Blog untuk Pendidikan

Jumat, 24 Februari 2017

Republik Pertama di Bumi Nusantara yaitu Republik Lanfang

SampanPesisir - Republik Lanfang adalah sebuah perkumpulan kongsi Hakka Chinese di Kalimantan Barat. Pendirinya bernama Lo Fang Pak (Luo Fangbo) pada tahun 1777 sampai berakhir dengan pendudukan Belanda pada tahun 1884. Republik Lanfang adalah salah satu republik modern awal di dunia dan repbulik pertama di tanah Nusantara yang sekarang disebut Indonesia.

Lambang Republik Lanfang

Bapak pendiri Republik Lanfang adalah Luo Fangbo (Lo Fang Fak), yang berasal dari Meizhou di Provinsi Guangdong pada tahun 1738, bertepatan pada masa pemerintahan tahun ketiga Dinasti Qing. Luo Fangbo mulai bertualang pada usia 34 tahun. Dia merantau ke Kalimantan Barat saat ramainya orang mencari emas (Gold Rush), dengan menyusuri Han Jiang menuju Shantao, sepanjang pesisir Vietnam, dan akhirnya berlabuh di Kalbar (Wilayah Kesultanan Sambas) pada usia sekitar 41 tahun yaitu pada sekitar tahun 1774 M.

Lukisan Lo Fang Pak di Kelenteng Sungai Purun Besar, Kabupaten Mempawah

Pemukim Cina telah lama tinggal di Kalimantan, dengan sebagian besar terlibat dalam perdagangan dan pertambangan. Mereka membentuk perusahaan mereka sendiri, di antaranya adalah Southern Company yang dipimpin oleh Luo. Asal muasal daerah para pendatang Tionghoa di Kalimantan seperti halnya Lo Fang Pak, umumnya berasal dari Guangdong [Schaank , p10]. Suku-sukunya antara lain Hakka dan Hoklo [Fulao, Schaank , p11]. Para pekerja tambang itu pada mulanya sudah memiliki banyak sekali perhimpunan, namun lambat laun membentuk ikatan lebih besar yang disebut Kong-si.

Pada Tahun 1776 terdapat 12 Kongsi di wilayah Kesultanan Sambas yang berpusat di Montradok dan 2 buah Kongsi di wilayah Panembahan Mempawah yang berpusat di Mandor menyatukan diri dalam wadah lembaga yang bernama Hee Soon untuk memperkuat persatuan di antara mereka dari ancaman pertempuran antara sesama Kongsi seperti yang telah terjadi antara Kongsi Thai Kong dan Lan Fong pada tahun 1774. Salah satu dari 12 Kongsi yang berasal dari wilayah Kesultanan Sambas adalah Kongsi Lanfong yang dihidupkan lagi oleh Luo Fangbo (Lo Fang Fak) dengan Lo Fong Pak sendiri yang menjadi ketuanya.

Setahun kemudian yaitu pada tahun 1777 M Lo Fong Pak memindahkan lokasi Kongsi Lan Fong ke lokasi lain di mana lokasi Kongsi Lan Fong yang baru ini tidak lagi diwilayah Kesultanan Sambas tetapi adalah di wilayah Panembahan Mempawah yaitu Mandor (Tung Ban Lut). Dalam masa pemerintahannya, Luo melaksanakan prinsip-prinsip demokrasi, termasuk gagasan bahwa semua urusan negara harus melibatkan konsultasi warga republik ini.

Luo Fang Bo Memorial

Luo dalam masa kepemimpinannya telah menjalankan system perpajakan [belasting] termasuk pajak perjudian [speeltafels] , dan mempunyai kitab undang undang hukum, menyelenggarakan system pertanian dan pertambangan yang terarah, membangun jaringan transportasi, penjualan opium [verkoop van opium], arak [belasting op de particuliere arak stokerijen] . [Schaank , p99-104] .

Ketika Luo mendirikan Kongsi Lan Fang atau Lan Fang Kongsi, belum ada pemerintahan yang menguasai daerah tersebut. Maka semua hukum dan undang-undang yang berlaku disitu beliau yang menyusunnya. De Groot sangat kagum sejumlah pendatang campur-aduk yang berasal dari kaum petani biasa di Tiongkok mampu mendirikan negara dengan organisasi yang rapih dan terpimpin dimana berlaku hukum, ketertipan dan disiplin. [De Groot , 1885]

Bendera Republik Lanfang  dengan tulisan dalam bahasa Mandarin "Lan Fang Ta Tong Chi"

Luo juga menciptakan seperangkat eksekutif, legislatif, dan lembaga peradilan. Republik ini tidak memiliki militer pada umumnya, namun memiliki kementerian pertahanan yang diberikan milisi nasional berdasarkan wajib militer. Masyarakat republik / kongsi tersebut kebanyakan terlibat dalam pertanian, produksi, perdagangan, dan pertambangan. Divisi administrasi Lanfang ini dibagi menjadi tiga tingkatan (provinsi, prefektur, dan kabupaten) dan orang-orang dipilih secara demokrasi untuk menjadi pemimpin. Lanfang bersekutu dengan Sultan Abdurrahman dari Kesultanan Pontianak.

Koin Republik Lanfang || Credit: alvinology

Van Rees seorang Belanda , memberi kesaksian tentang pergaulan sama rata di kongsi-kongsi itu. Orang yang berpangkat paling tinggi duduk berdampingan dengan kuli yang paling miskin. Menurut van Rees didalam penghidupan sehari-hari orang Tionghoa tidak mempersoalkan tingkat dan pangkat. Penguasa sipil Sambas bernama Muller dan seorang pejabat Belanda bernama Veth juga menyaksikan hubungan sama-rata.

De Groot selanjutnya: �Orang yang terendah pun setiap waktu dapat menghubungi pimpinan. Tiada pemimpin yang merasa tersinggung bila seorang dari rakyat-biasa memasuki ruang kerjanya untuk membicarakan urusan-urusan kecil. Bila bertemu dipersimpangan jalan, pemimpin dan rakyat-biasa saling menyambut dengan ramah.

Para saksi mata juga kagum tenaga kerja orang-orang Tionghoa. Hutan ditebang dan tanah yang tidak begitu subur dijadikan sawah, kebun gula dan kebun buah-buahan. Dikatakan tiada suku lain di dunia dalam keadaan yang sama dapat mewujudkannya. Bekerja dibawah terik panas matahari daerah khatulistiwa dari subuh hingga matahari terbenam, dipersukar oleh kekuasaan Belanda, tanpa perlindungan dari pemerintah tanah leluhur, tanpa modal, hanya dengan kecerdikan dan semangat-berusaha (spirit of enterprise). Menjalin hubungan keluarga dengan penduduk non-tionghoa setempat melalui pernikahan, secara umum terjadi sedari permulaan. Mendirikan sekolahan-sekolahan merupakan salah satu usaha yang utama, sekalipun didesa-desa yang kecil. Diantara kaum Tionghoa sukar dijumpai orang yang buta-huruf.

Mereka disukai penduduk setempat sebagai tenaga yang berharga. Tidak seperti pihak Belanda yang dimana-mana datang dengan kapal perang, serdadu dan senapan. Dengan suku Dayak Batang-lupar dan Punan yang ditakuti sebagai pengayau (penggorok kepala) pun orang-orang Tionghoa dapat memelihara hubungan yang baik. Sedangkan tidak ada orang Eropa yang berani berhadapan dengan suku-suku tersebut tanpa pengawal yang kuat. Demikianlah kesaksian pejabat-pejabat Belanda jaman itu.

Kedatangan orang-orang Hakka semacam Lo Fang Pak dan teman-temannya relatif tidak menimbulkan gesekan sosial. Sebab, orang Hakka dikenal mampu membawa diri, ibarat pepatah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Di samping itu, sebagai pendatang, mereka juga punya keterampilan.

Luo meninggal pada tahun 1795, tahun kedua dideklarasikannya Daerah Otonomi Khusus tersebut (1793). Ia telah hidup di Kalimantan lebih dari 20 tahun. Pada usia ke 47 berdirinya Kongsi Lan Fong tersebut, yaitu pada masa pemerintahan Ketua Kongsi kelima, Liu Tai Er (Hakka: Liu Thoi Nyi), Belanda mulai aktif melakukan ekspansi di Indonesia dan menduduki wilayah tenggara Kalimantan.

Liu Tai Er terbujuk oleh Belanda di Batavia (kini Jakarta) untuk menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Belanda. Penandatanganan kesepakatan tersebut kemudian membuat Kongsi Lan Fong dalam pengaruh Belanda. Munculnya pemberontakan penduduk asli semakin melemahkan Kongsi Lan Fang. Kongsi Lan Fang kemudian kehilangan otonomi dan beralih dari daerah dibawah naungan Sultan Pontianak menjadi sebuah daerah protektorat Belanda. Belanda membuka perwakilan kolonialnya di Pontianak dan mengendalikan sepenuhnya Kongsi Lan Fong dengan melantik Ketua Kongsie sebagai regent.

Pada tahun 1884, Kongsi Thai Kong yang berpusat di Montradok menolak diperintah oleh Belanda, sehingga Kongsi Thai Kong diserang oleh Belanda. Belanda berhasil menduduki Thai Kong Kongsi, namun kongsi tersebut mengadakan perlawanan selama 4 tahun. Perlawan Kongsi Thai Kong terhadap Belanda ini juga kemudian melibatkan Kongsi Lan Fong sehingga Kongsi Lan Fong kemudian juga diserang Belanda dan ditaklukkan Belanda, menyusul kematian Liu Asheng (Hakka: Liu A Sin), Ketua Kongsi Lan Fong yang terakhir. Sebagian warga Kongsi Lan Fong kemudian mengungsi ke Sumatera, Pulau Tumasik (Singapura sekarang).

Kejayaan Lan Fang, kemudian berlanjut di Pulau Tumasik. Lee Kuan Yew pendiri negara Singapura adalah salah satu dari keturunan dari Republik Lanfang. Kakek dari Lee Kuan Yew lahir di Singapura pada 1865 dan menikah dengan Neo Ah Soon, seorang perempuan Hakka Chinese dari Pontianak. Hakka Chinese menjadi minoritas di Singapura. Tapi, memainkan peran penting dalam mendirikan Kongsi Lan Fang yang kedua di Pulau Tumasik yang bernama Singapura.

Daftar Ketua Kongsi yang pernah memimpin Daerah Otonomi Kongsi Lanfang (1777 - 1793 ) dan Daerah Otonomi Khusus Kongsi Lanfang dari tahun 1793 - 1884.

Nama Ketua Kongsi Periode Keterangan
Lo Fangpak 1777-1795     Pendiri Kongsi Lanfang di Mandor pada tahun 1777
Kong Meupak 1795-1799     Perang dengan Panembahan Mempawah
Jak Sipak 1799-1803     Konflik dengan orang Dayak dari Landak
Kong Meupak 1803-1811
Sung Chiappak 1811-1823     Ekspansi tambang di Landak
Liu Thoinyi 1823-1837     Sudah di bawah pengaruh kolonial Belanda
Ku Liukpak 1837-1842     Konflik dengan Panembahan Landak dan kemerosotan  kongsi
Chia Kuifong 1842-1843
Yap Thinfui 1843-1845
Liu Konsin 1845-1848     Pertempuran dengan orang Dayak dari Landak
Liu Asin 1848-1876     Ekspansi tambang ke kawasan Landak
Liu Liongkon 1876-1880
Liu Asin 1880-1884      Kejatuhan Lanfang Kongsi pada tahun 1884

Lan Fang Kongsi yang dirintis oleh Lo Fang Pak ini berusia 107 Tahun dan lebih lama daripada negara persatuan Jerman bentukan Bismarck, yang setelah kira-kira 75 tahun pecah menjadi Jerman Timur dan Barat. Ditambah 12-13 tahun setelah dipersatukan lagi juga belum 100 tahun. Belgia terbentuk tahun 1830 hingga kini 173 tahun dan dengan demikian berumur kurang daripada self-government orang-orang Tionghoa di Palembang yang menurut Victor Purcell berlangsung selama 200 tahun.

Map Republik Lanfang


REFERENSI :

S.H. Schaank , �De Kongsi�s Van Montrado : Bijdrage Tot De Geschiedenis en De Kennis van Het Wezen Der Chineesche Vereenigingen Op De Westkust van Borneo , Batavia , 1893 dalam Ivan Taniputera , �Resensi Buku De Kongsi�s Van Montrado� , Budaya Tionghoa , 30 November 2011

Zhou Nanjing , p394

Benny Setiono , p189-193

Kao Cungxi , �The Book Hakka People � Jews Of The Orient� dalam Dr Irawan , Dr Fritz Hong , �Republik Pertama Di Nusantara � Lanfang� , Mailing-List Budaya Tionghua No 11242 , Budaya Tionghoa No 1505

Dr. J.J.M. de Groot , �Het Kongsiwezen van Borneo� , 1885 , Lihat Sie Hok Tjwan

Willer , �Kronijk (chronicle) Van Mampawa En Pontianak� , Lihat Sie Hok Tjwan

Sie Hok Tjwan , � Sejarah Keturunan Tionghoa Di Asia Tenggara Yang Tidak Dikenal Khalayak Ramai � Kalimantan Barat�, Mailing-List Budaya Tionghua No 1489 � 24 Maret 2004 , Budaya Tionghoa No 158

https://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Lanfang
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1726-lo-fang-pak-1738-1795-pendiri-lan-fang-kongsi

Selasa, 21 Februari 2017

Asal Usul Desa Sepinggan Sambas

SampanPesisir- Cerita rakyat yang berkembang di Sambas disampaikan oleh nenek moyang secara lisan dan turun-temurun. Biasanya cerita disampaikan oleh tukang cerita sambil duduk-duduk di suatu tempat kepada siapa saja, anak-anak dan orang dewasa. Bahkan ada juga sebagai cerita penghantar tidur anak-anak, selain berfungsi untuk menghibur melainkan dengan penuh kesabaran penutur cerita ingin menyampaikan nilai-nilai luhur kepada generasi penerusnya.

Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia di kabupaten Sambas banyak ditemui jenis cerita rakyat atau lebih dikenal dengan istilah dongeng. Setiap cerita rakyat memiliki fungsi dan tujuan yang hendak disampaikan kepada masyarakatnya. Salah satunya adalah Asal Usul Desa Sepinggan, cerita rakyat yang berasal dari Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.


Berikut adalah cerita rakyat berjudul Asal Usul Desa Sepinggan yang berhasil misterpangalayo.com rangkum. Cerita di bawah ini menggunakan alur maju atau kronologis karena diceritakan dari awal sampai akhir. Referensi penulisan artikel ini bersumber dari buku yang berjudul "Antologi Cerita Rakyat Semparuk" Edisi cetakan pertama, Oktober 2016. Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Pada zaman dahulu terdapat sebuah hutan lebat yang ditumbuhi pepohonan besar dan rimbun. Di hutan itu hidup beraneka macam hewan, seperti harimau, ular, bekantan, dan orang hutan. Setiap hari terdengar suara hewan-hewan itu bersahut-sahutan, raungan harimau, desisan ular, teriakan orang hutan dan kicauan burung menyemarakkan suasana hutan tersebut. Di sekitar hutan tersebut terdapat dua desa, yaitu Desa Sungai Baru dan Desa Puting Beliung.

Hari itu, matahari bersinar hangat di ufuk timur, embun yang menggantung di ujung dedaunan, kicauan burung terdengar merdu bersahut-sahutan menyambut pagi yang cerah. Orang-orang yang tinggal di dekat hutan tersebut, yang berasal dari berbagai daerah seperti Sungai Baru dan Puting Beliung berkumpul untuk membicarakan sesuatu. Mereka berencana membuka hutan itu menjadi sebuah desa.

Kepala desa berkata,�Bapak-bapak dan ibu-ibu kita berkumpul di sini untuk sama-sama berembuk mengenai rencana kepindahan kita.�

�lya, kami setuju akan rencana kepindahan kita, tapi kita pindah kemana?� sahut seorang warga yang bernama Aloi.

�inilah yang akan kita rembukkan Pak Aloi, bagaimana baiknya kepindahan kita itu dan tujuan kita pindah. Saya telah memikirkan hal ini bagaimana kalau kita membuka hutan saja? Tetapi, kalau ada warga yang memiliki usul lain yang lebih baik, silahkan saja.�

�Saya juga telah berpikir akan hal itu, Pak. memang hanya itu pilihan yang kita punya. Bila kita pindah ke tempat lain akan memakan banyak waktu, perjalanan yang harus kita tempuh juga jauh. Jadi saya setuju akan usul bapak,� ujar Pak Mude.

�lya, saya setuju,� sahut seorang warga.

�Setuju,� warga yang lain menimpali dengan bersemangat.

�Kami juga setuju, hutan itu subur. Kita akan sejahtera bila tinggal di sana. Desa kita ini tidak bagus lagi, gersang, mata air pun sering kering,� ujar penduduk yang lain.

Rencana membuka hutan tersebut dianggap sangat bijak sehingga semua orang setuju. �Baik�baik�bila sudah sepakat maka kita akan membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggal baru kita,� kata Kepala desa dengan bijaksana.

Sedikit demi sedikit mereka mulai membersihkan pepohonan yang ada di hutan itu. Pohon-pohon besar mereka tebang, kayunya mereka jadikan bahan pembuatan rumah. Mereka bergotong royong membangun tempat tinggal untuk seluruh warga desa.

Mereka pun meninggalkan desa mereka, barang-barang mereka yang banyak dibawa menggunakan gerobak. Mereka sangat gembira karena cita-cita mereka untuk memilki tempat tinggal yang baru akhirnya terwujud. Mereka jalan beriringan menuju tempat baru itu dengan bersenda gurau, bernyanyi bersahut-sahutan, dan mengobrol dengan sesama mereka. Raut wajah gembira tampak pada wajah mereka. Gurat-gurat kelelahan di wajah mereka telah hilang tergantikan senyum.

Namun, setelah beberapa lama tinggal di desa itu, mereka tidak betah. Harapan mereka akan kehidupan yang baik telah sirna karena ternyata desa yang mereka bangun dengan susah payah itu angker dan menyeramkan. Mereka merasakan keanehan-keanehan, penampakan makhluk halus banyak berkeliaran. Bahkan, makhluk halus seeing mengganggu mereka siang malam. Hal ini membuat mereka tidak betah.

Malam itu begitu kelam, suara jangkrik terdengar diantara suara angin yang menderu-deru. Warga desa kembali berkumpul untuk membicarakan keanehan-keanehan yang sering mereka alami.

�Apa para warga desa merasakan keanehan yang terjadi? Setiap hari di rumahku selalu ada saja benda yang melayang di udara. Kadang sendok, kadang piring,� kata Pak Long, salah seorang warga desa yang telah berumur lanjut.

�Oi Pak Long, di rumah kami pun begitu. Bahkan kadang ada penampakan nenek ataupun anak kecil yang meringkuk di sudut kamar,� sahut Pak Mude dengan sura pelan.

�Di tempat kami sering terdengar suara orang yang menangis juga tertawa setiap saat. Aku jadi takut bila sendirian di rumah,� sahut seorang ibu dengan sedih.

�Kami sudah tidak tahan di desa ini, terlalu angker,� teriak salah seorang warga.

�Ya, benar. Saya juga sudah tidak tahan, desa ini begitu menyeramkan, masih mending desa kita yang dulu walaupun gersang tak pernah ada makhluk halus yang mengganggu� sambung Pak Aloi.

�lya, saya tidak pernah bisa tenang, makhluk halus itu selalu mengganggu siang malam,� kata seorang pemuda.

�Bagaimana kalau kita pulang saja ke tempat tinggal asal kita dulu.� Usul seorang bapak.

�Setuju,� teriak salah seorang warga.

�lya, kita pulang saja,� kata warga yang lain.

�Baiklah, kami setuju dengan usulan bapak. Rencana itu sangat bijak. Sekarang, kemaskan barang-barang dan pergi dari desa angker ini,� sambung kepala desa. Dari tadi ia hanya mendengarkan saja keluhan warga desanya. la merasa kecewa akan keadaan yang mereka alami.

Tanpa membuang banyak waktu, warga desa segera berkemas meninggalkan desa tersebut untuk kembali ke tempat asal mereka. Kali ini tidak ada lagi senda gurau dan tawa lepas hanya terlihat kesedihan dan kelelahan di raut wajah mereka.

Beberapa hari setelah kepergian mereka dari desa tersebut, datanglah sekelompok orang yang bukan berasal dari daerah sekitar desa itu. Mereka berasal dari tempat yang jauh. Mereka terlihat bingung ketika sampai di desa tersebut karena desa itu kosong tak berpenghuni.

�Akhirnya kita bertemu juga dengan sebuah desa. Hari demi hari yang kulihat hanya hutan belantara, kulihat juga rumah,� kata salah seorang anggota rombongan tersebut.

�Tetapi, desa ini aneh. Kemana para penduduk desa ini pergi? Satu pun tidak ada yang terlihat,� kata pemuda yang bernama Saung.

�Aku pernah mendengar kalau desa ini angker, banyak makhluk halus yang berkeliaran,� kata pemuda yang kedua.

�Mungkin mereka pergi dari desa ini, bukankah begitu?� tanya pemuda pertama.

�Ya, bisa jadi,� jawab pemuda kedua.

�Bagaimana kalau kita menetap dan merawat desa ini?� usul pemuda pertama.

�lya, kami setuju,� kata sekelompok orang pendatang tersebut.

Sekelompok orang yang baru tiba tersebut akhirnya menetap di desa yang telah ditinggalkan itu. Mereka tidak terusik oleh keanehan-keanehan yang ada, makhluk halus yang berkeliaran tidak membuat mereka gentar dan takut. Setelah beberapa lama tinggal di desa itu, beberapa orang mencoba untuk bercocok tanam, membuka ladang. Mereka menanami ladang tersebut dengan tanaman padi. Beberapa bulan kemudian, musim panen pun tiba. Mereka sangat gembira karena sebentar lagi mereka akan menikmati jerih payah mereka. Beramai-ramai mereka memanen padi yang mereka tanam dan rawat berbulan-bulan. Namun,mereka sangat kecewa karena hasil jerih payah mereka ternyata tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

Hasil panen padi yang seharusnya melimpah setelah dikumpulkan ternyata banyak yang tidak bagus, banyak yang hanya selongsongnya saja, isinya tidak ada/kosong. Panen padi itu tidak melimpah, hanya sepiring nasi. Oleh karena itu, desa angker itu akhirnya diberi nama Desa Sepinggan.

Senin, 20 Februari 2017

Asal Usul Gunung Senujuh Sambas

SampanPesisir - Betapa gagahnya Gunung Senujuh, berdiri tegak bagaikan seorang tentara yang sangat hebat. Menjulang tinggi mencapai langit biru, menembus awan-awan lembut tanpa rasa takut. Gunung Senujuh berdiri sepanjang hari dan diapit 3 sungai nan indah, yaitu Sungai Sambas, Sungai Senujuh, dan Sungai Perigi Piai. Luasnya 585,90 hektar dengan panjang 12.628,50 meter penuh dengan warna hijau yang membuat mata menjadi sejuk.

Secara administratif, gunung ini terletak di Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Menurut Stanley Karnow (1964) peta perjalanan migrasi bangsa Austronesia dari daratan Asia menuju pulau Kalimantan dan kepulauan Indonesia lainnya melalui semenanjung Malaka. Mereka yang menuju Kalimantan Barat, memasuki muara suangai Sambas dan Salako. Kelompok yang memasuki sungai Sambas, banyak bermukim di kaki bukit Senujuh.

Gunung Senujuh Sambas

Menurut Simon Takdir (2007) Kelompok Austronesia yang bermukim di kaki bukit Senujuh ini, karena jumlahnya kecil, akhirnya hilang karena ditaklukkan dan berbaur dengan penduduk yang lebih dulu datang ke daerah itu. Pembauran ini melahirkan nenek moyang suku yang disebut suku Kanayatn atau Rara dengan ragam-ragam bahasa mereka yaitu bakati�, ba nyam, dan ba nyadu�. Di kawasan ini, sekitar tahun 1291 berdiri sebuah kerajaan bercorak Hindu dan rakyatnya menganut agama tradisional dan Hindu (Kaharingan).

Menurut cerita rakyat Dayak Kanayatn, kawasan gunung Senujuh merupakan tempat tinggalnya Panglima Marabatn Ampor. Cerita lainnya, menyebutkan bahwa gunung Senujuh dijaga atau jelmaan dari 7 puteri yang melawan duate dari Sekadim untuk membuat gunung dalam satu malam.

Terlepas dari cerita tersebut, masyarakat Sambas pada umumnya meyakini jika gunung Senujuh yang berdiri kokoh menjulang tinggi itu terbentuknya melalui kisah asal usul yang menarik.

Kisahnya sebagai berikut:

Gunung Sinujuh terletak di dekat muara daerah Sejangkung, berkisar belasan kilometer dari kota Sambas. Gunung ini terbentuk karena konflik antara dua daerah yang memperebutkan satu wilayah. Pemimpin dari daerah Sebatok bernama Datok Siba dan pemimpin dari daerah Sinujuh bernama Ki Sinu, keduanya seorang petapa.

Awalnya dua daerah itu menjalin hubungan baik. Mereka tidak pernah memiliki permasalahan yang sampai memecah belah hubungan mereka. Hubungan mereka seperti kumbang dan bunga yang saling menguntungkan satu sama lain. Apabila ada permasalahan mereka saling membantu. Penyelesaian masalah tersebut dilakukan secara bermufakat.

Di suatu hari, pimpinan daerah Sebatok yaitu Datok Siba dan pemimpin daerah Sinuju yaitu Ki Sinu pergi berburu bersama. Mereka berburu tidak jauh dari desa. Tak di sengaja mereka menemukan daerah/wilayah yang sangat subur. Di wilayah tersebuyt tumbuh berbagai jenis tumbuhan dan berbagai jenis hewan. Tanahnya subur, dan berdekatan dengan muara besar.

�Wah, subur sekali daerah ini. Banyak tumbuh-tumbuhan, hewan dan berdekatan dengan muara,� seru Datok Siba. �Bagaimana kalau kita buat pemukiman saja di sini?� Usul Ki Sinu. Datok Siba setuju.

Mereka pun pulang ke desa masing-masing. Keesokan harinya, Ki Sinu berkehendak pergi ke Desa Sebatok menemui Datuk Siba. Dia ingin membicarakan tentang pembagian wilayah yang ditemukan dekat muara besar kemarin.

�Datuk, bagaimana pembagian wilayah yang ada di dekat muara besar itu?� tanya Ki Sinu.

�Oh, itu soal mudah, karena aku yang menemukannya terlebih dahulu jadi wilayah milikku lebih besar dari wilayah milikmu. Lag! pula wargaku lebih ramai dari pada wargamu.� Jawab Datuk Siba.

Ki Sinu menjawab dengan memukul meja Datuk Siba, �Mana boleh seperti itu, kita harus bagi rata wilayah itu. Tidak boleh ada kurang tidak boleh ada lebih.�

Perdebatan berlangsung lama, Ki Sinu langsung pulang meninggalkan Desa Sebatok. Di tengah perjalanan dia berpikir untuk mendapatkan wilayah yang sama rata.

Keesokan harinya pergi lag! ke Desa Sebatok untuk menemui Datuk Siba. Sesampainya di rumah Datuk Siba, Ki Sinu langsung mengusulkan pendapat untuk menyatukan daerah mereka menjadi satu. Tetapi Datuk Siba menolak dapat tersebut. Datuk Siba langsung menyuruh Ki Sinu pulang. Ki Sinu pulang dengan perasaan marah. Di rumahnya, sepulang dari Desa Sebatok dia langsung memikirkan cara untuk merebut utuh wilayah dekat muara tersebut. Ternyata di saat kepulangan Ki Sinu, Datuk Siba juga memikirkan juga ingin merebut Desa Sinujuh.

Di suatu malam, seluruh warga Desa Sebatok menyerang Desa Sinuju. Tetapi di tengah perjalalan, mereka bertemu warga dari Desa Sinujuh yang juga ingin menyerang Desa Sebatok. Tidak sampai di desa, peperangan di mulai di antara Desa Sebatok dan Sinujuh. Peperangan itu tidak dapat dielakkan. Satu per satu warga desa Sebatok dan Sinujuh tewas. Warga dari kedua desa itu yang tersisa tidak lebih dari setengah warga dari warga desa awal.

Perbincangan pemimpin dari kedua daerah terjadi saat peperangan. Ki Sinu berkata, �Datuk, dari pada berperang yang dapat memakan banyak korban dalam waktu yang lama, lebih baik kita selesaikan dengan cara lain.�

�Tapi dengan cara yang bagaimana?� Tanya Datuk Siba.

�Lebih baik kita berlomba membuat gunung di wilayah dekat muara besar itu. Saya akan membuat di sebelah selatan muara dan kamu membuat di sebelah utara muara,� jawab Ki Sinu.

�Baiklah kalau begitu cara yang terbaik,� ujar Datuk Siba. Lomba tersebut selama satu bulan. Barang siapa gunungnya lebih tinggi, dia yang menang dan berhak memiliki daerah tersebut.

Dua hari berlalu, lomba membuat gunung pun dimulai. Dengan sangat gigih seluruh warga Desa Sebatok mengumpulkan batu dan tanah. Begitu pula dengan warga Desa Sinujuh.

Setelah dua minggu perlombaan, gunung-gunung yang mereka buat pun sudah tinggi. Gunung keduanya kurang lebih sama tinggi. Minggu ketiga tiba, ketinggian gunung mereka masih sama. Ki Sinu berpikir di dalam hati saat bekerja, kalau seperti ini kedudukan dan ketinggian gunung milikku dengan gunung miliknya akan sama. Oleh karena itu, saya harus bertindak dan berbuat sesuatu. Setelah berpikir panjang, ia menemukan sebuah ide.

Hari esok ditunggu oleh Ki Sinu. Setibanya di hari esok, ia langsung memerintahkan warga desanya membentangkan tinggi kain yang berwarna kehitam-hitaman agar tampak lebih tinggi. Selesailah tugas warga Desa Sinujuh dan waktu tinggal dua hari saja. Warga dari Sebatok masih bekerja keras. Salah seorang dari warga Desa Sebatok melihat gunung dari warga Desa Sinujuh sudah tinggi. Dia bernama Singgih. Dia langsung melaporkannya kepada pimpinannya yaitu Datuk Siba.

�Datuk, datuk, saya tadi tidak sengaja melihat gunung Desa Sinujuh, tampaknya sudah lebih tinggi dari pada gunung kita. Sedangkan waktunya tinggal dua hari lagi.� Seru Singgih kepada Datuk Siba.

�Oh, sudah tidak ada harapan lagi,� ujar Datuk Siba. Mereka pun menyerah dan tidak menyelesaikan gunungnya.

Karena kalah, Datuk Siba merasa malu karena gunungnya setengah jadi. Dia pun langsung menggelamkan gunung miliknya tersebut di muara besar dekat tempat ia membuat gunung. Datok Siba sangat kecewa, hingga suatu ketika ia mengetahui kebohongan dari gunung Ki Sinu.

Ternyata yang tinggi hanyalah kain hijau kehitam-hitaman yang menyerupai pohon-pohon rimbun. Datuk Siba sangat marah. Dia lalu bersumpah kepada Desa Sinujuh untuk hilang selama-lamanya setelah ia meninggal dunia.

Dua tahun berlalu, Desa Sinujuh bertempat di dekat muara yang dibuat gunung oleh warga Sinujuh tersebut. Di saat itu juga, Datuk Siba jatuh sakit dan tak lama kemudian ia meninggalkan dunia. Sesuai dengan sumpahnya, Desa Sinujuh hilang. Tetapi gunung yang dibuat warga Desa Sinujuh tidak hilang karena di dalam sumpah Datuk Siba tidak tercantum untuk menghilangkan gunung yang dibuat warga Desa Sinujuh. Karena gunung itu dibuat oleh warga Desa Sinujuh, hingga saat ini gunung itu dinamakan Gunung Sinujuh. Kesimpulannya adalah nama Sinujuh diambil dari nama sebuah desa yang membuat gunung tersebut.

Nah, demikianlah kisah Asal Usul Gunung Senujuh dan mitos yang mengelilinginya. Semoga dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran untuk kehidupan kita yang lebih baik.


Catatan:
Referensi penulisan artikel ini bersumber dari cerita lisan orang tua dan untuk memperkuat materi, penulis juga mengutip tulisan inti dari buku yang berjudul "Kunag-Kunang : Antologi Cerita Rakyat Selakau Timur" Edisi cetakan pertama, Oktober 2016. Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Sabtu, 18 Februari 2017

Wedding Pontianak: Wedding Organizer Terbaik Untuk Event Pernikahan Anda

misterpangalayo.com - Wedding Pontianak, Pilihan Terbaik Wedding Organizer Untuk Event Pernikahan Anda. Salah satu moment sakral dalam hidup adalah moment pernikahan yang tak terlupakan, tentunya banyak calon mempelai ingin menjalaninya dengan penuh kebahagian. Wedding Pontianak hadir menjadi kebutuhan vital Anda sebagai perancang, pengatur dan pengarah acara pernikahan yang biasa disebut Wedding Organizer / Wedding Planner.

 

Dalam menentukan WO (wedding organizer) adalah hal yang tidak sembarangan. Di ibukota Kalimantan Barat, Wedding Pontianak adalah sebuah wedding organizer yang terpercaya dan berpengalaman di bidang wedding planning. Beralamat di Jl. Karimata No.25, Kelurahan Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak. Wedding Pontianak akan bertanggungjawab penuh atas amanah yang berikan agar semua yang telah direncanakan berjalan dengan baik.

Wedding Pontianak memulai kiprahnya sejak 2014 dan banyak diakui sebagai wedding organizer yang terpercaya dan professional. Wedding Pontianak berkomitmen untuk membantu setiap pasangan pengantin dengan mengedepankan kedekatan secara PERSONAL agar terwujud pernikahan impiannya.

Lebih lagi bagi Anda yang membutuhkan pesta pernikahan meriah di sebuah tempat atau gedung dengan dekorasi keren nan indah, pastinya Anda membutuhkan pelayanan dari jasa Wedding Organizer Pontianak yang sudah professional. Perlu Anda ketahui bahwa setiap jasa wedding organizer memiliki konsep sendiri dalam konsep pernikahan, menu prasmanan sampai tata rias pengantin.



Bersama Wedding Pontianak, Wedding Organizer Terbaik Untuk Event Pernikahan Anda, tidak ada yang akan dirugikan di sini. Bila Anda menginginkan pelayanan terbaik, Wedding Pontianak selalu memberikan bukti berupa hasil produk atau portofolio, patokan harga, kualitas, reputasi dan pengalaman menangani pesta pernikahan.

Mengusung konsep yang fleksibel untuk semua kalangan, selalu up to date dan fresh, penuh inovasi dan ide kreatif, profesional dalam menjalankan tugas sebagai WO, menjadi modal utama Wedding Pontianak untuk merancang setiap event-nya. Anda akan menikmati pelayanan vendor terbaik dari Wedding Pontianak seperti : Pemilihan Lokasi / Gedung Pernikahan, Dekorasi Pelaminan, Make-Up Artist, Dokumentasi Foto & Video, Master Of Ceremony (MC) & Hiburan, Sound System And Singer, Catering Prasmanan Pernikahan. Dalam paket ini anda akan kami bimbing dalam memilih kebutuhan serta mengalokasikan dana agar jatuh lebih ekonomis.



Keuntungan menggunakan jasa Wedding Pontianak : 

  • Informasi lengkap dan terpercaya
Wedding Pontianak sebagai wedding organizer terpercaya akan memberikan informasi detail tentang produk jasa yang dijualnya dan hasil portofoli yang akan memberikan sugesti positif kepada Anda untuk menggunakan jasa Wedding Pontianak. Anda berada dalam layanan ONE STOP SERVICE ketika bersama Wedding Pontianak. Bertanggung jawab dan selalu menjaga kepercayaan Anda.

  • Selalu Tanyakan Kepada Kami
Jangan pernah malu untuk bertanya dan Anda juga harus berani mengutarakan pendapat maupun pertanyaan kepada kami Wedding Pontianak, terutama mengenai konsep atau tema pernikahan Anda. Bagi Anda yang berorientasi pada penghematan biaya pernikahan, namun tetap ingin menggunakan jasa Wedding Pontianak, kami akan tetap memberikan solusi yang terbaik.

  • Bicarakan Rancangan Dana Yang Anda Dimiliki
Bersikap terbuka tentang budget yang direncanakan, kami akan memberikan solusi yang tepat dan pastinya pesta pernikahan Anda akan berjalan sesuai yang direncanakan dan menjadi kenangan untuk orang, Anda dan pasangan, keluarga, maupun para tamu yang hadir. Pentingnya konsultasi terkait rencana anggaran yang Anda sediakan untuk menyelenggarakan pesta pernikahan kepada kami, agar membantu Anda dan kami, untuk dapat mencapai perencanaan yang disepakati, sehingga tidak akan ada yang merasa dirugikan.

  • Fleksibel Waktu
Rutinitas dan kesibukan Anda tidak dapat ditinggalkan. Kami akan membuat segala sesuatu menjadi mudah dalam merencakan pesta perkawinan. Anda bersama pasangan hanya memberikan sedikit waktu luang diluar kesibukan Anda dan pasangan, karena kamilah yang akan mempersiapkan segalanya hingga hari H pernikahan.

  • Mempersiapkan Anggaran
Keuangan dalam perencanaan pernikahan sangatlah penting, kami selalu mendiskusi berapa biaya yang akan dikeluarkan dan disepakati bersama dalam memilih vendor yang diinginkan. Jangan sampai akan menjadi beban nantinya, ada baiknya segala sesuatu mengenai anggaran telah disiapkan sedini mungkin sebelum pesta dimulai.


Jangan sampai salah dengan pilihan jasa wedding organizer, lewat pemilihan jasa yang tepat maka Anda membuat satu kemajuan akan kesuksesan acara pernikahan Anda nantinya. Pastikan dulu kejelasan dari setiap penyedia jasa wedding organizer sebelum benar-benar menggunakannya, jangan sampai Anda tertipu dengan oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan jasa wedding organizer.  

Wedding Pontianak, Wedding Organizer Terbaik Untuk Event Pernikahan Anda

***


web : http://www.weddingpontianak.com

Telp: (0561) 571254
HP : +62 85750929992 (WA)
PIN BBM : 2bb8d58c
Email : CS@weddingpontianak.com / marketing@weddingpontianak.com
Instagram : https://www.instagram.com/weddingpontianak/
Facebook : https://www.facebook.com/weddingponti/

Atau bisa langsung menuju ke lokasi Wedding Pontianak di bawah ini


*Disclaimer: Semua gambar dalam artikel ini adalah dokumentasi pribadi Wedding Pontianak

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang, Surga yang Tersembunyi di Sambas

SampanPesisir - Sambas merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, terletak di Pulau Kalimantan, atau dikelilingi oleh dua kabupaten/kota tetangga yaitu Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang, serta berbatasan laut dengan Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. Wilayah kabupaten Sambas berupa dataran rendah dan dataran tinggi, serta banyak terdapat sungai-sungai besar didalamnya seperti : Sungai Sambas Besar, Sungai Paloh, Sungai Selakau dan Sungai Sebangkau.

Tak heran, Kabupaten Sambas punya banyak tempat wisata menarik dan belum tentu banyak orang yang mengetahuinya. Karena itu, kali ini penulis akan berbagi informasi wisata alam yang mungkin belum diketahui oleh masyarakat Kalimantan Barat bahkan warga Kabupaten Sambas sendiri. 

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang - Kabupaten Sambas

Sebagai salah satu kabupaten yang banyak kekayaan alam baik di darat maupun di laut, serta tempat wisata alam yang unik dan salah satunya adalah Taman Wisata Alam (Nature Park) Gunung Asuansang yang secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar. Keadaan topografi secara umum adalah datar sampai berat, ketinggian tempat antara 0 sampai dengan 600 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini termasuk dalam wilayah pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah III yang berkedudukan di Kota Singkawang. Letak geografis kawasan adalah 01o4625 - 01o52'07" LU dan 109o2611 - 109o31'12" BT.

Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Asuansang juga dikelilingi oleh gunung hingga pegunungan, seperti :
     
  • Tebelonganso - 9 km sebelah tenggara 
  • Gunung Puting - 11 km sebelah timur laut 
  • Gunung Kejatau - 12 km sebelah timur laut 
  • Gunung Jeramat - 12 km sebelah timur laut 
  • Gunong Penampian Ngantam - 13 km timur 
  • Gunung Cermai - 14 km sebelah timur laut 
  • Munggu Jernang - 14 km sebelah timur laut 
     

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang adalah kawasan hutan konservasi untuk kegiatan pariwisata dan rekreasi. Kegiatan pariwisata yang dilaksanakan di hutan wisata alam tidak boleh bertentangan dengan prinsip konservasi dan perlindungan alam. Karena pada hakikatnya taman wisata alam masuk dalam kawasan pelestarian alam. Gunung Asuansang mempunyai tipe ekosistem hutan rawa gambut, hutan hujan pegunungan rendah, dan hutan mangrove. 

Berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 pasal 31 disebutkan bahwa di dalam kawasan Pelestarian Alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budiaya, budaya dan wisata alam.

Selain untuk kegiatan pariwisata, taman wisata alam mempunyai fungsi melindungi sistem penyangga kehidupan bagi daerah sekitarnya. Bisa juga menjadi tempat pendidikan alam dan pengembangan ilmu pengetahuan. Segala pemanfaatan sumber daya hayati di areal ini harus dimanfaatkan secara lestari.

Gunung Asuansang ditunjuk dan ditetapkan sebagai Natural Park berdasarkan RTRWP Kalimantan Barat Tahun 1995 (Zonasi kawasan sebagai Taman Wisata Alam seluas 4.464 ha), SK Menhutbun RI No. 259/Kpts-II/2000 Tanggal 23 Agustus 2000 (Penunjukan sebagai Taman Wisata Alam seluas 4.464 ha).

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang memiliki potensi flora antara lain famili Jambu-jambuan (Myrtaceae) yang terdiri dari genus Eugenia dan Syzigium, famili Lauraceae terdiri dari genus Litsea yang mencapai belasan species dan Adiandra. Famili Meranti-merantian (Dipterocapaceae) yang terdiri 4 genus yaitu Dipterocarpus, Dryobalanops, Shorea dan Hopea dengan 20 species, famili Sapotaceae yaitu Nyatoh (Palaquium spp) dan Euphorbiaceae yang terdiri atas genus Baccaurea spp, Lansium spp. (sumber data: skw3bksdakalbar)

Taman Wisata Alam Gunung Asuansang memiliki potensi fauna antara lain onyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemestrina), Lutung (Presbitys sp), Rusa (Cervus unicolor), Binturong (Arctitis binturong) serta Babi hutan (Sus barbatus), Trenggiling (Manis javanica) dan Kelempiau (Hylobates muellerii), Ular Sanca (Python molurus bivittatus), Ular Punai (Trimeresurus wagleri), Ular Lidi, Ular Hijau (Ahaetula nasuta) dan lain sebagainya. (sumber data: skw3bksdakalbar)

Uniknya di TWA ini terdapat Punai Imbuk (Chalcohap indica) yang merupakan catatan jenis baru (New Record) untuk Kalimantan Barat. Namun fasilitas seperti kolam renang, arena bermain anak, arena perkemahan, shelter-shelter, ruang informasi serta fasilitas pendukung lainnya masih belum tersedia. Kawasan ini masih natural dan belum ada penunjang wisata yang memadai, namun kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan karena lokasi yang strategis antara Kecamatan Paloh dan Kecamatan Sajingan Besar, serta banyak tempat wisata alam yang banyak dikunjungi masyarakat seperti Riam Kaliau di Sajingan Besar dan Pantai Temajuk di Paloh, serta banyak destinasi wisata lainnya di sekitar lokasi TWA.

Tapi kawasan yang masih natural seperti TWA Gunung Asuansang, rekomendasi untuk naked traveler yang ingin melakukan kegiatan wisata di TWA Gunung Asuansang seperti camping hingga hiking. Tidak dianjurkan pergi sendiri dan diperlukan mental yang besar untuk melakukan perjalanan naked traveling.

Di samping panorama alam yang indah Taman Wisata Alam Gunung Asuansang memiliki hawa yang sejuk dan segar. Tidak jauh dari lokasi TWA ini juga terdapat Taman wisata alam lainnya disekitar kawasan Gunung Asuansang, seperti :
  • Taman Wisata Alam Dugan dengan luas 1.142 Ha, ekosistem hutan rawa gambut dan hutan hujan pegunungan rendah. 
  • Taman Wisata Alam Melintang dengan luas 17.640 Ha, ekosistem hutan rawa gambut dan hutan hujan pegunungan rendah. 
  • Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing dengan luas 810 Ha, ekosistem hutan pantai dan hutan mangrove.

Sudah sepantasnya kawasan ini menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Sambas. Tinggal dikelola dengan serius oleh pemerintah kabupaten Sambas dan dibangun sarana pariwisata alam di Taman Wisata Alam serta untuk mendorong para pihak/steakholder dalam rangka Sinergitas Pengelolaan dan Pembangunan Sarana Pariwisata Alam di Kawasan Pelestarian Alam (KPA) dan di Luar Kawasan Taman Wisata Alam. 

Selain itu, partisipasi masyarakat sadar wisata untuk ikut andil menjaga kelestarian Taman Wisata Alam Gunung Asuansang dan mempromosikan objek wisata ini kepada masyarakat luas. Beragamnya potensi yang dimiliki Gunung Asuansang menjadikan surga bagi flora dan fauna, serta surga bagi pecinta alam.

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *