas, Sungai Senujuh, dan Sungai Perigi Piai. Luasnya 585,90 hektar dengan panjang 12.628,50 meter penuh dengan warna hijau yang membuat mata menjadi sejuk.

Secara administratif, gunung ini terletak di Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Menurut Stanley Karnow (1964) peta perjalanan migrasi bangsa Austronesia dari daratan Asia menuju pulau Kalimantan dan kepulauan Indonesia lainnya melalui semenanjung Malaka. Mereka yang menuju Kalimantan Barat, memasuki muara suangai Sambas dan Salako. Kelompok yang memasuki sungai Sambas, banyak bermukim di kaki bukit Senujuh.

Gunung Senujuh Sambas

Menurut Simon Takdir (2007) Kelompok Austronesia yang bermukim di kaki bukit Senujuh ini, karena jumlahnya kecil, akhirnya hilang karena ditaklukkan dan berbaur dengan penduduk yang lebih dulu datang ke daerah itu. Pembauran ini melahirkan nenek moyang suku yang disebut suku Kanayatn atau Rara dengan ragam-ragam bahasa mereka yaitu bakati�, ba nyam, dan ba nyadu�. Di kawasan ini, sekitar tahun 1291 berdiri sebuah kerajaan bercorak Hindu dan rakyatnya menganut agama tradisional dan Hindu (Kaharingan).

Menurut cerita rakyat Dayak Kanayatn, kawasan gunung Senujuh merupakan tempat tinggalnya Panglima Marabatn Ampor. Cerita lainnya, menyebutkan bahwa gunung Senujuh dijaga atau jelmaan dari 7 puteri yang melawan duate dari Sekadim untuk membuat gunung dalam satu malam.

Terlepas dari cerita tersebut, masyarakat Sambas pada umumnya meyakini jika gunung Senujuh yang berdiri kokoh menjulang tinggi itu terbentuknya melalui kisah asal usul yang menarik.

Kisahnya sebagai berikut:

Gunung Sinujuh terletak di dekat muara daerah Sejangkung, berkisar belasan kilometer dari kota Sambas. Gunung ini terbentuk karena konflik antara dua daerah yang memperebutkan satu wilayah. Pemimpin dari daerah Sebatok bernama Datok Siba dan pemimpin dari daerah Sinujuh bernama Ki Sinu, keduanya seorang petapa.

Awalnya dua daerah itu menjalin hubungan baik. Mereka tidak pernah memiliki permasalahan yang sampai memecah belah hubungan mereka. Hubungan mereka seperti kumbang dan bunga yang saling menguntungkan satu sama lain. Apabila ada permasalahan mereka saling membantu. Penyelesaian masalah tersebut dilakukan secara bermufakat.

Di suatu hari, pimpinan daerah Sebatok yaitu Datok Siba dan pemimpin daerah Sinuju yaitu Ki Sinu pergi berburu bersama. Mereka berburu tidak jauh dari desa. Tak di sengaja mereka menemukan daerah/wilayah yang sangat subur. Di wilayah tersebuyt tumbuh berbagai jenis tumbuhan dan berbagai jenis hewan. Tanahnya subur, dan berdekatan dengan muara besar.

�Wah, subur sekali daerah ini. Banyak tumbuh-tumbuhan, hewan dan berdekatan dengan muara,� seru Datok Siba. �Bagaimana kalau kita buat pemukiman saja di sini?� Usul Ki Sinu. Datok Siba setuju.

Mereka pun pulang ke desa masing-masing. Keesokan harinya, Ki Sinu berkehendak pergi ke Desa Sebatok menemui Datuk Siba. Dia ingin membicarakan tentang pembagian wilayah yang ditemukan dekat muara besar kemarin.

�Datuk, bagaimana pembagian wilayah yang ada di dekat muara besar itu?� tanya Ki Sinu.

�Oh, itu soal mudah, karena aku yang menemukannya terlebih dahulu jadi wilayah milikku lebih besar dari wilayah milikmu. Lag! pula wargaku lebih ramai dari pada wargamu.� Jawab Datuk Siba.

Ki Sinu menjawab dengan memukul meja Datuk Siba, �Mana boleh seperti itu, kita harus bagi rata wilayah itu. Tidak boleh ada kurang tidak boleh ada lebih.�

Perdebatan berlangsung lama, Ki Sinu langsung pulang meninggalkan Desa Sebatok. Di tengah perjalanan dia berpikir untuk mendapatkan wilayah yang sama rata.

Keesokan harinya pergi lag! ke Desa Sebatok untuk menemui Datuk Siba. Sesampainya di rumah Datuk Siba, Ki Sinu langsung mengusulkan pendapat untuk menyatukan daerah mereka menjadi satu. Tetapi Datuk Siba menolak dapat tersebut. Datuk Siba langsung menyuruh Ki Sinu pulang. Ki Sinu pulang dengan perasaan marah. Di rumahnya, sepulang dari Desa Sebatok dia langsung memikirkan cara untuk merebut utuh wilayah dekat muara tersebut. Ternyata di saat kepulangan Ki Sinu, Datuk Siba juga memikirkan juga ingin merebut Desa Sinujuh.

Di suatu malam, seluruh warga Desa Sebatok menyerang Desa Sinuju. Tetapi di tengah perjalalan, mereka bertemu warga dari Desa Sinujuh yang juga ingin menyerang Desa Sebatok. Tidak sampai di desa, peperangan di mulai di antara Desa Sebatok dan Sinujuh. Peperangan itu tidak dapat dielakkan. Satu per satu warga desa Sebatok dan Sinujuh tewas. Warga dari kedua desa itu yang tersisa tidak lebih dari setengah warga dari warga desa awal.

Perbincangan pemimpin dari kedua daerah terjadi saat peperangan. Ki Sinu berkata, �Datuk, dari pada berperang yang dapat memakan banyak korban dalam waktu yang lama, lebih baik kita selesaikan dengan cara lain.�

�Tapi dengan cara yang bagaimana?� Tanya Datuk Siba.

�Lebih baik kita berlomba membuat gunung di wilayah dekat muara besar itu. Saya akan membuat di sebelah selatan muara dan kamu membuat di sebelah utara muara,� jawab Ki Sinu.

�Baiklah kalau begitu cara yang terbaik,� ujar Datuk Siba. Lomba tersebut selama satu bulan. Barang siapa gunungnya lebih tinggi, dia yang menang dan berhak memiliki daerah tersebut.

Dua hari berlalu, lomba membuat gunung pun dimulai. Dengan sangat gigih seluruh warga Desa Sebatok mengumpulkan batu dan tanah. Begitu pula dengan warga Desa Sinujuh.

Setelah dua minggu perlombaan, gunung-gunung yang mereka buat pun sudah tinggi. Gunung keduanya kurang lebih sama tinggi. Minggu ketiga tiba, ketinggian gunung mereka masih sama. Ki Sinu berpikir di dalam hati saat bekerja, kalau seperti ini kedudukan dan ketinggian gunung milikku dengan gunung miliknya akan sama. Oleh karena itu, saya harus bertindak dan berbuat sesuatu. Setelah berpikir panjang, ia menemukan sebuah ide.

Hari esok ditunggu oleh Ki Sinu. Setibanya di hari esok, ia langsung memerintahkan warga desanya membentangkan tinggi kain yang berwarna kehitam-hitaman agar tampak lebih tinggi. Selesailah tugas warga Desa Sinujuh dan waktu tinggal dua hari saja. Warga dari Sebatok masih bekerja keras. Salah seorang dari warga Desa Sebatok melihat gunung dari warga Desa Sinujuh sudah tinggi. Dia bernama Singgih. Dia langsung melaporkannya kepada pimpinannya yaitu Datuk Siba.

�Datuk, datuk, saya tadi tidak sengaja melihat gunung Desa Sinujuh, tampaknya sudah lebih tinggi dari pada gunung kita. Sedangkan waktunya tinggal dua hari lagi.� Seru Singgih kepada Datuk Siba.

�Oh, sudah tidak ada harapan lagi,� ujar Datuk Siba. Mereka pun menyerah dan tidak menyelesaikan gunungnya.

Karena kalah, Datuk Siba merasa malu karena gunungnya setengah jadi. Dia pun langsung menggelamkan gunung miliknya tersebut di muara besar dekat tempat ia membuat gunung. Datok Siba sangat kecewa, hingga suatu ketika ia mengetahui kebohongan dari gunung Ki Sinu.

Ternyata yang tinggi hanyalah kain hijau kehitam-hitaman yang menyerupai pohon-pohon rimbun. Datuk Siba sangat marah. Dia lalu bersumpah kepada Desa Sinujuh untuk hilang selama-lamanya setelah ia meninggal dunia.

Dua tahun berlalu, Desa Sinujuh bertempat di dekat muara yang dibuat gunung oleh warga Sinujuh tersebut. Di saat itu juga, Datuk Siba jatuh sakit dan tak lama kemudian ia meninggalkan dunia. Sesuai dengan sumpahnya, Desa Sinujuh hilang. Tetapi gunung yang dibuat warga Desa Sinujuh tidak hilang karena di dalam sumpah Datuk Siba tidak tercantum untuk menghilangkan gunung yang dibuat warga Desa Sinujuh. Karena gunung itu dibuat oleh warga Desa Sinujuh, hingga saat ini gunung itu dinamakan Gunung Sinujuh. Kesimpulannya adalah nama Sinujuh diambil dari nama sebuah desa yang membuat gunung tersebut.

Nah, demikianlah kisah Asal Usul Gunung Senujuh dan mitos yang mengelilinginya. Semoga dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran untuk kehidupan kita yang lebih baik.


Catatan:
Referensi penulisan artikel ini bersumber dari cerita lisan orang tua dan untuk memperkuat materi, penulis juga mengutip tulisan inti dari buku yang berjudul "Kunag-Kunang : Antologi Cerita Rakyat Selakau Timur" Edisi cetakan pertama, Oktober 2016. Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Senin, 16 Januari 2017

CERITA RAKYAT SALAKO: Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup

SampanPesisir - Suku Dayak Salako yang bermukim di kawasan benua Sambas (Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, dan Kota Singkawang) dan sebagian kecil di Sarawak (Malaysia) mempercayai cerita rakyat tentang asal usul padi yang berasal dari Jubata Nek Baruakng Kulup, anak dari Nek Karantiko. 

Cerita rakyat Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup menceritakan tentang Ayah dari Nek Baruakng Kulup tidak setuju dengan perbuatan anaknya yang sengaja memberikan benih padi kepada talino (manusia). Nek Karantiko khawatir manusia tidak mampu merawat padi itu dengan baik karena padi merupakan tanaman yang memiliki spirit atau roh. 

CERITA RAKYAT SALAKO: Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup

Sifat manusia yang bongko' karongo (sifat jahat yang sewenang-wenang tanpa ada belas kasihan), oso (kegemaran manusia yang suka mengambil sesuatu dan melebihi kebutuhan yang akhirnya dibuang-buang, serta tidak berhemat dan tidak memikirkan hari esok), dan piroro (tidak mau menjaga, merawat, menghargai dan menghormati sesuatu yang telah menunjang kehidupan agar tetap baik dan utuh). Pada akhirnya, ketiga sifat jelek manusia itu dikontrol oleh adat, diperkuat oleh pandangan kosmologi dan mitos-mitosnya. Atas kemurahan hati Jubata Nek Baruakng Kulub dan alam, para talino (manusia) hingga sekarang bisa merasakan nikmatnya nasi dari benih padi tersebut.

Begitu banyak versi terkait cerita ini, berikut adalah salah satu versi Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup yang berhasil saya himpun dan rewrite. Selamat membaca.

Dahulu kala, hiduplah manusia dari negeri kayangan bernama Nek Panitah dengan istrinya yang bernama Nek Duniang. Sungguhpun demikian, mereka tidak campur tidur. Nek Panitah kemudian meminta anak. �Yang-yang Si Julate, aku minta ada manjadiatn anak � kata Nek Panitah. Tiba-tiba jadilah anak, yang kemudian diberinya nama Baruakng. Karena tidak disunat, maka nama anak itu menjadi Baruakng Kulub.

Setelah cukup besar, Baruakng kecil suka sekali bermain. Ia terus turun ke bumi, untuk bertemu Umang-Umang dan Bulit-Bulit. Mereka bertiga bermain gasing, namun Umang-Umang dan Bulit-Bulit selalu saja kalah. Baruakng tahu bahwa teman-temannya ini masih makan Kulat Karakng (sejenis jamur/cendawan), makanya dengan mudah ia mengalahkan mereka.

Pada suatu hari, Baruakng turun lagi ke bumi. Ia lupa bahwa dibetisnya, masih terdapat sisa nasi yang melekat. Biji nasi itu terlihat oleh Umang-Umang, lalu langsung diambil dan dimakannya. Tiba-tiba ia merasa segar sekali badannya. Terus bermain, kalahlah Baruakng.

�Kenapa ya..kamu bisa kalahkan aku ? �Tanya Baruakng.

�Ee..aku makan sesuatu yang melekat di betismu. Apa sih namanya ? �kata Umang-Umang sedikit bertanya, karena heran.

�itulah nasi � jawab Baruakng.

�Seperti apa sih bentuknya nasi itu ? �Tanya Bulit-Bulit.

�O�sebelum nasi, namanya beras. Itulah yang kau makan tadi. Sebenarnya nasi itu tidak ketahuan melekat dibetisku � kata Baruakng.

�Cobalah bawakan kami barang itu, kami ingin melihatnya � Pinta Umang-Umang.

�payah�nanti bapak ibuku marah. Mereka menilai manusia di dunia tidak hemat. Itulah makanya mereka tidak mau memberi kalian, sebab Piroro (selalu terlantar/tidak terurus baik).

�Cobalah..bawakan sedikit saja. Kami ingin sekali melihatnya�, kata Bulit-Bulit.

Karena terus didesak kedua temannya, segera Baruakng naik lagi ke atas (dunianya, Sapangko). Ia berlari hingga sampai ke dangau padi ibunya.

�Mari pulang. Jangan kamu bawa padi itu, nanti bapakmu marah�, kata Nek Duniang kepada Baruakng. Lalu mereka pulang kerumah.

Besoknya, Baruakng pergi lagi ke dangau padi bersama ibunya yang sedang bekerja sendiri diladang. Diambilnya sebiji padi itu dan disimpan di celana kulitnya. Agar tidak ketahuan bapaknya. Namun ternyata tetap ketahuan, oleh karenanya diambil lagi. Bapaknya marah besar dengan Baruakng. Merasa rindu dengan teman-temannya, Baruakng turun lagi kebumi dan mengajak Umang-Umang dan Bulit-Bulit bermain gasing.

�Adakah kamu bawa sesuatu yang kami minta itu ?� Tanya Umang-Umang.

�Tidak jadi saya bawa. Sebenarnya telah kubawa barangi itu, tapi ketahuan bapakku. Lalu diambil lagi � kata Baruakng.

�Coba kamu simpan dikulit kepala � anu�mu�, kata Umang-Umang.

Baruakng segera naik lagi keatas. Ia segera mengambil padi tersebut dan menyimpannya dikulit kepala �anu�nya. Bergegas Baruakng turun ke bumi menemui Umang-Umang dan Bulit-Bulit.

�Jangan kamu tanam diluar rumah. Tanamlah didapur, agar tidak ketahuan bapakku. �, kata Baruakng berpesan.

Umang-Umang menanam padi itu pada bulan enam, tujuh dan delapan. Setelah cukup besar padi itu, keluar pelepah, keluar anak-anaknya, hingga bunting. Butir-butir padi itu terus menguning dan siap dipanen. Nek Panitah tanpa sengaja melihat kebawah dan terkejutlah ia melihat padi itu.

�Ha..lihatlah kerja Baruakng. Sudah diberikannya manusia padi itu. Karena kamu tidak memperhatikannya, tidak kamu jaga dia bermain�, kata Nek Panitah kepada istrinya.

�Habis, mau bagaimana lagi ?�, jawab Nek Duniang.

�Itulah kamu. Brengsek, tidak hemat. Tunggu, nanti kubunuh anak itu � kata Nek Panitah. Menangislah Nek Duniang oleh ucapan suaminya itu, ia takut anaknya dibunuh. Setelah itu, ia bertemu Baruakng.

�Larilah kamu segera, kamu sudah salah karena memberi manusia padi�, kata ibunya kepada Baruakng.

Nek Panitah membuat Pate� (ranjau dari potongan kayu diruncingkan untuk membunuh), berhentilah ibunya menangis. Kemudian tubuhnya bersisik, ia menangisi lagi Baruakng. Dilihatnya ke bawah, dan terlihat Baruakng sangat ingin pulang ke atas untuk bertemu ibu bapaknya. Diturunkannya induk babi betina yang telah tua. Datanglah anaknya itu. Kemudian ia berkata.

�Itulah anak kita telah lari, tinggal adoh (induk babi betina) yang terkena pate� (ranjau) ku�.

�Baik-baik kau nak, kalau di jalan yang lurus, tentu kau sampai ke subayatn, dan kalau ke kiri kau akan sampai ke bumi manusia�, kata Nek Duniang.

Baruakng terus saja berjalan, ia lupa telah berjalan ke kanan dan sampailah ia ke subayatn. Di subayatn, ia tertarik dengan Si Putih, gadis subayatn.

�Saya suku kamu, bolehkah kita menikah ? � Tanya Baruakng.

�Saya juga suka kamu�, kata Si Putih.

Mereka kemudian menikah. Setelah lama menikah, ia teringat ibunya. Karena teramat rindu, ia pulang dan bertemu.

�Kemana kamu pergi ?�, Tanya ibunya.

�Jalan yang lurus. Istriku si Putih, cantik sekali�, kata Baruakng.

�Pura-pura pulang kamu anakku. Lihatlah gutu (kutu) dikepalanya, ada satu rambutnya yang diatas kepala. Cabutlah, terus ia akan benci denganmu�, pesan ibunya.

Terasa pikiran si Putih untuk hamil, segera dilihatnya perutnya telah besar. Dulu, sangat lama menikah dengan Baruakng ia tak kunjung hamil sekarang ia telah hamil. Setelah berumur sembilan bulan sepuluh hari, keluarlah anak itu. Apa yang dilahirkannya ? ternyata segala burung. Heranlah Baruakng.

�Mengapa istriku melahirkan burung banyak sekali ?. sedih sekali aku melihat istriku melahirkan burung. Besok aku harus bertemu ibuku�, ujar Baruakng dalam hati. Keesokan harinya, Baruakng naik lagi ke atas dan bertemu ibunya.

�Bu, mengapa istriku melahirkan burung ? makanan apa yang harus kuberikan mereka nanti ? siapa nanti namanya harus kuberikan ? � Tanya Baruakng.

�Oh�sebenarnya tidak sulit benar memberinya nama anakku. Tancapkan saja aur (sejenis bamboo yang daunnya sangat kecil, runcing dan memanjang) ke ujung pante (halaman rumah), lepaskanlah seekor demi seekor. Lepaskan yang tertua, maka berkata Keto. Kemudian Kohor, Caruit, Buria�. Lepaskan lagi yang tertua berkata Biang, kemudian Jantek, Rooh, Jeje, Ansit, Dugal, Tongo�, Adatn, Kijakng�, kata Nek Duniang kepada Baruakng. Itulah langkah-langkah berladang, mengerjakan padi itu, tambahnya.

�Pulanglah kamu segera dengan istrimu itu. Kamu harus cerai, cabut rambutnya diatas kepala, ia pasti benci dengan mu.� Pesan ibunya lagi.

Kemudian datanglah bapaknya kepada Baruakng.

�Ceraikan saja istrimu itu. Turunlah kamu di dunia, mengajar manusia. Kebetulan kamu telah memberi manusia padi. Kamu harus beristri lagi segera�, kata Nek Panitah.

Baruakng turun lagi, dan menikah dengan Jamani, seorang gadis dari dunia. Setelah lama bersuami-istri, Jamani hamil. Setelah cukup umur kehamilannya, ia kemudian melahirkan seorang bayi, yang diberinya nama Kulikng Langit. Kulikng Langit tumbuh dengan cepat, sehingga tidak lama kemudian ia hampir dewasa. Ia senang bermain. 

Didekat rumahnya, terdapat sebatang pohon langsat. Karena tertarik dan berminat untuk makan buah langsat yang telah masak, ia memanjat pohon tersbut. Baruakng tidak tahu kalau anaknya akan memanjat pohon langsat, karena ia telah bersiap akan naik keatas, menemui orang tuanya.

�Begini istriku, aku akan naik keatas. Kalau anakmu telah turun ke tanah, katakan padanya, jangan dilanggar kata kakaknya (keto,jantek dll). Kalau ia ingin naik atau turun, jangan sekali-kali dilanggar kata kakaknya. Segala Kohor, Jantek, Keto, Buria�, Biang, Rooh, Jeje. Sebab kalau di langgar, ia akan menerima naas�, pesan Baruakng kepada istrinya.

Setelah tahu tidak ada bapaknya, Kulikng Langit masih berminat sekali untuk memanjat pohon langsat untuk mengambil buahnya. Tiba-tiba, Keto terbang tepat didepannya. Ia tahu, tetapi tetap saja ia tidak menghiraukan kata-kata kakaknya. Setelah tiga kali dlarang kakaknya tetap tidak mau, Kulikng Langit tetap memanjat pohon itu. Belum sempat diatas, tiba-tiba ia terjatuh. Tubuhnya hancur menimpa batu, karena tepat diatas hamparan batu.

�Ha..mestinya kita harus beritahu ayah�, kata Keto. Setelah itu, mayat Kulikng Langit dibawa keatas, menemui Nek Panitah.

�Aku ini tali nyawa, hiduplah kamu�, kata Nek Panitah. Kulikng Langit hidup kembali, tetapi ia kemudian dilarang kembali ke dunia bersama manusia.

�Ha�kamu Baruakng, turunlah lagi kedunia. Kamu ajarkan palangkahan (teknik menghindari naas) segala kata burung kepada manusia�, kata Nek Panitah. 

Turunlah Baruakng kedunia. Itulah hingga kini, manusia,khususnya di kalangan orang Dayak tetap mengingat dan memperhatikan tanda-tanda alam seperti, kata burung dan lain-lain bila ingin mengerjakan sesuatu, terutama bila akan memulai perladangan.

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *