Blog untuk Pendidikan

Tampilkan postingan dengan label SENI DAN BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENI DAN BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Oktober 2017

BRizey Printing: Percetakan Banner/ Spanduk/ Baliho Termurah di Pontianak

Foto Binardi Complaint.


SampanPesisir - Percetakan yang termurah di Pontianak ini sangat cocok untuk Anda yang ingin mencetak banner/baliho/spanduk, karena di tempat ini ditawarkan harga murah. Tidak hanya percetakan banner/baliho/spanduk saja yang tersedia, toko ini menyediakan juga jasa sablon kaos satuan/lusinan, cetak stiker murah, buat stempel laser dan lain-lain.

Harga cetak Banner/ Baliho/ Spanduk hanya:
Rp 20.000,- /m2

Bagi Anda yang berminat silakan hubungi No Hp/WA 089699918466
Alamat di Jalan A.Yani komplek Politeknik Negeri Pontianak atau di Jalan Paris 2, Gg Selasih Pontianak

Jumat, 03 Maret 2017

Pusaka Leluhur Sambas Yang Terancam Hilang Ditelan Zaman

SampanPesisir - Parang Tangkin (Tangkitn) atau biasa disebut Mandau Tangkitn adalah senjata tradisional yang terbuat dari besi yang bagian hulunya melengkung, pada ujungnya bertampuk kuningan dan tidak memiliki gagang layaknya sebilah mandau yang biasa terbuat dari kayu atau tulang. Parang ini sekilas panjangnya hampir sama dengan mandau, namun bentuknya sangat berbeda dengan mandau. 

Gagang pada parang ini hanya di lilitkan kain merah yang melambangkan keberanian dan kebanyakan di pangkal bawah pegangan tersebut terdapat cepu yang terbuat dari tembaga yang dipercaya mempunyai kekuatan magis. Sarung tangkitn dibuat dari kayu tipis dan pipih yang dililit dengan gelang rotan dan diperkuat dengan plat kuningan. 


Pada dasarnya, oleh leluhur Sambas pada zaman dahulu, parang tangkin hanya dipergunakan untuk tradisi mengayau (berburu kepala) atau digunakan sebagai senjata pertahanan diri dari sasaran kayau suku tetangga (Iban) yang mengayau ke wilayah adatnya. 

Pada masa lalu, hampir semua laki-laki di Kalimantan pada umumnya harus melakukan perburuan kepala untuk bermacam-macam alasan, karena setiap suku memiliki alasan yang berbeda-beda. Seperti orang Iban yang berbatasan langsung wilayah adat dengan pribumi Sambas (Salako dan Kanayatn), tradisi mengayau menggunakan Mandau dilakukan anak laki-laki iban pada usia 10 tahun yang mengharuskannya bisa mendapatkan setidaknya 1 kepala manusia, karena ini akan menunjukan bahwa anak laki-laki ini sudah memasuki usia dewasa dan dapat menikah. Sedangkan untuk pribumi Sambas mempertahankan diri mereka dari korban mengayau masyarakat Iban, menggunakan parang tangkin sebagai senjata pertahanan.

Sebelum kedatangan agama SAMAWI (Nasrani dan Islam) ke tanah Sambas, kepercayaan masyarakat pribumi Sambas adalah kepercayaan tradisional Kaharingan. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau disebut dengan Ranying / Jubata, yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat pribumi Sambas dan Kalimantan pada umumnya. Tempat ibadahnya dinamakan Balai Basarah. Kitab suci agama mereka adalah Panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya.

Parang tangkin tanpa kain merah

Pasca berdirinya Kesultanan Sambas di Lubuk Madung, pribumi Sambas banyak yang mengalami proses Islamisasi (masuk Melayu) ditambah pendatang dari luar Sambas yang notebane-nya untuk berdagang. Akhirnya budaya Melayu semakin banyak diadopsi dan mengaburkan budaya lama yang dianggap lawas untuk ditinggalkan, meskipun beberapa adat masih dipertahankan seperti tepung tawar, tumpang 1000, dan muang rateh (muakng rate). Sedangkan untuk saudara mereka yang masih mempertahankan agama sebelumnya dan tidak menerima Islam (non-Muslim atau non-Melayu), oleh mereka disebut Urang Daya (urang daya = orang darat).

Terpisahnya dua keluarga tersebut, makna dari penggunaan parang tangkin pun berubah. Untuk kelompok masyarakat yang menyebut mereka dengan Melayu Sambas, parang tangkin dipergunakan untuk berburu binatang atau pergi berladang (be ume / bahuma). Sedangkan, untuk urang Daya (Salako dan Kanayatn sekarang) masih menggunakan parang tangkin untuk mengayau.

Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi), tradisi mengayau semakin ditinggalkan oleh urang Daya ditambah semakin banyak dari mereka yang memeluk kepercayaan Nasrani (Kristen dan Katolik). Maka, makna penggunaan parang tangkin pun sudah tidak dipergunakan untuk membunuh dan memburu kepala musuh, melainkan untuk berburu binatang atau pergi berladang.

gagang parang tangkitn di balut kain merah

Dewasa ini, keberadaan parang tangkin pada masyarakat Sambas sudah terancam hilang keberadaannya. Parang tangkin hanya dapat dijumpai pada keluarga Dayak Salako dan Kanayatn di Kabupaten Sambas, serta tidak banyak berada pada masyarakat Melayu. Di wilayah Sambas, parang tangkin terbagi menjadi dua varian yaitu tangkin laki dan tangkin bini. Bentuk tangkin laki lebih panjang dari tangkin bini.

Sebagai bagian dari pusaka dan kebudayaan leluhur Sambas, parang tangkin atau mandau tangkitn diabadikan menjadi bagian dari Lambang Daerah Kabupaten Sambas bersama dengan tombak yang juga merupakan salah satu senjata perang kerajaan Sambas pada zaman dahulu. 

Selain di Kabupaten Sambas, parang tangkin juga banyak dijumpai pada masyarakat Salako dan Kanayatn lainnya yang tersebar di sebagian wilayah Sarawak (Malaysia), Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Mempawah, Kota Singkawang, dan Kota Pontianak.

Selasa, 17 Januari 2017

Eksistensi Kebudayaan Tionghoa Dalam Perayaan Imlek di Kota Singkawang, Kalimantan Barat

SampanPesisir - Indonesia adalah suatu bangsa besar dengan keberagaman sebagai kekuatannya. Keberagaman suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke merupakan warisan sejarah bangsa yang seharusnya kita rawat. Bhineka Tunggal Ika menjadi konsep yang jitu dalam mempersatukan keberagaman bangsa Indonesia. Kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat berwujud sebagai komunitas desa, kota, kelompok kekerabatan, atau kelompok adat lainnya yang memunculkan ciri khas dari masyarakat tersebut.

Eksistensi Kebudayaan Tionghoa Dalam Perayaan Imlek di Kota Singkawang

Masyarakat Tionghoa Indonesia adalah kelompok orang dengan elemen budaya yang dikenali sebagai atau dapat disebabkan oleh budaya Tionghoa. Sejarah mencatat bahwa kedatangan leluhur suku bangsa Tionghoa di Indonesia berasal dari dataran Tiongkok selatan, yang datang secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu dengan tujuan awal untuk berdagang.

Data yang dipublikasikan melalui website Badan Pusat Statistik (BPS) http://www.bps.go.id, menyebutkan populasi suku bangsa Tionghoa terbanyak menurut provinsi adalah DKI Jakarta, Kalimantan Barat, dan Sumatera Utara. Di Kalimantan Barat, masyarakat Tionghoa menjadi suku mayoritas setelah Dayak dan Melayu. 

Keberadaan masyarakat Tionghoa di Bumi Khatulistiwa juga menjadi salah satu hal yang menunjukan kekhasan provinsi Kalimantan Barat karena jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan di empat provinsi Kalimantan lainnya.

Di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, masyarakat Tionghoa Indonesia masih mempertahankan kebudayaan asli dari leluhurnya dan mereka juga masih menggunakan bahasa Tionghoa secara turun termurun sebagai bahasa sehari-harinya. Kota Singkawang dalam bahasa Hakka disebut San Khew Jong, kota ini mayoritas dihuni masyarakat Tionghoa berbahasa Khek.

Masyarakat Tionghoa Singkawang terus berbenah untuk memperkenalkan kebudayaannya ke seantero Indonesia bahkan dunia dengan mengadakan event budaya setiap tahunnya, seperti Festival Cap Go Meh dalam menyemarakkan perayaan Imlek. Seperti halnya bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia lainnya, perayaan Imlek di Kota Singkawang menawarkan berbagai perayaan khas yang memiliki daya tarik tersendiri, unik, megah, dan meriah.


Perayaan Imlek di Kota Singkawang atau lebih dikenal dengan Festival Cap Go Meh Singkawang merupakan akulturasi nyata budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu, serta kebudayaan lokal Kalimantan Barat lainnya. Perayaan Imlek tersebut telah berbaur dengan kekayaan tradisi lokal juga menjadi potret nyata beragamnya Indonesia. Festival Cap Go Meh yang merupakan agenda tahunan Kota Singkawang menjadi salah satu andalan pariwisata di Kalimantan Barat.


Cap Go Meh atau hari ke-15 tahun baru Imlek selalu menyisakan cerita yang mengesankan dan gebyar sebuah perayaan Imlek terbesar di Indonesia. Seluruh masyarakat Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dan sekitarnya, seakan tumpah menjadi satu. Singkawang menjadi terkenal karena acara Cap Go Meh yang meriah dan dinominasikan sebagai penyelenggaraan Cap Go Meh terbesar di Asia Tenggara.


Seperti halnya bagi masyarakat Dayak Kalimantan Barat dalam event Gawai Dayak sebagai upacara syukuran masyarakat Dayak atas hasil panen. Perayaan Imlek selain menyemarakkan tahun baru, juga merupakan sebuah tradisi masyarakat Tionghoa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panenan dan sekaligus harapan agar musim berikutnya memperoleh hasil yang lebih baik.


Perayaan Imlek di Singkawang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama atau yang lebih dikenal dengan istilah Cap Go Meh. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa Singkawang, malam ke-15 merupakan puncak perayaan Imlek dan Cap Go Meh dirayakan secara khusus. 


Perayaan Imlek di Indonesia
Salah satu peserta tatung Festival Cap Go Meh Singkawang tahun 2016

Festival Cap Go Meh Singkawang menyuguhkan atraksi budaya, seperti : Tarian Kolosal Tidayu (Tionghoa, Dayak, Melayu), Pawai Lampion, Atraksi Barongsai, Atrasi Ular Naga, Choi Lam Shin (keranjang jelangkung), dan yang paling semarak adalah Atraksi Tatung.

Atraksi Tatung menjadi media utama dalam menyemarakkan perayaan Imlek di Kota Singkawang. Dalam tradisi ini, tatung digunakan untuk menangkal gangguan atau kesialan di masa mendatang, seperti mengusir roh-roh jahat dari seluruh kota. Orang yang menjadi Tatung dalam atraksi ini dimasuki roh leluhur mereka. 


Tatung berkeliling di jalanan kota Singkawang untuk mengusir roh jahat

Upacara pemanggilan roh leluhur untuk merasuki Tatung dipimpin oleh seorang pendeta, dan untuk menjadi tatung diwajibkan berpuasa selama 3 hari sebelum hari perayaan, dengan kata lain mereka harus disucikan terlebih dahulu.

Para tatung yang dirasuki oleh roh leluhur akan melakukan atraksi menegangkan dan ekstrim seperti menusuk pipi, menginjak-injak sebilah mata pedang atau pisau, menancapkan kawat-kawat baja runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri, hingga aksi mengupas kelapa dengan gigi. Beberapa Tatung yang lain dengan lahapnya memakan hewan atau ayam hidup-hidup lalu meminum darahnya yang masih segar dan mentah. 


Seorang peserta Tatung kebal terhadap benda tajam
Salah satu peserta Tatung dengan lahapnya memakan ayam hidup-hidup
Tahun lalu, ada sekitar 494 tatung yang beratraksi pada event budaya Festival Cap Go Meh Imlek 2567 di Kota Singkawang. Jumlah Tatung mendaftar dari tahun ke tahun selalu berubah. Para Tatung yang terpilih dan lolos seleksi yang ketat akan diberi santunan.

Itulah Eksistensi Kebudayaan Tionghoa Dalam Perayaan Imlek di Kota Singkawang, hingga kini perayaan Cap Go Meh menjadi ajang promosi budaya Tionghoa dan pariwisata di Kalimantan Barat. Perayaan Imlek di Indonesia bagi masyarakat Tionghoa memiliki beragam arti, seperti : makna astronomis, agamis, agraris, sosial budaya, politis, dan juga bisnis. 

Festival Imlek Indonesia 2017

Disclaimer: Semua gambar dalam artikel ini adalah koleksi pribadi, taken by @moycumoy

Senin, 16 Januari 2017

CERITA RAKYAT SALAKO: Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup

SampanPesisir - Suku Dayak Salako yang bermukim di kawasan benua Sambas (Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, dan Kota Singkawang) dan sebagian kecil di Sarawak (Malaysia) mempercayai cerita rakyat tentang asal usul padi yang berasal dari Jubata Nek Baruakng Kulup, anak dari Nek Karantiko. 

Cerita rakyat Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup menceritakan tentang Ayah dari Nek Baruakng Kulup tidak setuju dengan perbuatan anaknya yang sengaja memberikan benih padi kepada talino (manusia). Nek Karantiko khawatir manusia tidak mampu merawat padi itu dengan baik karena padi merupakan tanaman yang memiliki spirit atau roh. 

CERITA RAKYAT SALAKO: Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup

Sifat manusia yang bongko' karongo (sifat jahat yang sewenang-wenang tanpa ada belas kasihan), oso (kegemaran manusia yang suka mengambil sesuatu dan melebihi kebutuhan yang akhirnya dibuang-buang, serta tidak berhemat dan tidak memikirkan hari esok), dan piroro (tidak mau menjaga, merawat, menghargai dan menghormati sesuatu yang telah menunjang kehidupan agar tetap baik dan utuh). Pada akhirnya, ketiga sifat jelek manusia itu dikontrol oleh adat, diperkuat oleh pandangan kosmologi dan mitos-mitosnya. Atas kemurahan hati Jubata Nek Baruakng Kulub dan alam, para talino (manusia) hingga sekarang bisa merasakan nikmatnya nasi dari benih padi tersebut.

Begitu banyak versi terkait cerita ini, berikut adalah salah satu versi Legenda Jubata Nek Baruakng Kulup yang berhasil saya himpun dan rewrite. Selamat membaca.

Dahulu kala, hiduplah manusia dari negeri kayangan bernama Nek Panitah dengan istrinya yang bernama Nek Duniang. Sungguhpun demikian, mereka tidak campur tidur. Nek Panitah kemudian meminta anak. �Yang-yang Si Julate, aku minta ada manjadiatn anak � kata Nek Panitah. Tiba-tiba jadilah anak, yang kemudian diberinya nama Baruakng. Karena tidak disunat, maka nama anak itu menjadi Baruakng Kulub.

Setelah cukup besar, Baruakng kecil suka sekali bermain. Ia terus turun ke bumi, untuk bertemu Umang-Umang dan Bulit-Bulit. Mereka bertiga bermain gasing, namun Umang-Umang dan Bulit-Bulit selalu saja kalah. Baruakng tahu bahwa teman-temannya ini masih makan Kulat Karakng (sejenis jamur/cendawan), makanya dengan mudah ia mengalahkan mereka.

Pada suatu hari, Baruakng turun lagi ke bumi. Ia lupa bahwa dibetisnya, masih terdapat sisa nasi yang melekat. Biji nasi itu terlihat oleh Umang-Umang, lalu langsung diambil dan dimakannya. Tiba-tiba ia merasa segar sekali badannya. Terus bermain, kalahlah Baruakng.

�Kenapa ya..kamu bisa kalahkan aku ? �Tanya Baruakng.

�Ee..aku makan sesuatu yang melekat di betismu. Apa sih namanya ? �kata Umang-Umang sedikit bertanya, karena heran.

�itulah nasi � jawab Baruakng.

�Seperti apa sih bentuknya nasi itu ? �Tanya Bulit-Bulit.

�O�sebelum nasi, namanya beras. Itulah yang kau makan tadi. Sebenarnya nasi itu tidak ketahuan melekat dibetisku � kata Baruakng.

�Cobalah bawakan kami barang itu, kami ingin melihatnya � Pinta Umang-Umang.

�payah�nanti bapak ibuku marah. Mereka menilai manusia di dunia tidak hemat. Itulah makanya mereka tidak mau memberi kalian, sebab Piroro (selalu terlantar/tidak terurus baik).

�Cobalah..bawakan sedikit saja. Kami ingin sekali melihatnya�, kata Bulit-Bulit.

Karena terus didesak kedua temannya, segera Baruakng naik lagi ke atas (dunianya, Sapangko). Ia berlari hingga sampai ke dangau padi ibunya.

�Mari pulang. Jangan kamu bawa padi itu, nanti bapakmu marah�, kata Nek Duniang kepada Baruakng. Lalu mereka pulang kerumah.

Besoknya, Baruakng pergi lagi ke dangau padi bersama ibunya yang sedang bekerja sendiri diladang. Diambilnya sebiji padi itu dan disimpan di celana kulitnya. Agar tidak ketahuan bapaknya. Namun ternyata tetap ketahuan, oleh karenanya diambil lagi. Bapaknya marah besar dengan Baruakng. Merasa rindu dengan teman-temannya, Baruakng turun lagi kebumi dan mengajak Umang-Umang dan Bulit-Bulit bermain gasing.

�Adakah kamu bawa sesuatu yang kami minta itu ?� Tanya Umang-Umang.

�Tidak jadi saya bawa. Sebenarnya telah kubawa barangi itu, tapi ketahuan bapakku. Lalu diambil lagi � kata Baruakng.

�Coba kamu simpan dikulit kepala � anu�mu�, kata Umang-Umang.

Baruakng segera naik lagi keatas. Ia segera mengambil padi tersebut dan menyimpannya dikulit kepala �anu�nya. Bergegas Baruakng turun ke bumi menemui Umang-Umang dan Bulit-Bulit.

�Jangan kamu tanam diluar rumah. Tanamlah didapur, agar tidak ketahuan bapakku. �, kata Baruakng berpesan.

Umang-Umang menanam padi itu pada bulan enam, tujuh dan delapan. Setelah cukup besar padi itu, keluar pelepah, keluar anak-anaknya, hingga bunting. Butir-butir padi itu terus menguning dan siap dipanen. Nek Panitah tanpa sengaja melihat kebawah dan terkejutlah ia melihat padi itu.

�Ha..lihatlah kerja Baruakng. Sudah diberikannya manusia padi itu. Karena kamu tidak memperhatikannya, tidak kamu jaga dia bermain�, kata Nek Panitah kepada istrinya.

�Habis, mau bagaimana lagi ?�, jawab Nek Duniang.

�Itulah kamu. Brengsek, tidak hemat. Tunggu, nanti kubunuh anak itu � kata Nek Panitah. Menangislah Nek Duniang oleh ucapan suaminya itu, ia takut anaknya dibunuh. Setelah itu, ia bertemu Baruakng.

�Larilah kamu segera, kamu sudah salah karena memberi manusia padi�, kata ibunya kepada Baruakng.

Nek Panitah membuat Pate� (ranjau dari potongan kayu diruncingkan untuk membunuh), berhentilah ibunya menangis. Kemudian tubuhnya bersisik, ia menangisi lagi Baruakng. Dilihatnya ke bawah, dan terlihat Baruakng sangat ingin pulang ke atas untuk bertemu ibu bapaknya. Diturunkannya induk babi betina yang telah tua. Datanglah anaknya itu. Kemudian ia berkata.

�Itulah anak kita telah lari, tinggal adoh (induk babi betina) yang terkena pate� (ranjau) ku�.

�Baik-baik kau nak, kalau di jalan yang lurus, tentu kau sampai ke subayatn, dan kalau ke kiri kau akan sampai ke bumi manusia�, kata Nek Duniang.

Baruakng terus saja berjalan, ia lupa telah berjalan ke kanan dan sampailah ia ke subayatn. Di subayatn, ia tertarik dengan Si Putih, gadis subayatn.

�Saya suku kamu, bolehkah kita menikah ? � Tanya Baruakng.

�Saya juga suka kamu�, kata Si Putih.

Mereka kemudian menikah. Setelah lama menikah, ia teringat ibunya. Karena teramat rindu, ia pulang dan bertemu.

�Kemana kamu pergi ?�, Tanya ibunya.

�Jalan yang lurus. Istriku si Putih, cantik sekali�, kata Baruakng.

�Pura-pura pulang kamu anakku. Lihatlah gutu (kutu) dikepalanya, ada satu rambutnya yang diatas kepala. Cabutlah, terus ia akan benci denganmu�, pesan ibunya.

Terasa pikiran si Putih untuk hamil, segera dilihatnya perutnya telah besar. Dulu, sangat lama menikah dengan Baruakng ia tak kunjung hamil sekarang ia telah hamil. Setelah berumur sembilan bulan sepuluh hari, keluarlah anak itu. Apa yang dilahirkannya ? ternyata segala burung. Heranlah Baruakng.

�Mengapa istriku melahirkan burung banyak sekali ?. sedih sekali aku melihat istriku melahirkan burung. Besok aku harus bertemu ibuku�, ujar Baruakng dalam hati. Keesokan harinya, Baruakng naik lagi ke atas dan bertemu ibunya.

�Bu, mengapa istriku melahirkan burung ? makanan apa yang harus kuberikan mereka nanti ? siapa nanti namanya harus kuberikan ? � Tanya Baruakng.

�Oh�sebenarnya tidak sulit benar memberinya nama anakku. Tancapkan saja aur (sejenis bamboo yang daunnya sangat kecil, runcing dan memanjang) ke ujung pante (halaman rumah), lepaskanlah seekor demi seekor. Lepaskan yang tertua, maka berkata Keto. Kemudian Kohor, Caruit, Buria�. Lepaskan lagi yang tertua berkata Biang, kemudian Jantek, Rooh, Jeje, Ansit, Dugal, Tongo�, Adatn, Kijakng�, kata Nek Duniang kepada Baruakng. Itulah langkah-langkah berladang, mengerjakan padi itu, tambahnya.

�Pulanglah kamu segera dengan istrimu itu. Kamu harus cerai, cabut rambutnya diatas kepala, ia pasti benci dengan mu.� Pesan ibunya lagi.

Kemudian datanglah bapaknya kepada Baruakng.

�Ceraikan saja istrimu itu. Turunlah kamu di dunia, mengajar manusia. Kebetulan kamu telah memberi manusia padi. Kamu harus beristri lagi segera�, kata Nek Panitah.

Baruakng turun lagi, dan menikah dengan Jamani, seorang gadis dari dunia. Setelah lama bersuami-istri, Jamani hamil. Setelah cukup umur kehamilannya, ia kemudian melahirkan seorang bayi, yang diberinya nama Kulikng Langit. Kulikng Langit tumbuh dengan cepat, sehingga tidak lama kemudian ia hampir dewasa. Ia senang bermain. 

Didekat rumahnya, terdapat sebatang pohon langsat. Karena tertarik dan berminat untuk makan buah langsat yang telah masak, ia memanjat pohon tersbut. Baruakng tidak tahu kalau anaknya akan memanjat pohon langsat, karena ia telah bersiap akan naik keatas, menemui orang tuanya.

�Begini istriku, aku akan naik keatas. Kalau anakmu telah turun ke tanah, katakan padanya, jangan dilanggar kata kakaknya (keto,jantek dll). Kalau ia ingin naik atau turun, jangan sekali-kali dilanggar kata kakaknya. Segala Kohor, Jantek, Keto, Buria�, Biang, Rooh, Jeje. Sebab kalau di langgar, ia akan menerima naas�, pesan Baruakng kepada istrinya.

Setelah tahu tidak ada bapaknya, Kulikng Langit masih berminat sekali untuk memanjat pohon langsat untuk mengambil buahnya. Tiba-tiba, Keto terbang tepat didepannya. Ia tahu, tetapi tetap saja ia tidak menghiraukan kata-kata kakaknya. Setelah tiga kali dlarang kakaknya tetap tidak mau, Kulikng Langit tetap memanjat pohon itu. Belum sempat diatas, tiba-tiba ia terjatuh. Tubuhnya hancur menimpa batu, karena tepat diatas hamparan batu.

�Ha..mestinya kita harus beritahu ayah�, kata Keto. Setelah itu, mayat Kulikng Langit dibawa keatas, menemui Nek Panitah.

�Aku ini tali nyawa, hiduplah kamu�, kata Nek Panitah. Kulikng Langit hidup kembali, tetapi ia kemudian dilarang kembali ke dunia bersama manusia.

�Ha�kamu Baruakng, turunlah lagi kedunia. Kamu ajarkan palangkahan (teknik menghindari naas) segala kata burung kepada manusia�, kata Nek Panitah. 

Turunlah Baruakng kedunia. Itulah hingga kini, manusia,khususnya di kalangan orang Dayak tetap mengingat dan memperhatikan tanda-tanda alam seperti, kata burung dan lain-lain bila ingin mengerjakan sesuatu, terutama bila akan memulai perladangan.

Jumat, 09 September 2016

Tradisi Buang Abu Pada Masyarakat Sambas yang Terancam Dimakan Zaman

SampanPesisir - Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan budaya, serta terdapat ratusan suku yang tersebar di bumi Indonesia. Suku Sambas (Melayu Sambas) adalah suku bangsa atau etnoreligius Muslim yang berbudaya melayu, berbahasa Melayu dan menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan sebagian kecil Kabupaten Mempawah - Kalimantan Barat. 

tradisi sambas, budaya sambas, adat dan istiadat sambas, adat sambas, buang abu, tradisi budaya buang abu, tradisi buang, budaya buang abu

Di Kabupaten Sambas, banyak tradisi dan budaya yang berkembang secara turun-temurun. Nenek moyang masyarakat Sambas sangat memegang teguh adat dan istiadat dari zaman Hindu hingga masuknya agama Islam di tengah masyarakat Sambas. Sayang, dari tahun ke tahun seiring dengan bertumbuhnya perkembangan gaya hidup dan teknologi, kebudayaan asli masyarakat Sambas terancam ditelan zaman. Salah satu tradisi yang sudah mulai terancam keberadaannya adalah Tradisi Buang Abu.

Tradisi Buang Abu adalah sebuah ritual "pensucian orang yang disunat / dikhitan" setelah 3 (tiga) hari sunatan. Dalam masyarakat Sambas, tradisi ini dilakukan dalam rangka syukuran telah beralihnya orang yang dikhitan / disunat dari anak-anak menuju jenjang remaja. Hal ini juga bertujuan untuk mempererat ikatan silaturahmi antar masyarakat dan juga melestarikan cara musyawarah.

Pada zaman dahulu, masyarakat Sambas melakukan ritual Tradisi Buang Abu setelah tiga hari sunatan / khitanan. Ritual ini dilakukan setelah melakukan penyunatan, orang yang telah dikhitan / disunat harus mendekatkan kemaluannya ke sebuah wadah yang berisikan ABU DAPUR (material yang umumnya berupa bubuk sisa pembakaran kayu). Hal ini dilakukan untuk menampung darah bekas melakukan khitan, karena orang dahulu berkhitan tidak memiliki alat yang maju seperti sekarang ini.

Apabila kondisi kemaluan orang yang disunat / dikhitan mengalami pendarahan, maka darah itu harus di masukkan ke dalam wadah yang berisi abu tersebut agar dapat menghilangkan aroma bau darah. Masyarakat Sambas percaya akan hal-hal yang berbau mistis, konon apabila darah diletakkan ke tempat yang sembarangan, maka aroma darah tersebut akan menyebar kemana-mana dan mengundang makhluk halus untuk mendatanginya. Jadi pada saat darah itu berhenti maka ABU tersebut akan di buang. Jadi itulah yang dinamakan BUANG ABU.

Dewasa ini, Tradisi Buang Abu telah berubah dan tidak lagi ada hubungannya dengan namanya sendiri. Beriring berkembangnya zaman, tradisi ini dimodifikasi sehingga yang kita temukan sekarang berbeda dengan tradisi buang abu yang dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu.

Tahapan-tahapan Ritual Tradisi Buang Abu Pada Masyarakat Sambas

1. NYARROK (nyaru'/saru')

Saru' / Saro' adalah salah satu kata dari bahasa Sambas yang berarti memanggil dan orang yang melakukan kegiatan ini disebut Nyarrok. Sehingga pengertian Nyarrok adalah orang yang bertugas mengundang atau mengajak orang-orang untuk menghadiri hajatan, biasanya dilakukan dengan mendatangi satu per satu rumah yang ingin di saru' (diundang).
sumber gambar : www.tanjungpinangpos.co.id
2. BEPAPAS (bapapas)

Dalam acara bepapas ini, pertama: digunakan tepung beras (kasai), langger dan dicampur dengan air tolak bala. Kemudian dimasukkan kedalam tempurung kelapa.

Kedua: daun enjuang (nyuang), daun imbali (moli) dan daun ribu diikat menjadi satu sebagai alat pemapas. Kemudian daun-daun tadi dicelupkan kedalam tempurung yang berisi tepung beras (kasai), langger dan air tolak bala.

Sebelum bepapas, orang yang dikhitan / disunat harus membersihkan diri terlebih dahulu. Proses pemandian atau memandikan orang yang dikhitan / disunat di atas sebuah kelapa tua yang telah bertunas dengan ramuan kasai yang berfungsi sebagai sabun. Kasai terbuat dari beras yang direndam kemudian dihaluskan dengan cara ditumbuk bersamaan �langger� yang membentuk tepungan kasar basah yang akan dibalur di sekujur tubuh anak layaknya pemakaian sabun pada orang mandi biasa.

Proses ini dilakukan sesaat sebelum warga sekitar yang diundang (di saru') datang untuk menghadiri jamuan makan tuan rumah. Sebelum tamu menyantap jamuan tuan rumah, terlebih dahulu diadakan ritual �bepapas�, ritual ini adalah ritual buang sial, tamu yang datang juga dapat mengikuti ritual bepapas.

sumber gambar : gramosphere.com

3. PENJAMUAN

Setelah ritual bepapas selesai, para tamu dipersilahkan untuk menyantap jamuan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Penjamuan ini dilakukan dengan cara saprahan, sebuah jamuan makan yang melibatkan banyak orang yang duduk di dalam satu barisan, saling berhadapan duduk satu kebersamaan.

Makna bersaprah yang disantap oleh 6 (enam) orang setiap saprahannya diartikan dengan rukun Iman, dan lauk-pauknya yang dihidangkan biasanya 5 (lima) piring diartikan rukun Islam. Sebenarnya tidak ada perbedaan menu masakan untuk sajian saprahan antara rakyat biasa dengan pemimpin, semuanya sama saja.

Dalam tradisi budaya makan saprahan terkandung nilai-nilai filosofi yakni adanya kebersamaan dan rasa kekeluargaan. Penyajian makanan dengan cara saprahan juga sebagai salah satu pendidikan etika. Sajian yang dihidangkan bukanlah nasi lengkap beserta lauk pauk, melainkan kue-kue khas Melayu. Kue-kue yang sering penulis temukan adalah ketupat dan bubur aya'.

sumber gambar : dokumentasi pribadi

4. BERDOA (Doa selamat dan Doa Tolak Bala)

Setelah selesai penjamuan, tamu undangan dan tuan rumah melakukan doa bersama yang di pimpin oleh pemuka agama di kampung atau biasa di sebut Pak Labbai. Hal ini dilakukan untuk keselamatan orang yang dikhitan dan para tamu undangan yang hadir.

sumber gambar : www.cemaru.com

Semoga artikel yang saya posting kali ini dapat menambah wawasan terkait adat dan budaya Sambas. Sebagai generasi muda, kita setidaknya harus mengetahui adat dan tradisi yang berkembang di tengah-tengah kita. Namun inilah tradisi, bersamaan dengan pengaruh arus modernisasi membuat masyarakat semakin meninggalkannya dan membuat tradisi buang abu semakin terkikis zaman.

Mudah-mudahan artikel singkat ini bisa merekam bahwa dulu pernah ada ritual semacam ini yang hidup dalam masyarakat Melayu Sambas. Tak Kan Hilang Budaya Melayu Dimakan Zaman.

ref:

Yantronika, Nanda. (2015). Adat Istiadat Budaya Sambas (Buang Abu). [Online]. Tersedia: http://nandayantronika15.blogspot.co.id/2015/04/adat-istiadat-budaya-sambas-buang-abu.html [9 Maret 2016]

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sambas

http://mursidin-hole.blogspot.co.id/2014/05/buang-abu-yang-kian-kelabu.html

http://insanakrozi.blogspot.co.id/2010/02/tepun-tawar-sui-bundung.html

Jumat, 03 Juni 2016

TRADISI MAGANG DALAM MASYARAKAT SAMBAS


misterpangalayo.com - Agama Islam sebagai salah satu agama samawi, merupakan agama yang sangat elastis dan mudah berkembang dimanapun. Oleh karena itu dengan mudah dapat ditemukan adanya Islam India, Islam Maroko, Islam Afrika dan Islam Indonesia, karena Islam ketika masuk dalam suatu masyarakat maka Islam menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tersebut (Wood word, 2006: hlm)

Agama dan budaya memiliki hubungan yang sangat dekat, seperti yang kita ketahui semua agama samawi tumbuh dan berkembang dalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Sehingga banyak agama samawi membaur ke dalam budaya suatu masayarakat.

Di Kabupaten Sambas, ada sebuah tradisi unik yang dilakukan masyarakat Sambas setiap menjelang Bulan Suci Ramadhan yaitu Tradisi Magang. Tradisi membeli daging, memasak dan memakannya bersama keluarga sudah dilakukan masyarakat Sambas secara turun temurun. Tradisi ini juga diperingati dua atau sehari menjelang puasa.

Tidak heran apabila pasar tradisional di Kabupaten Sambas akan padat dan ramai diserbu oleh warga yang berbondong-bondong untuk membeli daging, kemudian membawanya pulang ke rumah. Gantungan daging yang sudah disembelih, berjejer pada kayu di lapak-lapak penjual daging yang khusus hari ini tumbuh menjamur di sejumlah titik.

Bagi masyarakat Sambas, bila pada hari Magang tidak membeli daging sapi dan makan bersama anggota keluarga merasa sedih, maka jangan heran pada hari Magang semua masyarakat Sambas makan daging sapi. Perayaan ini juga bagian dari kegembiraan menyambut Ramadhan. Jauh hari sebelumnya, masyarakat Sambas sudah menyiapkan persiapan untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang rahmat.

Tradisi Magang tidak hanya dilakukan dalam menyambut bulan Ramadhan, tapi juga menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pantang jika keluarga tidak memasak daging pada hari Magang. Di daerah lain juga ada tradisi sejenis misalnya di Jawa Tengah dikenal dengan nama Padhusan, di Jawa Timur dengan Megengan, di Aceh dengan Meugang.

Selasa, 23 Februari 2016

Filosofi Tradisi Budaya Makan Saprahan Pada Masyarakat Sambas

SampanPesisir- Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing, Berdiri Sama Tinggi Duduk Sama Rendah. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk yang memiliki berbagai macam suku dan budaya yang tersebar di tanah air. Kesatuan Bhineka Tunggal Ika dan kemajemukan itulah menjadikan kita Indonesia, negara yang begitu indah. Suku Sambas (Melayu Sambas / Urang Sambas) adalah salah satu komunitas etnis dari ras austronesia atau etnoreligius Muslim yang berbudaya Melayu (hukum adat Melayu), berbahasa Melayu, walaupun secara linguistik termasuk dalam rumpun Dayak Melayik dan dikategorikan sebagai Melayu Tua / Proto Melayu. Suku Sambas (Melayu Sambas / Urang Sambas) menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan sebagian kecil Kabupaten Mempawah- Kalimantan Barat.

Di Kalimantan Barat terutama di Kabupaten Sambas kaya akan warisan leluhur berupa budaya-budaya yang tidak akan pernah habis untuk dibahas dan sangat menarik untuk di eksplorasi, salah satunya sebuah Tradisi Budaya Makan Saprahan yang penuh filosofi pada masyarakat Sambas.


Tradisi Budaya Makan Saprahan di Kabupaten Sambas hingga sekarang masih bisa ditemui terutama pada acara-acara tertentu, mulai dari acara Sya'ban hingga acara pernikahan. Tradisi ini penuh makna yang menjadi salah satu kebanggaan Urang Sambas yang harus dilestarikan, karena tak sekedar makan bersama, tak sekedar berkumpul, tapi banyak hal yang perlu kita perhatikan dalam tradisi budaya makan saprahan ala masyarakat Sambas.

SEJARAH DAN DEFINISI SAPRAHAN

Sebelum lebih jauh membahas sejarah Tradisi Budaya Makan Saprahan, kita harus tahu definisi budaya. Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu "buddhayah" yang merupakan bentuk jamak dari "buddhi" yang artinya budi atau akal. Jadi kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal.

Kesadaran untuk memelihara, membina, dan mengembangkan Budaya yang mencerminkan nilai luhur dan kekayaan bangsa dalam bukti kepedulian terhadap kelangsungan proses kehidupan berbangsa. Indonesia dengan berbagai suku bangsa yang tersebar diseluruh penjuru tanah air mempunyai keanekaragaman budaya yang perlu mendapat perhatian agar tetap terjaga dan terpelihara baik budaya bangsa maupun budaya lokal.


Tradisi saprahan memang sudah ada sejak lama, akan tetapi orang-orang tidak tahu betul kapan sejarah masuknya tradisi saprahan di Kabupaten Sambas. Menurut Bapak H. Muin Ikram dan Bapak H. Aspan. S, mereka menyebutkan bahwa sejarah masuknya tradisi Saprahan di daerah Sambas di bawa oleh pedagang-pedagang Arab yang singgah di Sambas, karena dahulunya Sambas merupakan tempat yang srategis bagi kapal-kapal yang berlayar untuk singgah dan menawarkan barang-barang. Menurut Bapak H. Aspan. S, kemungkinan besar masuknya budaya Saprahan di Sambas seiring dengan masuknya agama Islam di Indonesia.

Menurut Bapak H. Muin Ikram, kata Saprahan bukanlah berasal dari bahasa Sambas maupun Indonesia akan tetapi kata Saprahan berasal dari Arab. Beliau juga bilang bahwa kata Saprahan mempunyai makna tersendiri, tetapi beliau tidak pasti tahu apa makna sebenarnya yang terkandung dalam kata Saprahan. Dia menyimpulkan bahwa makna Saprahan adalah sopan santun dalam beradab, kebersamaan yang tinggi (gotong-royong).

Tradisi Budaya Makan Saprahan memiliki makna duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Tradisi ini begitu kental dengan makna filosofinya, penuh akan makna sebuah kebersamaan, keramah-tamahan, berjiwa sosial tinggi dan nilai persaudaraan yang kuat antar masyarakat Sambas yang telah membudaya. Tradisi ini hingga sekarang masih sering ditemui di daerah pinggiran, terutama pada acara perkawinan tradisional.

FILOSOFI TRADISI BUDAYA MAKAN SAPRAHAN

Saprahan merupakan tradisi adat Melayu. Cara makan, menghidang, dan menu ada aturannya. Tidak tertulis, tetapi sudah membudaya. Di Kalimantan Barat, tradisi budaya ini sudah tidak asing terdengar di telinga masyarakat yang berbudaya Melayu, khususnya masyarakat Sambas, Mempawah dan Pontianak.

Padahal Tradisi Budaya Makan Saprahan adalah sebuah jamuan makan yang melibatkan banyak orang yang duduk di dalam satu barisan, saling berhadapan duduk satu kebersamaan. Maka timbul pertanyaan di benak penulis, Apa filosofi dari makan saprahan itu?

Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing, Berdiri Sama Tinggi Duduk Sama Rendah. Itulah filosofi yang tepat untuk melambangkan kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat Sambas yang hingga saat ini masih terjaga dengan baik. Hidangan sajian yang sudah terhidang akan disantap bersama-sama kelompok, membentuk seperti lingkaran bola. Sajian yang disantap tidak menggunakan sendok maupun lainnya, tetapi menggunakan tangan (disuap), sedangkan untuk mengambil lauk pauk digunakan sendok

Tradisi Budaya Makan Saprahan tidak bisa terlepas dari semangat gotong royong masyarakat, contohnya pada acara perkawinan karena untuk membuat acara tersebut membutuhkan tenaga yang cukup banyak. Biasanya untuk sebuah acara perkawinan membutuhkan tenaga kerja bisa lebih dari seratus orang. Sangat mustahil kalau yang punya acara menggaji atau memberi upah kepada semua tenaga kerja yang telah membantu, karena biasanya warga satu desa turut serta bahu-membahu membantu segala aktivitas untuk makan saprahan tersebut.

Seandainya total semua tenaga kerja adalah 200 (dua ratus) orang, dan setiap orang di gaji IDR 200k, maka total untuk upah tenaga kerja adalah Rp. 40.000.000,-. Tetapi selagi semangat gotong royong masyarakat masih kental, maka yang punya acara cukup memberi makan para warga yang telah berpartisipasi demi kelancaran acaranya.


Karena untuk membuat acara perkawinan saja butuh satu minggu waktu yang diperlukan untuk segala persiapan, mulai dari membuat tenda untuk memasak, tempat acara serakalan, tempat tanjidor, dan lain sebagainya. Setelah selesai, maka warga kembali bahu-membahu gotong royong kembali untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya, mulai dari merobohkan bangunan yang dibangun tadi, mengembalikan piring untuk makan saprahan dan lain sebagainya.


Kesimpulannya adalah untuk pengeluaran membutuhkan biaya tiga kali lipat dari acara perkawinan makan prasmanan seperti yang yang sering kita jumpai di daerah perkotaan. Maka dari itu, tradisi ini memang sangat kental dengan adat dan budaya Melayu yang perlu kita lestarikan bersama sebagai generasi penerus karena makan saprahan dan semangat gotong royong dalam budaya itu memang satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kalau semangat gotong royongnya memudar, maka makan saprahan juga akan dengan sendirinya akan hilang.

KEISTIMEWAAN TRADISI BUDAYA MAKAN SAPRAHAN

Dalam tradisi budaya makan saprahan terkandung nilai-nilai filosofi yakni adanya kebersamaan dan rasa kekeluargaan. Penyajian makanan dengan cara saprahan juga sebagai salah satu pendidikan etika. Sajian yang dihidangkan juga terdiri dari berbagai jenis kuliner khas Melayu.

Keistimewaan yang secara tidak langsung kita dapatkan dalam makan saprahan adalah sebuah kesederhanaan yang tercipta dengan duduk secara bersama-sama tanpa memandang latar belakang duduk di lantai dengan makanan yang sama. Hal ini justru menjalin rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang merupakan modal penting menjaga tetap saling mengenal satu sama lain.

Tradisi ini dalam kehidupan masyarakat Sambas sangat identik dengan agama Islam, terpelihara dan berpedoman pada 6 (enam) rukun Iman, dan 5 (lima) rukun Islam. Makna bersaprah yang disantap oleh 6 (enam) orang setiap saprahannya diartikan dengan rukun Iman, dan lauk-pauknya yang dihidangkan biasanya 5 (lima) piring diartikan rukun Islam. Sebenarnya tidak ada perbedaan menu masakan untuk sajian saprahan antara rakyat biasa dengan pemimpin, semuanya sama saja.

Berangkat dari pembahasan di atas, maka saya simpulkan keistimewaan Tradisi Budaya Makan Saprahan pada masyarakat Sambas, adalah:

1. Kesederhanaan melalui makan besaprah ini terlihat sebuah kesederhaan yang tercipta, yaitu dengan duduk secara bersama-sama dilantai dengan lauk dan sayur yang apa adanya. Setiap orang dengan berbagai latar belakang, kaya atau miskin, muda atau tua, mempunyai jabatan atau tidak, makan makanan yang sama,tidak ada yang diistimewakan.

2. Kebersamaan dan kekeluargaan, makan besaprah menjalin kebersamaan dan kekeluargaan yang merupakan modal penting untuk menjaga kita tetap saling mengenal.

3. Persatuan, Semakin baik kita mengenal sesorang lain maka hubungan emosional kita dengan orang tersebut akan baik dan akan berpengaruh pula kepada rasa persatuan dan kesatuan kita.

4. Solidaritas, dengan terjalinnya dan kesatuan dan persatuan rasa solidaritas akan timbul dengan sendirinya.

5. Sebagai wahana interaksi dalam menyampaikan informasi.

6. Melestarikan Warisan Budaya leluhur.

BENTUK dan JENIS SAPRAHAN

Bentuk Saprahan ada 2 (dua) macam antaranya sebagai berikut:

1. Saprahan Memanjang

Adalah sajian makanan yang disusun, disajikan diatas kain yang memanjang, sepanjang ruangan yang disiapkan. Tamu duduk secara berhadapan ditengah-tengahnya sajian yang telah disediakan. Mengapa disebut Saprahan memanjang, karena bentuknya yang memanjang seperti persegi panjang. Saprahan bentuk memanjang ini sudah tidak ada lagi didaerah Kabupaten Sambas, saprahan ini hanya ada di luar Kabupaten Sambas. Seperti Pontianak dan sekitarnya. Inilah yang membedakan saprahan yang ada di Kabupaten Sambas dengan Kabupaten lainya, karena mempunyai ciri khas.

2. Saprahan Pendek

Adalah membentangkan atau menghamparkan kain saprahan yang ukuranya 1x1 meter saja dan diatasnya hamparan kain tersebut diletakan sajian makanan yang akan disantap para tamu (khusus undangan). Terkadang ada juga yang tidak pakai kain, tetapi diletakkan dirumah-rumah tapi berbentuk lingkaran. Setiap saprahan pendek dihadapi oleh 6 (enam) orang setiap saprahan. Dengan cara membentuk lingkaran seperti bola, saprahan bentuk pendek ini yang masih dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Sambas sampai saat ini, baik di kota maupun didesa-desa.


Saprahan pendek dibagi menjadi 3 (tiga) jenis antara lain:

1. Saprahan Bulat

Model saprahan ini, di atas hamparan kain saprah yang ukuranya 1x1 meter saja. Ditengah kain saprahan itu diletakkan pinggan saprahan, tempat nasi dikelilingi oleh lauk-pauk dan diteruskan dengan pinggan nasi. Di ujung sebelah depan diletakkan batil dan gelas tempat mencuci tangan sebelum makan, dan di sebelah belakang diletakkan tempat iar minum.

2. Saprahan Membujur Dengan Alas Saprah

Adalah saprahan beralaskan kain saprahan 1x1 meter, di tengah alas kain diletakkan lauk-pauk dalam piring. Diujung saprahan diletakkan pinggan saprahan dan bergandengan dengan air cuci tangan di dalam batel atau tempat air. Disamping piring lauk.

3. Saprahan Membujur Dengan Alas Baki

Adalah saprahan dengan susunan seperti Pinggan saprah atau tempat nasi diletakkan di atas sekalian bergandengan dengan dengan batel air cuci tangan, diikuti dengan baki besar yang berisi lauk-pauk. Diletakkanlah pinggan ditengah-tengah, dikiri kanan baki diletakkanlah lauk-pauk sebanyak 6 buah dan duujung diletakan baki cawan air minum.

PENYAJIAN SAPRAHAN 

Dalam Tradisi Budaya Makan Saprahan tentunya ada tata cara tertentu dalam menyajikan hidangan. Baik dalam peangkatan sajian maupun cara-cara menyodorkan saprahan, biasa pesurrung (tim penyaji) dianggotakan minimal 5 (lima) orang. Besurrung diartikan sebagai pengangkat sajian kehadapan tamu undangan yang sudah menunggu di atas tikar maupun permadani yang telah disediakan khusus untuk tamu. Penyurrung biasanya bukanlah orang sembarangan yang dipilih, tetapi orang yang sudah bias dalam besurrung, penyurrung penampilannya sangat rapi dengan pakaian Melayu sambas.


Dalam tata cara penyajian makanan (besurrung), dilakukan oleh 5 (lima) orang yang mempunyai tugas masing-masing sebagai berikut:

1. Penyurrung 1

Barisan terdepan bertugas mengatur meletakan sajian diatas hamparan tikar. Penyurrung 1 ini juga membawa alas saprah dan tempat air cuci tangan.

2. Penyurrung 2

Membawa pinggan saprah yang berisi nasi.

3. Penyurrung 3

Membawa baki lauk-pauk.

4.Penyurrung 4

Membawa pinggan/piring nasi.

5. Penurrung 5

Membawa baki becil yang berisi cawan air minum.


Kelima orang tersebut mengambil bawaan masing-masing dan menyusun menurut tugasnya. Mereka mengambil posisi secara berurutan, mulai dari memasuki ruangan, berjalan, duduk dan lain-lain. Sajian saprahan disampaikan secara sambung menyambung. 


Bersama Kita Bisa, Bersama Kita Melestarikan Budaya Kita. Mari menginspirasi banyak orang dengan budaya bangsa kita #NowWeSee #46thMenginspirasi #GBCFebruari.
Sumber Referensi Artikel:


Edi Sedyawati, Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah, ( Ed.1-3; Jakarta PT RajaGravindo Persada,2007),hlm.325.

Murniatmo Gatut dkk, Khazanah Budaya Lokal ( Yogjakarta: Adicita Karya Nusa, 2000). Hal. 85.

http://www.cakrawawasan.com/2013/05/makan-saprahan-sebuah-kebudayaan-khas.html

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/08/02/n9nufk-melestarikan-tradisi-makan-saprahan

http://www.pontianakkota.go.id/index.php/2015/10/01/makan-saprahan-pererat-rasa-kekeluargaan/?print=pdf

http://pemimpinangah.blogspot.co.id/2014/09/saprahan-adat-budaya-sambas.html



Sumber Photo: Dokumentasi Pribadi

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *