Blog untuk Pendidikan

Tampilkan postingan dengan label Rona-rona Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rona-rona Daerah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Oktober 2017

BRizey Printing: Percetakan Banner/ Spanduk/ Baliho Termurah di Pontianak

Foto Binardi Complaint.


SampanPesisir - Percetakan yang termurah di Pontianak ini sangat cocok untuk Anda yang ingin mencetak banner/baliho/spanduk, karena di tempat ini ditawarkan harga murah. Tidak hanya percetakan banner/baliho/spanduk saja yang tersedia, toko ini menyediakan juga jasa sablon kaos satuan/lusinan, cetak stiker murah, buat stempel laser dan lain-lain.

Harga cetak Banner/ Baliho/ Spanduk hanya:
Rp 20.000,- /m2

Bagi Anda yang berminat silakan hubungi No Hp/WA 089699918466
Alamat di Jalan A.Yani komplek Politeknik Negeri Pontianak atau di Jalan Paris 2, Gg Selasih Pontianak

Selasa, 07 Maret 2017

CERITA SAMBAS: Puteri Dewi Indah Sari

SampanPesisir- Alkisah, menurut yang empunya cerita, bahwa pada zaman dahulu, di Pantai Utara daerah Kalimantan Barat (tepatnya di Kabupaten Sambas yang sekarang), terdapatlah sebuah kerajaan yang cukup besar. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Jaya Samudra. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang gagah berani, Indera Perkasa, namanya. Beliau memerintah didampingi permaisurinya yang jelita. Prabu Indera Perkasa mempunyai tiga orang anak. Ketiganya tersebut semuanya wanita. Anak beliau yang sulung bernama Dewi Puspa. Putri yang tengah bernama Dewi Kumala, sedangkan yang bungsu bernama Dewi Indah Sari.

Kerajaan Jaya Samudra adalah sebuah kerajaan maritim, karena sebagian besar rakyatnya hidup dari pelayaran dan perdagangan. Kerajaan ini juga memproduksi garam yang mereka buat dari air laut. Garam-garam yang banyak itu mereka jual ke kerajaan lain. Selain yang tersebut di atas, kerajaan Jaya Samudra ini memiliki para panglima dan pahlawan yang tangguh. Mereka ini sangat mahir mempergunakan senjata. Diantara para panglima raja ada juga orang Cina.


Orang-orang Cina ini pada mulanya adalah bajak-bajak laut yang saat itu berkeliaran di Tanjung Datok dan Selat Karimata. Mereka ditangkap oleh angkatan laut kerajaan. Akhirnya mereka bersumpah setia kepada raja dan akan mengabdi pada kerajaan. Ada juga diantara mereka yang kawin dengan gadis-gadis Melayu, turun-temurun hingga sekarang. Para panglima ini adalah jago-jago kungfu, tembong, toya dan senjata lainnya yang sudah menjadi menu bagi mereka. Hal ini tidak mengherankan, karena saat itu kawasan ini merupakan ajang perkelahian dengan bajak-bajak laut yang ganas dan buas. Kerajaan Jaya Samudra berkewajiban melindungi rakyatnya dari gangguan para bajak laut, melindungi pelayaran dan perdagangannya.

Pada suatu hari Prabu Indera Perkasa, raja Kerajaan Jaya Samudra ini ingin mengetahui betapa besar kasih sayang ketiga putrinya yang telah dewasa itu kepada dirinya. Maka sepengetahuan permaisurinya, ketiga putri itu segera dipanggil untuk menghadap baginda raja. Ketiga putri ini semuanya cantik jelita membuat hati berdebar-debar bagi siapa yang melihatnya. Jika kita meminjam istilah pujangga lama 'Wajah bak bulan purnama, rambut tebal hitam mengkilat tanpa clear, terurai sampai ke tumit, mata tajam seperti bintang kejora, kulit mulus bagaikan salju di Himalaya, hidung mancung, pinggang ramp- ing. Berle~er jenjang, air diminum tampak berbayang, pokoknya cantiklah. Kita sudah kehabisan kata-kata untuk menilainya.

Setelah ketiga putri itu datang, bersabdalah baginda: 'Wahai ananda Dewi,' kata Sang Prabu Indera Perkasa kepada Dewi Puspa, putri sulungnya, yang telah berada di hadapannya.

'Ampun Ayahanda,' jawab Dewi Puspa.

'Anaknda menghaturkan sembah bakti kepada ayahanda Prabu dan Ibunda,' tambah Dewi Puspa.

'Kuterima sembah baktimu, anaknda Dewi, kata Sang Prabu Indera Perkasa.

'Perlu anaknda ketahui, ayah dan ibu sangat sayang kepadamu. Sejak kecil engkau kupelihara dan kumanjakan dengan penuh cinta kasih. Berbagai permintaanmu semuanya ayahnda turuti, sehingga engkau menjadi dewasa. Sekarang ayah dan ibumu ingin sekali mendengar pernyataanmu. Sebesar apakah kasih sayangmu kepada ayah, dan ibumu, Dewi?'

'Ampun beribu ampun ayahnda Prabu,' jawab Dewi Puspa. 'Betapa besarnya rasa kasih sayang anaknda kepada ayahnda dan ibunda, tak dapat anaknda gambarkan dengan kata-kata. Seandainya boleh anaknda perumpamakan, kasih sayang itu bagaikan besarnya rasa senang diri anaknda pada perhiasan emas, intan dan mutiara yang gemerlapan.'

Mendengar pernyataan putri sulungnya itu, Sang Prabu Indera Perkasa sangat senang sekali hatinya. Ia gembira ria dan tertawa. Kegembiraan Sang Prabu Indera Perkasa semakin meluap setelah beliau mendengar pernyataan dari Dewi Kumala, putrinya yang kedua Dewi Kumala menjelaskan bahwa betapa besarnya rasa kasih sayangnya itu, sebesar cintanya kepada bangsa dan tanah airnya. Akan tetapi, wajah cerah Sang Prabu cepat berubah ketika mendengar pernyataan dari Dewi Indah Sari, putri bungsunya.

Dewi Indah Sari hanya mengumpamakan besarnya rasa kasih sayang itu sebanding dengan cintanya kepada garam. Sang Prabu Indera Perkasa murka bukan kepalang. Baginda segera memerintahkan kepada para patihnya, agar membawa Dewi Indah Sari ke dalam hutan. Ia harus dibuang ke sana. Demikianlah Dewi Indah Sari pun kemudian diasingkan ke tengah hutan belantara rimba Kalimantan yang sangat lebat. Di hutan rimba itu Dewi Indah Sari harus menanggulangi hidupnya sendiri, sehingga lama-kelamaan Dewi Indah Sari menjadi terbiasa hidup di hutan yang sunyi itu. Memang putri bungsu ini seorang yang tabah dan tetap pada pendiriannya. Apa yang ia anggap benar adalah benar dan apa yang salah tidak mau ia mengatakan benar. Ia tidak terpengaruh oleh sesuatu, sehingga membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, entah berapa purnama Putri Indah Sari hidup di dalam hutan. Ia telah menjadi terbiasa. Ia tetap tabah menghadapi segala cobaan. Rintangan demi rintangan, suka duka ia lalui dengan penuh ketabahan. Tiga tahun telah berlalu, Sang Prabu Indera Perkasa pergi berburu bersama para pengawalnya. Memang di kawasan hutan pantai utara daerah Kalimantan Barat saat itu banyak sekali binatang buruan, seperti rusa, kijang dan sebagainya. Dendeng rusa sudah menjadi makanan istimewa masyarakat pada zaman itu. Bukan saja di daerah pesisir, tapi di mana- mana masyarakat di seluruh Kalimantan Barat menggemarinya, kecuali suku-suku Dayak di kawasan ketungau pedalaman tidak mau makan daging rusa, karena mereka beranggapan bahwa rusa itu penjelmaan manusia. Binatang rusa mereka keramatkan.

Demikianlah dalam perburuan itu mereka kejar mengejar dengan segala binatang buruan yang ada di sana. Para pengawal dan pengiring semuanya aktif, tak ada yang mau ketinggalan. Namun mereka belum mau kembali, karena asyik sekali perburuan itu. Malang tak dapat ditolak, untung belum dapat diraih, Baginda Prabu Indra Perkasa terpisah dari para prajurit yang mengawalnya berburu di tengah hutan lebat itu. Baginda tersesat di dalam hutan. Lalu baginda menjelajahi hutan yang lebat itu.

Setelah beberapa lama menjelajah, akhirnya baginda ditakdirkan sampai ke tempat kediaman Dewi Indah Sari. Namun Sang Prabu tidak lagi mengenal Dewi Indah Sari, sedangkan Dewi Indah Sari mengenal ayahndanya. Melihat Sang Prabu Indera Perkasa yang kemalaman di tengah hutan itu, Dewi Indah Sari segera menyambutnya. Ia mempersilakan baginda masuk ke dalam pondoknya. Sedangkan Dewi Indah Sari sendiri lalu pergi ke dapur, untuk memasak ia menghidangkan makanan itu kepada Sang Prabu.

Ketika baginda menyantap makanan yang berbau lezat itu, baginda terkejut.

'Wahai anak muda, Masakanmu sedap, tetapi hambar rasanya. Apakah tidak diberi garam?' kata Sang Prabu kepada Dewi Indah Sari.

'Ampun Tuanku, Tuanku benar. Hamba sengaja tidak memberi garam pada masakan hamba. Bukankah Tuanku sangat bend pada garam?' jawab Dewi Indah Sari sambil menundukkan kepalanya.

'Apa katamu anak muda?, Aku membenci garam?,' tanya Sang Prabu Indera Perkasa bertambah heran atas perkataan Dewi Indah Sari.

Dengan terbata-bata karena heran, beliau berkata 'Siapa yang mengatakannya kepadamu?'

'Ampun Tuanku. Tidak ada orang yang mengatakan demikian kepada hamba. Hanya sepengetahuan hamba, Tuanku pernah mengusir putri Tuanku sendiri, hanya karena menganggap rendah pada garam,' jawab Dewi Indah Sari.

Sejenak baginda termenung mendengar jawaban dari anak muda itu. Sang Prabu tak habis pikir, bagaimana ia bisa tahu, padahal ia tinggal di dalam hutan lebat, jauh dari keramaian orang banyak. Mendengar jawaban dari Dewi Indah Sari Sang Prabu teringat pada peristiwa itu. Peristiwa yang baru saja beberapa tahun berselang, seolah-olah telah ia lupakan sarna sekali. Baginda kemudian sadar bahwa pernyataan putrinya itu benar. Dan apa yang dikatakan oleh wanita muda ini juga benar.

Kemudian baginda memandang dan menatap wajah Dewi Indah Sari. 'Ananda Dewi ........ Indah Sari!' seru Sang Prabu kepada Dewi Indah Sari, setelah baginda yakin bahwa anak muda itu adalah Dewi Indah Sari, putrinya yang pernah dia usir dari istana. Kemudian baginda memeluk Dewi Indah Sari dengan eratnya, sebagai rasa sayang seorang ayah kepada anaknya yang telah lama berpisah.

'Ampun ayahanda Prabu,' sahut Dewi Indah Sari menangis terisak. Ia tak dapat menahan goncangan hati, karena gembiranya. 'Ayah bersalah, Dewi,' kata Sang Prabu. ' Ayah lupa, garam adalah barang kecil yang remeh, tetapi banyak sekali gunanya. Garam tak dapat dipisahkan dari kehidupan kita.'

Sementara itu para pengawal raja yang terpisah menjadi resah gelisah, karena tidak ada dan entah kemana baginda pergi. Mereka sibuk mencari ke mana-mana dalam hutan yang lebat itu,tapi tak bersua. Namun pada akhirnya mereka sampai juga ke pondok Dewi Indah Sari. Betapa sukacitanya para pengawal karena raja ada di sana, tidak hilang seperti yang mereka perkirakan. Yang menakjubkan mereka, karena raja ada bersama-sama putri beliau, putri Dewi Indah Sari.

Diantara para prajurit pengawal baginda, ada yang masih kenal pada putri Dewi Indah Sari. Raja menjelaskan segala sesuatu kepada pengawalnya. Kemudian mereka pulang bersama-sama ke istana dengan penuh kegembiraan. Setelah kejadian itu, dan sekembalinya Sang Prabu Indera Perkasa bersama Dewi Indah Sari ke istana kerajaan, baginda mengeluarkan pengumuman: Kepada rakyat di seluruh negerinya diumumkan agar mereka tidak meremehkan barang yang dianggap sepele, supaya terhindar dari kekecewaan di kemudian hari.

Pesan Moral: Kita tidak boleh meremehkan sesuatu yang kita anggap sepele, seperti Sang Prabu Indera Perkasa dalam cerita ini. Kadangkala barang yang kita anggap sepele, sangat berguna bagi hidup kita, seperti garam. Kalau tidak ada garam makanan tidak enak dan kita dapat menjadi sakit. Kita harus jujur, berkelakuan baik, ramah tamah, sopan santun, terutama terhadap kedua orang tua kita yang memelihara kita dari bayi hingga dewasa. Hormatilah ibu bapakmu, seperti para putri dalam cerita ini.

Tulisan diatas bersumber dari buku Cerita Rakyat Kalimantan Barat yang dicetak oleh Percetakan Romeo Grafika. Diketik ulang misterpangalayo.com dalam artikel diatas guna membantu menyebarluaskan kepada masyarakat untuk membaca cerita rakyat ini agar dapat dipetik hikmahnya. Harapan penyunting, semoga dengan membaca artikel ini, kita dapat lebih mencintai khasanah kebudayaan daerah kita sendiri yang berarti juga mencintai kebudayaan nasional, karena kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional.

Tempat Nongkrong Baru Berada di Kawasan Pusat Kota Pontianak


SampanPesisir - Hampir di setiap sudut kota strategis ada kedai kopi, membuat Kota Pontianak dijuluki sebagai Kota Kopi, sebuah kota yang banyak memiliki warung kopi. Pengunjungnya pun tak pernah sepi sejak pagi hingga malam hari. Budaya minum kopi di warung kopi sudah ada sejak dulu dan telah menjadi identitas Pontianak. Kopi dan Pontianak itu ibarat sebuah koin, sisi depan dan sisi belakang yang tak bisa terpisahkan.

Satu di antaranya adalah kedai kopi yang mengusung konsep kopitiam semakin menjamur. Selain ngopi gaya amerika, kopitiam menjadi alternatif baru. Kopitiam terdiri dari gabungan kata �kopi� dari bahasa melayu dan �tiam� dari bahasa hokkian yang berarti kedai. Sejatinya kopitiam merupakan kedai kopi dan sarapan tradisional yang berasal dari Malaysia dan Singapura.

Banyak franchise yang memberikan sensasi kopi premium di Kota Pontianak. KOPITIAM hadir untuk meramaikan destinasi wisata kuliner kopi, terletak di Gedung Aneka Paviliun, Grand Floor, Jl. Sultan Abdurrahman No. 128 Pontianak. KOPITIAM sendiri merupakan franchise asal Singapura yang menjamin setiap produk makanan dan minumannya dengan kualitas yang benar-benar original. Sebagian besar bahan utamanya langsung diimport dari Singapura.

Tempat Nongkrong yang baru berada di Kawasan Pusat Kota Pontianak ini telah buka sejak Desember 2016 dan menjadi pilihan kopitiam yang cocok untuk bersantai bersama teman, orang tersayang, keluarga, dan kolega Anda. Tata ruangannya yang khas kopitiam dengan interior yang lebih modern dibanding kopitiam lainnya yang terkesan jadul. Aneka jenis produk makanan dan minumannya tetap bernuansa layaknya kopitiam yang lain, seperti teh tarik, Singapore laksa, Singapore mie rebus, dan lainnya.

Dan tidak hanya sekedar tempat nongkrong saja, KOPITIAM juga cocok untuk menjadi pilihan tempat makan siang ataupun makan malam karena menawarkan menu makan berat yang cukup beragam. Saat misterpangalayo.com menyambangi tempat ini, para pelayannnya sangat ramah. Sebuah tempat nongkrong yang modern dan sangat nyaman untuk semua kalangan dan umur. Tempat ini juga menyajikan area nongkrong yang beragam, seperti ruangan indoor yang nyaman buat untuk romantisan, semi indoor yang nyaman buat keluarga Anda dan area ini kedepannya akan dibangun playground untuk arena bermain anak-anak Anda, dan yang terakhir adalah ruangan outdoor yang diperuntukkan untuk area smoking atau area menikmati angin malam yang adem.


Outdoor


Semi Outdoor




Indoor




Selain nongkrong sambil menikmati kuliner KOPITIAM, Anda juga bisa take a way

Soal rasa lidah tidak pernah bohong, tekstrur dan rasa makanan benar-benar dijaga oleh koki terlatih. Berikut adalah menu makanan dan minuman KOPITIAM Pontianak yang misterpangalayo.com icip-icip :
Singapore Curry Chicken - 45k IDR


Fried Carrot Cake - 39k IDR



Banana Hazelnut Toast - 20k IDR

Iced Fresh Kietna Soda - 29k IDR


Iced Honey Lemon Shooter - 21k IDR 






KOPITIAM Pontianak buka mulai pukul 07.00 wib dan tutup pukul 22.00 wib. Fasilitas yang tersedia seperti Free WIFI akan membuat pelanggannya betah untuk berlama-lama, serta tersedia aneka koran lokal yang up to date akan menemani breakfast Anda. Selain letaknya yang strategis di pusat kota, kawasan ini juga berada di area perkantoran, sehingga KOPITIAM Pontianak menjadi sasaran utama untuk breakfast karena aksesnya sangat mudah dijangkau. Selain itu, area parkir sangat luas untuk mobil yang bisa menampung sekitar 30an mobil dan sepeda motor bisa menampung sekitar ratusan unit.




Dengan tempat yang nyaman serta harga yang ramah kantong, KOPITIAM Pontianak bisa menjadi tempat nongkrong asyik. Nah, bagi Anda yang suka keramaian, jangan khawatir KOPITIAM Pontianak menyediakan spot khusus untuk Anda yang ingin datang bersama teman-teman serombongan. Di tempat ini juga cocok untuk dijadikan tempat meet up / kopdar. Dan tersedia juga paket promo hemat kopitiam untuk bertiga, berempat atau berlima. Setiap hari senin hingga jumat, mulai pukul 13.00 WIB hingga 18.00 WIB.

Untuk melihat daftar aneka produk makanan dan minuman beserta harganya yang terjangkau bagi masyarakat Pontianak, silahkan simak gambar di bawah ini :




Kota Pontianak kini sudah banyak berbenah. Pontianak bukan hanya menjadi kota tujuan wisata saja, namun juga memiliki banyak restoran dan kafe menarik lainnya yang harus dinikmati. Kegiatan wisata kuliner sekarang memang menjadi trend baru ketika berlibur di Pontianak. KOPITIAM mungkin dapat Anda masukan ke list tempat makan Anda bersama pasangan atau keluarga. Selamat Mencoba!

KOPITIAM Pontianak, Casual Dining Coffee Shop.



Jumat, 03 Maret 2017

Pusaka Leluhur Sambas Yang Terancam Hilang Ditelan Zaman

SampanPesisir - Parang Tangkin (Tangkitn) atau biasa disebut Mandau Tangkitn adalah senjata tradisional yang terbuat dari besi yang bagian hulunya melengkung, pada ujungnya bertampuk kuningan dan tidak memiliki gagang layaknya sebilah mandau yang biasa terbuat dari kayu atau tulang. Parang ini sekilas panjangnya hampir sama dengan mandau, namun bentuknya sangat berbeda dengan mandau. 

Gagang pada parang ini hanya di lilitkan kain merah yang melambangkan keberanian dan kebanyakan di pangkal bawah pegangan tersebut terdapat cepu yang terbuat dari tembaga yang dipercaya mempunyai kekuatan magis. Sarung tangkitn dibuat dari kayu tipis dan pipih yang dililit dengan gelang rotan dan diperkuat dengan plat kuningan. 


Pada dasarnya, oleh leluhur Sambas pada zaman dahulu, parang tangkin hanya dipergunakan untuk tradisi mengayau (berburu kepala) atau digunakan sebagai senjata pertahanan diri dari sasaran kayau suku tetangga (Iban) yang mengayau ke wilayah adatnya. 

Pada masa lalu, hampir semua laki-laki di Kalimantan pada umumnya harus melakukan perburuan kepala untuk bermacam-macam alasan, karena setiap suku memiliki alasan yang berbeda-beda. Seperti orang Iban yang berbatasan langsung wilayah adat dengan pribumi Sambas (Salako dan Kanayatn), tradisi mengayau menggunakan Mandau dilakukan anak laki-laki iban pada usia 10 tahun yang mengharuskannya bisa mendapatkan setidaknya 1 kepala manusia, karena ini akan menunjukan bahwa anak laki-laki ini sudah memasuki usia dewasa dan dapat menikah. Sedangkan untuk pribumi Sambas mempertahankan diri mereka dari korban mengayau masyarakat Iban, menggunakan parang tangkin sebagai senjata pertahanan.

Sebelum kedatangan agama SAMAWI (Nasrani dan Islam) ke tanah Sambas, kepercayaan masyarakat pribumi Sambas adalah kepercayaan tradisional Kaharingan. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau disebut dengan Ranying / Jubata, yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat pribumi Sambas dan Kalimantan pada umumnya. Tempat ibadahnya dinamakan Balai Basarah. Kitab suci agama mereka adalah Panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya.

Parang tangkin tanpa kain merah

Pasca berdirinya Kesultanan Sambas di Lubuk Madung, pribumi Sambas banyak yang mengalami proses Islamisasi (masuk Melayu) ditambah pendatang dari luar Sambas yang notebane-nya untuk berdagang. Akhirnya budaya Melayu semakin banyak diadopsi dan mengaburkan budaya lama yang dianggap lawas untuk ditinggalkan, meskipun beberapa adat masih dipertahankan seperti tepung tawar, tumpang 1000, dan muang rateh (muakng rate). Sedangkan untuk saudara mereka yang masih mempertahankan agama sebelumnya dan tidak menerima Islam (non-Muslim atau non-Melayu), oleh mereka disebut Urang Daya (urang daya = orang darat).

Terpisahnya dua keluarga tersebut, makna dari penggunaan parang tangkin pun berubah. Untuk kelompok masyarakat yang menyebut mereka dengan Melayu Sambas, parang tangkin dipergunakan untuk berburu binatang atau pergi berladang (be ume / bahuma). Sedangkan, untuk urang Daya (Salako dan Kanayatn sekarang) masih menggunakan parang tangkin untuk mengayau.

Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi), tradisi mengayau semakin ditinggalkan oleh urang Daya ditambah semakin banyak dari mereka yang memeluk kepercayaan Nasrani (Kristen dan Katolik). Maka, makna penggunaan parang tangkin pun sudah tidak dipergunakan untuk membunuh dan memburu kepala musuh, melainkan untuk berburu binatang atau pergi berladang.

gagang parang tangkitn di balut kain merah

Dewasa ini, keberadaan parang tangkin pada masyarakat Sambas sudah terancam hilang keberadaannya. Parang tangkin hanya dapat dijumpai pada keluarga Dayak Salako dan Kanayatn di Kabupaten Sambas, serta tidak banyak berada pada masyarakat Melayu. Di wilayah Sambas, parang tangkin terbagi menjadi dua varian yaitu tangkin laki dan tangkin bini. Bentuk tangkin laki lebih panjang dari tangkin bini.

Sebagai bagian dari pusaka dan kebudayaan leluhur Sambas, parang tangkin atau mandau tangkitn diabadikan menjadi bagian dari Lambang Daerah Kabupaten Sambas bersama dengan tombak yang juga merupakan salah satu senjata perang kerajaan Sambas pada zaman dahulu. 

Selain di Kabupaten Sambas, parang tangkin juga banyak dijumpai pada masyarakat Salako dan Kanayatn lainnya yang tersebar di sebagian wilayah Sarawak (Malaysia), Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Mempawah, Kota Singkawang, dan Kota Pontianak.

Selasa, 28 Februari 2017

Komunitas Blogger Pontianak Adakan Kopdar

SampanPesisir - Komunitas Blogger Pontianak atau yang lebih dikenal dengan sebutan Buda' Blogger kembali mengadakan kopdar kedua di tahun 2017 pada selasa (28/02) malam. Bertempat di Gerage Cafe yang terletak di Jalan Iman Bonjol Pontianak atau lebih tepatnya berada di samping Hotel 95. Kopdar ini dihadiri oleh 33 anggota aktif blogger-blogger luar biasa dari Kota Pontianak dan sekitarnya.


Kopdar (kopi darat) Blogger adalah program rutin yang dilaksanakan oleh Komunitas Blogger Pontianak setiap sebulan sekali sebagai ajang pertemuan tatap muka anggota komunitas untuk berbagi kepada sesama blogger mengenai pemanfaaatan blog, mendapatkan penghasilan dari blog, dan penguatan jejaring antar blogger dan komunitas.

Keuntungan yang didapat dari kopdar blogger, diantaranya :
  • Terjalin komunikasi aktif, nyata, dan terbuka,
  • Saling mengenal satu sama lain sesama anggota komunitas,
  • Mempererat tali persaudaran rasa kekeluargaan, pertemanan, dan kekerabatan,
  • Memecahkan segala bentuk permasalahan yang muncul jika ada, mencari solusi dan jalan keluar,
  • Membuka wawasan cakrawala dalam membina relation/hubungan antara sesama member aktif-pasif, baru-lama, dan tua-muda,
  • Untuk saling membina hubungan baik dan menjaga nama baik antar sesama.

Tepat pukul 19.00 WIB, lokasi acara sudah mulai dipadati oleh anggota komunitas. Sembari menunggu anggota yang lainnya datang, mereka saling bertukar cerita dan berkenalan kepada anggota yang baru bergabung, serta mengisi daftar absensi kehadiran. Acara kopdar dimulai tepat pukul 20.00 WIB dan diawali dengan sambutan dari ketua komunitas blogger Pontianak.

Perkenalan satu per satu anggota KBP yang hadir

Setelah sambutan dari ketua, acara dilanjutkan dengan perkenalan satu per satu anggota yang hadir. Senyum dan semangat menyemarakkan suasana ruangan yang penuh cerita. Tawa dan canda seakan menghibur para anggota yang datang. Tidak menegangkan dan tidak terlalu formal, anggota yang hadir pun semakin aktif mengikuti jalannya acara.

Tahap perkenalan selesai, dilanjutkan sesi pertanyaan atau sharing permasalahan yang tengah dihadapi. Segala bentuk pertanyaan atau permasalahan yang muncul. Dengan rasa kekeluargaan dan tanggung jawab, sesama anggota akan mencari solusi dan jalan keluar guna tetap menjaga komitmen & munjunjung tinggi harkat, martabat dan kaidah berorganisasi atau berkelompok dalam satu wadah komunitas.

Berdiri Sama Tinggi, Duduk Sama Rendah. Peribahasa tersebut sangat tepat untuk menggambarkan filosofi dari komunitas blogger Pontianak. Saya selaku salah satu pengurus komunitas ini berharap agar dengan seringnya melakukan kopdar blogger, bisa saling bertukar informasi, wawasan, pengalaman, ide & konsep demi kemajuan bersama atas dasar kepentingan Organisasi.

Dare Blogger, itulah sebutan anggota KBP yang perempuan.

Selain itu, berkumpul bersama teman-teman baru akan membuat suasana baru guna menghilangkan kejenuhan beraktifitas di pekerjaan atau rutinitas lain dalam kehidupan sehari-hari. Kesan yang mendalam selalu menjadi dampak pasca kopdar, sehingga selalu menimbulkan keinginan-keinganan berikutnya untuk bisa kumpul bareng lagi dalam suasana asik, hangat, penuh canda tawa, dan kekeluargaan.

Sobat blogger yang berdomisili di Kota Pontianak dan sekitarnya, mari bergabung bersama kami di KOMUNITAS BLOGGER PONTIANAK. Temukan dunia baru bersama buda' blogger. Untuk kamu yang sudah lama menekuni dunia blogging ataupun yang baru memulai untuk terjun. Silahkan isi form bit.ly/BloggerPontianak dan kamu akan di follow up untuk menjadi anggota resmi Buda' Blogger.

Kebiasaan anggota KBP dikala acara berakhir, selfie

Dunia Maya tanpa batas, Dunia Nyata yang Berkelas. SALAM Buda' Blogger !!!

Selasa, 21 Februari 2017

Asal Usul Desa Sepinggan Sambas

SampanPesisir- Cerita rakyat yang berkembang di Sambas disampaikan oleh nenek moyang secara lisan dan turun-temurun. Biasanya cerita disampaikan oleh tukang cerita sambil duduk-duduk di suatu tempat kepada siapa saja, anak-anak dan orang dewasa. Bahkan ada juga sebagai cerita penghantar tidur anak-anak, selain berfungsi untuk menghibur melainkan dengan penuh kesabaran penutur cerita ingin menyampaikan nilai-nilai luhur kepada generasi penerusnya.

Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia di kabupaten Sambas banyak ditemui jenis cerita rakyat atau lebih dikenal dengan istilah dongeng. Setiap cerita rakyat memiliki fungsi dan tujuan yang hendak disampaikan kepada masyarakatnya. Salah satunya adalah Asal Usul Desa Sepinggan, cerita rakyat yang berasal dari Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.


Berikut adalah cerita rakyat berjudul Asal Usul Desa Sepinggan yang berhasil misterpangalayo.com rangkum. Cerita di bawah ini menggunakan alur maju atau kronologis karena diceritakan dari awal sampai akhir. Referensi penulisan artikel ini bersumber dari buku yang berjudul "Antologi Cerita Rakyat Semparuk" Edisi cetakan pertama, Oktober 2016. Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Pada zaman dahulu terdapat sebuah hutan lebat yang ditumbuhi pepohonan besar dan rimbun. Di hutan itu hidup beraneka macam hewan, seperti harimau, ular, bekantan, dan orang hutan. Setiap hari terdengar suara hewan-hewan itu bersahut-sahutan, raungan harimau, desisan ular, teriakan orang hutan dan kicauan burung menyemarakkan suasana hutan tersebut. Di sekitar hutan tersebut terdapat dua desa, yaitu Desa Sungai Baru dan Desa Puting Beliung.

Hari itu, matahari bersinar hangat di ufuk timur, embun yang menggantung di ujung dedaunan, kicauan burung terdengar merdu bersahut-sahutan menyambut pagi yang cerah. Orang-orang yang tinggal di dekat hutan tersebut, yang berasal dari berbagai daerah seperti Sungai Baru dan Puting Beliung berkumpul untuk membicarakan sesuatu. Mereka berencana membuka hutan itu menjadi sebuah desa.

Kepala desa berkata,�Bapak-bapak dan ibu-ibu kita berkumpul di sini untuk sama-sama berembuk mengenai rencana kepindahan kita.�

�lya, kami setuju akan rencana kepindahan kita, tapi kita pindah kemana?� sahut seorang warga yang bernama Aloi.

�inilah yang akan kita rembukkan Pak Aloi, bagaimana baiknya kepindahan kita itu dan tujuan kita pindah. Saya telah memikirkan hal ini bagaimana kalau kita membuka hutan saja? Tetapi, kalau ada warga yang memiliki usul lain yang lebih baik, silahkan saja.�

�Saya juga telah berpikir akan hal itu, Pak. memang hanya itu pilihan yang kita punya. Bila kita pindah ke tempat lain akan memakan banyak waktu, perjalanan yang harus kita tempuh juga jauh. Jadi saya setuju akan usul bapak,� ujar Pak Mude.

�lya, saya setuju,� sahut seorang warga.

�Setuju,� warga yang lain menimpali dengan bersemangat.

�Kami juga setuju, hutan itu subur. Kita akan sejahtera bila tinggal di sana. Desa kita ini tidak bagus lagi, gersang, mata air pun sering kering,� ujar penduduk yang lain.

Rencana membuka hutan tersebut dianggap sangat bijak sehingga semua orang setuju. �Baik�baik�bila sudah sepakat maka kita akan membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggal baru kita,� kata Kepala desa dengan bijaksana.

Sedikit demi sedikit mereka mulai membersihkan pepohonan yang ada di hutan itu. Pohon-pohon besar mereka tebang, kayunya mereka jadikan bahan pembuatan rumah. Mereka bergotong royong membangun tempat tinggal untuk seluruh warga desa.

Mereka pun meninggalkan desa mereka, barang-barang mereka yang banyak dibawa menggunakan gerobak. Mereka sangat gembira karena cita-cita mereka untuk memilki tempat tinggal yang baru akhirnya terwujud. Mereka jalan beriringan menuju tempat baru itu dengan bersenda gurau, bernyanyi bersahut-sahutan, dan mengobrol dengan sesama mereka. Raut wajah gembira tampak pada wajah mereka. Gurat-gurat kelelahan di wajah mereka telah hilang tergantikan senyum.

Namun, setelah beberapa lama tinggal di desa itu, mereka tidak betah. Harapan mereka akan kehidupan yang baik telah sirna karena ternyata desa yang mereka bangun dengan susah payah itu angker dan menyeramkan. Mereka merasakan keanehan-keanehan, penampakan makhluk halus banyak berkeliaran. Bahkan, makhluk halus seeing mengganggu mereka siang malam. Hal ini membuat mereka tidak betah.

Malam itu begitu kelam, suara jangkrik terdengar diantara suara angin yang menderu-deru. Warga desa kembali berkumpul untuk membicarakan keanehan-keanehan yang sering mereka alami.

�Apa para warga desa merasakan keanehan yang terjadi? Setiap hari di rumahku selalu ada saja benda yang melayang di udara. Kadang sendok, kadang piring,� kata Pak Long, salah seorang warga desa yang telah berumur lanjut.

�Oi Pak Long, di rumah kami pun begitu. Bahkan kadang ada penampakan nenek ataupun anak kecil yang meringkuk di sudut kamar,� sahut Pak Mude dengan sura pelan.

�Di tempat kami sering terdengar suara orang yang menangis juga tertawa setiap saat. Aku jadi takut bila sendirian di rumah,� sahut seorang ibu dengan sedih.

�Kami sudah tidak tahan di desa ini, terlalu angker,� teriak salah seorang warga.

�Ya, benar. Saya juga sudah tidak tahan, desa ini begitu menyeramkan, masih mending desa kita yang dulu walaupun gersang tak pernah ada makhluk halus yang mengganggu� sambung Pak Aloi.

�lya, saya tidak pernah bisa tenang, makhluk halus itu selalu mengganggu siang malam,� kata seorang pemuda.

�Bagaimana kalau kita pulang saja ke tempat tinggal asal kita dulu.� Usul seorang bapak.

�Setuju,� teriak salah seorang warga.

�lya, kita pulang saja,� kata warga yang lain.

�Baiklah, kami setuju dengan usulan bapak. Rencana itu sangat bijak. Sekarang, kemaskan barang-barang dan pergi dari desa angker ini,� sambung kepala desa. Dari tadi ia hanya mendengarkan saja keluhan warga desanya. la merasa kecewa akan keadaan yang mereka alami.

Tanpa membuang banyak waktu, warga desa segera berkemas meninggalkan desa tersebut untuk kembali ke tempat asal mereka. Kali ini tidak ada lagi senda gurau dan tawa lepas hanya terlihat kesedihan dan kelelahan di raut wajah mereka.

Beberapa hari setelah kepergian mereka dari desa tersebut, datanglah sekelompok orang yang bukan berasal dari daerah sekitar desa itu. Mereka berasal dari tempat yang jauh. Mereka terlihat bingung ketika sampai di desa tersebut karena desa itu kosong tak berpenghuni.

�Akhirnya kita bertemu juga dengan sebuah desa. Hari demi hari yang kulihat hanya hutan belantara, kulihat juga rumah,� kata salah seorang anggota rombongan tersebut.

�Tetapi, desa ini aneh. Kemana para penduduk desa ini pergi? Satu pun tidak ada yang terlihat,� kata pemuda yang bernama Saung.

�Aku pernah mendengar kalau desa ini angker, banyak makhluk halus yang berkeliaran,� kata pemuda yang kedua.

�Mungkin mereka pergi dari desa ini, bukankah begitu?� tanya pemuda pertama.

�Ya, bisa jadi,� jawab pemuda kedua.

�Bagaimana kalau kita menetap dan merawat desa ini?� usul pemuda pertama.

�lya, kami setuju,� kata sekelompok orang pendatang tersebut.

Sekelompok orang yang baru tiba tersebut akhirnya menetap di desa yang telah ditinggalkan itu. Mereka tidak terusik oleh keanehan-keanehan yang ada, makhluk halus yang berkeliaran tidak membuat mereka gentar dan takut. Setelah beberapa lama tinggal di desa itu, beberapa orang mencoba untuk bercocok tanam, membuka ladang. Mereka menanami ladang tersebut dengan tanaman padi. Beberapa bulan kemudian, musim panen pun tiba. Mereka sangat gembira karena sebentar lagi mereka akan menikmati jerih payah mereka. Beramai-ramai mereka memanen padi yang mereka tanam dan rawat berbulan-bulan. Namun,mereka sangat kecewa karena hasil jerih payah mereka ternyata tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

Hasil panen padi yang seharusnya melimpah setelah dikumpulkan ternyata banyak yang tidak bagus, banyak yang hanya selongsongnya saja, isinya tidak ada/kosong. Panen padi itu tidak melimpah, hanya sepiring nasi. Oleh karena itu, desa angker itu akhirnya diberi nama Desa Sepinggan.

Senin, 20 Februari 2017

Asal Usul Gunung Senujuh Sambas

SampanPesisir - Betapa gagahnya Gunung Senujuh, berdiri tegak bagaikan seorang tentara yang sangat hebat. Menjulang tinggi mencapai langit biru, menembus awan-awan lembut tanpa rasa takut. Gunung Senujuh berdiri sepanjang hari dan diapit 3 sungai nan indah, yaitu Sungai Sambas, Sungai Senujuh, dan Sungai Perigi Piai. Luasnya 585,90 hektar dengan panjang 12.628,50 meter penuh dengan warna hijau yang membuat mata menjadi sejuk.

Secara administratif, gunung ini terletak di Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Menurut Stanley Karnow (1964) peta perjalanan migrasi bangsa Austronesia dari daratan Asia menuju pulau Kalimantan dan kepulauan Indonesia lainnya melalui semenanjung Malaka. Mereka yang menuju Kalimantan Barat, memasuki muara suangai Sambas dan Salako. Kelompok yang memasuki sungai Sambas, banyak bermukim di kaki bukit Senujuh.

Gunung Senujuh Sambas

Menurut Simon Takdir (2007) Kelompok Austronesia yang bermukim di kaki bukit Senujuh ini, karena jumlahnya kecil, akhirnya hilang karena ditaklukkan dan berbaur dengan penduduk yang lebih dulu datang ke daerah itu. Pembauran ini melahirkan nenek moyang suku yang disebut suku Kanayatn atau Rara dengan ragam-ragam bahasa mereka yaitu bakati�, ba nyam, dan ba nyadu�. Di kawasan ini, sekitar tahun 1291 berdiri sebuah kerajaan bercorak Hindu dan rakyatnya menganut agama tradisional dan Hindu (Kaharingan).

Menurut cerita rakyat Dayak Kanayatn, kawasan gunung Senujuh merupakan tempat tinggalnya Panglima Marabatn Ampor. Cerita lainnya, menyebutkan bahwa gunung Senujuh dijaga atau jelmaan dari 7 puteri yang melawan duate dari Sekadim untuk membuat gunung dalam satu malam.

Terlepas dari cerita tersebut, masyarakat Sambas pada umumnya meyakini jika gunung Senujuh yang berdiri kokoh menjulang tinggi itu terbentuknya melalui kisah asal usul yang menarik.

Kisahnya sebagai berikut:

Gunung Sinujuh terletak di dekat muara daerah Sejangkung, berkisar belasan kilometer dari kota Sambas. Gunung ini terbentuk karena konflik antara dua daerah yang memperebutkan satu wilayah. Pemimpin dari daerah Sebatok bernama Datok Siba dan pemimpin dari daerah Sinujuh bernama Ki Sinu, keduanya seorang petapa.

Awalnya dua daerah itu menjalin hubungan baik. Mereka tidak pernah memiliki permasalahan yang sampai memecah belah hubungan mereka. Hubungan mereka seperti kumbang dan bunga yang saling menguntungkan satu sama lain. Apabila ada permasalahan mereka saling membantu. Penyelesaian masalah tersebut dilakukan secara bermufakat.

Di suatu hari, pimpinan daerah Sebatok yaitu Datok Siba dan pemimpin daerah Sinuju yaitu Ki Sinu pergi berburu bersama. Mereka berburu tidak jauh dari desa. Tak di sengaja mereka menemukan daerah/wilayah yang sangat subur. Di wilayah tersebuyt tumbuh berbagai jenis tumbuhan dan berbagai jenis hewan. Tanahnya subur, dan berdekatan dengan muara besar.

�Wah, subur sekali daerah ini. Banyak tumbuh-tumbuhan, hewan dan berdekatan dengan muara,� seru Datok Siba. �Bagaimana kalau kita buat pemukiman saja di sini?� Usul Ki Sinu. Datok Siba setuju.

Mereka pun pulang ke desa masing-masing. Keesokan harinya, Ki Sinu berkehendak pergi ke Desa Sebatok menemui Datuk Siba. Dia ingin membicarakan tentang pembagian wilayah yang ditemukan dekat muara besar kemarin.

�Datuk, bagaimana pembagian wilayah yang ada di dekat muara besar itu?� tanya Ki Sinu.

�Oh, itu soal mudah, karena aku yang menemukannya terlebih dahulu jadi wilayah milikku lebih besar dari wilayah milikmu. Lag! pula wargaku lebih ramai dari pada wargamu.� Jawab Datuk Siba.

Ki Sinu menjawab dengan memukul meja Datuk Siba, �Mana boleh seperti itu, kita harus bagi rata wilayah itu. Tidak boleh ada kurang tidak boleh ada lebih.�

Perdebatan berlangsung lama, Ki Sinu langsung pulang meninggalkan Desa Sebatok. Di tengah perjalanan dia berpikir untuk mendapatkan wilayah yang sama rata.

Keesokan harinya pergi lag! ke Desa Sebatok untuk menemui Datuk Siba. Sesampainya di rumah Datuk Siba, Ki Sinu langsung mengusulkan pendapat untuk menyatukan daerah mereka menjadi satu. Tetapi Datuk Siba menolak dapat tersebut. Datuk Siba langsung menyuruh Ki Sinu pulang. Ki Sinu pulang dengan perasaan marah. Di rumahnya, sepulang dari Desa Sebatok dia langsung memikirkan cara untuk merebut utuh wilayah dekat muara tersebut. Ternyata di saat kepulangan Ki Sinu, Datuk Siba juga memikirkan juga ingin merebut Desa Sinujuh.

Di suatu malam, seluruh warga Desa Sebatok menyerang Desa Sinuju. Tetapi di tengah perjalalan, mereka bertemu warga dari Desa Sinujuh yang juga ingin menyerang Desa Sebatok. Tidak sampai di desa, peperangan di mulai di antara Desa Sebatok dan Sinujuh. Peperangan itu tidak dapat dielakkan. Satu per satu warga desa Sebatok dan Sinujuh tewas. Warga dari kedua desa itu yang tersisa tidak lebih dari setengah warga dari warga desa awal.

Perbincangan pemimpin dari kedua daerah terjadi saat peperangan. Ki Sinu berkata, �Datuk, dari pada berperang yang dapat memakan banyak korban dalam waktu yang lama, lebih baik kita selesaikan dengan cara lain.�

�Tapi dengan cara yang bagaimana?� Tanya Datuk Siba.

�Lebih baik kita berlomba membuat gunung di wilayah dekat muara besar itu. Saya akan membuat di sebelah selatan muara dan kamu membuat di sebelah utara muara,� jawab Ki Sinu.

�Baiklah kalau begitu cara yang terbaik,� ujar Datuk Siba. Lomba tersebut selama satu bulan. Barang siapa gunungnya lebih tinggi, dia yang menang dan berhak memiliki daerah tersebut.

Dua hari berlalu, lomba membuat gunung pun dimulai. Dengan sangat gigih seluruh warga Desa Sebatok mengumpulkan batu dan tanah. Begitu pula dengan warga Desa Sinujuh.

Setelah dua minggu perlombaan, gunung-gunung yang mereka buat pun sudah tinggi. Gunung keduanya kurang lebih sama tinggi. Minggu ketiga tiba, ketinggian gunung mereka masih sama. Ki Sinu berpikir di dalam hati saat bekerja, kalau seperti ini kedudukan dan ketinggian gunung milikku dengan gunung miliknya akan sama. Oleh karena itu, saya harus bertindak dan berbuat sesuatu. Setelah berpikir panjang, ia menemukan sebuah ide.

Hari esok ditunggu oleh Ki Sinu. Setibanya di hari esok, ia langsung memerintahkan warga desanya membentangkan tinggi kain yang berwarna kehitam-hitaman agar tampak lebih tinggi. Selesailah tugas warga Desa Sinujuh dan waktu tinggal dua hari saja. Warga dari Sebatok masih bekerja keras. Salah seorang dari warga Desa Sebatok melihat gunung dari warga Desa Sinujuh sudah tinggi. Dia bernama Singgih. Dia langsung melaporkannya kepada pimpinannya yaitu Datuk Siba.

�Datuk, datuk, saya tadi tidak sengaja melihat gunung Desa Sinujuh, tampaknya sudah lebih tinggi dari pada gunung kita. Sedangkan waktunya tinggal dua hari lagi.� Seru Singgih kepada Datuk Siba.

�Oh, sudah tidak ada harapan lagi,� ujar Datuk Siba. Mereka pun menyerah dan tidak menyelesaikan gunungnya.

Karena kalah, Datuk Siba merasa malu karena gunungnya setengah jadi. Dia pun langsung menggelamkan gunung miliknya tersebut di muara besar dekat tempat ia membuat gunung. Datok Siba sangat kecewa, hingga suatu ketika ia mengetahui kebohongan dari gunung Ki Sinu.

Ternyata yang tinggi hanyalah kain hijau kehitam-hitaman yang menyerupai pohon-pohon rimbun. Datuk Siba sangat marah. Dia lalu bersumpah kepada Desa Sinujuh untuk hilang selama-lamanya setelah ia meninggal dunia.

Dua tahun berlalu, Desa Sinujuh bertempat di dekat muara yang dibuat gunung oleh warga Sinujuh tersebut. Di saat itu juga, Datuk Siba jatuh sakit dan tak lama kemudian ia meninggalkan dunia. Sesuai dengan sumpahnya, Desa Sinujuh hilang. Tetapi gunung yang dibuat warga Desa Sinujuh tidak hilang karena di dalam sumpah Datuk Siba tidak tercantum untuk menghilangkan gunung yang dibuat warga Desa Sinujuh. Karena gunung itu dibuat oleh warga Desa Sinujuh, hingga saat ini gunung itu dinamakan Gunung Sinujuh. Kesimpulannya adalah nama Sinujuh diambil dari nama sebuah desa yang membuat gunung tersebut.

Nah, demikianlah kisah Asal Usul Gunung Senujuh dan mitos yang mengelilinginya. Semoga dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran untuk kehidupan kita yang lebih baik.


Catatan:
Referensi penulisan artikel ini bersumber dari cerita lisan orang tua dan untuk memperkuat materi, penulis juga mengutip tulisan inti dari buku yang berjudul "Kunag-Kunang : Antologi Cerita Rakyat Selakau Timur" Edisi cetakan pertama, Oktober 2016. Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Selasa, 14 Februari 2017

LAMINGTON: Destinasi Wisata Kuliner Baru di Kota Pontianak

SampanPesisir - Ketika sedang melakukan perjalanan wisata ke Kota Pontianak, tentunya kita penasaran dan ingin tahu apa saja destinasi wisata yang disuguhkan kota khatulistiwa ini. Beragam destinasi wisata yang bisa dikunjungi oleh wisatawan, berikut diantanya adalah wisata sejarahnya yang kental, wisata sungai kapuas, wisata religi, hingga wisata kulinernya. Nah, berbicara mengenai wisata kuliner di Pontianak, mulai dari warung sederhana sampai restoran bintang 4, foodie friends pasti sudah mengenal Bubur Pedas, Sotong Pangkong, hingga Jeruk Pontianak. 

Glenn Alinskie (owner LAMINGTON Pontianak) bersama Komunitas Food Blogger Pontianak

Kota Pontianak adalah salah satu tempat tujuan wisata kuliner yang paling beragam di Indonesia. Kabar gembira bagi Anda para pecinta kuliner, awal tahun 2017 sebuah tempat oleh-oleh kuliner hadir ditengah-tengah masyarakat Pontianak. Harga Kaki Lima Rasa Bintang Lima, menggambarkan LAMINGTON Oleh-Oleh Nye Pontianak.

Kue Lamington mungkin terdengar asing bagi masyarakat Pontianak. Sesuai namanya, kue Lamington berasal dari luar negeri yang sangat terkenal dan menjadi ikon di Australia. Sekarang, Lamington hadir di Kota Pontianak dan menjadi icon baru dengan tag line "oleh-oleh nye Pontianak". Glenn Alinskie selaku PAK BOS atau owner LAMINGTON Pontianak mengemasnya dengan citarasa khas lokal menjadikannya oleh-oleh khas baru di Kota Pontianak.

Kue Lamington Oleh-oleh nye Pontianak banyak variannya seperi keju, cokelat, durian, pisang cokelat, caramel, green tea, nanas dan red velvet. Kue Laminton sangat dijaga kehigienisannya dan sudah berlabel halal. Selain itu, bahan-bahannya aman, sehat, bersih, dan dibuat oleh tenaga profesional yang sudah dilatih dengan baik untuk tetap menjaga kualitas citarasa kue lamington.

Menikmati lembutnya kue lamington adalah salah satu kenikmatan tersendiri. Tekstur kuenya yang lembut dan diisi krim kemudian dibalut dengan cokelat serta taburan kelapa kering yang gurih sudah pasti menjadi pilihan yang tepat untuk bingkisan oleh-oleh saat pulang dari perjalanan wisata.

Salah satu varian keju Lamington Cake


Gimana? Terlihat sangat lezat, kan? Yuk, siapkan perutmu untuk kelezatan kuliner dari Negeri Kanguru citarasa khas lokal ini di samping kantor KPU di Jl. A. Yani No.116 Pontianak.

Tambahan informasi, tanggal 11 Februari 2017 lalu, Pak Bos Glenn Alinskie ownernya LAMINGTON Pontianak menggelar Private Ghatering di OZ Cafe yang dihadiri oleh Food Blogger, Selebgram, Media Lokal, dan nitizen. Semua tamu undangan termasuk misterpangalayo.com berkesempatan menjadi yang pertama mencicipi kue lamington. Setelah menggelar private gathering, dilanjutkan Meet & Great di Ayani Mega Mall Pontianak.

#LamingtonPontianak

Jika Anda ingin mencari tempat wisata kuliner di Pontianak, tak ada salahnya Anda mencoba LAMINGTON PONTIANAK sebagai rujukan destinasi wisata oleh-oleh kuliner yang akan Anda kunjungi. 



CATAT !!! Untuk berkunjung ke outlet LAMINGTON Pontianak, Opening Hour-nya dibagi menjadi 3 sesi yaitu :
  • Jam 7 Pagi, 
  • Jam 1 Siang,  
  • Jam 7 Malam. 

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *