Blog untuk Pendidikan

Sabtu, 05 November 2016

Asal Usul Suku Bangsa Melayu Sambas

SampanPesisir - Suku Sambas adalah suku bangsa asli Kalimantan yang berbudaya Melayu sehingga penduduk setempat menyebutnya suku Melayu Sambas. Suku Melayu Sambas menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan Kabupaten Mempawah, serta sebagian kecil tersebar di Provinsi Kepulauan Riau dan Sarawak (Malaysia).
Sumber Gambar : instagram/dewisartikkaa

Berdasarkan pola migrasi di masa lampau, suku Sambas masuk dalam kategori Melayu Tua (Proto Melayu), sama halnya dengan suku asli Kalimantan lainnya seperti suku Dayak, suku Melayu Kalimantan Barat, suku Banjar, suku Kutai, suku Paser, suku Berau dan suku Tidung.

Berdasarkan ilmu linguistik, suku Melayu Sambas masuk dalam rumpun suku Dayak, khususnya Dayak Melayik. Dayak Melayik dituturkan oleh 3 (tiga) suku Dayak yaitu: Dayak Meratus/Bukit, Dayak Iban dan Dayak Kanayatn. Suku bangsa asli Kalimantan lainnya yang berbudaya Melayu seperti suku Banjar, suku Berau, suku Kendayan Brunei dan Senganan juga masuk dalam kategori Dayak Melayik.

Dewasa ini, suku bangsa asli Kalimantan berbudaya Melayu yang telah bergabung dalam suku Dayak adalah suku Kutai, suku Tidung, suku Bulungan dan suku Paser. Bernd Notherfer dalam kajiannya menganalisis isolek, dialek para penutur bahasa dengan meminjam Adelaar (1992) yang disebut Bahasa Melayik Purba adalah turunan dari bahasa Austronesia seperti dialek Iban, Sambas, Sarawak, Brunei, Berau, Kutai, Banjar, Ketapang, Bangka, Minangkabau, Jambi, Melayu Baku dan Betawi (Jakarta).

Jauh sebelum Kesultanan Sambas berdiri, nama Sambas sudah dikenal sejak zaman pemerintahan Ratu Saboa Tangan Pangeran Adipati Sambas atau disebut dengan Panembahan Sambas yang bercorak Hindu. Pusat pemerintahan Panembahan Sambas berpusat di Kota Lama (Kecamatan Galing sekarang). Hal ini juga dibuktikan dalam Kakawin Nagarakretagama atau juga disebut dengan nama Kakawin Desawarnana yang ditulis tahun 1365 Masehi menyebutkan Sambas sebagai salah satu negeri di provinsi Tanjungnagara (beribukota di Tanjungpura) yang telah ditaklukan Kerajaan Majapahit oleh Patih Gajah Mada.

Penamaan Melayu Sambas, muncul pada dinasti Kesultanan Sambas yang bercorak Islam. Sebelum kedatangan Islam di Sambas, suku Dayak Kanayatn dan suku Dayak Salako telah mendiami aliran Sungai Selakau dan Sungai Sambas beserta cabangnya. Menurut Simon Takdir (2006), masyarakat asli Kalimantan yang masuk Islam di daerah Selindung, Selakau, Tabing Daya, Galing, Pemangkat, sekitaran Gunung Senujuh, menyebut dirinya Melayu Sambas. Keyakinan ini berasal dari temuan bahwa sejumlah orang generasi tua didaerah ini walaupun sudah beragama Islam tetap menyebut bahwa kakek dan nenek mereka dulu adalah orang Darat (Dayak), bahkan ada yang mengatakan Ayah dan Ibu mereka adalah orang Darat (Dayak).

Melayu Sambas dianggap sebagai salah satu penduduk asli pulau Kalimantan. Suku ini bisa dikatakan suku Dayak yang berbudaya Melayu. Menurut Munawar (2005), suku Melayu di Kalimantan termasuk Sambas pada dasarnya terdiri dari Melayu asli yang berasal dari Sumatera dan Semenanjung Melaka dan orang-orang Dayak yang mengalami proses Islamisasi atau yang lebih disebut dengan Senganan. Namun persentase jumlah pendatang dari Sumatera atau Semenanjung Melaka sangat sedikit berbanding dengan pribumi Sambas yang pada awalnya didiami oleh orang Dayak (Salako dan Kanayatn yang kita kenal sekarang). Sekarang antara keduanya tidak lagi dapat dibedakan mana yang asli dan mana yang bukan.

Menurut Bakran Suni (2007), bahwa asal usul suku bangsa Melayu Sambas dapat dibagi ke dalam dua golongan, antara lain :
Berasal dari keturunan raja Kesultanan Sambas
Suku bangsa lain yang memeluk Islam dan berbahasa Sambas.

Jadi, kesimpulannya adalah asal usul Melayu Sambas tidak tunggal dan tidak berasaskan keturunan, namun berasaskan kepada orang Sambas yang beragama Islam dan berbahasa Sambas. Suku Sambas dan Islam itu ibarat sebuah koin, sisi depan dan sisi belakang yang tidak bisa terpisahkan.

Pakaian Pengantin Melayu Sambas || Sumber Gambar: instagram/noppy


Secara biologis, suku bangsa Melayu Sambas adalah penduduk asli Kalimantan yang pada periode awal mereka hidup sebagai manusia purba baik dalam kulturnya maupun kepercayaannya. Periode kedua, peradaban Melayu Sambas telah bercorak Hindu dan hampir semua kerajaan Melayu tunduk dibawah pengaruh kekuasaan Majapahit.

Periode kedua berlangsung hingga abad ke-14 M. Sebagaimana kerajaan lain di Kalimantan Barat, wujud dominasi kerajaan Majapahit di kerajaan Panembahan Sambas adalah dalam bentuk keterlibatan langsung anak keturunan penguasa Majapahit di kerajaan ini.

Periode ketiga adalah peradaban Melayu bercorak Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Sambas. Setelah keruntuhan Panembahan Sambas, muncullah Kesultanan Sambas dimana Kesultanan Sambas ini berbeda keturunan (Dinasti / Nasab) dengan Panembahan Sambas.

Proses dakwah Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Sambas berdiri, lebih banyak dilakukan dengan pendekatan pembauran, baik dalam bentuk perkawinan maupun dalam bentuk asimilasi antar adat setempat dan agama/kepercayaan masyarakat setempat dengan ajaran Islam. Dengan demikian ciri utama kehidupan keagamaan masyarakat Melayu Sambas pada masa berikutnya ditopang oleh dua penyangga tersebut, yaitu: ajaran Islam dan kepercayaan/budaya setempat.

Pakaian Adat Melayu Sambas || Sumber Gambar: instagram/_cecedinipenk


Ditinjau dari perjalanan sejarahnya, identitas suku bangsa Melayu Sambas yang terlihat sampai saat ini merupakan hasil interaksi dan akulturasi beberapa kebudayaan besar yang pernah hadir dan memainkan peranannya di Sambas dalam jangka waktu yang cukup lama.

Beberapa kebudayaan besar yang memiliki andil dalam pembentukan identitas Melayu Sambas adalah sebagai berikut:

Pertama: Kebudayaan Pagaruyung, Mingkabau. Diantara komunitas pendatang yang pertama datang ke Sambas adalah para perantau dari Pagaruyung. Pendatang yang terkenal dengan tradisi merantau dan berlayarnya ini sangat berpengaruh kepada semangat merantau dan berlayar pada orang Melayu Sambas sejak jaman dahulu.

Kedua: Kebudayaan Jawa. Budaya ini dipastikan ada pengaruhnya dalam pembentukan identitas Melayu Sambas. Sebagian besar sistem religi dan kepercayaan (seperti kepercayaan kepada makhluk halus semacam hantu), pola dan sikap hidup (seperti sifat sabar dan mengalah) serta tradisi tertentu (seperti bepapas) mirip dengan budaya Jawa. Pengaruh ini terjadi sebagai akibat dari perjalanan sejarah Sambas yang dalam waktu yang cukup lama, sejak pertengahan abad ke-14, kekuasaan Jawa telah masuk ke dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Sambas. Bahkan dapat dikatakan masa awal perpolitikan dan pemerintahan di Sambas adalah dimulai dan berada di bawah pengaruh langsung kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu/Budha.

Ketiga: Kebudayaan Melayu Brunei dan Melaka. Kebudayaan ini bercorak Islam dan terpusat di Istana. Melayu Sambas pernah besar dengan kesultanannya yang gemilang lebih dari tiga abad (1631-1943). Sejarah kekuasaan di Sambas merupakan simbolisasi kebanggaan yang melegenda, khususnya di Kalimantan Barat kesultanan Sambas adalah satu-satunya kesultanan tua yang masih dapat disaksikan peninggalannya secara utuh sampai dengan saat ini.

Keempat: Kebudayaan Bugis. Eksistensi orang Bugis di Sambas dimulai dengan aktivitas perdagangan mereka ke Sambas dan disediakannya areal pemberhentian mereka di sekitar pelabuhan Sambas yang disebut dengan Kampung Bugis. Di antara kebudayaan Bugis yang diserap oleh Melayu Sambas adalah bahasa, terutama terlihat pada penamaan atau sebutan tertentu dengan tambahan kata "ng" seperti main = maing, masin = masing, kain = kaing.
Songket Sambas || Sumber Gambar: instagram/eyasongketsambas


Menurut Husna Asmara (2002), Menyikapi Tekad Mufakat Masyarakat Kalimantan, Pengertian Melayu Sambas ini merujuk kepada eksistensi suku bangsa Melayu yang ada di Sambas sejak berdirinya Kesultanan Sambas (1040H/1631M) sampai dengan sekarang ini. Tanpa menyertakan Melayu Tua seperti yang dikonsepsikan oleh Muhammad Yusoff Hasyim berkenaan dengan Melayu Zaman Pra-sejarah (Zaman Batu dan Zaman Logam) dan Melayu Zaman Pengaruh Hindu dan Budha (1992), serta yang dikonsepsikan oleh Prof. James T. Collins tentang The Prehistory of Malay dan Early Malay (1998) sehingga olehnya digagas perluasan makna Melayu dengan konsep Alam Melayu (Yusriadi, 2003).


Apabila kemudian kita memadukan berbagai data-data tersebut di atas dengan etnik asli yang berdiam di wilayah yang sama sebagaimana yang pernah di rilis oleh ahli-ahli antropologi, maka kemungkinan besar sebagian besar suku bangsa Melayu Sambas berasal dari suku bangsa yang sekarang ini disebut sebagai Dayak Selako, Dayak Bakati/Lara dan etnik Borneo asli lainnya.
Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sambas

https://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Nagarakretagama

http://kuliahmultikultur.blogspot.co.id/2012/03/bab-iv-mengenal-kultur-sukubangsa-di.html

http://borneonews-borneoku.blogspot.co.id/2012/03/suku-melayu-kalimantan-barat-suku.html

Bakran Suni, et all, 2007. Sejarah Melayu Sambas, Lembaga penelitian Universitas Tanjungpura Pontianak.

Takdir, Simon. 2003. Suku Dayak Selako, Belum Publikasi

dan sumber refernsi lainnya.
Lokasi: Pontianak, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *