Blog untuk Pendidikan

Selasa, 19 Januari 2016

Fakta Seputar Organisasi GAFATAR Yang Perlu Kamu Ketahui


SampanPesisir- Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) mencuat di Kalimantan Barat pasca massa dari Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Mempawah memaksa  para Eks Gafatar untuk meninggalkan Bumi Khatulistiwa. Seperti yang kita ketahui pada Senin (18/1/2016) malam, massa dari gabungan masyarakat Kabupaten Mempawah (Kalimantan Barat), melampiaskan kekesalannya terhadap Eks Gafatar yang tidak mau meninggalkan Kabupaten Mempawah, sehingga massa pun merusak dan membakar mobil milik salah satu warga eks Gafatar.

Seperti yang saya kutip dari situs okezone.com, menyebutkan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengumumkan fatwa mengenai Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang akhir-akhir ini meresahkan dengan banyaknya masyarakat yang hilang tiba-tiba.

"Kemungkinan awal Februari kami bisa umumkan," kata pengurus Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ridha Salamah seusai mengikuti pertemuan tertutup di Kantor kesbangpolinmas DIY, Minggu (17/1/2016).

Gafatar akan dinyatakan sesat jika terbukti ingin menyatukan ajaran Islam, Kristen, dan Yahudi hingga mengubah sejumlah ketentuan dalam Islam. "Jika mereka mengatakan mereka bukan bagian dari Islam, maka tidak ada masalah," jelasnya.

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh telah mengeluarkan fatwa bahwa Gafatar beraliran sesat. Pengurus Gerakan Fajar Nusantara Aceh diadili di Pengadilan Negeri Banda Aceh dengan tuduhan menyebarkan aliran sesat.
massa membakar kapung pengikut Gafatar di Moton Panjang, Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat, Selasa (19/1/2016). tribunpontianak


APA ITU GAFATAR ?

Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) bukanlah sebuah organisasi yang baru berdiri. Pendeklarasian yang dilakukan pada 21 Januari 2012 di gedung JIEXPO Kemayoran semakin mengukuhkan keberadaan organisasi yang diketuai oleh Mahful M. Tumanurung ini. Namun tak lama dideklarasikan ternyata pemerintah Indonesia telah mencium adanya sesuatu yang salah dari organisasi ini.

Pemerintah akhirnya memutuskan bahwa Gafatar adalah organisasi yang terlarang. Pelarangan tersebut semakin diperkuat dengan dikeluarkannya surat Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri RI Nomor 220/3657/D/III/2012 tangga 20 November 2012.

Hingga akhirnya di awal Januari 2016 ini semua perhatian masyarakat tertuju pada organisai yang diikuti oleh beberapa pegawai negeri sipil (PNS) yang telah dinyatakan hilang di beberapa daerah. Selain banyaknya orang hilang karena mengikuti organisasi tersebut, inilah beberapa fakta tentang organisasi Gafatar yang harus kamu tahu.

Gafatar disinyalir merupakan gabungan beberapa organisasi meliputi Lembaga Kerasulan, Isa Bugis, NII, Alqiadah Al Islamiyah dan Komar (Komunitas Millah Abraham) ini berhasil merekrut banyak orang dengan kamuflase kegiatan sosial. Untuk mencapai tujuannya untuk hijrah, mereka memiliki lahan hibah seluas 5.000 hektare di Pulau Kalimantan yang akan dibangun menjadi kota mandiri.

Dalam dasar pemikiran Gafatar dituliskan bahwa bangsa Indonesia disebut belum merdeka seutuhnya dari sistem penjajahan neokolonialis dan neoimperialis, sehingga kekayaan bangsa ini terus-menerus diperas oleh negara-negara penjajah dan secara tidak sadar telah menjadikan bangsa asing sebagai tuan di negeri sendiri.

Pemikiran tersebut melahirkan sebuah tekad yang kuat berdirinya Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) untuk mengubah bangsa dalam mensejahterakan rakyatnya. Bahkan menurut Ketua Umum Gafatar Mahful M. Tumanurung kepada Komhukum.com mengatakan, kebiasaan hidup dengan gaya feodalis yang mendewakan penjajah, dan mental budak sebagai bangsa tertindas masih membumi dalam kehidupan keseharian.

VISI DAN MISI GAFATAR

Seperti yang saya kutip dari situs gafatar.org, sebagaimana lazimnya sebuah Komunitas atau Organisasi yang memiliki visi dan misi, maka Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara pun memiliki visi dan misi yang berbeda dari organisasi lainya, yakni:

V i s i

Terwujudnya tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang damai sejahtera, beradab, berkeadilan dan bermartabat di bawah naungan Tuhan Yang Maha Esa melalui penyatuan nilai-nilai luhur bangsa, peningkatan kualitas ilmu dan intelektualitas, serta pemahaman dan pengamalan nilai-nilai universal agar menjadi rahmat bagi semesta alam.

M i s i

Memperkuat solidaritas, kebersamaan, persatuan, dan kesatuan khususnya antar sesama elemen bangsa Indonesia serta dunia pada umumnya. Selain itu, juga memupuk saling pengertian dan kerja sama antar sesama lembaga yang memiliki kepedulian dan perhatian terhadap upaya perdamaian dan kesejahteraan dunia.

FAKTA ORGANISASI GAFATAR YANG PERLU KAMU TAHU (Dilansir bintang.com)

Pertama, dalam situs resminya Gafatar.org, secara panjang lebar organisasi ini menjelaskan dasar pemikiran berdirinya Gafatar. "Patut digaris bawahi, Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) didirikan bukan atas dasar kepentingan kelompok, golongan, aliran, suku, agama, kepercayaan atau ras manapun,"ungkap artikel yang di dalam keterangannya ditulis Zulfahmi itu.

Kedua, dalam dasar pemikiran terbentuknya Gafatar juga dijelaskan bahwa Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) adalah Organisasi Kemasyarakatan yang bertekad untuk memperjuangkan Keadilan, Kemakmuran, dan Kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia menuju tatanan kehidupan damai sejahtera, dengan jalan mengembalikan jati diri dan nilai-nilai luhur bangsa, serta mengangkat harkat, martabat dan kejayaan Nusantara di tengah-tengah percaturan dunia.

Ketiga, tak banyak orang yang tahu bahwa Gafatar adalah organisasi terlarang di Indonesia. Hal tersebut terbukti ketika keluarga salah satu pengikut Gafatar yang hilang, yakni Ahmad Kevin Aprilio (16) menjelaskan bahwa anggota keluarganya memang pengurus di organisasi tersebut.

Keempat, beberapa warga Yogyakarta dan sekitarnya hilang diduga ikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Diduga ada empat orang yang berasal dari DIY hilang karena mengikuti gerakan ini. Adapun dr Rica Tri Handayani dan anaknya, Diah Ayu Yulianingsih, seorang ibu putra satu anak dari Sleman; seorang PNS RSUP Dr Sardjito berinisial ES; serta Ahmad Kevin Aprilio pelajar SMA yang hilang bersama ayahnya.

Kelima, dalam situs Gafatar.org tertulis Visi Gafatar adalah Terwujudnya tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang damai sejahtera, beradab, berkeadilan dan bermartabat di bawah naungan Tuhan Yang Maha Esa melalui penyatuan nilai-nilai luhur bangsa, peningkatan kualitas ilmu dan intelektualitas, serta pemahaman dan pengamalan nilai-nilai universal agar menjadi rahmat bagi semesta alam.

Keenam, Gafatar adalah salah satu organisasi terlarang yang paling sering berganti nama. Sebelum menggunakan nama Gafatar, nama yang dipakai adalah Milah Abraham. Organisasi tersebut juga sempat berganti nama menjadi Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKSA). Milah Abraham dicap sebagai komunitas ajaran sesat karena mencampuradukkan ajaran Islam, Nasrani, dan Yahudi. Kelompok ini sempat marak di Depok, Jawa Barat, pada 2010.

POLA PEREKRUTAN

Seperti yang dilansir dari situs beritagar.id, Gafatar disebut-sebut mengintensifkan perekrutan terhadap mantan aktivis keagamaan, khususnya anak muda dengan latar belakang profesi. "Itu yang berhasil kami deteksi. Kami akan telusuri lebih jauh siapa sasaran rekruitmen Gafatar," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan.

Disebutkan Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, Cholil Nafis, Gafatar juga menyasar orang berpendidikan tinggi yang tertarik dengan agama tapi tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mencukupi.

"Gerakan-gerakan semacam ini kan sasarannya para kaum-kaum eksekutif yang tertarik belajar agama, tapi mereka tidak mempunyai dasar pengetahuan yang cukup," kata Cholil melalui Detik.com.

Mantan pengikut Negara Islam Indonesia (NII), Ken Setiawan melalui Viva.co.id, mengatakan Gafatar dalam basis gerakannya tak jauh berbeda dengan NII.

Lembaga ini menanamkan simpatik kepada warga lewat beragam kegiatan positif seperti donor darah, pelatihan atau bimbingan belajar gratis.

Ken mengatakan propaganda berupa ketidakadilan yang diterima warga negara, menjadi rumus ampuh untuk merekrut anggota khususnya para generasi muda.

Gerakan GAFATAR di Nusantara

Senin, 18 Januari 2016

Sepotong Sejarah Asal Usul Orang Khek Singkawang

Ikatan Koko Meimei Kalimantan Barat

SampanPesisir- Kota Singkawang atau San Keuw Jong (Hanzi: ??? hanyu pinyin: Shankou Y�ng) adalah sebuah kota (kotamadya) di Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 145 km sebelah utara dari Kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka, San khew jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut dan estuari.

ASAL USUL SINGKAWANG

Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas, Desa Singkawang sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado. Para penambang dan pedagang yang kebanyakan berasal dari negeri China, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang, sedangkan para penambang emas di Monterado yang sudah lama sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya dan Singkawang juga sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (serbuk emas). Waktu itu, mereka (orang Tionghoa) menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa Hakka), mereka berasumsi dari sisi geografis bahwa Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut. Melihat perkembangan Singkawang yang dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sehingga antara penambang tersebut beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di Singkawang yang pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di Singkawang.

Asal Usul Orang Khek Di Singkawang
Tugu Naga - Singkawang

ASAL USUL KHEK SINGKAWANG

Asal usul komunitas Tionghoa di Nusantara memiliki sejarah yang menarik. Mereka ternyata berasal dari suku yang berbeda satu sama lain. Tidak hanya yang kita kenal yaitu `orang China' saja. Orang Tionghoa di Indonesia datang dari dua propinsi yaitu Fujian dan Guangdong. Kelompok terbesar yang ada di Indonesia adalah Hokkian (Fujian) yang menurut sensus tahun 1930 berjumlah 550.000 jiwa. Mereka tersebar di Jawa, Madura, Sumatera (kecuali Bengkalis), Indonesia bagian Timur dan sedikit di Kalimantan Barat. Kelompok lainnya yaitu Hakka yang berasal dari Barat Daya propinsi Fujian dan menurut sensus 1930 berjumlah 200.000 jiwa. Kelompok ini banyak terdapat di Kalimantan Barat.

Asal Usul Orang Khek Di Singkawang
Vihara Tri Dharma Bumi Raya

Diangkat dari disertasi Harry Purwanto di Universitas Indonesia buku Orang Cina Khek dari Singkawang ini membahas kehidupan kebudayaan kelompok Hakka (Ke Jia atau Khek) di Indonesia, khususnya di Singkawang, Kalimantan Barat.

Salah satu hal yang menarik adalah istilah `China' yang masih digunakan mereka. Orang-orang China Singkawang, Kalimantan Barat dan di Bangka selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Ch'in tanpa memiliki anggapan bahwa istilah itu mengandung konotasi merendahkan atau menghina. Tidak jarang pula mereka mengidentifikasikan diri sebagai orang Tong Nyin atau orang dari dinasti Tang (618-907 M) yang merupakan orang Manchu (halaman 20).

Menurut pendapat pakar sejarah, istilah China diambil dari Dinasti Qin (baca: Chin) yang berkuasa pada 221-206 SM. Alasannya karena kaisar Qin yang pertama dianggap sebagai pemersatu negeri China. Begitupula dengan Orang Belanda, Inggris dan Italia yang menyebut negeri China dengan China. Sementara orang Rusia menyebut China dengan Kitai (China). Ada pendapat lain di daratan China yang mengatakan bahwa kata China diasosiasikan dengan kata Zhina, sebuah kata yang sengaja diciptakan oleh orang Jepang untuk menghina orang China. Sedangkan orang Jawa jaman dahulu menyebut mereka dengan nama Tartar.

Hal menarik lainnya dalam buku ini adalah penjelasan yang gamblang dan menyeluruh mengenai alasan mengapa orang `China' masih sulit diterima sepenuhnya oleh orang `Indonesia'. Penulis menghubungkan dengan orientasi sejumlah orang `China' yang masih sangat kuat pada negeri leluhurnya serta pandangan merendahkan mereka terhadap suku-suku lain di Indonesia. Sikap inilah yang menghalangi mereka untuk berasimilasi dengan warga setempat (halaman 103).

Selain itu kita diberikan pula data sejarah dan lapangan mengenai persoalan `China' di Indonesia, hasil ketekunan penulis selama 15 tahun. Antara lain; pembahasan mengenai perjanjian dwi kewarganegaraan di zaman pemerintahan Soekarno (hal.68), awal kontak antara orang `China' dengan penduduk asli Kalimantan Barat (hal.117), asal usul nama kota Singkawang yang berasal dari bahasa Hakka, San Kheu Yong (Shan= gunung, Kou= mulut sungai, dan Yang= lautan). Nama Singkawang ini rupanya muncul dari penafsiran para perantau China di masa lampau (halaman 138).

Kelompok orang Khek ini ternyata selalu dianggap "tamu" oleh sesama orang China (baik di Fujian, Guangdong maupun di luar negeri). Pada abad ke-10, mereka pindah dari Henan ke Shantung kemudian pada abad ke-13 pindah ke Fujian. Mereka didesak ke Barat oleh penduduk Fujian dan Guangdong, ke daerah perbukitan yang kurang subur di perbatasan Fujian dan Guangdong. Pengalaman berpindah-pindah dan berjuang untuk hidup dalam kehidupan yang keras inilah yang menyebabkan perseteruan dengan kelompok lain. Mereka menjadi lebih ulet, gigih, keras ketika harus pindah lagi ke luar negerinya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di tempat baru, seperti di Kalimantan, adaptasi mereka ternyata cukup tinggi meskipun mereka dianggap kurang ramah.

Tahun 1760 mereka datang dalam jumlah yang besar ke Kalimantan. Mula-mula mereka didatangkan dan dipekerjakan di tambang emas oleh Sultan Sambas sejak tahun 1740-an. Sebelumnya, hanya orang Dayak dan Melayu yang menjadi penambang tetapi ternyata hasil yang diperoleh sedikit. Sementara itu orang Khek lebih berpengalaman dan unggul dalam teknologi penambangan sehingga dapat memproduksi emas lebih banyak. Orang Khek pada saat itu juga memiliki organisasi untuk mendatangkan buruh `China' dari daratan China dan menguasai buruh sehingga pertambangan dapat terus berlangsung.

Lama kelamaan, karena alasan-alasan seperti ingin bagian yang lebih besar dan tidak puas pada Sultan (mereka merasa diperas) maka mereka tidak menyerahkan emasnya kepada Sultan Sambas tetapi untuk diri mereka sendiri dan mendirikan kongsi. Kongsi adalah organisasi yang mengurus kehidupan orang Khek termasuk memiliki pasukan keamanan untuk menjaga keselamatan masyarakat Khek.

Kongsi pertama menurut Victor Purcell dalam The Chinese in Southeast Asia adalah Lan-fang didirikan di Mandor oleh Lo-Fong-Phak yang berasal dari suku Hakka. Ia tiba di Borneo pada 1772 dengan 100 orang anggota keluarga. Pada awalnya mereka bergerak di bidang pertanian dan tidak ada hubungannya dengan pertambangan. Sementara itu dua kongsi besar lainnya adalah Ta-kang dan San-t'iao-kou. Keberadaan kongsi-kongsi ini tidak disukai pemerintah Hindia Belanda karena mereka menganggap seperti `negara dalam negara'. Alasannya ada beberapa kongsi besar dan kecil memiliki pasukan sendiri, seperti Lan-fang memiliki 6000 prajurit, Ta-kang 10.000 prajurit dan San-t'iao-kou 5000 prajurit.

Akhir abad ke-18, kongsi-kongsi ini tidak lagi `mengakui' kekuasaan Sultan Sambas. Kemudian mereka memberontak dan berusaha mengambil alih usaha tambang emas tersebut. Orang Khek juga pernah bersengketa dengan orang Dayak. Penyebabnya mungkin karena masalah tanah ketika orang Khe mulai membuka hutan untuk ditanami lada dan sayuran.

Kajian antropologis yang menjadi kajian utama buku ini tentunya merupakan bagian yang tidak kalah menarik. Misalnya ketika mereka dipaksa pindah meninggalkan rumah dan tanah mereka, peraturan pemerintah mengenai perimbangan antara murid bumiputera dan murid Tionghoa yang mengakibatkan banyak anak Tionghoa terpaksa tidak sekolah, dan pembahasan mengenai kewajiban orang Tionghoa mengganti namanya dengan nama Indonesia. Padahal, nama bagi orang Tionghoa memiliki makna khusus dan menunjukkan ke'aku'an mereka. Sehingga muncullah nama-nama yang terdengar aneh di telinga, misalnya ada seorang pria di Singkawang yang bernama Tjhin Sin Kie yang mengganti namanya menjadi Fatmawati (halaman 279).

Masih soal penggantian nama, ada di antara mereka yang menggunakan nama Ngatijan. Sekilas nama ini mengingatkan pada nama orang Jawa. Alasan memilih nama ini karena ada pertimbangan untuk tetap menyertakan nama she (marga) mereka ke dalam nama Indonesia. Sebelum berganti nama, ia bernama Ng Sjak Tshin (hal.335). Mereka justru tidak memilih nama Dayak tetapi cenderung memilih nama Jawa atau Melayu. Penulis mengaitkan alasan ini dengan konflik berdarah yang merupakan rangkaian peristiwa pengungsian tahun 1967 yang rupanya menimbulkan `rasa permusuhan laten'.

Seperti pengalaman nenek moyang mereka di negeri leluhur yang selalu dipinggirkan, peristiwa yang hampir mirip yaitu `pengungsian' tahun 1967 juga dialami orang Khek di perantauan. Peristiwa tersebut merupakan ekses politik konfrontasi Indonesia dengan Malaysia dan peristiwa pemberontakan komunis tahun 1965. Berawal dari konflik terbuka antara ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) melawan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Gerilya Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Kelompok PGRS (Pasukan Gerilya Rakyat Serawak) yang terdiri dari orang-orang Cina Komunis atau Leftist (kiri) bersikap oposan terhadap pemerintah RI dan Malaysia.

Kejadiannya berawal pada bulan Juli 1967, ketika itu PGRS menyerang pangkalan udara di Senggau Ledo dekat Serawak. Akibatnya, pemerintah RI berusaha mendapat dukungan dari Malaysia untuk menumpas gerakan tersebut. Oleh karena gerakan itu didukung oleh orang-orang China maka tindakan berikutnya adalah memindahkan orang China dari daerah pedalaman ke kota. Tujuannya untuk mengisolasi sumber logistik dan intelijen mereka. Dalam `menumpas' PGRS, peranan orang Dayak sangat penting sekali. Diperkirakan sekitar 50.000 orang China dipaksa pindah dari desa ke kota. Sedangkan sebagian lainnya terbunuh.

Asal Usul Orang Khek Di Singkawang
 
Dilengkapi dengan indeks, foto-foto, tabel serta bagan, buku ini tidak hanya menarik tetapi juga kaya akan informasi yang mewarnai keragaman studi mengenai salah satu komunitas di Indonesia. Salah satu komunitas yang dalam sejarahnya kerapkali menjadi sasaran diskriminasi dari pemerintah dan masyarakat Indonesia. Selebihnya, untuk lebih dalam menelusuri seluk beluk orang Khek di Indonesia, Thuk Lia Su (baca buku ini) saja!

Indonesia Menjadi Tuan Rumah Gerhana Matahari Total 2016

SampanPesisir- Gerhana Matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

Gerhana mayahari total terjadi apabila saat puncak gerhana, piringan Matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Saat itu, piringan Bulan sama besar atau lebih besar dari piringan Matahari. Ukuran piringan Matahari dan piringan Bulan sendiri berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak Bumi-Bulan dan Bumi-Matahari.

Sejumlah peristiwa langit akan terjadi di dunia sepanjang tahun 2016. Supermoon, hujan meteor, dan yang teristimewa adalah gerhana matahari total yang akan teramati di wilayah Indonesia pada hari Rabu tanggal 9 Maret 2016. Jalur gerhana akan diawali saat matahari terbit di Pulau Sumatera hingga Maluku (Indonesia), mulai sekitar pukul 7.30 pagi di Sumatera dan sekitar pukul 10 pagi di Maluku Utara.Kota-kota besar di Indonesia yang akan kebagian Gerhana Matahari Total ini adalah Bengkulu, Palembang, Palangkaraya, Balikpapan, Tanjung Pandan, Palu dan Ternate.

Seperti di kutip dari kompas.com (Senin, 18/01/2016), Jalur totalitas gerhana membentang dari Samudra India hingga utara Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat. Jalur gerhana itu selebar 155-160 kilometer dan terentang sejauh 1.200-1.300 kilometer, yang kali ini melintasi 12 provinsi di Indonesia.

Provinsi-provinsi itu adalah Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Selain itu, semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara juga dilintasi. Namun, tidak semua daerah di provinsi itu dilintasi jalur totalitas gerhana.

Fenomena alam langka itu diburu peneliti dan wisatawan. Data sementara, peneliti Lapan serta Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) akan mengamati GMT di Maba. Tim Lapan juga akan mengamati di Ternate, Maluku Utara.

Kepala Observatorium Bosscha ITB Mahasena Putra mengatakan, sejumlah peneliti yang tersebar di beberapa daerah itu berencana menyiarkan langsung GMT melalui fasilitas live streaming sehingga totalitas gerhana tetap bisa dinikmati masyarakat di daerah lain.

Untuk lengkapnya, berikut rincian waktu Gerhana Matahari Total yang bakal terjadi di beberapa provinsi di Indonesia.

Palembang (1 menit 52 detik)
Mulai gerhana 06.20 WIB
Gerhana Matahari Total 07.20 WIB
Berakhir gerhana 08.31 WIB

Bangka (2 menit 8 detik)
Mulai gerhana 06.20 WIB
Gerhana Matahari Total 07.21 WIB
Berakhir gerhana 08.33 WIB

Belitung (2 menit 10 detik)
Mulai gerhana 06.21 WIB
Gerhana Matahari Total 07.22 WIB
Berakhir gerhana 08.35 WIB

Sampit (2 menit 8 detik)
Mulai gerhana 06.23 WIB
Gerhana Matahari Total 07.27 WIB
Berakhir gerhana 08.44 WIB

Palangkaraya (2 menit 29 detik)
Mulai gerhana 06.23 WIB
Gerhana Matahari Total 07.28 WIB
Berakhir gerhana 08.46 WIB

Balikpapan (1 menit 9 detik)
Mulai gerhana 07.25 WITA
Gerhana Matahari Total 08.33 WITA
Berakhir gerhana 09.53 WITA

Palu (2 menit 4 detik)
Mulai gerhana 07.27 WITA
Gerhana Matahari Total 08.37 WITA
Berakhir gerhana 10.00 WITA

Poso (2 menit 40 detik)
Mulai gerhana 07.28 WITA
Gerhana Matahari Total 08.38 WITA
Berakhir gerhana 10.02 WITA

Luwuk (2 menit 50 detik)
Mulai gerhana 07.30 WITA
Gerhana Matahari Total 08.41 WITA
Berakhir gerhana 10.07 WITA

Ternate (2 menit 39 detik)
Mulai gerhana 08.36 WIT
Gerhana Matahari Total 09.51 WIT
Berakhir gerhana 11.20 WIT

Halmahera (1 menit 36 detik)
Mulai gerhana 08.37 WIT
Gerhana Matahari Total 09.54 WIT
Berakhir gerhana 11.24 WIT

Suku Melayu di Kalimantan Barat


SampanPesisir- �Melayu di Kalbar adalah Melayu yang heterogen, dimana dalam Melayu Kalbar terdiri dari banyak suku seperti Bugis, Banjar dan lainnya. Kita sebut mereka Melayu asalkan dalam rumah tangga keseharian menggunakan bahasa Melayu, beragama Islam dan tinggal di Kalimantan Barat.�. (Firman  Muntaco, SH, MH. - KETUA Umum DPP PFKPM (Persatuan Forum Komunikasi Pemuda Melayu))

Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan dengan ibu kota Provinsi 'Kota Pontianak'. Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km� (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang di antaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.

Kalimantan Barat berbatasan darat dengan negara bagian Sarawak, Malaysia. Walaupun sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Barat menurut sensus tahun 2004 berjumlah 4.073.304 jiwa (1,85% penduduk Indonesia).

Suku Melayu (bahasa Melayu: Melayu Jawi: ?????) adalah sebuah kelompok etnis dari orang-orang Austronesia terutama yang menghuni Semenanjung Malaya, Sumatra bagian timur, bagian selatan Thailand, pantai selatan Burma, pulau Singapura, Borneo pesisir termasuk Brunei, Kalimantan Barat, dan Sarawak dan Sabah pesisir, dan pulau-pulau kecil yang terletak antara lokasi ini - yang secara kolektif dikenal sebagai Alam Melayu. Lokasi ini sekarang merupakan bagian dari negara modern Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Burma dan Thailand.
Dare Melayu Pontianak

Meskipun begitu, banyak pula masyarakat Minangkabau, Mandailing, dan Dayak yang berpindah ke wilayah pesisir timur Sumatra dan pantai barat Kalimantan, mengaku sebagai orang Melayu. Selain di Nusantara, suku Melayu juga terdapat di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays).

Secara ras atau rumpun bangsa, Melayu di Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Melayu Deutero dan Melayu Proto.

Menurut Teori Antropologi, Bangsa Melayu berasal dari percampuran dua bangsa, yaitu Proto Melayu dan Deutero Melayu. Proto Melayu adalah ras Mongoloid, diperkirakan bermigrasi ke Nusantara sekitar tahun 2500-1500 SM, kemungkinan mereka berasal dari daerah : Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau Kepulauan Taiwan. Sementara Bangsa Deutero Melayu berasal dari dataran Asia Tengah dan Selatan, yang datang ke Nusantara pada sekitar tahun 300 SM. Diperkirakan kedatangan Deutero Melayu membawa pengaruh budaya India yang kuat dalam sejarah Nusantara dan Asia Tenggara. (Ahmad Samantho ) 

Melayu Deutero adalah rumpun Melayu Muda yang datang setelah Melayu Proto pada Zaman Logam sekitar lebih kurang 500 SM. Rumpun yang masuk gelombang kedua ini meliputi suku bangsa Melayu, Aceh, Minangkabau, Sunda, Jawa, Manado, yang bermukim di pulau Sumatra, Jawa, Bali, Madura, dan Sulawesi.

Melayu Proto adalah rumpun Melayu Tua yang datang kali pertama pada masa lebih kurang 1500 SM meliputi suku bangsa Dayak, Toraja, Sasak, Nias, Batak, Kubu dll. yang bermukim di pulau Kalimantan, Sulawesi, Nias, Lombok, dan Sumatra.

Adapun golongan lain yang bukan termasuk rumpun Melayu namun tetap termasuk bangsa di Indonesia yaitu rumpun Melanesia yang bermukim di bagian wilayah timur Indonesia. Meskipun demikian, istilah Melayu yang digunakan di Indonesia lebih mengacu pada arti suku bangsa yang lebih spesifik sehingga Melayu yang ada tidak termasuk suku bangsa Jawa yang merupakan suku bangsa mayoritas.

Berikut ini uraian suku Melayu di wilayah Indonesia:


  • Suku Melayu (Muslim) di Indonesia menurut sensus tahun 2000 terdiri dari:
    • Melayu Tamiang
    • Melayu Palembang, dalam sensus 1930 tidak digolongkan suku Melayu.
    • Melayu Bangka-Belitung, pada sensus 1930 tidak digolongkan suku Melayu. 
    • Melayu Deli
    • Melayu Riau
    • Melayu Jambi
    • Melayu Bengkulu
    • Melayu Pontianak
    • Melayu Sambas

  • Suku bangsa serumpun di Sumatra :
    • Suku Minangkabau (muslim)
    • Suku Kerinci (muslim)
    • Suku Talang Mamak (non muslim)
    • Suku Sakai (non muslim)
    • Orang Laut
    • Suku Rejang (muslim)
    • Suku Serawai (muslim)
    • Suku Pasemah (muslim)
    • Suku Penesak di Marga Danau (Pedamaran), Beti, Meranjat (Muslim)
    • Suku Lubai (muslim)
    • Suku Rambang (muslim)

  • Suku bangsa serumpun di Kalimantan (Rumpun Banjar)
    • Saq Senganan (Dayak Iban masuk Islam)
    • Suku Kedayan (muslim) dan Melayu Brunei (muslim)
    • Suku Banjar (muslim) dan Suku Bukit (non muslim)
    • Suku Berau (muslim)
    • Suku Kutai (muslim) dan Haloq (Dayak Tonyoy-Benuaq masuk Islam)

  • Suku bangsa serumpun di pulau Jawa :
    • Suku Betawi (muslim)

Penyebaran sub Melayu di Kalimantan Barat yang dapat dijabarkan pada pembagian berdasarkan 2 (dua) kelompok asal-usul (Purba,Juniar dkk,2011:106-108) yaitu :


1. Melayu Asli (Indegenous Malays) yaitu kelompok Melayu yang telah sangat lama bermukim di Kalimantan Barat (Melayu pribumi/Melayu setempat/Melayu asli) bahkan dimulai dari Melayu lama (Proto Melayu) berdasarkan geografis,penyebaran fisik,karakter kelompok dan dialek setempat yang digunakan.Atas dasar empat kriteria tersebut,kelompok Melayu Asli (Indegenous Malays) dapat dibagi kedalam 4 (empat) kategori dan terbagi atas sub pengelompokan yaitu:

  • Melayu Pesisir (bermukim di kawasan tepi pantai,laut,sungai, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Sambas, sub Melayu Mempawah, sub Melayu Kubu Raya dan sub Melayu Pontianak.Khusus di Kalimantan Barat,kelompok Melayu ini mayoritas tersebar dikawasan pesisir dan mereka merupakan kelompok yang telah lama bermukim didaerah ini.Bahkan secara umum masyarakat ini dikenal sebagai salah satu penduduk asli Propinsi Kalimantan Barat selain masyarakat Dayak yang lebih banyak tinggal dipedalaman di wilayah Kalimantan Barat.Sehingga kelompok Melayu ini menghasilkan karakter khas yang bersifat relatif lebih tenang dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan alam.
  • Melayu dari kawasan pedalaman dekat,terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Mempawah Hulu,sub Melayu Bengkayang,sub Melayu Landak,sub Melayu Sanggau.
  • Melayu dari kawasan pedalaman jauh,terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Tayan,sub Melayu Sekadau, sub Melayu Melawi,sub Melayu Sintang, sub Melayu Kapuas Hulu.
  • Melayu dari kawasan peralihan pada dua kawasan pedalaman, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Kayong Utara, sub Melayu Ketapang.

2. Melayu Kontemporer (Contemporary Malays) yaitu kelompok pendatang yang berasal dari berbagai kawasan Melayu diluar Kalimantan Barat diantaranya :

  • Daratan Sumatera seperti Palembang,Bengkulu,Sumatera bagian timur (Bangka Belitung,Medan dan sekitarnya,Jambi,Riau Daratan),Riau Kepulauan (Kepulauan Natuna,Tanjungpinang dan Batam sekitarnya).
  • Daratan Kalimantan seperti Kaltim,Kalsel.
  • Malaysia (Semenanjung/Malaysia Barat dan Malaysia Timur seperti Sarawak dan Sabah.

Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera. Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu kuno di Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban yang semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku.

Suku Melayu modern merupakan keturunan orang Melayu kuno dari Kerajaan Malayu. Suku Melayu mendiami beberapa propinsi di Sumatera dan Kalimantan Barat. Suku Melayu juga terdapat di Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand dan Afrika Selatan. Melayu Cape Town di Afrika Selatan merupakan keturunan suku Melayu dan sejumlah suku lainnya yang berasal dari Nusantara seperti Makassar, Banten dan Ternate.  

Kalimantan merupakan tanah asal bahasa Melayu Purba, yang disebut Orang Melayu dalam arti sempit hanya mengacu kepada orang Melayu Pontianak (muncul tahun 1771) yang bertutur mirip bahasa Melayu Riau. Tetapi dalam arti luas, rumpun Melayu mencakup beberapa suku beragama Islam seperti Senganan/Haloq (Dayak masuk Islam), suku Sambas, suku Kedayan (suku Brunei), suku Banjar, suku Kutai dan suku Berau.

Suku Melayu di Kalimantan Barat memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat dengan suku Melayu di Malaysia dan Brunai Darussalam. Tidak mengherankan jika pada musim hari Raya Idul Fitri banyak warga Malaysia dan Brunai Darussalam yang berkunjung ke Kalimantan Barat. Tujuan utama mereka adalah untuk mempererat hubungan silaturahmi dan mengunjungi makam nenek atau datok mereka.   

Suku Melayu Kalimantan Barat umumnya adalah campuran dari berbagai etnis diantaranya keturunan Suku Bugis perantauan di masa lalu terkait sejarah Kerajaan Mempawah (Daeng Menambon, yang tersebar misalnya sepanjang pantai utara wajok ke arah Singkawang), keturunan Arab di Pontianak dan sekitarnya, terkait sejarah Keraton Kadariah Pontianak, serta Suku Melayu perantauan dari Natuna ataupun Sumatra. Sedangkan Suku Melayu di Sambas merupakan gabungan tiga etnis besar yakni: Dayak, Melayu Arab dan Tionghoa. (Sambas = Sam artinya tiga, Bas artinya bangsa atau suku dalam bahasa Tionghoa). Suku Dayak yang memeluk Islam dan telah meninggalkan identisasnya juga dianggap sebagai orang Melayu.

Orang Tionghoa juga cukup banyak terdapat di Kalimantan Barat dan terutama terdapat di kawasan perkotaan. Di Kota Singkawang, etnis Tionghoa merupakan kelompok terbesar, disusul Melayu dan di Kota Pontianak etnis Tionghoa merupakan kelompok etnis terbear kedua setelah Melayu. Suku Jawa dan Suku Madura juga signifikan jumlahnya di Kalbar dan terutama mendiami kawasan transmigrasi dan perkotaan. Suku Sunda juga mendiami sebagian kawasan transmigrasi di Kalbar.

Suku bangsa lainnya yang di Kalimantan Barat yaitu Suku Bugis dan keturunan Arab yang juga banyak terdapat di pesisir dan perkotaan serta Suku Banjar, Suku Batak, Minangkabau dan suku-suku lainnya.

Komposisi Suku Bangsa di Kalimantan Barat berdasarkan Sensus 2000 terdiri suku Sambas (11,92%), Tionghoa (9,46%), Jawa (9,14%), Kendayan (7,83%), Melayu Pontianak (7,50%), Darat (7,39%), Madura (5,46%), Pesaguan (4,79%), Bugis (3,24%), Sunda (1,21%) dan Banjar (0,65%). Publikasi resmi BPS tersebut tidak menunjukkan secara resmi jumlah Suku Melayu dan Dayak.

Berdasarkan data BPS tahun 2003 setelah diolah, Suku bangsa di Kalimantan Barat, yaitu:

 

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu

http://irwansahaja.blogspot.co.id/2014/07/sekilas-penjabaran-sejarah-suku-melayu.html

http://wartakalimantan.blogspot.co.id/2012/03/suku-melayu-kalimantan-barat.html

http://indonesianterrace.com/?p=1054

http://borneonusantaratime.com/2014/03/martabat-dan-marwah-puak-melayu-harus-dijaga/

Kamis, 14 Januari 2016

Legenda Abang Bunut Dan Dayang Isah Tandang Sari Sarawak Malaysia

SampanPesisir - Legenda adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi yang ceritanya dihubungkan dengan tokoh sejarah, telah dibumbui dengan keajaiban, kesaktian, dan keistimewaan tokohnya.

Kalimantan atau Borneo adalah pulau terbesar ketiga di dunia yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa dan di sebelah barat Pulau Sulawesi. Pulau Kalimantan dibagi menjadi wilayah Negara Brunei Darussalam, Negara Indonesia dan Negara Malaysia.

Pada kesempatan kali ini, izinkan saya menceritakan kembali sebuah cerita rakyat dari Bumi Kenyalang (Sarawak) yang secara administratif merupakan salah satu negara bagian di Malaysia dan juga merupakan salah satu dari empat negara pendiri federasi Malaysia.

Dayang Isah Tandang Sari merupakan salah satu cerita legenda dan diceritakan secara turun temurun oleh penduduk sekitar kawasan Batang Lupar dan Batang Saribas, maka tidak heran apabila terdapat berbagai macam versi cerita ini yang diceritakan oleh masyarakat setempat.


Kisah dan kemasyhuran puteri ini ibarat setanding dengan Legenda Mahsuri di Pulau Langkawi, Legenda Roro Jonggrang di Pulau Jawa, Legenda Putri Serai di Sambas (Kalimantan Barat). Akan tetapi, tidak ada catatan sejarah yang boleh dirujuk secara tepat mengenai versi lagenda tersebut, saya akan merujuk kepada cerita ini versi Sarawak A Place Like No Other.

.
Pada zaman dahulu sebelum kedatangan Rajah Brooke, ada sebuah daerah di Negeri Sarawak bernama Saribas. Daerah tersebut dikatakan terletak di bawah kekuasaan Sultan Brunei. Sultan Brunei mengirimkan perwakilanya yaitu Datuk Temenggong Kadir, pusat pemerintahannya terletak di Tandang Sari (sekarang bernama Pusa). Datuk Kadir pun menetap di Saribas bersama isterinya yang bernama Dayang Siti Hajar.

Datuk Temenggong menjalankan pemerintahannya dengan adil dan bijaksana. Dia sangat dicintai oleh rakyat Saribas. Datuk Temenggong Kadir sudah lama menikah, namun dalam usia pernikahannya yang memasuki tahun ketujuh, mereka masih belum juga dikaruniai anak. Datuk Temenggong Kadir dan isterinya, selalu berdoa agar mereka dikurniai cahaya mata. Walaupun mereka hidup bahagia tetapi mereka selalu merasa kesunyian kerana tidak mempunyai anak.

Pada suatu malam, seperti biasa selepas sembahyang dan berdoa, Datuk Temenggong Kadir pun tidur. Dalam tidurnya itu, dia telah bermimpi, dia telah mendengar satu suara. Datuk Temenggong Kadir tidak tahu dari mana arah suara itu datang. Suara itu berkata:�Wahai Temenggong Kadir, aku kasihan melihat kamu berdoa. Kamu kesunyian. Aku ingin menolong kamu berdua. Ikutlah apa yang aku katakan ini! Esok kamu pergilah ke hulu Sungai Tandang Sari. Di sana ada serumpun buluh betong. Potonglah buluh betong itu. Di dalamnya ada sebiji telur. Ambil telur itu dan simpanlah baik-baik�.

Selepas mendengar suara itu Datuk Temenggong Kadir pun terjaga dari tidurnya. Dia tidak dapat melelapkan matanya lagi kerana memikirkan arahan dari suara itu. Dia tertanya- tanya benarkah apa yang dikatakan oleh suara di dalam mimpinya itu. Atau cuma jin yang ingin mengganggunya ? Datuk Temenggong Kadir pun membangunkan isterinya dan menceritakan mimpinya itu. Isterinya menasihatkan Datuk Temenggong Kadir agar menuruti apa yang disuruh oleh suara itu.

Keesokan harinya, Datuk Temenggong Kadir pergi ke hulu Sungai Tandang Sari. Dia pergi seorang diri dengan menaiki perahu koleknya, dan membawa pedang saktinya �Gempetar Alam�. Dalam perjalanannya itu, matanya meliar ke kiri dan kanan memerhatikan kalau- kalau ada rumpun buluh betong seperti yang dikatakan di dalam mimpinya itu. Akhirnya, dia bertemu dengan pohon buluh betong itu. Hatinya berdebar-debar. Dengan tidak membuang waktu lagi, Datuk Temenggong Kadir pun mengikat perahunya dan naik ke darat. Dia terus memotong pohon buluh itu.Sekali kibas saja pohon buluh itu terus putus. Benarlah, terdapat telur di dalam batang buluh betong itu. Datuk Temenggong Kadir mengambil telur itu dengan berhati-hati lalu dibawanya pulang.

Sampai di rumah, telur itu disimpan baik-baik. Pada malam hari, ketika dia hendak tidur, disimpannya telur itu di sebelah kiri kepalanya. Apabila menjelang tengah malam, tiba-tiba mereka terjaga kerana mendengar suara tangisan bayi. Datuk Temenggong Kadir melihat telur tersebut telah pecah. Tahulah dia bahwa bayi tersebut keluar dari telur. Walaupun mereka sangat terkejut akan kejadian itu tetapi di sisi lain mereka sangat gembira. Sekarang mereka telah mempunyai seorang anak perempuan. Hari semakin pagi tetapi mereka tidak tidur kerana sibuk bermain bersama bayi yang baru menjelma itu. Mereka berdua sangat bersyukur kepada Sang Pencipta kerana telah dianugerahkan seorang anak, walaupun bukan darah daging mereka.

Anak perempuan itu di beri nama Dayang Isah. Beranjak dewasa ,Dayang Isah menjadi sosok yang amat cantik rupa parasnya dan tiada tolok bandingnya pada zaman itu. Banyak pemuda yang terpandang akan kecantikan rupa paras Dayang Isah dan jatuh cinta serta ingin memilikinya. Banyak pemuda di daerah Saribas rela saling berbunuh-bunuhan untuk mendapatkan hati Dayang Isah. Para penduduk Saribas merasakan kalau kecantikan Dayang Isah membawa malapetaka. Datuk Temenggong Kadir pun juga merasakan hal demikian, maka timbul ide dari sang Ayah untuk mengawinkan Dayang Isah dengan salah satu pemuda di Saribas.

Antara pemuda yang gagah perkasa dan disegani oleh penduduk di Tandang Sari ialah Abang Bunut. Abang Bunut ialah pemuda harapan Datuk Temenggong Kadir. Dia seorang pemuda yang peramah, jujur, bersopan santun dan berbudi bahasa. Tingkah laku dan keterampilan Abang Bunut telah memikat hati Dayang Isah. Oleh kerana Abang Bunut bekerja di istana Datuk Temenggong Kadir, maka dia sering bersua muka dengan Dayang Isah. Dari situ, lahirlah perasaan cinta yang sangat mendalam di antara mereka berdua. Mereka pun berkasih-kasihan dan seolah-olah tidak ada sesuatu pun yang dapat memutuskan hubungan antara mereka berdua. Tambahan pula hubunganan mereka direstui oleh Datuk Temenggong Kadir dan isterinya.

Pada suatu malam Datuk Temenggong Kadir bermimpi. Dalam mimpinya itu, dia telah mendengar suara yang sama di dalam mimpinya dulu.Kali ini suara itu berkata: �Wahai Temenggong Kadir! Dengarlah kata-kataku ini. Dayang Isah telah dewasa dan telah menjadi rebutan ramai pula. Sesiapa yang hendak memperisterikan Dayang Isah mestilah menyediakan sepuluh kati emas sebagai mas kahwin�.

Datuk Temenggong Kadir pun terjaga dari tidurnya. Dia berasa resah dan susah hati mengingatkan kata-kata dari suara di dalam mimpinya itu. Dia terkenangkan Abang Bunut yang diketahuinya sangat mencintai Dayang Isah, begitu juga Dayang Isah. Walaupun Datuk Temenggong Kadir sangat berkenan dengan Abang Bunut untuk menjadi menantunya tetapi Abang Bunut seorang pemuda yang miskin, dan sudah pasti tidak dapat menyediakan mas kahwin sebanyak sepuluh kati emas itu.

Keesokan harinya, Datuk Temenggong Kadir memberitahu isterinya akan mimpinya itu. Mereka berdua sangat berasa sedih. Mereka terpaksa patuh dengan arahan suara itu kerana mereka yakin bahawa mimpi itu benar. Mereka mengambil keputusan untuk memberitahu anaknya Dayang Isah dan juga Abang Bunut. Kedua-duanya merasa sangat kecewa setelah mengetahui kenyataan itu. Abang Bunut tahu dirinya tidak berdaya untuk menyediakan mas kahwin sebanyak sepuluh kati emas walaupun berusaha bertahun-tahun lamanya. Maka tingggallah mereka berkasih- kasihan begitu saja, makan hati berulam jantung.

Diriwayatkan, ada seorang saudagar Bugis dari Palembang, bernama Nakhoda Khar, hendak pergi berniaga ke negara Brunei. Dalam pelayarannya dari Palembang ke Brunei, dia dan anak-anak buahnya singgah di muara Sungai Saribas. Pada masa dia singgah itulah dia mendengar cerita dari penduduk Saribas tentang kecantikan Dayang Isah di Tandang Sari, maka timbullah niat di hatinya untuk memperisterikan Dayang Isah. Nakhoda Khar memang sanggup memenuhi syarat menyediakan mas kahwin sebanyak sepuluh kati emas kerana dia seorang yang kaya.

Dengan tidak membuang masa lagi, Nakhoda Khar pun pergilah meminang Dayang Isah. Pada mulanya Datuk Temenggong Kadir keberatan untuk menerima pinangan itu kerana dia tidak mau orang luar berkahwin dengan anaknya. Tetapi apabila dia melihat Nakhoda Khar sanggup memberi sepuluh kati emas sebagai mas kahwin, maka pinangan itu pun diterimanya. Datuk Temenggong terpaksa patuh dengan arahan suara yang didengarnya di dalam mimpinya tempoh hari.

Selang beberapa hari bertunang, maka upacara perkahwinannya pun berlangsung meriah. Dayang Isah sedikit pun tidak merasa gembira. Dia menangis kerana masih mencintai Abang Bunut. Begitu juga dengan Abang Bunut, tujuh hari tujuh malam berendamkan air mata.

Setelah genap sebulan menjadi suami isteri, Nakhoda Khar pun meminta izin daripada Datuk Temenggong Kadir untuk berniaga di Brunei. Di hari baik bulan baik Nakhoda Khar pun belayarlah menuju ke Brunei bersama anak-anak buahnya. Apabila sampai di Pulau Burung, barulah Nakhoda Khar teringat yang kerisnya tertinggal, maka ditinggalkan kapalnya di Pulau Burung dan berpatah balik dengan mengayuh sampan seorang diri. Sesampainya ke muara Sungai Saribas, hari sudah pun malam.

Dalam perjalanan menuju ke istana, Nakhoda Khar terasa sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya lantas dia mempercepatkan langkahnya. Sesampai di istana, Nakhoda Khar terdengar suara isterinya, Dayang Isah sedang bergurau senda dengan Abang Bunut. Maka timbullah rasa marah dan cemburu yang tidak terkira di hati Nakhoda Khar, lalu dibacanya jampi ilmu tidur. Selepas jampi itu dibaca maka tidurlah seisi istana. Lalu Nakhoda Khar mengambil kerisnya dan menikam Abang Bunut di dalam tidurnya. Selepas itu, Nakhoda Khar pun keluar meninggalkan istana dan kembali ke sampannya, dan terus berkayuh ke arah kapalnya yang sedang berlabuh di Pulau Burung.

Pada keesokan harinya, Dayang Isah dan seisi istana terkejut melihat kematian Abang Bunut. Dayang Isah sadar telah banyak nyawa yang terkorban hanya kerana kecantikannya. Dia takut andai dia hidup lebih lama lagi maka akan bertambah ramai lagi yang akan terkorban lalu Dayang Isah mengambil keputusan untuk membunuh diri. Dia pun mengambil keris lalu menikam dirinya beberapa kali tetapi tidak berhasil. Setelah gagal berbuat demikian maka Dayang Isah mengambil tujuh helai rambutnya yang panjang mengurai lalu diikatnya di leher hingga mati.

Setelah melihatkan kejadian itu, maka Temenggong Kadir merasa amat marah. Dia tahu kejadian itu adalah perbuatan Nakhoda Khar lalu dia pun menaiki perahu koleknya bersama Lancang Mayang untuk mengejar Nakhoda Khar. Perahu koleknya berkayuh laju seperti naga lapar, pengayuhnya selebar tiga hasta. Akhirnya sampailah dia ke kapal Nakhoda Khar. Dia terus menghunus pedang saktinya yang bernama Gempetar Alam, lalu dipotongnya kapal Nakhoda Khar dan terbelah dua. Nakhoda Khar serta semua anak buahnya mati tenggelam di Pulau Burung.

Selepas dari itu Datuk Temenggong Kadir pun kembali untuk menguruskan mayat anaknya. Dayang Isah yang dimakamkan bersebelahan dengan makam Abang Bunut. Menurut orang yang empunya cerita ini, makam Dayang Isah itu masih dapat kita jumpai hingga sekarang ini di Pusa, Saribas dalam Bahagian Kedua Sarawak

sumber: Sarawak A Place Like No Other.


Makam Dayang Isah Tandang Sari terletak di tanah perkuburan Kampung Kalok, Pusa sekitar 150 kilometer dari Sibu atau 90 kilometer dari Betong. Sebelum menemui makam Dayang Isah Tandang Sari, terlebih dahulu kita akan menemui makam Dato Godam Ibnu Bendahara Harun dan Pengiran Temenggung Pengiran Abdul Kadir Ibnu Pengiran Sidewa Maharaja.

(Sebelah kiri: Makam Dato Godam, sebelah kanan: Makam Pengiran Temenggung)
(Pandangan dari hadapan Makam Dato Godam. Dibelakang adalah Makam Pengiran Temenggung)

Senin, 11 Januari 2016

Komite Mahasiswa Kabupaten Sambas (KMKS) mengadakan acara "Bubor Paddas"


Komite Mahasiswa Kabupaten Sambas (KMKS) mengadakan agenda dan acara rutin setiap tahunnya, yaitu acara Bubor Paddas Kebanggaan Sambas. Acara ini guna untuk mempererat tali silaturahmi sesama Mahasiswa Kabupaten Sambas yang ada di Pontianak. Mahasiswa tersebut berasal dari Universitas Tanjung Pura (UNTAN), Politeknik Negeri Pontianak (POLNEP), Institut Agama Islam Negeri Pontianak (IAIN), Bina Sara Informatika (BSI) Pontianak dan STMIK.

Ketua KMKS, Fiqri Hakil Nur mengajak mahasiswa asal Kabupaten Sambas seramai-ramainya untuk datang bersilaturahmi sambil menyantap makanan khas Kabupaten Sambas. 

Kegiatan ini dihadiri lebih kurang 500 Mahasiswa. Parkiran di Gang Karya Baru 1 sepanjang 200 meter.

Semoga bermanfaat, silakan dishare yaa..

Survey Batako Mahasiswa Polnep


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahan Bangunan, mahasiswa Polnep ditugaskan untuk survey di satu di antara perusahaan-perusahaan batako di Kota Pontianak. Satu kelompok terdiri dari empat orang. 
Admin kali ini mengambil satu di antara kelompok Survey yaitu kelompok untuk Kecamatan Pontianak Kota. Kelompok ini mengunjungi Perusahaan "Batako Amanah" yang beralamat di Jalan Reformasi. 

Di bawah ini Admin akan memberikan cara pembuatan disertai alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat batako.

Bahan:
* Pasir Kuning/Tras
* Semen
* Air secukupnya

Alat:
*Cetakan Khusus Batako
*Sekop
*Ember
*Gerobak
*Papan yang dipotong kecil untuk meletakkan batako yang telah dicetak.

Cara pembuatan batako:
A. Ambil pasir kuning menggunakan gerobak, kemudian letakkan pasir tersebut di lantai yang telah ditentukan.

B. Campurkan semen dengan perbandingan 7:1.

C. Tambahkan air secukupnya.

D. Aduk semua bahan yang telah dicampur menggunakan sekop.

E. Cetaklah bahan tersebut dengan cetakan khusus batako.

F Setelah dicetak, keringkan batako di atas papan kecil tersebut, lalu batako siap dipasarkan.
Semoga bermanfaat, silakan dishare ya.
Tim Survey Politeknik Negeri Pontianak:
-Binardi Rizi
-Deri elfindo
-Filza Balhakki
-Roy Juliawan

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *