Blog untuk Pendidikan

Tampilkan postingan dengan label TRAVEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRAVEL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang, Surga yang Tersembunyi di Sambas

SampanPesisir - Sambas merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, terletak di Pulau Kalimantan, atau dikelilingi oleh dua kabupaten/kota tetangga yaitu Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang, serta berbatasan laut dengan Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. Wilayah kabupaten Sambas berupa dataran rendah dan dataran tinggi, serta banyak terdapat sungai-sungai besar didalamnya seperti : Sungai Sambas Besar, Sungai Paloh, Sungai Selakau dan Sungai Sebangkau.

Tak heran, Kabupaten Sambas punya banyak tempat wisata menarik dan belum tentu banyak orang yang mengetahuinya. Karena itu, kali ini penulis akan berbagi informasi wisata alam yang mungkin belum diketahui oleh masyarakat Kalimantan Barat bahkan warga Kabupaten Sambas sendiri. 

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang - Kabupaten Sambas

Sebagai salah satu kabupaten yang banyak kekayaan alam baik di darat maupun di laut, serta tempat wisata alam yang unik dan salah satunya adalah Taman Wisata Alam (Nature Park) Gunung Asuansang yang secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar. Keadaan topografi secara umum adalah datar sampai berat, ketinggian tempat antara 0 sampai dengan 600 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini termasuk dalam wilayah pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah III yang berkedudukan di Kota Singkawang. Letak geografis kawasan adalah 01o4625 - 01o52'07" LU dan 109o2611 - 109o31'12" BT.

Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Asuansang juga dikelilingi oleh gunung hingga pegunungan, seperti :
     
  • Tebelonganso - 9 km sebelah tenggara 
  • Gunung Puting - 11 km sebelah timur laut 
  • Gunung Kejatau - 12 km sebelah timur laut 
  • Gunung Jeramat - 12 km sebelah timur laut 
  • Gunong Penampian Ngantam - 13 km timur 
  • Gunung Cermai - 14 km sebelah timur laut 
  • Munggu Jernang - 14 km sebelah timur laut 
     

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang adalah kawasan hutan konservasi untuk kegiatan pariwisata dan rekreasi. Kegiatan pariwisata yang dilaksanakan di hutan wisata alam tidak boleh bertentangan dengan prinsip konservasi dan perlindungan alam. Karena pada hakikatnya taman wisata alam masuk dalam kawasan pelestarian alam. Gunung Asuansang mempunyai tipe ekosistem hutan rawa gambut, hutan hujan pegunungan rendah, dan hutan mangrove. 

Berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 pasal 31 disebutkan bahwa di dalam kawasan Pelestarian Alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budiaya, budaya dan wisata alam.

Selain untuk kegiatan pariwisata, taman wisata alam mempunyai fungsi melindungi sistem penyangga kehidupan bagi daerah sekitarnya. Bisa juga menjadi tempat pendidikan alam dan pengembangan ilmu pengetahuan. Segala pemanfaatan sumber daya hayati di areal ini harus dimanfaatkan secara lestari.

Gunung Asuansang ditunjuk dan ditetapkan sebagai Natural Park berdasarkan RTRWP Kalimantan Barat Tahun 1995 (Zonasi kawasan sebagai Taman Wisata Alam seluas 4.464 ha), SK Menhutbun RI No. 259/Kpts-II/2000 Tanggal 23 Agustus 2000 (Penunjukan sebagai Taman Wisata Alam seluas 4.464 ha).

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang memiliki potensi flora antara lain famili Jambu-jambuan (Myrtaceae) yang terdiri dari genus Eugenia dan Syzigium, famili Lauraceae terdiri dari genus Litsea yang mencapai belasan species dan Adiandra. Famili Meranti-merantian (Dipterocapaceae) yang terdiri 4 genus yaitu Dipterocarpus, Dryobalanops, Shorea dan Hopea dengan 20 species, famili Sapotaceae yaitu Nyatoh (Palaquium spp) dan Euphorbiaceae yang terdiri atas genus Baccaurea spp, Lansium spp. (sumber data: skw3bksdakalbar)

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang memiliki potensi fauna antara lain onyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemestrina), Lutung (Presbitys sp), Rusa (Cervus unicolor), Binturong (Arctitis binturong) serta Babi hutan (Sus barbatus), Trenggiling (Manis javanica) dan Kelempiau (Hylobates muellerii), Ular Sanca (Python molurus bivittatus), Ular Punai (Trimeresurus wagleri), Ular Lidi, Ular Hijau (Ahaetula nasuta) dan lain sebagainya. (sumber data: skw3bksdakalbar)

Uniknya di TWA ini terdapat Punai Imbuk (Chalcohap indica) yang merupakan catatan jenis baru (New Record) untuk Kalimantan Barat. Namun fasilitas seperti kolam renang, arena bermain anak, arena perkemahan, shelter-shelter, ruang informasi serta fasilitas pendukung lainnya masih belum tersedia. Kawasan ini masih natural dan belum ada penunjang wisata yang memadai, namun kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan karena lokasi yang strategis antara Kecamatan Paloh dan Kecamatan Sajingan Besar, serta banyak tempat wisata alam yang banyak dikunjungi masyarakat seperti Riam Kaliau di Sajingan Besar dan Pantai Temajuk di Paloh, serta banyak destinasi wisata lainnya di sekitar lokasi TWA.

Tapi kawasan yang masih natural seperti TWA Gunung Asuansang, rekomendasi untuk naked traveler yang ingin melakukan kegiatan wisata di TWA Gunung Asuansang seperti camping hingga hiking. Tidak dianjurkan pergi sendiri dan diperlukan mental yang besar untuk melakukan perjalanan naked traveling.

Di samping panorama alam yang indah Taman Wisata Alam Gunung Asuansang memiliki hawa yang sejuk dan segar. Tidak jauh dari lokasi TWA ini juga terdapat Taman wisata alam lainnya disekitar kawasan Gunung Asuansang, seperti :
  • Taman Wisata Alam Dugan dengan luas 1.142 Ha, ekosistem hutan rawa gambut dan hutan hujan pegunungan rendah. 
  • Taman Wisata Alam Melintang dengan luas 17.640 Ha, ekosistem hutan rawa gambut dan hutan hujan pegunungan rendah. 
  • Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing dengan luas 810 Ha, ekosistem hutan pantai dan hutan mangrove.

Sudah sepantasnya kawasan ini menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Sambas. Tinggal dikelola dengan serius oleh pemerintah kabupaten Sambas dan dibangun sarana pariwisata alam di Taman Wisata Alam serta untuk mendorong para pihak/steakholder dalam rangka Sinergitas Pengelolaan dan Pembangunan Sarana Pariwisata Alam di Kawasan Pelestarian Alam (KPA) dan di Luar Kawasan Taman Wisata Alam. 

Selain itu, partisipasi masyarakat sadar wisata untuk ikut andil menjaga kelestarian Taman Wisata Alam Gunung Asuansang dan mempromosikan objek wisata ini kepada masyarakat luas. Beragamnya potensi yang dimiliki Gunung Asuansang menjadikan surga bagi flora dan fauna, serta surga bagi pecinta alam.

Kamis, 05 Januari 2017

Travelling ke Air Terjun Toroan Pulau Madura

Mungkin belum banyak traveler yang pergi berwisata ke Air Terjun Toroan, satu-satunya air terjun yang ada di Pulau Madura. Menjadi salah satu destinasi wisata alam yang ada di Madura, berbagai upaya pun dilakukan oleh pemerintahnya untuk menduniakan wisata-wisata Madura. Badan Pengembangan Wilayah Surabaya - Madura (BWPS) digandeng oleh Komunitas Blogger Madura (Plat-M), mengundang 50 blogger dari seluruh Indonesia untuk mempromosikan wisata Madura.

Air Terjun Toroan

Sebuah kehormatan bagi saya karena menjadi salah satu diantara 50 blogger yang diundang untuk menduniakan Madura. Perjalanan dimulai dari Kota Pontianak menuju Kota Surabaya, semua peserta yang datang dijemput oleh pihak panitia baik di bandara maupun di stasiun, dan langsung dihantar ke kantor BPWS yang berada tidak jauh dari kaki Jembatan Suramadu sisi Surabaya.


Setelah acara pembukaan dan pengarahan di kantor BPWS, kami langsung berangkat menuju Pulau Madura melewati jembatan terpanjang di Indonesia "Jembatan Suramadu". Famstrip tersebut di selenggrakan selama 4 hari 3 Malam, dengan menjelajahi 4 Kabupaten di Pulau Madura, yaitu Sampang, Sumenep, Pamekasan dan Bangkalan. Selama kegiatan, perjalanan kami dikawal oleh pihak Kepolisian Resor (polres) dari keempat kabupaten sehingga memberi kenyamanan berwisata.
Banyak destinasi yang kami kunjungi, salah satunya adalah wisata alam menawan "Air Terjun Toroan" yang terletak di Desa Ketapang Daya, Kec. Ketapang, Kabupaten Sampang. Di Jawa Timur sendiri terdapat banyak air terjun, di mana salah satunya adalah air terjun Toroan, satu-satunya air terjun yang ada di Pulau Madura. Perjalanan ditempuh dengan jarak � 43km dari ibukota kabupaten ke arah utara dengan akses jalan menuju lokasi di jalur transportasi umum Sampang - Ketapang � Sokobanah.

latar belakang jembatan Suramadu sisi Surabaya
perjalanan dimulai menggunakan bus pariwisata menuju Pulau Madura
Sekedar informasi untuk Anda yang belum pernah berwisat ke air terjun Toroan. Apabila Anda memulai perjalanan dari Surabaya, jarak tempuh perjalanan sekitar 105 kilometer. Sebelumnya, anda harus menyebrang menuju Pulau Madura baik melalui Tol Suramadu ataupun menyebrang dengan kapal ferry dari Pelabuhan Tanjung Perak. Jika anda melewati Tol Suramadu, selanjutnya anda bisa memilih jalan menuju Sampang dengan belok ke kanan di pertigaan jalan setelah melewati Tol Suramadu, atau anda bisa jalan terus menyusuri jalur pantura Bangkalan.

Sesampai di kawasan wisata air terjun, bus pariwisata yang membawa kami pun parkir tidak jauh dari lokasi. Satu per satu blogger nasional berjalan kaki sejauh 50 meter menuju lokasi air terjun Toroan. Disini kami sangat berhati-hati menuruni anak tangga, mengingat jalan menuju ke lokasi agak sedikit curam.

Depan: priangga - misterpangalayo  - wulankenanga - leemindo
Aliran air yang merayap di batuan besar kemudian jatuh menciptakan kolam yang lebar di bawahnya. Sumber mata Air Terjun Toroan berasal dari sungai sumber payung yang berada di kecamatan Ketapang Timur. Uniknya, air terjun setinggi 20 meter ini berlokasi berdampingan dengan sebuah pantai. Hal inilah yang menjadikan air terjun ini berbeda dengan air terjun pada umumnya.

Kesan pertama yang saya rasakan ketika berada dekat dengan air terjun adalah keteduhan dan kealamiannya, karena di sekitar lokasi tidak ada bangunan-bangunan yang merusak pemandangan dan kealamiannya. Selain itu, airnya yang segar dan banyak pepohonan rindang yang menyemarakkan kawasan tersebut.


Banyak bebatuan unik yang bertaburan di sepanjang bibir pantai menambah pesona yang menakjubkan. Suara gemercikan air yang tumpah menjadi perpaduan yang indah dengan suara semilir angin dan suara ombak. Di sore hari, view matahari sore yang berwarna kemerah � merahan akan membuat betah siapapun yang mengunjunginya. Areal air terjun tersebut menjadi spot yang sangat tepat bagi anda untuk melihat matahari terbenam. 

sebut saja mereka "brondong blogger" #eh
Selain keindahan pesona air terjun dan paparan pantai utara wisatawan akan mendapat kemudahan dengan pemenuhan sarana dan prasarana yang telah tersedia pada objek wisata ini berupa sarana mandi/WC, tempat penjual makanan/minuman (tersedia apabila hari besar atau keramaian), dan tempat parkir, sudah memadai. Wisata ini ramai dikunjungi wisatawan pada hari besar agama, liburan sekolah dan akhir pekan, bagi mereka yang ingin melepaskan kepenatannya setelah beraktivitas.

Selamat berlibur, traveler. Buanglah sampah pada tempatnya, ya.

Selasa, 03 Januari 2017

Keindahan Wisata Alam Hutan Mangrove di Mempawah

Berkunjung ke Kota Mempawah Bumi Galaherang, memang banyak sekali tempat wisata menarik yang dapat dikunjungi, mulai dari wisata alam hingga wisata sejarahnya. Liburan akhir tahun di Kota Mempawah menjadi pilihan saya untuk menghabiskan masa libur akhir tahun bersama teman-teman. Alasan lain memilih kota ini, karena waktu tempuh perjalanan dari Kota Pontianak ke Kota Mempawah tidak begitu jauh sekitar 1 jam 53 menit dengan jarak tempuh sekitar 75 KM.


Pelesir sehari (one day trip) kali ini mengunjungi kawasan konservatif hutan mangrove Mempawah. Kehadiran Mempawah Mangrove Park (MMP) nampaknya tengah naik daun. Selain memberikan pengalaman berwisata secara alami, pastinya dapat meningkatkan kesadaran kita dalam menjaga hutan mangrove yang mulai berkurang. Yang terpenting keberadaan Mempawah Mangrove Park (MMP) ini diharapkan selain sebagai kawasan konservasi juga diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata agar semakin banyak wisatawan datang ke Kabupaten Mempawah.
Perjalanan via kendaraan roda 2
Mangrove merupakan hutan bakau. Pohon-pohon bakau ini tumbuh dan ditanam di sekitar pantai yang berfungsi untuk menahan erosi agar tidak terjadi abrasi. Dengan adanya tanaman bakau ini, bisa menghambat derasnya air laut yang menuju daratan, sehingga dapat mencegah bencana alam.
Taman Mangrove Mempawah mempunyai lahan seluas 2 hektare
Di Mempawah, sebuah pantai berlumpur kini telah disulap menjadi kawasan wisata alam berbasis hutan mangrove yang digagas oleh Mempawah Mangrove Conservation (MMC). Berlokasi di sepanjang pesisir Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, tepatnya berada berdampingan dengan taman makam pahlawan.

Akses ke Mempawah Mangrove Park (MMP) ini cukup mudah dijangkau, karena tidak jauh dari jalan raya dan dari pusat kota menuju lokasi hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Sesampai di lokasi, kendaraan roda 2 maupun roda 4 akan diarahkan untuk parkir di halaman Taman Makan Pahlawan (TMP). Berjalan kaki lewat jalan setapak menuju kawasan wisata, harga tiket masuk ke Mempawah Mangrove Park (MMP) per tanggal 26 Desember 2016, Rp 5000 / orang.

Taman bermain di tengah  MMP

Kesan pertama yang saya rasakan adalah hembusan angin yang meneduhkan cuaca panas, menapaki lorong yang terbuat dari kayu dan bambu dengan lebar kurang lebih satu meter yang membelah hutan mangrove dengan track sepanjang 300 meter. Hutan bakau yang memiliki lahan seluas 2 hektare ini juga dilengkapi dengan sejumlah fasilitas, seperti playground, toilet umum, kano, rumah mangrove yang menyediakan beragam informasi seputar mangrove, saung, dan fasilitas pendukung lainnya.


Sepanjang jalan setapak di tengah hutan mangrove, banyak pengunjung yang berselfie. Di beberapa tempat diatas track, disediakan tempat khusus seperti kursi taman untuk pengunjung agar dapat menikmati suasana hutan bakau.

Ketika berada di bibir pantai, pengunjung disajikan juga pemandangan laut yang menakjubkan, menikmati matahari terbenam yang berlatarbelakang Pulau Kabung. Jika anda berencana mengunjungi kawasan hutan mangrove Mempawah, sebaiknya anda datang di pagi hari atau di sore hari, dengan tujuan, agar terik matahari tidak terlalu panas dan jika anda beruntung dapat melihat gerombolan burung yang terbang di sekitar kawasan hutan bakau.


Bagi penggemar fotografi, Kawasan Mempawah Mangrove Park (MMP) ini dapat memuaskan hasrat hunting landscape. Dengan eksotisme kawasan mangrove itulah, tidak ada salahnya mencoba menikmati wisata alam hutan mangrove di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Senin, 02 Januari 2017

Jalan-jalan ke Keraton Amantubillah Mempawah

SampanPesisir - Bulan Desember tentu selalu identik dengan libur panjang, mulai dari libur Hari Raya Natal, libur sekolah, hingga libur akhir tahun. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu libur panjang di akhir tahun, baik solo traveling atau grup traveling. Liburan panjang menjelang penutupan tahun, tentunya tak saya sia-siakan begitu saja. Pastinya sangat membosankan jika moment libur panjang diisi dengan kegiatan dirumah tanpa relaksasi. Berlibur atau pelesir bersama teman-teman menjadi salah satu alternatif untuk mengukir sebuah memori yang tidak akan terlupakan untuk tahun � tahun mendatang.

Istana Amantubillah - Panembahan Mempawah
Mempawah Kota Bestari, sebuah kota kecil yang menjadi ibukota Kabupaten Mempawah (Kalimantan Barat), kali ini menjadi destinasi saya dan teman-teman untuk berwisata sejarah ke Keraton Amantubillah. Pelesir sehari (one day trip) ke Mempawah merupakan pilihan bersama karena untuk menjelajahi destinasi-destinasi yang ada di Kota Mempawah khususnya keratonnya cukup dekat dengan Kota Pontianak.

Perjalanan dimulai dari Kota Pontianak

Lama perjalanan dari Kota Pontianak menuju ibukota Kabupaten Mempawah sekitar 1 jam 53 menit dan jarak tempuh � 75 KM, baik kendaraan roda 4 ataupun roda 2. Dalam perjalanan menuju Kota Mempawah, kita akan melewati salah satu landmark Kota Pontianak yaitu Tugu Khatulistiwa / Monumen Equator yang menandakan bahwa Kota Pontianak dilewati garis lintang nol derajat bumi, garis yang tepat membelah bumi bagian selatan dan bagian utara. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak.

Sesampai di Kota Mempawah, kami langsung menuju ke Keraton Mempawah, cukup mudah untuk menemukan keraton ini karena masih berada di kawasan perkotaan. Memasuki komplek keraton yang didominasi oleh warna hijau ini menempatkan tulisan �Mempawah Harus Maju, Malu dengan Adat" pada pintu gerbang keraton. Peninggalan Keraton Amantubillah yang berdiri kokoh sampai sekarang ini dibangun pada masa pemerintahan sultan ke-3 Panembahan Mempawah yaitu Gusti Jamiril bergelar Panembahan Adi Wijaya Kesuma (1761-1787).

Bangunan utama Keraton Mempawah

Untuk memasuki komplek keraton, tidak dikenakan biaya alias free, pengunjung hanya diwajibkan untuk mengisi buku tamu. Setelah itu, tamu diperbolehkan untuk melihat-lihat singgasana raja, foto-foto raja beserta keluarganya, keris, busana kebesaran, dan payung kerajaan, dan lain-lain. Pesan pribadi dari saya, untuk berkunjung ke keraton apapun itu, selalu berpakaian yang sopan, jangan pake singlet, celana ketat dan semacamnya. Namanya juga keraton, sesadar-sadarnya tetap menjaga etika dan etitut dalam berbicara dan berpakaian.


Kompleks Keraton Amantubillah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bangunan utama, bangunan sayap kanan, dan sayap kiri. Amantubillah yang mempunyai arti �Aku beriman kepada Allah�, pada masa sekarang, bangunan utama berfungsi sebagai museum Kerajaan Mempawah. Bangunan sayap kanan berfungsi sebagai pendopo istana, sedangkan bangunan sayap kiri sebagai tempat tinggal para kerabat Kerajaan Mempawah.

Di bagian belakang bangunan utama terdapat kolam bekas pemandian sultan beserta keluarganya pada zaman dahulu. Akan tetapi, pada saat ini kolam pemandian tersebut tidak berfungsi lagi, karena pendangkalan dan tertutupnya saluran air yang menghubungkan kolam tersebut dengan anak sungai Mempawah.



Keluar dari komplek keraton, terdapat kawasan wisata kuliner untuk memanjakan pengunjung dengan aneka menu makanan yang menggoyang lidah. Harga terjangkau dan rasa kaki lima membuat kawasan tersebut selalu ramai. Setelah mengisi perut, kami menuju ke Masjid Jamiatul Khair yang letaknya tak jauh dari Keraton Amantubillah. Bersama dengan Keraton Amantubillah, Masjid Jamiatul Khair menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Mempawah.

Masjid ini berdiri di bantaran sungai Mempawah, sehingga pengunjung yang ingin ibadah disini merasakan keteduhan dan kenyamanan walau terik matahari. Kebanyakan masjid keraton di Kalimantan Barat ditempatkan di bantaran sungai, karena pada zaman dahulu sungai merupakan urat nadi aktivitas masyarakat dan belum adanya pembangunan jalan raya.


Perjalanan selanjutnya, silaturahmi ke kediaman salah satu blogger asal Kota Mempawah, yang rumahnya tidak jauh dari Kantor Bupati Kabupaten Mempawah. Kami disambut dengan hangat oleh Mas Freddy Hernawan (hernawan.net) beserta keluarganya. Mempererat tali silaturahmi sesama blogger membuat kami semakin akrab dan nyaman.

Selasa, 06 Desember 2016

MENDUNIAKAN MADURA: Semalam di Pulau Wisata Giliyang

misterpangalayo.com - Negeri bak kembang setaman, menggambarkan Indonesia yang kaya akan keindahan dan pesona alamnya. Keindahan Indonesia bukan hanya dari sisi alamnya, tapi juga budaya, kesenian, kerajinan, kuliner, hingga peninggalan bersejarahnya. Tak heran jika negeri ini memiliki julukan "Heaven Earth" (surga dunia) di kancah internasional. Selain itu, orang Indonesia terkenal dengan karakteristiknya yang murah senyum dan ramah membuat turis asing merasa lebih dihargai. Hal inilah yang membuat turis asing memperkuat keputusan mereka untuk menghabiskan waktu liburan di Indonesia.

Beberapa waktu lalu (23 November 2016), saya dan bloggers yang datang dari berbagai daerah di Indonesia diberi kesempatan untuk menjelajahi beberapa tempat wisata alam di Pulau Madura selama 4 hari 3 malam. Salah satu tujuan wisata kami adalah mengunjungi dan menginap semalam di Giliyang.

Giliyang adalah nama sebuah pulau yang secara administratif berada di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Pulau yang berpenduduk mayoritas dari suku Madura ini diklaim memiliki kadar oksigen terbaik di dunia. Hal ini sudah dibuktikan oleh LAPAN dengan melakukan riset selama enam bulan di Giliyang, alhasil ditemukannya 17 titik oksigen dengan kadar berkisar 3,3 persen hingga 4,8 persen di atas normal. Tak heran, pulau ini dijadikan destinasi wisata kesehatan.

Sumber Gambar: trevelsia.com
Pulau yang terbagi atas dua desa yaitu Desa Banraas dan Bancamara, memiliki fasilitas seperti paving, homestay dan pengaliran air bersih yang difasilitasi oleh Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura (BPWS). Banyak rujukan tempat wisata menarik karena keindahan alamnya membuat kami ingin mengunjungi Giliyang.

Perjalanan wisata menuju pulau Giliyang ditempuh melalui Pelabuhan Dungkek dengan menggunaan kapal sewaan. Jarak tempuh dari daratan Madura ke Giliyang sekitar 40-60 menit apabila kondisi cuaca baik.

Perjalanan menuju Pulau Giliyang || Taken by masdito_
Pesisir Pulau Giliyang
Sesampai di pesisir Giliyang, kami telah ditunggu oleh warga Giliyang dan langsung diantar menggunakan kendaraan masal satu-satunya di pulau tersebut. Odong-odong, warga Giliyang menyebutnya dan mempunyai nama lain Dorkas. Dorkas mengantarkan kami ke Homestay yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Sekedar tambahan, di Giliyang tidak ada hotel seperti yang Anda pikirkan, hanya ada satu homestay yang khusus diperuntukkan bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini dan warga setempat juga menyediakan rumahnya untuk di sewa.

Mobil angkut 3 roda membawa rombongan blogger ke homestay || Taken by cewealpukat

Homestay terkesan bersih, rapi dan mewah yang menghadap langsung ke laut. Pepohonan nan rimbun membuat suasana adem dan tenang. Yang menariknya, terdapat sebuah langgar (mushola) di area Homestay. Namun, pulau ini tidak dialiri listrik PLN. Warga Giliyang hanya merasakan listrik di malam hari, menggunakan tenaga dari solar panel.

Homestay di Giliyang difasilitasi oleh BPWS
Setelah selesai berkemas-kemas di Homestay, bloggers Indonesia diarahkan oleh Plat-M (Komunitas Blogger Madura) selaku tuan rumah menuju ke rumah warga untuk makan siang. Perjalanan pun dilanjutkan menggunakan odong-odong, keseruan dan senyum bloggers menyemarakkan jalanan Giliyang.

Makan siang ala warga Giliyang di rumah Ki Ageng Ropet
Kami dijamu dengan makanan khas Pulau Giliyang, secara pribadi saya sangat menyukai makanan ala warga Giliyang yang pas di lidah saya. Kopi dan teh pun tidak ketinggalan untuk menambah kehangatan suasana diantara kegembiraan para blogger Indonesia.
Mengunjungi keindahan Goa Mahakarya di Pulau Giliyang

Dalam perjalanan pulang menuju Homestay, saya dan teman-teman mengunjungi salah satu gua yang ada di Giliyang yaitu Gua Mahakarya atau biasa dikenal dengan Gua Celeng. Gua Mahakarya merupakan satu diantara 17 gua yang ada di Giliyang, namun gua ini mempunyai keunikan sendiri dari gua lainnya karena mempunyai ruang yang cukup luas dengan ornamen stalaktit dan stalakmit yang bertebaran dalam ruang gua ini.

Gua yang memiliki luas sekitar 800 meter pesergi ini mempunyai 7 ruangan yang cukup luas. Stalaktik dan stalakmit yang ada di gua tersebut masih aktif, tetesan-tetesan airnya selalu membentuk ornamen-ornamen baru. Ketika berkunjung ke Gua Mahakarya, jangan berniat untuk menyentuh stalaktit dan stalakmit yang masih aktif. Bila kita menyentuh stalaktit atau stalakmit dengan tangan kita sama saja kita menghancurkan karya indah itu.

 stalaktit dan stalakmit di Goa Mahakarya || Taken by halimsantoso
Berikut alasannya:

Tangan kita didominasi oleh zat asam, jadi ketika tangan kita menyentuh stalaktit atau stalakmit terjadi reaksi berikut ini : CaCO3 (s) + H+ (aq) ----> HCO3- (aq) + Ca 2+ (aq)


Reaksi tersebut membebaskan ion kalsium, sehingga otomatically konsentrasi ion Ca 2+ dalam stalagtit maupun stalakmit berkurang. Dengan kata lain, kita bisa jadi penghambat pertumbuhan stalaktit maupun stalakmit sekalipun kita hanya menyentuhnya karena menyentuhnya berarti mengurangi kadar Ca 2+ dalam stalaktit atau stalakmit itu.


Setelah puas menaklukan eksotisme Gua Mahakarya, bloggers Indonesia menuju tempat penginapan karena matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat. Sampai di homestay, saya dan teman-teman mengantri untuk mandi. Sembari menunggu giliran, saya dan teman-teman mengobrol manja sesama blogger di saung yang ada di kawasan area homestay.

saung di area Homestay
Senang maksimal bisa berkunjung ke pulau Giliyang bersama bloggers dari berbagai daerah di Indonesia. Bertukar cerita membuat keakraban kita semakin terjalin. Setelah mendapat giliran mandi semua, bloggers kembali dijamu makan malam ala warga Giliyang yang jarang saya dapatkan di perkotaan. Makan malam selesai, bloggers menikmati malam di Giliyang dengan berbagai aktivitas karena kami tidak memiliki agenda untuk malam hari, dengan kata lain kami bisa beristirahat total di Giliyang dengan merasakan sensasi mandi oksigen.

Oksigen di Giliyang baru dapat dirasakan pada dini hari setelah pukul 01:00 hingga sebelum subuh. Ketika jam menunjukkan pukul 03:30 pagi, oksigen terasa seperti tertiup AC dengan intensitas yang sangat kecil. Banyaknya titik oksigen di pulau ini membuat warganya memiliki angka harapan hidup diatas 80 tahun. Sehingga pulau ini mendapat julukan Pulau Awet Muda. Kandungan oksigen ini diperkirakan yang menyebabkan orang-orang di Pulau Giliyang memiliki rata-rata usia lebih panjang dibanding daerah lain, meskipun tidak melakukan olah raga atau perawatan kesehatan yang khusus. 

Pantai Ropet Giliyang

Keesokan harinya, blogger Indonesia kembali diarahkan untuk menikmati sunrise di Pantai Ropet. Ada yang menarik di pantai ini, terdapat fosil ikan paus yang terdampar pada tahun 2010 silam. Fosil ikan paus yang telah ditata sedemikian rupa oleh pemerintah setempat, kini menjadi pemandangan menarik. Oleh warga Giliyang, fosil tersebut telah dikeramatkan, ketika mendapatkan hasil tangkapan ikan yang banyak, para nelayan memberikan sesajen di dekat fosil ikan paus tersebut.
Fosil Ikan Paus || Taken by apriej

Pantai Ropet menjadi lokasi yang bagus untuk menikmati sunrise dan juga menjadi surganya bagi para pemancing. Banyak terdapat ikan-ikan kecil yang berenang manja di pesisir pantai ini dikarenakan pantai ini karang yang indah dan masih terjaga habitatnya.

Breakfast di Pantai Ropet

Sembari menikmati indahnya cakrawala pagi di pantai Ropet, warga Giliyang kembali menyuguhkan sarapan. Bersantai di pantai sambil sarapan bersama bloggers menjadi pemandangan yang tidak biasa. Bersih dan air laut yang sangat bening serta susunan batu karang yang indah mengingatkan saya dengan Tanah Lot (Bali). Uniknya, pantai Ropet masih natural dan perlu dioptimalkan supaya menjadi salah satu paket wisata domestik unggulan Provinsi Jawa Timur.


Pulang dari pelesir ke Pantai Ropet, blogger Indonesia prepare untuk kembali ke daratan Madura dan melanjutkan kunjungannya ke destinasi-destinasi menarik lainnya yang ada di Madura. Sesampai di Pelabuhan Dungkek, bus yang setia membawa kami ke spot-spot menarik di Madura sudah menunggu kami. Perjalanan selanjutnya pun dimulai.


#HISDomesticHoliday

Awal tahun selalu menjadi waktu yang paling tepat bagi untuk berlibur. Berbagai keindahan alam yang belum terjamah bisa dinikmati dengan budget yang lebih murah tentunya. Dan apabila Anda berencana ingin menggunakan jasa biro perjalanan wisata, H.I.S. Travel Indonesia bisa menjadi teman jalan Anda yang menyediakan berbagai macam tour dan menangani tour sesuai dengan keinginan Anda. Selain itu, dapat menyusun perjalanan Anda mulai dari tiket pesawat, booking hotel, optional tour, kereta api, penyewaan mobil dan semua yang Anda butuhkan. Segera rencanakan liburan kamu sekarang juga!

Sabtu, 26 November 2016

Blogger Indonesia Menduniakan Madura 2016

misterpangalayo.com - Lewat motto 'Menduniakan Madura' komunitas blogger Plat-M bekerjasama dengan Badan Pengembangan Wilayah Surabaya � Madura (BPWS) mengundang 50 blogger hasil seleksi ketat dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Lampung, Yogyakarta, dan beberapa daerah di Jawa.

Blogger Indonesia diajak jalan-jalan ke Pulau Madura selama empat hari tiga malam (22-25 November 2016). Selama kegiatan Menduniakan Madura, bloggers diajak menjelajahi destinasi wisata yang ada di 4 (empat) kabupaten di Pulau Madura yaitu: Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. 



Plat-M adalah komunitas blogger Madura yang dideklarasikan pada 23 Desember 2009. Kehadiran Plat-M sebagai wujud kehadiran generasi muda Madura ikut andil, menjaga, memelihara, mencintai dan menyebarkan nuansa khas Madura ke dunia. Komunitas ini juga dibentuk untuk menampung minat masyarakat Madura di bidang blogging, media sosial, internet dan teknologi pada umumnya.

Acara "Menduniakan Madura 2016" sekaligus untuk mengenalkan jejak program-program BPWS yang sudah dilakukan di Pulau Madura. Berangkat dari hal itu, BPWS mengajak blogger Indonesia berkeliling ke empat kabupaten di Madura untuk mengeksplorasi jejak-jejak pembangunan BPWS melalui acara tersebut.

Untuk area Kalimantan Barat, 5 (lima) blogger Pontianak mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, diantaranya adalah :
1. Dwi Wahyudi
2. MF. Abdullah
3. Radit Mananta
4. Priangga Otviapta
5. Edo Pradana Prasitha


Komunitas Blogger Pontianak
MF. Abdullah - Edo - Dwi Wahyudi - Radit - Priangga

H-1 sebelum menapaki jejak pembangunan BPWS di Madura dimulai, saya dan Hannif (Blogger asal Klaten) berangkat dari Yogyakarta ke Surabaya. Perjalanan via kereta api dimulai pukul 08.55 wib dari Stasiun Lempuyangan dan sampai di Stasiun Gubeng pukul 14.53 wib.

Blogger di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta
Hannif (Klaten) - Radit (Pontianak) || Selfie sembari keberangkatan di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta

Di hari yang sama, Priangga Otviapta juga berangkat dari Bandung, dikarenakan dia kuliah di Bandung. Sedangkan MF. Abdullah berangkat dari Jakarta serta Dwi Wahyudi dan Edo Pradana Prasitha berangkat dari Pontianak.

Di Surabaya, kami berenam menginap satu malam di kawasan pusat Kota Surabaya. Loxy Inn yang beralamat di Jalan Embung Wungu 5, Genteng, Surabaya menjadi tempat persinggahan kami. Kamar yang bersih, nyaman dan lokasi yang sangat strategis, hanya berjarak 5 km dari stasiun Gubeng.

Blogger Indonesia bermalam di Loxy Inn Surabaya
Priangga (kiri) - Radit (tengah) - Hannif (kanan) || Semalam di Loxy Inn, Surabaya
Keesokan harinya, selasa (22 November 2016) pagi, kami dijemput pihak panitia dari Plat-M untuk acara pembukaan dan pengarahan di kantor BPWS yang berlokasi di kaki Jembatan Suramadu. 

Blogger Indonesia di Kantor BPWS, Surabaya || Taken by @pardicukup
Blogger Indonesia di Kawasan Kaki Jembatan Suramadu sisi Surabaya || Taken by Atanasia Rian
Blogger Indonesia || Taken by Atanasia Rian
Tepat pukul 12.00 wib, Blogger Indonesia berangkat menuju Kabupaten Bangkalan menggunakan Bus yang telah disediakan oleh panitia dari Plat-M. Dalam perjalanan tersebut, kami mengunjungi Kawasan Kaki Jembatan Sisi Suramadu (KKJSM), kawasan ini menjadi sentral untuk kegiatan industri, perdagangan dan jasa, serta akan menjadi destinasi wisata baru sebagai kawasan rest area untuk wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Madura.

Blogger Indonesia di KKJSM || Taken by @pardicukup
Tepat pukul 13.30 wib, perjalanan dilanjutkan menuju Kawasan Khusus Madura (KKM) di Kecamatan Klampis yang sedang dikerjakan proyeknya oleh BPWS. Setelah itu, melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sampang, tepatnya di Desa Batioh Kecamatan Banyuates.

Sesampai di Desa Batioh, kami menuju Homestay sebagai tempat bermalam yang telah disediakan oleh Plat-M untuk para Blogger Indonesia. Homestay berada di pemukiman warga di pinggir Pantai Nepa. Menjelang sunset, panitia dari Plat-M mengajak kami mengunjungi kawasan wisata Hutan Kera Nepa yang berlokasi di bibir pantai Nepa, tidak jauh dari tempat kami menginap. Kera di hutan Nepa itu akan hadir apabila dipanggil oleh juru kunci menggunakan mantra tertentu.

Menduniakan Madura - Blogger Indonesia di Kawasan Wisata Hutan Kera Nepa Madura
Dua sejoli di depan pintu masuk hutan kera nepa. Keranya ginuk-ginuk ganduik-ganduik, ramah kalau dikasih camilan || Taken by @apriej
Sesuai dengan namanya, Hutan Kera Nepa adalah tempat tinggal bagi ratusan kera-kera jinak. Konon, kera sebagai penghuni utamanya menjaga makam leluhur tokoh Madura dan Datuk Dayak dari Kalimantan yang makamnya bersandingan. Menjelang malam, Blogger Indonesia bersama Plat-M mengadakan sarasehan bersama perwakilan SKPD dan warga Desa Batioh.

Hari kedua (23 November 2016), diawali olahraga pagi di Pantai Nepa dan dilanjutkan Breakfast di Homestay dan persiapan untuk Check out dan melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Toroan.

Suasana pagi yang indah, Blogger Indonesia menikmati pemandangan Air terjun Toroan yang berlokasi tidak jauh dari kota Sampang. Uniknya, air terjun yang memiliki ketinggian 20 meter ini adalah satu-satunya waterfall yang ada di Pulau Madura, yang menjadikan air terjun ini berbeda dengan air terjun pada umumnya adalah lokasinya berdampingan dengan sebuah pantai. Air terjun Toroan tidak boleh dibuat berenang karena terdapat palung yang sangat dalam.

Air Terjun Toroan, Madura
Air yang mengalir dari atas air terjun langsung menyatu dengan air laut yang berada di sebuah muara
Blogger Indonesia di Kawasan Wisata Alam "Air Terjun Toroan"
Perjalanan kembali dilanjutkan menuju Kabupaten Sumenep, tepatnya ke Pelabuhan Pasongsongan, dimana kawasan tersebut menjadi sentralnya tempat pelelangan ikan. TPI Pasongsongan dikelola oleh Provinsi dan menjadi yang terbesar di Pulau Madura.

TPI Pasongsongan Kabupaten Sumenep
TPI Pasongsongan Kabupaten Sumenep
Tepat pukul 12.30 wib, Blogger Indonesia diarahkan menuju Pelabuhan Dungkek, Saronggi melewati Kota Sumenep. Selanjutnya menyebrang ke Giliyang, sebuah pulau yang memiliki kadar oksigen terbaik di dunia. Di Giliyang, para blogger melihat jejak pembangunan BPWS di pulau tersebut.

Bloggers di Pelabuhan Dungkek || Taken by @fajrinherrisgembel
Pesisir Pulau Giliyang
Perlu Anda ketahui bahwa Lapan pernah melakukan riset selama enam bulan di Giliyang dan akhirnya ditemukan 17 titik oksigen yang masih dirahasiakan, satu diantaranya telah dibocorkan masyarakat kepada Plat-M. Blogger Indonesia menginap satu malam di Homestay yang difasilitasi oleh BPWS.

Dorkas atau lebih dikenal dengan nama Odong-odong oleh masyarakat Giliyang, satu-satunya kendaraan masal yang membawa rombongan Blogger Indonesia ke Homestay || Taken by @cewealpukat
Homestay di Giliyang
Menjelang matahari terbenam, Blogger Indonesia menjelajahi eksotisme Gua Mahakarya yang berlokasi di Desa Banraas. Gua ini memiliki ornamen stalaktik dan stalakmit yang menjuntai di langit-langit batu gua dan menjadi daya tarik wisatawan. Gua Mahakarya memiliki luas sekitar 800 meter pesergi, terbagi dalam 7 ruang yang cukup luas dengan suasana cukup nyaman.

Gua Celeng (Gua Mahakarya) adalah satu diantara 18 gua yang ada di Pulau Madura
Hari ketiga (24 November 2016), Blogger Indonesia menikmati sarapan di Pantai Ropet sambil menikmati sunrise. Setelah itu, bloggers siap-siap untuk kembali menyebrang ke daratan Madura menuju Desa Tanjung Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep untuk melihat aktivitas para petani rumput laut. Rumput Laut menjadi komoditas utama masyarakat Kecamatan Saronggi. Sebelum menuju Desa Tanjung, bloggers terlebih dahulu diarahkan mengunjungi Bandara Trunojoyo Sumenep dan perjalanan berlanjut menuju Kabupaten Pamekasan.

Salah satu view di Pantai Ropet, Giliyang
Bandara Trunojoyo adalah satu-satunya bandar udara yang ada di Pulau Madura

Rumput Laut adalah salah satu komoditas utama Kabupaten Sumenep || Taken by @eobbher
Di Pamekasan, Blogger Indonesia mengunjungi kampung batik di Desa Klampar Kecamatan Proppo. Owner rumah produksi batik di Desa Klampar menjamu Blogger Indonesia dengan penuh kehangatan untuk ISHOMA di kediamannya. Terdengar teriakan dan gelak tawa para bloggers.

Melihat langsung pengrajin Batik Sarimbit khas Madura || Taken by @apriej
#BloggerIndonesia #MenduniakanMadura #JejakBPWS
Perjalanan pun dilanjutkan menuju Desa Ketetang Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan. Dalam perjalanan, Blogger Indonesia bersama Plat-M mengunjungi kediaman salah satu blogger Madura yang namanya sempat menggema diantara bloggers se-Madura. 

Silaturahmi Blogger Indonesia ke rmh seorang blogger senior asal Madura yang menginspirasi para generasi Blogger Madura saat ini.
Tak lupa Plat-M memanjakan Blogger Indonesia melihat keindahan Jembatan Suramadu dari kejauhan di pesisir Bangkalan. Bersama Polisi dari Polres Bangkalan, Blogger Indonesia dan Plat-M memperagakan gaya unik seperti manekin yang sedang viral di dunia maya yaitu #mannequinchallenge.
Untuk melihat video Mannequin Challenge, klik disini.
Sesampai di Desa Ketetang, jam menunjukkan pukul 19.00 wib, Blogger Indonesia sudah ditunggu kedatangannya oleh masyarakat Desa Ketetang di Kantor Camat Kwanyar. Disambut hangat oleh masyarakat Kwanyar dengan sebuah tarian daerah yang diperagakan oleh adik-adik dari salah satu TK di Kecamatan Kwanyar.

  Acara penyambutan selesai, Blogger Indonesia diarahkan menuju Homestay yang berlokasi di Dusun Koalas Desa Ketetang (Kwanyar - Bangkalan). Di Koalas, Blogger Indonesia juga sudah disambut hangat oleh warga dengan hidangan makanan ala warga Dusun Koalas.

Hari keempat (25 November 2016) merupakan hari terakhir Blogger Indonesia bersama Plat-M menjelajahi keindahan Pulau Madura. Setelah selesai sarapan, bloggers bersiap-siap menuju Kota Bangkalan untuk mengunjungi pusat batik tulis dan souvenir khas Madura di Tresna Art. 

Tresna Art || Taken by Madura Vacation
rumah adat Madura yang terletak di belakang galeri
Perjalanan kembali dilanjutkan ke Ole-Olang Resto, salah satu destinasi wisata kuliner yang wajib dikunjungi ketika berwisata ke Madura. Penutupan sekaligus penyerahan hadiah hiburan untuk Blogger Indonesia yang beruntung dari Plat-M juga digelar disini.

Dikarenakan tidak banyak waktu, saya dan teman blogger dari Pontianak (Dwi Wahyudi, Edo Pradana Prasitha dan MF. Abdullah) harus sesegera berangkat ke Kota Surabaya. Mbak Rian (Blogger Jogja) dan Mbak Molly (Blogger Medan) juga barengan kami untuk menuju bandara Juanda.

  #MENDUNIAKANMADURA #JEJAKBPWS

Berikut adalah beberapa fakta unik seputar destinasi-destinasi yang dikunjungi oleh bloggers yang datang dari berbagai daerah di Indonesia :
  • Kita menyusuri aspal dari sisi utara Madura melingkar hingga ke selatan. Benar-benar mengelilingi seratus persen! 
  • Empat hari tiga malam sepertinya menjadi tur blogger paling lama yang pernah ada di Indonesia 
  • Belum ada pertemuan blogger yang diadakan di empat kabupaten sekaligus. Bahkan kita menginap di tiga kabupaten berbeda: Sampang, Sumenep dan Bangkalan 
  • Menyusuri empat kabupaten se-Madura dengan pengawalan dari empat Polres secara estafet: Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Sepertinya juga pertama di Indonesia. 
  • Setelah Amprokan Blogger, ini acara blogger kedua yang dikawal oleh kepolisian 
  • Kera di hutan Nepa itu akan hadir kalau dipanggil oleh juru kunci menggunakan mantra tertentu, jika hari biasa sulit menemukan kera sebanyak kemarin. 
  • Air terjun toroan tidak boleh dibuat berenang karena terdapat palung yang sangat dalam. Sudah ada beberapa korban meninggal karena nekat berenang ataupun terjatuh 
  • TPI Pasongsongan dikelola oleh Provinsi, bukan Kabupaten dan menjadi yang terbesar di Madura 
  • Lapan melalukan riset selama enam bulan di Giliyang dengan berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Akhirnya ditemukan 17 titik oksigen yang masih dirahasiakan (1 dibocorkan masyarakat ke Plat-M) 
  • Oksigen di Giliyang baru dapat dirasakan pada dini hari setelah pukul 01:00 hingga sebelum subuh. 
  • Jam 03:30 oksigen terasa seperti tertiup AC dengan intensitas yang sangat kecil 
  • Paving, homestay dan pengaliran air bersih di Giliyang difasilitasi oleh BPWS 
  • Sumenep merupakan wilayah yang berada ujung timur Madura dengan pulau-pulau mempesona di timurnya. 
  • Siwalan dapat diolah menjadi Gula di pulau Gili Iyang. 
  • Turunan mbah Sunan di Kwanyar tidak boleh makan ikan mondung, jika makan akan terkena penyakit seperti panu 
  • Giliyang pulau yang melintang dari utara ke selatan, tidak seperti mayoritas pulau lain di Indonesia. 
  • Konsep rumah di Madura itu dikenal Tanean Lanjeng. 

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *