Blog untuk Pendidikan

Tampilkan postingan dengan label SAMBAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAMBAS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Oktober 2017

BRizey Printing: Percetakan Banner/ Spanduk/ Baliho Termurah di Pontianak

Foto Binardi Complaint.


SampanPesisir - Percetakan yang termurah di Pontianak ini sangat cocok untuk Anda yang ingin mencetak banner/baliho/spanduk, karena di tempat ini ditawarkan harga murah. Tidak hanya percetakan banner/baliho/spanduk saja yang tersedia, toko ini menyediakan juga jasa sablon kaos satuan/lusinan, cetak stiker murah, buat stempel laser dan lain-lain.

Harga cetak Banner/ Baliho/ Spanduk hanya:
Rp 20.000,- /m2

Bagi Anda yang berminat silakan hubungi No Hp/WA 089699918466
Alamat di Jalan A.Yani komplek Politeknik Negeri Pontianak atau di Jalan Paris 2, Gg Selasih Pontianak

Jumat, 03 Maret 2017

Pusaka Leluhur Sambas Yang Terancam Hilang Ditelan Zaman

SampanPesisir - Parang Tangkin (Tangkitn) atau biasa disebut Mandau Tangkitn adalah senjata tradisional yang terbuat dari besi yang bagian hulunya melengkung, pada ujungnya bertampuk kuningan dan tidak memiliki gagang layaknya sebilah mandau yang biasa terbuat dari kayu atau tulang. Parang ini sekilas panjangnya hampir sama dengan mandau, namun bentuknya sangat berbeda dengan mandau. 

Gagang pada parang ini hanya di lilitkan kain merah yang melambangkan keberanian dan kebanyakan di pangkal bawah pegangan tersebut terdapat cepu yang terbuat dari tembaga yang dipercaya mempunyai kekuatan magis. Sarung tangkitn dibuat dari kayu tipis dan pipih yang dililit dengan gelang rotan dan diperkuat dengan plat kuningan. 


Pada dasarnya, oleh leluhur Sambas pada zaman dahulu, parang tangkin hanya dipergunakan untuk tradisi mengayau (berburu kepala) atau digunakan sebagai senjata pertahanan diri dari sasaran kayau suku tetangga (Iban) yang mengayau ke wilayah adatnya. 

Pada masa lalu, hampir semua laki-laki di Kalimantan pada umumnya harus melakukan perburuan kepala untuk bermacam-macam alasan, karena setiap suku memiliki alasan yang berbeda-beda. Seperti orang Iban yang berbatasan langsung wilayah adat dengan pribumi Sambas (Salako dan Kanayatn), tradisi mengayau menggunakan Mandau dilakukan anak laki-laki iban pada usia 10 tahun yang mengharuskannya bisa mendapatkan setidaknya 1 kepala manusia, karena ini akan menunjukan bahwa anak laki-laki ini sudah memasuki usia dewasa dan dapat menikah. Sedangkan untuk pribumi Sambas mempertahankan diri mereka dari korban mengayau masyarakat Iban, menggunakan parang tangkin sebagai senjata pertahanan.

Sebelum kedatangan agama SAMAWI (Nasrani dan Islam) ke tanah Sambas, kepercayaan masyarakat pribumi Sambas adalah kepercayaan tradisional Kaharingan. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau disebut dengan Ranying / Jubata, yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat pribumi Sambas dan Kalimantan pada umumnya. Tempat ibadahnya dinamakan Balai Basarah. Kitab suci agama mereka adalah Panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya.

Parang tangkin tanpa kain merah

Pasca berdirinya Kesultanan Sambas di Lubuk Madung, pribumi Sambas banyak yang mengalami proses Islamisasi (masuk Melayu) ditambah pendatang dari luar Sambas yang notebane-nya untuk berdagang. Akhirnya budaya Melayu semakin banyak diadopsi dan mengaburkan budaya lama yang dianggap lawas untuk ditinggalkan, meskipun beberapa adat masih dipertahankan seperti tepung tawar, tumpang 1000, dan muang rateh (muakng rate). Sedangkan untuk saudara mereka yang masih mempertahankan agama sebelumnya dan tidak menerima Islam (non-Muslim atau non-Melayu), oleh mereka disebut Urang Daya (urang daya = orang darat).

Terpisahnya dua keluarga tersebut, makna dari penggunaan parang tangkin pun berubah. Untuk kelompok masyarakat yang menyebut mereka dengan Melayu Sambas, parang tangkin dipergunakan untuk berburu binatang atau pergi berladang (be ume / bahuma). Sedangkan, untuk urang Daya (Salako dan Kanayatn sekarang) masih menggunakan parang tangkin untuk mengayau.

Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi), tradisi mengayau semakin ditinggalkan oleh urang Daya ditambah semakin banyak dari mereka yang memeluk kepercayaan Nasrani (Kristen dan Katolik). Maka, makna penggunaan parang tangkin pun sudah tidak dipergunakan untuk membunuh dan memburu kepala musuh, melainkan untuk berburu binatang atau pergi berladang.

gagang parang tangkitn di balut kain merah

Dewasa ini, keberadaan parang tangkin pada masyarakat Sambas sudah terancam hilang keberadaannya. Parang tangkin hanya dapat dijumpai pada keluarga Dayak Salako dan Kanayatn di Kabupaten Sambas, serta tidak banyak berada pada masyarakat Melayu. Di wilayah Sambas, parang tangkin terbagi menjadi dua varian yaitu tangkin laki dan tangkin bini. Bentuk tangkin laki lebih panjang dari tangkin bini.

Sebagai bagian dari pusaka dan kebudayaan leluhur Sambas, parang tangkin atau mandau tangkitn diabadikan menjadi bagian dari Lambang Daerah Kabupaten Sambas bersama dengan tombak yang juga merupakan salah satu senjata perang kerajaan Sambas pada zaman dahulu. 

Selain di Kabupaten Sambas, parang tangkin juga banyak dijumpai pada masyarakat Salako dan Kanayatn lainnya yang tersebar di sebagian wilayah Sarawak (Malaysia), Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Mempawah, Kota Singkawang, dan Kota Pontianak.

Sabtu, 18 Februari 2017

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang, Surga yang Tersembunyi di Sambas

SampanPesisir - Sambas merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, terletak di Pulau Kalimantan, atau dikelilingi oleh dua kabupaten/kota tetangga yaitu Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang, serta berbatasan laut dengan Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. Wilayah kabupaten Sambas berupa dataran rendah dan dataran tinggi, serta banyak terdapat sungai-sungai besar didalamnya seperti : Sungai Sambas Besar, Sungai Paloh, Sungai Selakau dan Sungai Sebangkau.

Tak heran, Kabupaten Sambas punya banyak tempat wisata menarik dan belum tentu banyak orang yang mengetahuinya. Karena itu, kali ini penulis akan berbagi informasi wisata alam yang mungkin belum diketahui oleh masyarakat Kalimantan Barat bahkan warga Kabupaten Sambas sendiri. 

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang - Kabupaten Sambas

Sebagai salah satu kabupaten yang banyak kekayaan alam baik di darat maupun di laut, serta tempat wisata alam yang unik dan salah satunya adalah Taman Wisata Alam (Nature Park) Gunung Asuansang yang secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar. Keadaan topografi secara umum adalah datar sampai berat, ketinggian tempat antara 0 sampai dengan 600 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini termasuk dalam wilayah pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah III yang berkedudukan di Kota Singkawang. Letak geografis kawasan adalah 01o4625 - 01o52'07" LU dan 109o2611 - 109o31'12" BT.

Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Asuansang juga dikelilingi oleh gunung hingga pegunungan, seperti :
     
  • Tebelonganso - 9 km sebelah tenggara 
  • Gunung Puting - 11 km sebelah timur laut 
  • Gunung Kejatau - 12 km sebelah timur laut 
  • Gunung Jeramat - 12 km sebelah timur laut 
  • Gunong Penampian Ngantam - 13 km timur 
  • Gunung Cermai - 14 km sebelah timur laut 
  • Munggu Jernang - 14 km sebelah timur laut 
     

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang adalah kawasan hutan konservasi untuk kegiatan pariwisata dan rekreasi. Kegiatan pariwisata yang dilaksanakan di hutan wisata alam tidak boleh bertentangan dengan prinsip konservasi dan perlindungan alam. Karena pada hakikatnya taman wisata alam masuk dalam kawasan pelestarian alam. Gunung Asuansang mempunyai tipe ekosistem hutan rawa gambut, hutan hujan pegunungan rendah, dan hutan mangrove. 

Berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 pasal 31 disebutkan bahwa di dalam kawasan Pelestarian Alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budiaya, budaya dan wisata alam.

Selain untuk kegiatan pariwisata, taman wisata alam mempunyai fungsi melindungi sistem penyangga kehidupan bagi daerah sekitarnya. Bisa juga menjadi tempat pendidikan alam dan pengembangan ilmu pengetahuan. Segala pemanfaatan sumber daya hayati di areal ini harus dimanfaatkan secara lestari.

Gunung Asuansang ditunjuk dan ditetapkan sebagai Natural Park berdasarkan RTRWP Kalimantan Barat Tahun 1995 (Zonasi kawasan sebagai Taman Wisata Alam seluas 4.464 ha), SK Menhutbun RI No. 259/Kpts-II/2000 Tanggal 23 Agustus 2000 (Penunjukan sebagai Taman Wisata Alam seluas 4.464 ha).

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang memiliki potensi flora antara lain famili Jambu-jambuan (Myrtaceae) yang terdiri dari genus Eugenia dan Syzigium, famili Lauraceae terdiri dari genus Litsea yang mencapai belasan species dan Adiandra. Famili Meranti-merantian (Dipterocapaceae) yang terdiri 4 genus yaitu Dipterocarpus, Dryobalanops, Shorea dan Hopea dengan 20 species, famili Sapotaceae yaitu Nyatoh (Palaquium spp) dan Euphorbiaceae yang terdiri atas genus Baccaurea spp, Lansium spp. (sumber data: skw3bksdakalbar)

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang memiliki potensi fauna antara lain onyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemestrina), Lutung (Presbitys sp), Rusa (Cervus unicolor), Binturong (Arctitis binturong) serta Babi hutan (Sus barbatus), Trenggiling (Manis javanica) dan Kelempiau (Hylobates muellerii), Ular Sanca (Python molurus bivittatus), Ular Punai (Trimeresurus wagleri), Ular Lidi, Ular Hijau (Ahaetula nasuta) dan lain sebagainya. (sumber data: skw3bksdakalbar)

Uniknya di TWA ini terdapat Punai Imbuk (Chalcohap indica) yang merupakan catatan jenis baru (New Record) untuk Kalimantan Barat. Namun fasilitas seperti kolam renang, arena bermain anak, arena perkemahan, shelter-shelter, ruang informasi serta fasilitas pendukung lainnya masih belum tersedia. Kawasan ini masih natural dan belum ada penunjang wisata yang memadai, namun kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan karena lokasi yang strategis antara Kecamatan Paloh dan Kecamatan Sajingan Besar, serta banyak tempat wisata alam yang banyak dikunjungi masyarakat seperti Riam Kaliau di Sajingan Besar dan Pantai Temajuk di Paloh, serta banyak destinasi wisata lainnya di sekitar lokasi TWA.

Tapi kawasan yang masih natural seperti TWA Gunung Asuansang, rekomendasi untuk naked traveler yang ingin melakukan kegiatan wisata di TWA Gunung Asuansang seperti camping hingga hiking. Tidak dianjurkan pergi sendiri dan diperlukan mental yang besar untuk melakukan perjalanan naked traveling.

Di samping panorama alam yang indah Taman Wisata Alam Gunung Asuansang memiliki hawa yang sejuk dan segar. Tidak jauh dari lokasi TWA ini juga terdapat Taman wisata alam lainnya disekitar kawasan Gunung Asuansang, seperti :
  • Taman Wisata Alam Dugan dengan luas 1.142 Ha, ekosistem hutan rawa gambut dan hutan hujan pegunungan rendah. 
  • Taman Wisata Alam Melintang dengan luas 17.640 Ha, ekosistem hutan rawa gambut dan hutan hujan pegunungan rendah. 
  • Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing dengan luas 810 Ha, ekosistem hutan pantai dan hutan mangrove.

Sudah sepantasnya kawasan ini menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Sambas. Tinggal dikelola dengan serius oleh pemerintah kabupaten Sambas dan dibangun sarana pariwisata alam di Taman Wisata Alam serta untuk mendorong para pihak/steakholder dalam rangka Sinergitas Pengelolaan dan Pembangunan Sarana Pariwisata Alam di Kawasan Pelestarian Alam (KPA) dan di Luar Kawasan Taman Wisata Alam. 

Selain itu, partisipasi masyarakat sadar wisata untuk ikut andil menjaga kelestarian Taman Wisata Alam Gunung Asuansang dan mempromosikan objek wisata ini kepada masyarakat luas. Beragamnya potensi yang dimiliki Gunung Asuansang menjadikan surga bagi flora dan fauna, serta surga bagi pecinta alam.

Sabtu, 05 November 2016

Asal Usul Suku Bangsa Melayu Sambas

SampanPesisir - Suku Sambas adalah suku bangsa asli Kalimantan yang berbudaya Melayu sehingga penduduk setempat menyebutnya suku Melayu Sambas. Suku Melayu Sambas menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan Kabupaten Mempawah, serta sebagian kecil tersebar di Provinsi Kepulauan Riau dan Sarawak (Malaysia).
Sumber Gambar : instagram/dewisartikkaa

Berdasarkan pola migrasi di masa lampau, suku Sambas masuk dalam kategori Melayu Tua (Proto Melayu), sama halnya dengan suku asli Kalimantan lainnya seperti suku Dayak, suku Melayu Kalimantan Barat, suku Banjar, suku Kutai, suku Paser, suku Berau dan suku Tidung.

Berdasarkan ilmu linguistik, suku Melayu Sambas masuk dalam rumpun suku Dayak, khususnya Dayak Melayik. Dayak Melayik dituturkan oleh 3 (tiga) suku Dayak yaitu: Dayak Meratus/Bukit, Dayak Iban dan Dayak Kanayatn. Suku bangsa asli Kalimantan lainnya yang berbudaya Melayu seperti suku Banjar, suku Berau, suku Kendayan Brunei dan Senganan juga masuk dalam kategori Dayak Melayik.

Dewasa ini, suku bangsa asli Kalimantan berbudaya Melayu yang telah bergabung dalam suku Dayak adalah suku Kutai, suku Tidung, suku Bulungan dan suku Paser. Bernd Notherfer dalam kajiannya menganalisis isolek, dialek para penutur bahasa dengan meminjam Adelaar (1992) yang disebut Bahasa Melayik Purba adalah turunan dari bahasa Austronesia seperti dialek Iban, Sambas, Sarawak, Brunei, Berau, Kutai, Banjar, Ketapang, Bangka, Minangkabau, Jambi, Melayu Baku dan Betawi (Jakarta).

Jauh sebelum Kesultanan Sambas berdiri, nama Sambas sudah dikenal sejak zaman pemerintahan Ratu Saboa Tangan Pangeran Adipati Sambas atau disebut dengan Panembahan Sambas yang bercorak Hindu. Pusat pemerintahan Panembahan Sambas berpusat di Kota Lama (Kecamatan Galing sekarang). Hal ini juga dibuktikan dalam Kakawin Nagarakretagama atau juga disebut dengan nama Kakawin Desawarnana yang ditulis tahun 1365 Masehi menyebutkan Sambas sebagai salah satu negeri di provinsi Tanjungnagara (beribukota di Tanjungpura) yang telah ditaklukan Kerajaan Majapahit oleh Patih Gajah Mada.

Penamaan Melayu Sambas, muncul pada dinasti Kesultanan Sambas yang bercorak Islam. Sebelum kedatangan Islam di Sambas, suku Dayak Kanayatn dan suku Dayak Salako telah mendiami aliran Sungai Selakau dan Sungai Sambas beserta cabangnya. Menurut Simon Takdir (2006), masyarakat asli Kalimantan yang masuk Islam di daerah Selindung, Selakau, Tabing Daya, Galing, Pemangkat, sekitaran Gunung Senujuh, menyebut dirinya Melayu Sambas. Keyakinan ini berasal dari temuan bahwa sejumlah orang generasi tua didaerah ini walaupun sudah beragama Islam tetap menyebut bahwa kakek dan nenek mereka dulu adalah orang Darat (Dayak), bahkan ada yang mengatakan Ayah dan Ibu mereka adalah orang Darat (Dayak).

Melayu Sambas dianggap sebagai salah satu penduduk asli pulau Kalimantan. Suku ini bisa dikatakan suku Dayak yang berbudaya Melayu. Menurut Munawar (2005), suku Melayu di Kalimantan termasuk Sambas pada dasarnya terdiri dari Melayu asli yang berasal dari Sumatera dan Semenanjung Melaka dan orang-orang Dayak yang mengalami proses Islamisasi atau yang lebih disebut dengan Senganan. Namun persentase jumlah pendatang dari Sumatera atau Semenanjung Melaka sangat sedikit berbanding dengan pribumi Sambas yang pada awalnya didiami oleh orang Dayak (Salako dan Kanayatn yang kita kenal sekarang). Sekarang antara keduanya tidak lagi dapat dibedakan mana yang asli dan mana yang bukan.

Menurut Bakran Suni (2007), bahwa asal usul suku bangsa Melayu Sambas dapat dibagi ke dalam dua golongan, antara lain :
Berasal dari keturunan raja Kesultanan Sambas
Suku bangsa lain yang memeluk Islam dan berbahasa Sambas.

Jadi, kesimpulannya adalah asal usul Melayu Sambas tidak tunggal dan tidak berasaskan keturunan, namun berasaskan kepada orang Sambas yang beragama Islam dan berbahasa Sambas. Suku Sambas dan Islam itu ibarat sebuah koin, sisi depan dan sisi belakang yang tidak bisa terpisahkan.

Pakaian Pengantin Melayu Sambas || Sumber Gambar: instagram/noppy


Secara biologis, suku bangsa Melayu Sambas adalah penduduk asli Kalimantan yang pada periode awal mereka hidup sebagai manusia purba baik dalam kulturnya maupun kepercayaannya. Periode kedua, peradaban Melayu Sambas telah bercorak Hindu dan hampir semua kerajaan Melayu tunduk dibawah pengaruh kekuasaan Majapahit.

Periode kedua berlangsung hingga abad ke-14 M. Sebagaimana kerajaan lain di Kalimantan Barat, wujud dominasi kerajaan Majapahit di kerajaan Panembahan Sambas adalah dalam bentuk keterlibatan langsung anak keturunan penguasa Majapahit di kerajaan ini.

Periode ketiga adalah peradaban Melayu bercorak Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Sambas. Setelah keruntuhan Panembahan Sambas, muncullah Kesultanan Sambas dimana Kesultanan Sambas ini berbeda keturunan (Dinasti / Nasab) dengan Panembahan Sambas.

Proses dakwah Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Sambas berdiri, lebih banyak dilakukan dengan pendekatan pembauran, baik dalam bentuk perkawinan maupun dalam bentuk asimilasi antar adat setempat dan agama/kepercayaan masyarakat setempat dengan ajaran Islam. Dengan demikian ciri utama kehidupan keagamaan masyarakat Melayu Sambas pada masa berikutnya ditopang oleh dua penyangga tersebut, yaitu: ajaran Islam dan kepercayaan/budaya setempat.

Pakaian Adat Melayu Sambas || Sumber Gambar: instagram/_cecedinipenk


Ditinjau dari perjalanan sejarahnya, identitas suku bangsa Melayu Sambas yang terlihat sampai saat ini merupakan hasil interaksi dan akulturasi beberapa kebudayaan besar yang pernah hadir dan memainkan peranannya di Sambas dalam jangka waktu yang cukup lama.

Beberapa kebudayaan besar yang memiliki andil dalam pembentukan identitas Melayu Sambas adalah sebagai berikut:

Pertama: Kebudayaan Pagaruyung, Mingkabau. Diantara komunitas pendatang yang pertama datang ke Sambas adalah para perantau dari Pagaruyung. Pendatang yang terkenal dengan tradisi merantau dan berlayarnya ini sangat berpengaruh kepada semangat merantau dan berlayar pada orang Melayu Sambas sejak jaman dahulu.

Kedua: Kebudayaan Jawa. Budaya ini dipastikan ada pengaruhnya dalam pembentukan identitas Melayu Sambas. Sebagian besar sistem religi dan kepercayaan (seperti kepercayaan kepada makhluk halus semacam hantu), pola dan sikap hidup (seperti sifat sabar dan mengalah) serta tradisi tertentu (seperti bepapas) mirip dengan budaya Jawa. Pengaruh ini terjadi sebagai akibat dari perjalanan sejarah Sambas yang dalam waktu yang cukup lama, sejak pertengahan abad ke-14, kekuasaan Jawa telah masuk ke dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Sambas. Bahkan dapat dikatakan masa awal perpolitikan dan pemerintahan di Sambas adalah dimulai dan berada di bawah pengaruh langsung kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu/Budha.

Ketiga: Kebudayaan Melayu Brunei dan Melaka. Kebudayaan ini bercorak Islam dan terpusat di Istana. Melayu Sambas pernah besar dengan kesultanannya yang gemilang lebih dari tiga abad (1631-1943). Sejarah kekuasaan di Sambas merupakan simbolisasi kebanggaan yang melegenda, khususnya di Kalimantan Barat kesultanan Sambas adalah satu-satunya kesultanan tua yang masih dapat disaksikan peninggalannya secara utuh sampai dengan saat ini.

Keempat: Kebudayaan Bugis. Eksistensi orang Bugis di Sambas dimulai dengan aktivitas perdagangan mereka ke Sambas dan disediakannya areal pemberhentian mereka di sekitar pelabuhan Sambas yang disebut dengan Kampung Bugis. Di antara kebudayaan Bugis yang diserap oleh Melayu Sambas adalah bahasa, terutama terlihat pada penamaan atau sebutan tertentu dengan tambahan kata "ng" seperti main = maing, masin = masing, kain = kaing.
Songket Sambas || Sumber Gambar: instagram/eyasongketsambas


Menurut Husna Asmara (2002), Menyikapi Tekad Mufakat Masyarakat Kalimantan, Pengertian Melayu Sambas ini merujuk kepada eksistensi suku bangsa Melayu yang ada di Sambas sejak berdirinya Kesultanan Sambas (1040H/1631M) sampai dengan sekarang ini. Tanpa menyertakan Melayu Tua seperti yang dikonsepsikan oleh Muhammad Yusoff Hasyim berkenaan dengan Melayu Zaman Pra-sejarah (Zaman Batu dan Zaman Logam) dan Melayu Zaman Pengaruh Hindu dan Budha (1992), serta yang dikonsepsikan oleh Prof. James T. Collins tentang The Prehistory of Malay dan Early Malay (1998) sehingga olehnya digagas perluasan makna Melayu dengan konsep Alam Melayu (Yusriadi, 2003).


Apabila kemudian kita memadukan berbagai data-data tersebut di atas dengan etnik asli yang berdiam di wilayah yang sama sebagaimana yang pernah di rilis oleh ahli-ahli antropologi, maka kemungkinan besar sebagian besar suku bangsa Melayu Sambas berasal dari suku bangsa yang sekarang ini disebut sebagai Dayak Selako, Dayak Bakati/Lara dan etnik Borneo asli lainnya.
Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sambas

https://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Nagarakretagama

http://kuliahmultikultur.blogspot.co.id/2012/03/bab-iv-mengenal-kultur-sukubangsa-di.html

http://borneonews-borneoku.blogspot.co.id/2012/03/suku-melayu-kalimantan-barat-suku.html

Bakran Suni, et all, 2007. Sejarah Melayu Sambas, Lembaga penelitian Universitas Tanjungpura Pontianak.

Takdir, Simon. 2003. Suku Dayak Selako, Belum Publikasi

dan sumber refernsi lainnya.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Asal Usul Dayak Selakau (Sambas) di Binua Bantanan

Sampan Pesisir - Cerita rakyat yang berkembang di Bumi Sambas banyak diturunkan secara lisan oleh orang tua-tua di Sambas. Dipelihara oleh masyarakat Sambas untuk memberikan pendidikan moral kepada anak-anak pada zaman dahulu. Cerita rakyat yang berkembang di Sambas memiliki ciri khas tersendiri berupa legenda asal usul dan nama tempat, danau, gunung, atau situs sejarah dan benda sejarah lainnya.

Asal Usul Dayak Selakau di Binua Bantanan

Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan sebuah cerita rakyat dari daerah Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas. Sebuah cerita yang telah hidup dan berkembang dalam komunitas Dayak Salako di Sajingan Besar dan Malaysia Timur (Kampung Biawak dan Kampung Sebiris).
Sebelum saya mulai, perlu di garisbawahi disini, Dayak Kanayatn yang saya maksud disini adalah komunitas Dayak yang mendiami kawasan Binua Bantanan dan sekitarnya yang berbahasa bakati', banyadu, bainyam dan dialek serumpun lainnya. Pengelompokan ini menurut orang tua-tua dahulu dan menurut orang yang berbahasa bakati' sendiri menyebut mereka Dayak Kanayatn (tentu ada cerita lain lagi di samping itu).

Namun proses pengambilan nama oleh keturunan Dayak Salako yang tersebar di kawasan Kabupaten Pontianak (kabupaten induk/kabupaten yang dulu) terhadap nama Kanayatn barangkali berpatokan dari buku karangan Missionaris (bukan Antropolog), Pastor Donatus Dunselman Ofm Cap. yang berjudul Bijdrage Tot De Kennis Van De Taal En Adat Der Kendajan-Dajaks Van West-Borneo.
Tanpa mengorek informasi lebih jauh lagi, saya lebih terfokus kepada cerita rakyat yang akan diceritakan dibawah ini. Dengan adanya cerita rakyat ini, bisa menambah dan memperkaya khasanah budaya tradisional masyarakat Sambas. Cerita ini diceritakan oleh sdr. Naoci, orang Salako yang lahir di Bagak dan lama tinggal di Biawak. Dan pernah di post oleh Simon Takdir.


Zaman dahulu, jauh sebelum digelarnya rapat damai suku Dayak atau yang lebih dikenal dengan Tumbang Anoi. Tradisi "mengayau" atau memenggal kepala manusia (head-hunting) masih dilakukan oleh sub-sub suku Dayak yang ada di Pulau Kalimantan. Sesama suku Dayak pun saling bermusuhan, memenggal dan membawa pulang kepala musuh.

Hal ini pun terjadi di kawasan perbatasan Kabupaten Sambas dan Sarawak yaitu kawasan Binua Bantanan. Pada masa itu, kawasan tersebut telah didiami oleh komunitas Dayak Kanayatn (mereka yang berbahasa bakati', banyadu, bainyam dan dialek serumpun lainnya). Musuh terbesar dari komunitas ini adalah suku Dayak Saribas yang berasal dari daerah Batang Lupar, Sarawak.

Dayak Kanayatn yang berada di Binua Bantanan pun menjadi sasaran kayo orang-orang Saribas. Meraka (dayak Saribas) sering datang ke Rumah Bantang (rumah panjang/rumah radakng/rumah betang) orang Kanayatn, mereka menggarukkan tombak mereka dari bawah lantai bantang. Hal ini dikarenakan tangga bantang sudah dinaikkan ke atas untuk menghindari teror dari orang Saribas.

Orang Kanayatn pun tidak tahan dengan teror yang selalu mereka terima dari orang Saribas. Banyak warga bantang yang menjadi korban kayo dan anak gadis dari kepala burung bantang pun dibawa oleh orang-orang Saribas. Panglima yang memimpin komunitas Dayak Saribas bernama Pak Jopi.

Dayak Salako
Dayak Salako || Sumber Gambar : folksofdayak


Hingga suatu hari, orang-orang Kanayatn pun meminta bantuan kepada orang-orang Salako. Pada masa itu, komunitas Dayak Salako masih banyak mendiami kawasan Selakau Tua, Pelanjau, Sarinokng dan kearah timur dari Kecamatan Selakau Timur sekarang.

Orang Salako apabila pergi bakayo tidak pernah beramai-ramai (maro), setidaknya mereka hanya tiga orang. Atas permintaan dari orang Kanayatn, orang Salako mengutus tiga orang warganya yang bernama Nek Keto, Nek Antoros dan Nek Padan.

Alhasil mereka bertiga bisa membunuh Panglima orang Saribas yang bernama Pak Jopi, namun mereka bertiga tidak mampu menghadapi orang-orang Saribas yang jumlahnya tidak sedikit. Akhirnya, mereka bertiga pun dibantu oleh Nek Nibo'.

Nek Nibo' sudah lama menyimpan rasa dendam terhadap orang Saribas, karena istri dan anak kesayangannya telah menjadi korban mengayau dari orang-orang Saribas. Ketika itu, istri Nek Nibo sedang asyik menyiangi padinya di ladang. Namun sekelompok orang-orang Saribas langsung memenggal kepala istrinya.

Dengan bantuan Nek Nibo' akhirnya orang-orang Saribas bisa dikalahkan dan mereka (Nek Keto, Nek Antoros dan Nek Padan) akhirnya pulang ke kampungnya. Sedangkan, Nek Nibo' mengalami stres berat karena istri dan anaknya sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Hal yang tidak terduga, Nek Nibo' minta dibunuh dengan tangkitnya sendiri kepada orang Saribas. Konon, Nek Nibo' tidak dapat dibunuh karena ada ilmu kebal kecuali dibunuh menggunakan tangkitnya sendiri. Hingga kini, kepala Nek Nibo' masih disimpan di salah satu kampung di daerah orang Saribas, Sarawak.

Orang Salako telah membantu orang Kanayatn tanpa pamrih. Namun, orang Kanayatn tetap bersikeras untuk membalas jasa mereka, karena mereka telah nyauk nyawo (menyelamatkan nyawa) orang Kanayatn. Orang Kanayatn sebantang pun mengadakan musyawarah.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyerahkan sebagian wilayah mereka kepada orang Salako, yaitu sebuah daerah yang kita kenal dengan daerah Binua Bantanan. Dewasa ini, Binua Bantanan terdiri dari Sajingan, Sunge Ano, Kuranyi, Tapokng/Ngole�, Tanyukng, Batu Itopm/Rogak, Sawoh, Sasak/Riopm, Nyalak / Sei Pohan, Galing, Batang Air, Sungai Baning, Asu� Asakng, termasuk di Lundu, Sarawak (terdiri dari Biawak, Mapangokng, Badaun, Sebiris, Sedaikng, Rukam, Sebiris, Sabako�, Paon, Sabaat, Tibaro, Poe).

Sejak peristiwa itu, sedikit demi sedikit orang Salako datang dan bermukim di daerah Binua Bantanan, sehingga terbentuklah kampung-kampung orang Salako sekarang ini. Apabila ditanya kepada orang tua-tua kampung tersebut, mereka masih ingat asal-usul keturunan mereka berasal dari Sarinokng, Selakau Timur.

Dewasa ini, orang-orang Kanayatn yang masih bertahan ada di kampung Aruk, Apikng, Si Baruang dan daerah Pasir Putih (Lundu, Sarawak).

Asal Usul Nama Kota Sambas

SampanPesisir - Kota Sambas adalah sebuah kota yang terletak paling utara provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini juga menjadi ibukota dari Kabupaten Sambas yang dulunya juga adalah pusat pemerintahan dari Kesultanan Sambas sejak tahun 1671 Masehi. Kota Sambas dilewati 3 sungai yaitu Sungai Sambas Kecil, Sungai Teberau dan Sungai Subah. Pertemuan dari ketiga sungai tersebut dikenal dengan Muara Ulakan.

Selain itu, letak geografis Kota Sambas berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Sambas. Sultan Muhammad Tajuddin I (cucu dari Sultan Sarawak Sultan Tengah) adalah orang pertama yang mendirikan kota Sambas sekarang yang mana sebelumnya ibukota Kesultanan Sambas terletak di Lubuk Madung pada tahun 1683 Masehi.

Keraton Kesultanan Sambas

Berikut adalah 7 (tujuh) teori yang saya sajikan untuk mengetahui Asal Usul Penamaan Kota Sambas yang wajib Anda ketahui dari beberapa perspektif :

Pertama,  menurut JU. Lontaan dalam bukunya "Sejarah, Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat" menyebutkan bahwa penamaan Sambas berawal dari peristiwa masa lampau yaitu suatu peristiwa perang dimana pasukan dari Kerajaan Inggris menyerang Kesultanan Sambas pada tahun 1812 Masehi. Ketika itu, daerah Sambas mayoritas di diami 3 (tiga) etnis besar yaitu Suku Melayu Sambas, Suku Dayak dan Suku Tionghoa, ketiga suku tersebut bersatu menghimpun kekuatan untuk mempertahankan Bumi Sambas dari Kerajaan Inggris. Alhasil, kemenangan memihak pada Kesultanan Sambas dan masyarakat Tionghoa memberikan nama medan pertempuran itu sebagai SAMBAS (Sam = tiga, Bas = bangsa/suku bangsa).

Dayak - Tionghoa - Melayu


Kedua, penamaan Sambas berawal dari ungkapan lain dari tiga serangkai kerajaan yang menjadi cikal bakal Kesultanan Sambas yaitu Kerajaan Sukadana, Kerajaan Ratu Sepudak (Sambas Hindu) dan Kerajaan Brunei Darussalam. Hal ini dikemukakan oleh Raden Muchsin Panji Anom Pangeran Temenggung Jaya Kusuma.


Ketiga, menurut cerita rakyat (folklor) melayu Sambas, asal muasal nama Sambas berasal dari pertemanan dua sahabat antara Syamsuddin (Melayu) dan Saribas (Dayak). Untuk mengenang persahabatan mereka, Syam dan Abbas akhirnya membuat perjanjian dengan melempar batu di Muara Ulakan. Selama batu masih berada di dasar sungai, maka persahabatan antara Dayak dan Melayu di Sambas akan selalu terjaga.


Keempat, secara linguistik, Sambas berasal dari bahasa Melayu Kuno yaitu "Sambat" yang mempunyai arti "bersambung menjadi satu" atau "berangkai". Letak istana Kesultanan Sambas berada di depan Muara Ulakan yang mana menjadi titik pertemuan 3 (tiga) sungai. Jadi, kata Sambas mempunyai arti tempat persambungan antara sungai-sungai (Poerwadarminta, 1950:99).


Kelima, ada juga yang menyebutkan bahwa nama Sambas berasal dari dua surah Al-Quran yaitu As Syam (matahari) dan Basmallah (dengan nama Allah). Dari kedua kata tersebut menjadi rujukan dari simbol di atas atap istana Kesultanan Sambas. Hal ini juga didasari karena pendiri Kesultanan Sambas yaitu Raden Sulaiman (putra pertama Sultan Serawak, Sultan Tengah) telah menganut agama Islam.


Keenam, masih dalam tinjauan bahasa, nama Sambas sejatinya sudah dipakai oleh pemerintahan Ratu Sepudak yang notebane-nya adalah kerajaan Sambas bercorak Hindu. Pada masa itu, Kota Lama sebagai ibukota pemerintahan Panembahan Sambas didirikan oleh bangsawan Majapahit yang melarikan diri dari tanah leluhurnya dan mendirikan sebuah kerajaan Hindu di Kota Lama (Kecamatan Galing sekarang). Karena sang pemimpin adalah bersuku bangsa Jawa, maka penamaan Sambas diambil dari bahasa Jawa kuno yaitu "SAMBA". Arti dari kata tersebut adalah bersuka ria atau menari, maksud lainnya adalah sebuah kerajaan yang makmur dan sentosa.


Ketujuh, Pabali Musa menyebutkan bahwa kata Sambas diambil dari kata "SUNGAI EMAS" (Si-Emas / Se-emas / S-emas). Emas dalam bahasa sehari-hari di Sambas dilafalkan dengan ucapan Ammas. Huruf S dari kata Sambas mungkin kata pinjaman dari kata si (the) atau se (satu) atau s adalah singkatan dari kata sungai. Apalagi daerah Sambas dikenal dengan sungai dan emasnya yang terkandung di Bumi Sambas. 

Bukti lainnya bisa kita lihat dari masa pemerintahan Kerajaan Sambas Hindu / Kerajaan Ratu Sepudak / Panembahan Sambas, gelar bangsawan pada masa itu memakai gelar MAS, seperti Raden Mas Ayu Bungsu (keturunan raja Sambas)

Dalam bahasa Melayu Sambas kata Mas (contohnya : mas kawin) adalah kependekan dari kata Ammas(emas). Dengan demikian nama Sambas mungkin bersal dari sebutan Si Ammas (si emas= =yang tersayang, yang terbagus), se Ammas (satu emas) atau S[ungai] Ammas (sungai emas),yang pada kemudian hari pengucapannya menjadi Sammas dan pada akhirnya Sambas dengan Kandungan makna : Sambas adalah tempat yang paling disukai, atau daerah yang sungai-sungainya banyak mengandung emas.
Masjid Jami' Sambas
Masjid Jami' Sambas

Jumat, 09 September 2016

Tradisi Buang Abu Pada Masyarakat Sambas yang Terancam Dimakan Zaman

SampanPesisir - Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan budaya, serta terdapat ratusan suku yang tersebar di bumi Indonesia. Suku Sambas (Melayu Sambas) adalah suku bangsa atau etnoreligius Muslim yang berbudaya melayu, berbahasa Melayu dan menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan sebagian kecil Kabupaten Mempawah - Kalimantan Barat. 

tradisi sambas, budaya sambas, adat dan istiadat sambas, adat sambas, buang abu, tradisi budaya buang abu, tradisi buang, budaya buang abu

Di Kabupaten Sambas, banyak tradisi dan budaya yang berkembang secara turun-temurun. Nenek moyang masyarakat Sambas sangat memegang teguh adat dan istiadat dari zaman Hindu hingga masuknya agama Islam di tengah masyarakat Sambas. Sayang, dari tahun ke tahun seiring dengan bertumbuhnya perkembangan gaya hidup dan teknologi, kebudayaan asli masyarakat Sambas terancam ditelan zaman. Salah satu tradisi yang sudah mulai terancam keberadaannya adalah Tradisi Buang Abu.

Tradisi Buang Abu adalah sebuah ritual "pensucian orang yang disunat / dikhitan" setelah 3 (tiga) hari sunatan. Dalam masyarakat Sambas, tradisi ini dilakukan dalam rangka syukuran telah beralihnya orang yang dikhitan / disunat dari anak-anak menuju jenjang remaja. Hal ini juga bertujuan untuk mempererat ikatan silaturahmi antar masyarakat dan juga melestarikan cara musyawarah.

Pada zaman dahulu, masyarakat Sambas melakukan ritual Tradisi Buang Abu setelah tiga hari sunatan / khitanan. Ritual ini dilakukan setelah melakukan penyunatan, orang yang telah dikhitan / disunat harus mendekatkan kemaluannya ke sebuah wadah yang berisikan ABU DAPUR (material yang umumnya berupa bubuk sisa pembakaran kayu). Hal ini dilakukan untuk menampung darah bekas melakukan khitan, karena orang dahulu berkhitan tidak memiliki alat yang maju seperti sekarang ini.

Apabila kondisi kemaluan orang yang disunat / dikhitan mengalami pendarahan, maka darah itu harus di masukkan ke dalam wadah yang berisi abu tersebut agar dapat menghilangkan aroma bau darah. Masyarakat Sambas percaya akan hal-hal yang berbau mistis, konon apabila darah diletakkan ke tempat yang sembarangan, maka aroma darah tersebut akan menyebar kemana-mana dan mengundang makhluk halus untuk mendatanginya. Jadi pada saat darah itu berhenti maka ABU tersebut akan di buang. Jadi itulah yang dinamakan BUANG ABU.

Dewasa ini, Tradisi Buang Abu telah berubah dan tidak lagi ada hubungannya dengan namanya sendiri. Beriring berkembangnya zaman, tradisi ini dimodifikasi sehingga yang kita temukan sekarang berbeda dengan tradisi buang abu yang dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu.

Tahapan-tahapan Ritual Tradisi Buang Abu Pada Masyarakat Sambas

1. NYARROK (nyaru'/saru')

Saru' / Saro' adalah salah satu kata dari bahasa Sambas yang berarti memanggil dan orang yang melakukan kegiatan ini disebut Nyarrok. Sehingga pengertian Nyarrok adalah orang yang bertugas mengundang atau mengajak orang-orang untuk menghadiri hajatan, biasanya dilakukan dengan mendatangi satu per satu rumah yang ingin di saru' (diundang).
sumber gambar : www.tanjungpinangpos.co.id
2. BEPAPAS (bapapas)

Dalam acara bepapas ini, pertama: digunakan tepung beras (kasai), langger dan dicampur dengan air tolak bala. Kemudian dimasukkan kedalam tempurung kelapa.

Kedua: daun enjuang (nyuang), daun imbali (moli) dan daun ribu diikat menjadi satu sebagai alat pemapas. Kemudian daun-daun tadi dicelupkan kedalam tempurung yang berisi tepung beras (kasai), langger dan air tolak bala.

Sebelum bepapas, orang yang dikhitan / disunat harus membersihkan diri terlebih dahulu. Proses pemandian atau memandikan orang yang dikhitan / disunat di atas sebuah kelapa tua yang telah bertunas dengan ramuan kasai yang berfungsi sebagai sabun. Kasai terbuat dari beras yang direndam kemudian dihaluskan dengan cara ditumbuk bersamaan �langger� yang membentuk tepungan kasar basah yang akan dibalur di sekujur tubuh anak layaknya pemakaian sabun pada orang mandi biasa.

Proses ini dilakukan sesaat sebelum warga sekitar yang diundang (di saru') datang untuk menghadiri jamuan makan tuan rumah. Sebelum tamu menyantap jamuan tuan rumah, terlebih dahulu diadakan ritual �bepapas�, ritual ini adalah ritual buang sial, tamu yang datang juga dapat mengikuti ritual bepapas.

sumber gambar : gramosphere.com

3. PENJAMUAN

Setelah ritual bepapas selesai, para tamu dipersilahkan untuk menyantap jamuan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Penjamuan ini dilakukan dengan cara saprahan, sebuah jamuan makan yang melibatkan banyak orang yang duduk di dalam satu barisan, saling berhadapan duduk satu kebersamaan.

Makna bersaprah yang disantap oleh 6 (enam) orang setiap saprahannya diartikan dengan rukun Iman, dan lauk-pauknya yang dihidangkan biasanya 5 (lima) piring diartikan rukun Islam. Sebenarnya tidak ada perbedaan menu masakan untuk sajian saprahan antara rakyat biasa dengan pemimpin, semuanya sama saja.

Dalam tradisi budaya makan saprahan terkandung nilai-nilai filosofi yakni adanya kebersamaan dan rasa kekeluargaan. Penyajian makanan dengan cara saprahan juga sebagai salah satu pendidikan etika. Sajian yang dihidangkan bukanlah nasi lengkap beserta lauk pauk, melainkan kue-kue khas Melayu. Kue-kue yang sering penulis temukan adalah ketupat dan bubur aya'.

sumber gambar : dokumentasi pribadi

4. BERDOA (Doa selamat dan Doa Tolak Bala)

Setelah selesai penjamuan, tamu undangan dan tuan rumah melakukan doa bersama yang di pimpin oleh pemuka agama di kampung atau biasa di sebut Pak Labbai. Hal ini dilakukan untuk keselamatan orang yang dikhitan dan para tamu undangan yang hadir.

sumber gambar : www.cemaru.com

Semoga artikel yang saya posting kali ini dapat menambah wawasan terkait adat dan budaya Sambas. Sebagai generasi muda, kita setidaknya harus mengetahui adat dan tradisi yang berkembang di tengah-tengah kita. Namun inilah tradisi, bersamaan dengan pengaruh arus modernisasi membuat masyarakat semakin meninggalkannya dan membuat tradisi buang abu semakin terkikis zaman.

Mudah-mudahan artikel singkat ini bisa merekam bahwa dulu pernah ada ritual semacam ini yang hidup dalam masyarakat Melayu Sambas. Tak Kan Hilang Budaya Melayu Dimakan Zaman.

ref:

Yantronika, Nanda. (2015). Adat Istiadat Budaya Sambas (Buang Abu). [Online]. Tersedia: http://nandayantronika15.blogspot.co.id/2015/04/adat-istiadat-budaya-sambas-buang-abu.html [9 Maret 2016]

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sambas

http://mursidin-hole.blogspot.co.id/2014/05/buang-abu-yang-kian-kelabu.html

http://insanakrozi.blogspot.co.id/2010/02/tepun-tawar-sui-bundung.html

Jumat, 03 Juni 2016

TRADISI MAGANG DALAM MASYARAKAT SAMBAS


misterpangalayo.com - Agama Islam sebagai salah satu agama samawi, merupakan agama yang sangat elastis dan mudah berkembang dimanapun. Oleh karena itu dengan mudah dapat ditemukan adanya Islam India, Islam Maroko, Islam Afrika dan Islam Indonesia, karena Islam ketika masuk dalam suatu masyarakat maka Islam menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tersebut (Wood word, 2006: hlm)

Agama dan budaya memiliki hubungan yang sangat dekat, seperti yang kita ketahui semua agama samawi tumbuh dan berkembang dalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Sehingga banyak agama samawi membaur ke dalam budaya suatu masayarakat.

Di Kabupaten Sambas, ada sebuah tradisi unik yang dilakukan masyarakat Sambas setiap menjelang Bulan Suci Ramadhan yaitu Tradisi Magang. Tradisi membeli daging, memasak dan memakannya bersama keluarga sudah dilakukan masyarakat Sambas secara turun temurun. Tradisi ini juga diperingati dua atau sehari menjelang puasa.

Tidak heran apabila pasar tradisional di Kabupaten Sambas akan padat dan ramai diserbu oleh warga yang berbondong-bondong untuk membeli daging, kemudian membawanya pulang ke rumah. Gantungan daging yang sudah disembelih, berjejer pada kayu di lapak-lapak penjual daging yang khusus hari ini tumbuh menjamur di sejumlah titik.

Bagi masyarakat Sambas, bila pada hari Magang tidak membeli daging sapi dan makan bersama anggota keluarga merasa sedih, maka jangan heran pada hari Magang semua masyarakat Sambas makan daging sapi. Perayaan ini juga bagian dari kegembiraan menyambut Ramadhan. Jauh hari sebelumnya, masyarakat Sambas sudah menyiapkan persiapan untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang rahmat.

Tradisi Magang tidak hanya dilakukan dalam menyambut bulan Ramadhan, tapi juga menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pantang jika keluarga tidak memasak daging pada hari Magang. Di daerah lain juga ada tradisi sejenis misalnya di Jawa Tengah dikenal dengan nama Padhusan, di Jawa Timur dengan Megengan, di Aceh dengan Meugang.

Selasa, 17 Mei 2016

Keterangan Arti Dan Makna Lambang Daerah Kabupaten Sambas

misterpangalayo.com - Desain logo setiap kabupaten dan kota di Indonesia selalu menyertakan gambar yang melambangkan sesuatu, seperti gambar padi dan kapas, gambar senjata, gambar gunung, hingga gambar insfrastruktur. Untuk pengetahuan umum, admin akan menguraikan arti dan makna lambang / logo daerah Kabupaten Sambas.


Kabupaten Sambas adalah sebuah kabupaten yang terletak pada bagian pantai barat paling utara dari wilayah administratif Provinsi Kalimantan Barat. Pasca pemekaran daerah tahun 2000, Kabupaten Sambas memiliki luas wilayah 639.570 ha atau sekitar 4,36% dari luas wilayah Kalimantan Barat.

Keterangan terbagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu :
1. Keterangan Bentuk Gambar Lambang.
2. Keterangan Warna Gambar Lambang.
3. Keterangan Makna Gambar Lambang.

1. Keterangan Bentuk Gambar Lambang
  • Lambang berbentuk perisai segi lima dengan bingkai pada kelilingnya. 
  • Di bagian tengah lambang terlukis gambar Pusaka dan Kebudayaan Rakyat Kabupaten Sambas. 
  • Melingkar disebelah kiri dan kanan adalah untaian padi dan kapas yang masing-masing berjumlah berjumlah empat empat puluh lima dan tujuh belas. Di atasnya terlukis bintang segi lima beraturan. 
  • Di bagian bawah Lambang bertuliskan kata :"SAMBAS"

2. Keterangan Warna Gambar Lambang
  • Dasar perisai pada Lambang berwarna hijau tua dengan bingkai berwarna Putih. 
  • Padi berwarna kuning, kapas berwarna hijau dan putih. 
  • Bintang segi lima berwarna kuning. 
  • Tulisan "SAMBAS" berwarna hitam. Pita berwarna kuning.

3. Keterangan Makna Gambar Lambang.
  • Bentuk perisai pada lambang melukiskan sikap jiwa yang tahan uji, tabah dan penuh ketetapan hati sebagai dasar dari tiap perbuatan manusia. Warna hijau mencerminkan rasa kedamaian, persahabatan dan toleransi, sekaligus menggambarkan kesuburan daerah Kabupaten Sambas.
  • Mandau dan Tombak yang terlukis dibagian tengah menggambarkan Pusaka dan Kebudayaan Rakyat Kabupaten Sambas. 
  • Padi dan Kapas melambangkan cukup pangan dan cukup sandang. 
  • Bintang segilima di bagian atas melukiskan Pancasila, falsafah negara dan sikap hidup bangsa Indonesia yang wajib dijunjung tinggi dan diagungkan, sebagaiman telah disebutkan pada sila Pertama Ke Tuhanan Yang Maha Esa. Merupakan dasar dan tujuan hidup Bangsa Indonesia justru karena Pancasila wajib diikrarkan dan diamalkan. 
  • Kelopak Bunga Kapas berjumlah 17 buah, berarti tanggal 17.
  • Bunga Kapas berjumlah 8 buah, berarti bulan 8 (bulan Agustus).
  • Buah Padi berjumlah 45 buah, berarti tahun 1945. 
  • Tangkai Padi dan Tangkai Kapas diikat menjadi satu oleh pita bersudut empat, mengandung arti CATUR KARSA, yakni : 1)Kesungguhan, 2) Kejujuran, 3) Kegotong Royongan, 4) Kekeluargaan. 
  • Tulisan "Sambas" menunjukkan Kabupaten Sambas adalah salah satu wilayah kabupaten dalam Propinsi Kalimantan Barat, yang merupakan satu Daerah Otonom.

Dengan Catur Karsa ini dimaksudkan terlaksananya kesejahteraan yang merata persatuan dan kesatuan rakyat Kabupaten Sambas.

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *